Menelusuri Sejarah, Filosofi, dan Kehidupan Baru Karinding di Tangan Generasi Muda

7 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Sabtu 30 Mei 2026, 10:06 WIB
Buku Sejarah Karinding Priangan memuat hasil penelitian Kimung mengenai jejak sejarah dan perkembangan karinding di Tatar Sunda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Buku Sejarah Karinding Priangan memuat hasil penelitian Kimung mengenai jejak sejarah dan perkembangan karinding di Tatar Sunda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Karinding tersusun rapi dalam dua bilik transparan. Seakan menyambut setiap orang yang datang ke pertunjukan Showcase Karinding yang digelar di De Majestic Bandung pada 22 Mei 2026 lalu. Buku “Sejarah Karinding Priangan” dan “Dangiang Karinding” terpampang di antara jajaran karinding tersebut.

Karinding adalah alat musik sejenis harpa rahang yang terbuat dari bambu. Panjangnya sekitar 10 cm dan lebarnya 2 cm. Dimainkan dengan cara ditempelkan di bibir dan disentil bagian ujungnya. Terlihat sederhana. Namun, di tangan Kimung, alat ini menjadi representasi panjang dari ingatan, tanah, serta cara hidup manusia yang bersinergi dengan alam.

Kimung adalah seorang pegiat dan pelestari karinding. Nama aslinya Iman Rahman Anggawiria Kusumah, namun akrab disapa Kimung. Ia lahir pada 1978 dan besar di Ujungberung, Bandung. Kimung adalah salah satu pendiri band Burgerkill, kolektif Ujungberung Rebels, dan Pangauban Karinding. Sekaligus penulis buku “Sejarah Karinding Priangan” dan, bersama Annisa Retni, menulis “Dangiang Karinding”.

Karinding, alat musik tradisional Sunda berbahan bambu yang dimainkan dengan cara ditempelkan di bibir dan disentil. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Karinding, alat musik tradisional Sunda berbahan bambu yang dimainkan dengan cara ditempelkan di bibir dan disentil. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Pancepengan, Cecet Ucing, dan Paneunggeul

Di panggung Showcase Dangiang Karinding, suara dentingan karinding berpadu dengan gitar, biola, suling, serta tampilan visual animasi. Suaranya unik dibandingkan alat musik lain. Namun, bunyinya menjadi begitu indah ketika dipadukan dengan alat musik lain.

Bagi Kimung, karinding lebih dari sekadar alat musik tradisional. Ia memandangnya sebagai pengetahuan yang terus berkembang seiring waktu.

Ada tiga narasi yang berkembang mengenai sejarah karinding. Pertama, karinding sebagai alat musik yang pertama kali diciptakan. Kedua, karinding sudah punah sejak 400–600 tahun yang lalu. Ketiga, karinding sebagai alat pengusir hama.

“Jangan-jangan ini nggak punah. Jangan-jangan ini dibikin seakan-akan punah,” gumam Kimung sebagai awal munculnya skeptisisme terhadap jejak karinding.

Hal inilah yang menjadi cikal bakal dirinya melakukan riset mendalam mengenai sejarah perjalanan karinding pada 2008–2018. Ia mewawancarai 1.300 narasumber, mulai dari anak kecil, masyarakat adat, hingga seniman.

Selama 10 tahun perjalanannya, ia bertolak ke 70 kawasan. Sebagian besar berada di berbagai kota di Jawa Barat. Daerah lainnya meliputi Yogyakarta, Lampung, Aceh, Bali, Manado, Banyuwangi, dan Solo. Tidak hanya di dalam negeri, ia juga menyambangi sejumlah negara di luar negeri, di antaranya Belanda, Jerman, dan Prancis.

Kimung mengungkapkan, di Indonesia penggunaan karinding berasal dari budaya pertanian masyarakat Sunda. Instrumen ini dimainkan sejak awal musim tanam hingga masa panen. Getarannya dipercaya menjadi sarana komunikasi antara manusia dan lingkungan sekitar.

“Karena semua makhluk diciptakan memiliki fungsinya masing-masing. Dia menjadi hama ketika dia tidak ada di ruang yang benar dan tidak ada di waktu yang benar,” kata Kimung.

Ia menolak pandangan yang menganggap karinding hanya sebagai alat untuk mengusir hama. Menurutnya, pandangan tersebut terlalu dangkal dan diteruskan tanpa adanya penelitian yang mendalam. Kimung menyebut banyak jurnal dan berita justru mengulang kesalahan tersebut.

“Sekarang tuh banyak sekali penelitian-penelitian yang melestarikan kesalahan masa lalu,” ujar Kimung saat ditemui di Atap Promotion, sehari setelah Showcase Karinding.

Bagi Kimung, karinding bukan hanya sekadar alat musik. Ia menganggap karinding sebagai cara masyarakat Sunda memahami alam semesta. Dari pegunungan, sumber air, hutan, hingga hubungan manusia dengan waktu.

“Karinding ternyata mengisahkan penciptaan alam semesta,” ucap Kimung.

Ia kemudian beranjak mengambil sebuah kotak berisi belasan karinding. Seraya bercerita, ia menunjukkan tiga bagian karinding: pancepengan sebagai pegangan, cecet ucing sebagai tempat resonansi suara, dan paneunggeul atau panabeuh yang dipukul untuk menghasilkan getaran.

Tiga bagian tersebut melukiskan filosofi gunung yang terbagi menjadi tiga area: hutan larangan sebagai ruang spiritual, hutan tutupan sebagai ruang pengetahuan, dan hutan baladahan sebagai ruang produksi tempat manusia bekerja dan bertani.

Kimung berpendapat bahwa semua konsep ini saling terkait dengan perilaku manusia. Ada pelajaran tentang kesabaran, kepercayaan, hingga kesadaran dalam menggunakan ilmu dan suara.

Cepeng sing yakin, tabeuh sing sabar. Lamun geus aya sorana kudu sadar eta lain sora urang,” kata Kimung, kemudian dengan lihai memainkan karinding di bibirnya.

Filosofi karinding mengajarkan bahwa suara harus dimanfaatkan dengan bijaksana dan tidak didasarkan pada kesombongan. Nilai inilah yang membuat karinding selalu terhubung dengan hubungan manusia dan lingkungan.

“Semuanya menceritakan tentang bagaimana keterhubungan kita dengan alam dan lingkungan hidup,” ujar Kimung.

Karinding kini telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb), yakni karya hidup berupa tradisi, seni pertunjukan, kemahiran kerajinan, hingga pengetahuan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Iman Rahman Anggawiria Kusumah alias Kimung pegiat dan pelestari karinding. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Iman Rahman Anggawiria Kusumah alias Kimung pegiat dan pelestari karinding. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Album “Dangiang Karinding” dan Film “Suara Dari Selatan”

Perjalanan karinding tidak berhenti di ladang. Kimung menuturkan bahwa alat ini terus mengalami perluasan peran, dari kaulinan barudak, media bersosialisasi, hingga akhirnya menjadi seni pertunjukan modern.

Kimung menceritakan bahwa antara 2009 dan 2014 muncul generasi baru yang mulai memainkan karinding dengan variasi musik yang lebih beragam. Karinding mulai dipadukan dengan genre pop, folk, rock, jazz, dan dangdut.

“Antara 2009 sampai 2014 tuh muncul generasi-generasi baru yang mulai memainkan karinding dengan musik yang makin beragam,” ujar Kimung.

Gelombang selanjutnya muncul pada 2014. Kali ini, anak-anak sekolah dasar dan menengah mulai berpartisipasi memainkan karinding dengan pendekatan yang lebih berani. Mereka menyajikan lagu-lagu tradisional Sunda dengan eksplorasi suara yang lebih liar dan segar.

Saat ini, inovasi tersebut justru diusung oleh anak-anak muda. Di komunitas yang ia dirikan bernama Pangauban Karinding, karinding tidak hanya dimainkan sebagai musik tradisional. Mereka membuat film dokumenter, animasi, album, serta permainan digital yang bertemakan karinding.

Ia menyebut komunitasnya mampu memproduksi sekitar 10 film tentang karinding setiap tahunnya. Tahun lalu, mereka bahkan memulai pengembangan gim digital yang diberi nama “Madera”.

Perkembangan ini menghasilkan banyak karya baru. Salah satu di antaranya adalah album “Dangiang Karinding” yang dirilis bersamaan dengan Showcase pada 22 Mei 2026.

Album ini terdiri dari 14 lagu, yaitu: Aub, Pirigan, Sasakala, Ki Ajnyana, Ki Lutung, Ki Badak, Ki Panjalu, Nyi Sumur Bandung, Ki Kasarung, Ki Wanara, Ki Munding, Para Pelopor, Kunst, dan Banjaran '67.

Selain dalam musik, komunitas ini juga membuat film dokumenter. Salah satunya berjudul “Suara Dari Selatan 1” yang menangkap perjalanan sejarah dan budaya karinding di kawasan Bandung Selatan, mulai dari Banjaran, Ciwidey, Pangalengan, Soreang, hingga Baleendah.

Nama-nama seperti Mang Xkem dari Soreang, Chandra dari Banjaran, Acil dan Deniansyah dari Pangalengan, serta Gungun dari Baleendah turut berkontribusi dalam perjalanan ini. Mereka membangun jejaring kecil yang berkomitmen menjaga keberlangsungan suara karinding di kawasan Bandung Selatan.

Ia berkeyakinan bahwa sebuah budaya akan tetap hidup selama memberikan ruang eksplorasi bagi generasi muda. Oleh karena itu, ia tidak ingin karinding hanya diperlakukan sebagai benda museum yang terasing dan tidak berfungsi.

Pertunjukan Showcase Karinding yang digelar di De Majestic Bandung pada 22 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Pertunjukan Showcase Karinding yang digelar di De Majestic Bandung pada 22 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Budaya yang Sehat: Tidak Berhenti pada Pujian, tetapi Diperdebatkan dan Dikembangkan

Selama satu dekade, Kimung melakukan penelitian tentang karinding di berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri. Ia mengunjungi desa-desa adat, mewawancarai anak-anak, seniman, serta masyarakat setempat. Bagi Kimung, sejarah tidak seharusnya hanya menjadi hak para akademisi.

“Anak usia lima tahun pun saya wawancarai. Mereka punya hak bicara,” ujar Kimung menjelaskan pengalamannya saat melakukan riset tersebut.

Ia juga membahas mengenai krisis ingatan yang terjadi di masyarakat saat ini. Ia berpendapat bahwa banyak anak muda tidak dapat memahami sejarah karena sistem pendidikan lebih menekankan pada penghafalan daripada pemahaman.

“Jika memang terjadi hal yang kita sebut tadi hilang ingatan di kebudayaan, berarti sistem pendidikan kesejarahan di kita gagal,” kata Kimung.

Pengalaman langsung dalam peristiwa 1998 menambah keyakinannya bahwa sejarah perlu diteruskan dengan metode yang relevan bagi generasi mendatang. Oleh karena itu, ia sedang mengusahakan karinding sebagai alat musik pendidikan nasional. Kimung memilih melibatkan anak-anak muda sebagai pencipta sejarah, bukan hanya pendengar cerita.

“Mereka belajar, ‘Oh, begini cara membuat sejarah, tuh,’” ucap Kimung mengacu pada karya-karya yang telah dibuat anak-anak muda didikannya, mulai dari film dokumenter karinding hingga gim.

Dalam percakapan panjang sore itu, Kimung tidak mengungkapkan kekhawatirannya tentang hilangnya karinding. Ia justru lebih cemas jika sebuah budaya hanya bergantung pada satu individu. Menurutnya, budaya seharusnya hidup melalui sistem yang terus bergerak dan diwariskan secara kolektif.

“Saya berharap ada penulis muda yang menumbangkan buku saya,” kata Kimung tegas seraya menatap lurus.

Karena bagi Kimung, budaya yang sehat adalah budaya yang tidak berhenti pada pujian, melainkan budaya yang terus diperdebatkan, dikembangkan, dan dihidupkan kembali oleh generasi berikutnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Tag Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)