Menelusuri Sejarah, Filosofi, dan Kehidupan Baru Karinding di Tangan Generasi Muda

7 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Buku Sejarah Karinding Priangan memuat hasil penelitian Kimung mengenai jejak sejarah dan perkembangan karinding di Tatar Sunda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Buku Sejarah Karinding Priangan memuat hasil penelitian Kimung mengenai jejak sejarah dan perkembangan karinding di Tatar Sunda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Karinding tersusun rapi dalam dua bilik transparan. Seakan menyambut setiap orang yang datang ke pertunjukan Showcase Karinding yang digelar di De Majestic Bandung pada 22 Mei 2026 lalu. Buku “Sejarah Karinding Priangan” dan “Dangiang Karinding” terpampang di antara jajaran karinding tersebut.

Karinding adalah alat musik sejenis harpa rahang yang terbuat dari bambu. Panjangnya sekitar 10 cm dan lebarnya 2 cm. Dimainkan dengan cara ditempelkan di bibir dan disentil bagian ujungnya. Terlihat sederhana. Namun, di tangan Kimung, alat ini menjadi representasi panjang dari ingatan, tanah, serta cara hidup manusia yang bersinergi dengan alam.

Kimung adalah seorang pegiat dan pelestari karinding. Nama aslinya Iman Rahman Anggawiria Kusumah, namun akrab disapa Kimung. Ia lahir pada 1978 dan besar di Ujungberung, Bandung. Kimung adalah salah satu pendiri band Burgerkill, kolektif Ujungberung Rebels, dan Pangauban Karinding. Sekaligus penulis buku “Sejarah Karinding Priangan” dan, bersama Annisa Retni, menulis “Dangiang Karinding”.

Karinding, alat musik tradisional Sunda berbahan bambu yang dimainkan dengan cara ditempelkan di bibir dan disentil. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Karinding, alat musik tradisional Sunda berbahan bambu yang dimainkan dengan cara ditempelkan di bibir dan disentil. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Pancepengan, Cecet Ucing, dan Paneunggeul

Di panggung Showcase Dangiang Karinding, suara dentingan karinding berpadu dengan gitar, biola, suling, serta tampilan visual animasi. Suaranya unik dibandingkan alat musik lain. Namun, bunyinya menjadi begitu indah ketika dipadukan dengan alat musik lain.

Bagi Kimung, karinding lebih dari sekadar alat musik tradisional. Ia memandangnya sebagai pengetahuan yang terus berkembang seiring waktu.

Ada tiga narasi yang berkembang mengenai sejarah karinding. Pertama, karinding sebagai alat musik yang pertama kali diciptakan. Kedua, karinding sudah punah sejak 400–600 tahun yang lalu. Ketiga, karinding sebagai alat pengusir hama.

“Jangan-jangan ini nggak punah. Jangan-jangan ini dibikin seakan-akan punah,” gumam Kimung sebagai awal munculnya skeptisisme terhadap jejak karinding.

Hal inilah yang menjadi cikal bakal dirinya melakukan riset mendalam mengenai sejarah perjalanan karinding pada 2008–2018. Ia mewawancarai 1.300 narasumber, mulai dari anak kecil, masyarakat adat, hingga seniman.

Selama 10 tahun perjalanannya, ia bertolak ke 70 kawasan. Sebagian besar berada di berbagai kota di Jawa Barat. Daerah lainnya meliputi Yogyakarta, Lampung, Aceh, Bali, Manado, Banyuwangi, dan Solo. Tidak hanya di dalam negeri, ia juga menyambangi sejumlah negara di luar negeri, di antaranya Belanda, Jerman, dan Prancis.

Kimung mengungkapkan, di Indonesia penggunaan karinding berasal dari budaya pertanian masyarakat Sunda. Instrumen ini dimainkan sejak awal musim tanam hingga masa panen. Getarannya dipercaya menjadi sarana komunikasi antara manusia dan lingkungan sekitar.

“Karena semua makhluk diciptakan memiliki fungsinya masing-masing. Dia menjadi hama ketika dia tidak ada di ruang yang benar dan tidak ada di waktu yang benar,” kata Kimung.

Ia menolak pandangan yang menganggap karinding hanya sebagai alat untuk mengusir hama. Menurutnya, pandangan tersebut terlalu dangkal dan diteruskan tanpa adanya penelitian yang mendalam. Kimung menyebut banyak jurnal dan berita justru mengulang kesalahan tersebut.

“Sekarang tuh banyak sekali penelitian-penelitian yang melestarikan kesalahan masa lalu,” ujar Kimung saat ditemui di Atap Promotion, sehari setelah Showcase Karinding.

Bagi Kimung, karinding bukan hanya sekadar alat musik. Ia menganggap karinding sebagai cara masyarakat Sunda memahami alam semesta. Dari pegunungan, sumber air, hutan, hingga hubungan manusia dengan waktu.

“Karinding ternyata mengisahkan penciptaan alam semesta,” ucap Kimung.

Ia kemudian beranjak mengambil sebuah kotak berisi belasan karinding. Seraya bercerita, ia menunjukkan tiga bagian karinding: pancepengan sebagai pegangan, cecet ucing sebagai tempat resonansi suara, dan paneunggeul atau panabeuh yang dipukul untuk menghasilkan getaran.

Tiga bagian tersebut melukiskan filosofi gunung yang terbagi menjadi tiga area: hutan larangan sebagai ruang spiritual, hutan tutupan sebagai ruang pengetahuan, dan hutan baladahan sebagai ruang produksi tempat manusia bekerja dan bertani.

Kimung berpendapat bahwa semua konsep ini saling terkait dengan perilaku manusia. Ada pelajaran tentang kesabaran, kepercayaan, hingga kesadaran dalam menggunakan ilmu dan suara.

Cepeng sing yakin, tabeuh sing sabar. Lamun geus aya sorana kudu sadar eta lain sora urang,” kata Kimung, kemudian dengan lihai memainkan karinding di bibirnya.

Filosofi karinding mengajarkan bahwa suara harus dimanfaatkan dengan bijaksana dan tidak didasarkan pada kesombongan. Nilai inilah yang membuat karinding selalu terhubung dengan hubungan manusia dan lingkungan.

“Semuanya menceritakan tentang bagaimana keterhubungan kita dengan alam dan lingkungan hidup,” ujar Kimung.

Karinding kini telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb), yakni karya hidup berupa tradisi, seni pertunjukan, kemahiran kerajinan, hingga pengetahuan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Iman Rahman Anggawiria Kusumah alias Kimung pegiat dan pelestari karinding. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Iman Rahman Anggawiria Kusumah alias Kimung pegiat dan pelestari karinding. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Album “Dangiang Karinding” dan Film “Suara Dari Selatan”

Perjalanan karinding tidak berhenti di ladang. Kimung menuturkan bahwa alat ini terus mengalami perluasan peran, dari kaulinan barudak, media bersosialisasi, hingga akhirnya menjadi seni pertunjukan modern.

Kimung menceritakan bahwa antara 2009 dan 2014 muncul generasi baru yang mulai memainkan karinding dengan variasi musik yang lebih beragam. Karinding mulai dipadukan dengan genre pop, folk, rock, jazz, dan dangdut.

“Antara 2009 sampai 2014 tuh muncul generasi-generasi baru yang mulai memainkan karinding dengan musik yang makin beragam,” ujar Kimung.

Gelombang selanjutnya muncul pada 2014. Kali ini, anak-anak sekolah dasar dan menengah mulai berpartisipasi memainkan karinding dengan pendekatan yang lebih berani. Mereka menyajikan lagu-lagu tradisional Sunda dengan eksplorasi suara yang lebih liar dan segar.

Saat ini, inovasi tersebut justru diusung oleh anak-anak muda. Di komunitas yang ia dirikan bernama Pangauban Karinding, karinding tidak hanya dimainkan sebagai musik tradisional. Mereka membuat film dokumenter, animasi, album, serta permainan digital yang bertemakan karinding.

Ia menyebut komunitasnya mampu memproduksi sekitar 10 film tentang karinding setiap tahunnya. Tahun lalu, mereka bahkan memulai pengembangan gim digital yang diberi nama “Madera”.

Perkembangan ini menghasilkan banyak karya baru. Salah satu di antaranya adalah album “Dangiang Karinding” yang dirilis bersamaan dengan Showcase pada 22 Mei 2026.

Album ini terdiri dari 14 lagu, yaitu: Aub, Pirigan, Sasakala, Ki Ajnyana, Ki Lutung, Ki Badak, Ki Panjalu, Nyi Sumur Bandung, Ki Kasarung, Ki Wanara, Ki Munding, Para Pelopor, Kunst, dan Banjaran '67.

Selain dalam musik, komunitas ini juga membuat film dokumenter. Salah satunya berjudul “Suara Dari Selatan 1” yang menangkap perjalanan sejarah dan budaya karinding di kawasan Bandung Selatan, mulai dari Banjaran, Ciwidey, Pangalengan, Soreang, hingga Baleendah.

Nama-nama seperti Mang Xkem dari Soreang, Chandra dari Banjaran, Acil dan Deniansyah dari Pangalengan, serta Gungun dari Baleendah turut berkontribusi dalam perjalanan ini. Mereka membangun jejaring kecil yang berkomitmen menjaga keberlangsungan suara karinding di kawasan Bandung Selatan.

Ia berkeyakinan bahwa sebuah budaya akan tetap hidup selama memberikan ruang eksplorasi bagi generasi muda. Oleh karena itu, ia tidak ingin karinding hanya diperlakukan sebagai benda museum yang terasing dan tidak berfungsi.

Pertunjukan Showcase Karinding yang digelar di De Majestic Bandung pada 22 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Pertunjukan Showcase Karinding yang digelar di De Majestic Bandung pada 22 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Budaya yang Sehat: Tidak Berhenti pada Pujian, tetapi Diperdebatkan dan Dikembangkan

Selama satu dekade, Kimung melakukan penelitian tentang karinding di berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri. Ia mengunjungi desa-desa adat, mewawancarai anak-anak, seniman, serta masyarakat setempat. Bagi Kimung, sejarah tidak seharusnya hanya menjadi hak para akademisi.

“Anak usia lima tahun pun saya wawancarai. Mereka punya hak bicara,” ujar Kimung menjelaskan pengalamannya saat melakukan riset tersebut.

Ia juga membahas mengenai krisis ingatan yang terjadi di masyarakat saat ini. Ia berpendapat bahwa banyak anak muda tidak dapat memahami sejarah karena sistem pendidikan lebih menekankan pada penghafalan daripada pemahaman.

“Jika memang terjadi hal yang kita sebut tadi hilang ingatan di kebudayaan, berarti sistem pendidikan kesejarahan di kita gagal,” kata Kimung.

Pengalaman langsung dalam peristiwa 1998 menambah keyakinannya bahwa sejarah perlu diteruskan dengan metode yang relevan bagi generasi mendatang. Oleh karena itu, ia sedang mengusahakan karinding sebagai alat musik pendidikan nasional. Kimung memilih melibatkan anak-anak muda sebagai pencipta sejarah, bukan hanya pendengar cerita.

“Mereka belajar, ‘Oh, begini cara membuat sejarah, tuh,’” ucap Kimung mengacu pada karya-karya yang telah dibuat anak-anak muda didikannya, mulai dari film dokumenter karinding hingga gim.

Dalam percakapan panjang sore itu, Kimung tidak mengungkapkan kekhawatirannya tentang hilangnya karinding. Ia justru lebih cemas jika sebuah budaya hanya bergantung pada satu individu. Menurutnya, budaya seharusnya hidup melalui sistem yang terus bergerak dan diwariskan secara kolektif.

“Saya berharap ada penulis muda yang menumbangkan buku saya,” kata Kimung tegas seraya menatap lurus.

Karena bagi Kimung, budaya yang sehat adalah budaya yang tidak berhenti pada pujian, melainkan budaya yang terus diperdebatkan, dikembangkan, dan dihidupkan kembali oleh generasi berikutnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Tag Terkait

News Update

Ayo Netizen 27 Jul 2026, 10:15

Kala Dingin di Bandung Jadi Tidak Adil

Bisa dibilang ketimpangan termal jarang masuk percakapan publik. Kita selama ini lebih sering bicara banjir, macet, atau polusi.

Ilustrasi suhu dingin di Kota Bandung. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 07:38

Uno, Lego, dan Ogo!

Bermain bukanlah jeda dari proses belajar, melainkan jalan yang paling alami untuk mengenal dunia.

Kakang ikut nimbrung bermain lego bersama Aa Akil, Musa di Rumah Belajar Musi Babakan Dangdeur Cibiru, Rabu (9/7/2025) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Ayo Netizen 26 Jul 2026, 12:52

Krisis Naluri Sastra dalam Episteme Demokrasi

Kenapa sastra harus bicara, ketika sumber ekologi mulai menjadi investasi politik.

Tak muat dalam rak, sejumlah buku disimpan dalam dus di Perpustakaan Batu Api di Jatinangor. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Wisata & Kuliner 26 Jul 2026, 10:47

5 Street Food Pilihan di Bandung yang Wajib Dicoba

Cari street food murah di Bandung? Cek lima kuliner legendaris dengan cita rasa autentik dan harga terjangkau yang wajib Anda coba.

Kolak Bu Mimin. (Sumber: YouTube K U B I L E R)
Ayo Netizen 26 Jul 2026, 10:02

Estetika Kota Bandung Menuju Kota Cerdas Berkelanjutan

Berestetika di kota tidak sekadar teknologinya melainkan gambaran umum bahwa kota Bandung diurus dan ditata sedemikian rupa.

Pelajar menggunakan Alun-alun Regol sebagai tempat santai dan ngobrol-ngobrol. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Jul 2026, 21:02

Stamp Hunting di Kota Kembang: Fenomena Demam “Museum Passport” dan Candu Baru Kaum Metropolis Bandung

Siapa sangka selembar kertas dan ketukan tinta bisa memicu adrenalin sedahsyat ini? Di Jakarta, demam stamp hunting sudah lebih dulu meledak. Sekarang fenomenanya menular ke Kota Bandung.

Para Stamp Hunter Peserta Komunitas Cerita Bunda Lintas Generasi Berfoto di Museum KAA (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 19:06

Ketika Pelajar Diminta Pulang Cepat, Apakah Bandung Menjadi Lebih Aman?

Jika seorang pelajar dianggap aman hanya karena berada di rumah setelah pukul 21.00, lalu bagaimana dengan keamanan kota setelah jam itu?

Warga berlalu lalang di kawasan Asia Afrika, Kota Bandung, pada malam hari. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ditya Rafi Muttaqin/Magang)
Linimasa 24 Jul 2026, 18:41

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari

Seni ukir kayu menjadi cara warga Kampung Bunisakti, Arjasari, memperkenalkan daerahnya. Beragam ukiran bernilai seni diproduksi dengan teknik khas.

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 18:33

5 'Warung' Sarapan di Pilihan Bandung, dari Kedai Legendaris hingga Hidden Gem

Jelajahi 5 kedai sarapan favorit di Bandung dengan pilihan menu rumahan, panorama asri, hingga hidden gem yang cocok untuk memulai hari.

Sajian di Sepiring Pagi.
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 17:15

Di Balik Kampanye Digital Jakarta International Marathon 2025: Analisis Merek Air Mineral Nasional

Membedah hal-hal yang tidak terlihat di balik kampanye digital.

Ilustrasi. (Sumber: AI)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 16:18

Pesta Kesenian Bali sebagai Bukti Apresiasi Seni yang Perlu Ditularkan ke Provinsi Lain

Ketika suatu festival seni dapat memberi inspirasi bagi daerah lain.

Pertunjukan Pesta Kesenian Bali tahun 2026 (Sumber: Youtube: Disbud Prov. Bali)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:27

Mega Korupsi Era 90-an Skandal Bapindo dan Eddy Tansil Mengguncang Indonesia

Pengusaha bernama lengkap Edy Tansil (Tan Tjoa Ing) dituntut hukuman penjara seumur hidup serta diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp800 miliar.

Surat kabar Bandung Pos edisi akhir Juli 1994 yang menampilkan berita utama mengenai kasus mega korupsi Eddy Tansil. (Sumber: Foto dan koleksi surat kabar Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:10

Modernisasi Berkebaya yang Berbudaya

Tidak dapat ditawar lagi dengan berkebaya. Kebaya sudah menjadi identitas yang sangat penting bagi Indonesia.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 14:17

Telusur Arca Derenten: Ikonografi Durga-Agastya, Omon-Omon dari Kebun Binatang ke Museum Kota

Pengejawantahan arkeolog sebagai 'detektif masa lalu': mengkaji ikonografi Arca batu, menelusuri jejak hilangnya, hingga mengurai urgensi lembaga Museum Kota

Pintu masuk kebun binatang Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 13:40

Pentingnya Patuh Minum Obat Hipertensi: Penyuluhan Mahasiswa PKPA UMB di Puskesmas Cibiru

Kegiatan kolaborasi yang dilakukan oleh mahasiswa dan praktisi fasilitas pelayanan kesehatan di puskesmas dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup pasien di puskesmas cibiru.

Mahasiswa PKPA Universitas Muhammadiyah Bandung sedang melaksanakan Penyuluhan di Puskesmas Cibiru. Kamis (23/6/2026). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Indri Wahyuni A)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 13:22

Lontong Goreng Gasibu, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Gedung Sate Bandung

Cari sarapan enak di Bandung? Lontong Goreng Gasibu menawarkan lontong goreng hangat dan tahu Sumedang dengan harga mulai Rp4.000 di kawasan Lapangan Gasibu.

Lontong Goreng Gasibu. (Sumber: Instagram @hayulahgaskeun)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 10:22

Sate, Sang Mahakarya Kuliner Nusantara: Dari Warisan Budaya hingga Diplomasi Rasa Dunia

Indonesia boleh dibilang merupakan "Negeri Seribu Sate".

Pedagang sate. (Sumber: Pexels | Foto: nourrie zein)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 07:55

Kesantunan Berdigital bagi Anak

Kecerdasan buatan tidak boleh membatasi proses tumbuh kembang anak.

Orang tua dan anaknya. (Sumber: Pexels/Lgh_9)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 19:42

Gunung Alit Telah Lahir di Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu

Gunung Alit ini lahir di sisi utara Kawah Ratu Gunung Tangkubanparahu.

Gunung Alit lahir di dalam Kawah Ratu pascaletusan Juli–Agustus 2019. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 18:02

Serunya Belajar di Alam Bebas

Pendidikan terbaik bukan selalu tentang seberapa cepat anak mampu membaca, menulis, berhitung. Melainkan ketika anak tumbuh menjadi manusia yang rasa ingin tahunya tetap hidup, hatinya tetap lembut

Asyiknya Kakang naik Bebek Gowes di Pondok Tandang Bakti Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Ahad (31/5/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)