Kala Dingin di Bandung Jadi Tidak Adil

4 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Ilustrasi suhu dingin di Kota Bandung. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)
Ilustrasi suhu dingin di Kota Bandung. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)

BANDUNG sedang dingin-dinginnya saat ini. Banyak yang bilang ini romantis. Kopi panas, jaket tebal, udara segar. Tapi, kalau dilihat lebih dekat, dingin di Bandung saat ini tidak dirasakan sama oleh semua orang. Ada yang menikmatinya. Ada juga yang harus menahannya.

Di kota yang sama, suhu mungkin bisa terasa berbeda. Ini bukan gara-gara termometer berubah, melainkan karena cara kita tinggal yang berbeda.

Coba bayangkan ada dua tempat di Bandung. Satu rumah di kawasan elite, dengan bangunan rapi, dinding tebal, ventilasi terkontrol, mungkin pula ada pemanas air dan pengatur suhu ruangan. Satu lagi rumah di permukiman padat, berdinding tipis, ventilasi seadanya, lantainya pun kadang masih lembap.

Secara angka, suhu mungkin sama, katakanlah 16 derajat Celcius di pagi hari. Tapi, secara pengalaman, bakal berbeda jauh. Inilah yang disebut ketimpangan termal. Ia bukan sekadar soal suhu panas dan dingin, tapi soal siapa yang bisa mengendalikan lingkungannya, dan siapa yang hanya bisa menerima.

Di malam hari, ketika suhu semakin turun, rumah dengan material yang baik akan lebih stabil. Dinding menyimpan panas dari siang hari, pelepasannya lebih lambat. Suhu di dalam ruangan tidak ikut turun drastis.

Sebaliknya, di rumah dengan material ringan -- seng, papan tipis, atau tembok tanpa insulasi -- panas siang bisa cepat hilang. Begitu matahari tenggelam, suhu langsung ikut anjlog. Udara dingin pun masuk tanpa hambatan.

Kehilangan panas

Pada dasarnya, perpindahan panas terjadi melalui konduksi, konveksi, dan radiasi. Rumah yang “bocor” secara termal akan kehilangan panas lebih cepat. Dan banyak rumah di permukiman padat memang berkarakter seperti itu.

Belum lagi yang menyangkut soal kepadatan. Rumah berdempetan memang bisa sedikit menahan angin, tapi juga sering minim sirkulasi udara sehat. Lembap, dingin, dan kadang pengap jadi satu paket komplet.

Sementara itu, di kawasan elite, ruang antarbangunan umumnya lebih lega. Sirkulasi udara lebih baik, dan juga lebih terkontrol. Ada pilihan untuk membuka atau menutup diri dari udara luar.

Alhasil, warga dengan kemampuan ekonomi berlebih punya opsi untuk melawan udara dingin. Mereka bisa beli jaket hangat berkualitas. Bisa minum air panas kapan saja. Bahkan bisa menambah perangkat pengatur suhu ruangan.

Sementara di sisi lain kota, adaptasi sering kali bukan soal pilihan, tapi soal bertahan. Misalnya, selimut mungkin terbatas. Pakaian hangat tidak selalu tersedia. Air panas bukan sesuatu yang otomatis ada. Dingin yang bagi sebagian orang “nyaman”, bagi yang lain bisa jadi tekanan.

Soal kesehatan

Ditilik dari aspek kesehatan, udara dingin bisa memicu penyempitan saluran nafas. Bagi penderita asma atau masalah paru, ini bukan hal sepele.

Karenanya, ketimpangan termal bisa pjuga berubah jadi ketimpangan kesehatan. Dan yang sering tidak terlihat, dampaknya bersifat akumulatif. Bukan sekali dua kali dingin, tapi paparan berulang setiap malam selama musim kemarau.

Ilustrasi cuaca dingin Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)
Ilustrasi cuaca dingin Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)

Bagi warga kelas menengah atas, mereka mungkin bisa mengatur aktivitas. Contohnya, tidak keluar malam, bangun lebih siang, atau bekerja dari ruang yang nyaman.

Sementara bagi banyak pekerja informal, mereka justru harus tetap aktif di saat dingin menyelimuti Bandung. Misalnua, pedagang yang harus ke pasas dini hari, pengemudi, buruh pasar. Mereka berada di luar saat suhu paling rendah menyergap kota ini. Artinya, bagi mereka, dingin bukan pilihan, tapi kondisi kerja.

Tidak semua wilayah

Karena Bandung berupa cekungan, udara dingin cenderung mengalir turun dan berkumpul di area tertentu. Imbasnya, tidak semua wilayah merasakan intensitas dingin yang sama. Wilayah yang lebih rendah, lebih padat, bisa jadi lebih “menyimpan” dingin. 

Bisa dibilang ketimpangan termal jarang masuk percakapan publik. Kita selama ini lebih sering bicara banjir, macet, atau polusi. Dan banyak kebijakan kota memang belum benar-benar menyentuh aspek ketimpangan termal ini. 

Faktanya, perumahan masih dilihat dari sisi kepadatan dan legalitas, belum dari kenyamanan termal. Padahal, desain bangunan, material, dan tata ruang sangat menentukan.

Hal-hal sederhana seperti arah bangunan, bukaan jendela, atau jenis atap bisa mengubah pengalaman suhu secara signifikan. Tapi,  ini pun butuh pengetahuan dan sering kali butuh biaya. Di sinilah ketimpangan kembali muncul. Pengetahuan dan sumber daya masih tidak tersebar merata.

Akibatnya, sebagian warga Bandung pun harus menerima kondisi yang sebenarnya bisa diperbaiki.

Akan tetap dingin

Bandung mungkin tetap akan dingin setiap musim kemarau lantaran itu bagian dari alamnya.

Tapi, bagaimana dingin itu dirasakan, hal ini bukan semata urusan alam, melainkan hasil dari cara kota ini dibangun, diatur, dan -- yang paling penting --dibagi.

Dan selama pembagian itu belum merata, maka suhu dingin di Bandung bakal selalu punya dua cerita, yakni satu yang nyaman, dan satu lagi yang harus ditahan diam-diam. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 27 Jul 2026, 13:06

Panduan Tamasya ke Lembah Harau, Yosemite-nya Indonesia di Sumatra Barat

Lembah Harau dikenal sebagai Yosemite Indonesia berkat tebing setinggi 300 meter dan panorama alamnya. Ketahui daya tarik, rute, dan fasilitas wisata di sini.

Lembah Harau. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 10:15

Kala Dingin di Bandung Jadi Tidak Adil

Bisa dibilang ketimpangan termal jarang masuk percakapan publik. Kita selama ini lebih sering bicara banjir, macet, atau polusi.

Ilustrasi suhu dingin di Kota Bandung. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 27 Jul 2026, 07:38

Uno, Lego, dan Ogo!

Bermain bukanlah jeda dari proses belajar, melainkan jalan yang paling alami untuk mengenal dunia.

Kakang ikut nimbrung bermain lego bersama Aa Akil, Musa di Rumah Belajar Musi Babakan Dangdeur Cibiru, Rabu (9/7/2025) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Ayo Netizen 26 Jul 2026, 12:52

Krisis Naluri Sastra dalam Episteme Demokrasi

Kenapa sastra harus bicara, ketika sumber ekologi mulai menjadi investasi politik.

Tak muat dalam rak, sejumlah buku disimpan dalam dus di Perpustakaan Batu Api di Jatinangor. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Wisata & Kuliner 26 Jul 2026, 10:47

5 Street Food Pilihan di Bandung yang Wajib Dicoba

Cari street food murah di Bandung? Cek lima kuliner legendaris dengan cita rasa autentik dan harga terjangkau yang wajib Anda coba.

Kolak Bu Mimin. (Sumber: YouTube K U B I L E R)
Ayo Netizen 26 Jul 2026, 10:02

Estetika Kota Bandung Menuju Kota Cerdas Berkelanjutan

Berestetika di kota tidak sekadar teknologinya melainkan gambaran umum bahwa kota Bandung diurus dan ditata sedemikian rupa.

Pelajar menggunakan Alun-alun Regol sebagai tempat santai dan ngobrol-ngobrol. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Jul 2026, 21:02

Stamp Hunting di Kota Kembang: Fenomena Demam “Museum Passport” dan Candu Baru Kaum Metropolis Bandung

Siapa sangka selembar kertas dan ketukan tinta bisa memicu adrenalin sedahsyat ini? Di Jakarta, demam stamp hunting sudah lebih dulu meledak. Sekarang fenomenanya menular ke Kota Bandung.

Para Stamp Hunter Peserta Komunitas Cerita Bunda Lintas Generasi Berfoto di Museum KAA (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 19:06

Ketika Pelajar Diminta Pulang Cepat, Apakah Bandung Menjadi Lebih Aman?

Jika seorang pelajar dianggap aman hanya karena berada di rumah setelah pukul 21.00, lalu bagaimana dengan keamanan kota setelah jam itu?

Warga berlalu lalang di kawasan Asia Afrika, Kota Bandung, pada malam hari. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ditya Rafi Muttaqin/Magang)
Linimasa 24 Jul 2026, 18:41

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari

Seni ukir kayu menjadi cara warga Kampung Bunisakti, Arjasari, memperkenalkan daerahnya. Beragam ukiran bernilai seni diproduksi dengan teknik khas.

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 18:33

5 'Warung' Sarapan di Pilihan Bandung, dari Kedai Legendaris hingga Hidden Gem

Jelajahi 5 kedai sarapan favorit di Bandung dengan pilihan menu rumahan, panorama asri, hingga hidden gem yang cocok untuk memulai hari.

Sajian di Sepiring Pagi.
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 17:15

Di Balik Kampanye Digital Jakarta International Marathon 2025: Analisis Merek Air Mineral Nasional

Membedah hal-hal yang tidak terlihat di balik kampanye digital.

Ilustrasi. (Sumber: AI)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 16:18

Pesta Kesenian Bali sebagai Bukti Apresiasi Seni yang Perlu Ditularkan ke Provinsi Lain

Ketika suatu festival seni dapat memberi inspirasi bagi daerah lain.

Pertunjukan Pesta Kesenian Bali tahun 2026 (Sumber: Youtube: Disbud Prov. Bali)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:27

Mega Korupsi Era 90-an Skandal Bapindo dan Eddy Tansil Mengguncang Indonesia

Pengusaha bernama lengkap Edy Tansil (Tan Tjoa Ing) dituntut hukuman penjara seumur hidup serta diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp800 miliar.

Surat kabar Bandung Pos edisi akhir Juli 1994 yang menampilkan berita utama mengenai kasus mega korupsi Eddy Tansil. (Sumber: Foto dan koleksi surat kabar Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:10

Modernisasi Berkebaya yang Berbudaya

Tidak dapat ditawar lagi dengan berkebaya. Kebaya sudah menjadi identitas yang sangat penting bagi Indonesia.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 14:17

Telusur Arca Derenten: Ikonografi Durga-Agastya, Omon-Omon dari Kebun Binatang ke Museum Kota

Pengejawantahan arkeolog sebagai 'detektif masa lalu': mengkaji ikonografi Arca batu, menelusuri jejak hilangnya, hingga mengurai urgensi lembaga Museum Kota

Pintu masuk kebun binatang Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 13:40

Pentingnya Patuh Minum Obat Hipertensi: Penyuluhan Mahasiswa PKPA UMB di Puskesmas Cibiru

Kegiatan kolaborasi yang dilakukan oleh mahasiswa dan praktisi fasilitas pelayanan kesehatan di puskesmas dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup pasien di puskesmas cibiru.

Mahasiswa PKPA Universitas Muhammadiyah Bandung sedang melaksanakan Penyuluhan di Puskesmas Cibiru. Kamis (23/6/2026). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Indri Wahyuni A)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 13:22

Lontong Goreng Gasibu, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Gedung Sate Bandung

Cari sarapan enak di Bandung? Lontong Goreng Gasibu menawarkan lontong goreng hangat dan tahu Sumedang dengan harga mulai Rp4.000 di kawasan Lapangan Gasibu.

Lontong Goreng Gasibu. (Sumber: Instagram @hayulahgaskeun)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 10:22

Sate, Sang Mahakarya Kuliner Nusantara: Dari Warisan Budaya hingga Diplomasi Rasa Dunia

Indonesia boleh dibilang merupakan "Negeri Seribu Sate".

Pedagang sate. (Sumber: Pexels | Foto: nourrie zein)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 07:55

Kesantunan Berdigital bagi Anak

Kecerdasan buatan tidak boleh membatasi proses tumbuh kembang anak.

Orang tua dan anaknya. (Sumber: Pexels/Lgh_9)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 19:42

Gunung Alit Telah Lahir di Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu

Gunung Alit ini lahir di sisi utara Kawah Ratu Gunung Tangkubanparahu.

Gunung Alit lahir di dalam Kawah Ratu pascaletusan Juli–Agustus 2019. (Sumber: T Bachtiar)