Krisis Naluri Sastra dalam Episteme Demokrasi

4 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Tak muat dalam rak, sejumlah buku disimpan dalam dus di Perpustakaan Batu Api di Jatinangor. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Tak muat dalam rak, sejumlah buku disimpan dalam dus di Perpustakaan Batu Api di Jatinangor. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Apakah sastra bisa menawarkan pemikiran baru dalam mengejawantahkan kondisi demokrasi, dengan tekanan-tekanan intimidatif, yang acapkali dianggap sebagai perlawanan terhadap kekuasaan? Atau karena sastra telah mandul nalurinya dalam menyuarakan kejujuran terhadap alam, yang tidak jarang dijadikan investasi politik.

Barangkali demokrasi tidak selalu runtuh oleh kudeta, senjata, atau konstitusi yang diubah secara paksa. Ia dapat melemah secara perlahan ketika pohon-pohon terakhir ditebang, sungai kehilangan arah, dan gunung diperlakukan hanya sebagai angka dalam laporan investasi. Di sana, demokrasi tidak lagi berbicara mengenai kehendak rakyat, melainkan tentang siapa yang paling berkuasa menentukan masa depan ruang hidup.

Konflik Alam

Konflik alam pada hakikatnya bukan sekadar pertentangan mengenai tanah, hutan, atau tambang. Ia merupakan benturan dua cara pandang terhadap peradaban. Di satu sisi, alam dipahami sebagai ruang kehidupan yang menyimpan memori budaya, sejarah, dan keberlangsungan generasi. Di sisi lain, alam direduksi menjadi komoditas yang dapat dihitung dengan rumus keuntungan ekonomi.

Di tengah perubahan iklim global, berbagai konflik ekologis memperlihatkan bahwa demokrasi menghadapi ujian yang semakin kompleks.

Ketika masyarakat adat kehilangan wilayahnya, ketika sungai tercemar oleh industri, atau ketika hutan berubah menjadi hamparan konsesi, sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan hanya lingkungan hidup, melainkan kualitas demokrasi itu sendiri. Sebab demokrasi hanya dapat tumbuh apabila setiap warga memiliki hak yang setara atas ruang hidupnya.

Martin Heidegger dalam The Question Concerning Technology mengingatkan bahwa teknologi modern tidak lagi sekadar alat, melainkan suatu cara mengungkap dunia (Gestell), yakni cara berpikir yang memandang segala sesuatu sebagai “cadangan sumber daya” (standing-reserve). Alam tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang memiliki keberadaan intrinsik, melainkan sebagai objek yang siap dieksploitasi. Ketika cara berpikir demikian mendominasi kebijakan publik, demokrasi perlahan kehilangan dimensi etisnya. Keputusan politik lebih sering diukur berdasarkan produktivitas ekonomi daripada keberlanjutan kehidupan.

Pandangan Heidegger terasa semakin relevan ketika pembangunan dipahami semata-mata sebagai percepatan investasi. Hutan dihitung berdasarkan volume kayu, sungai dinilai dari kapasitas energi, dan pegunungan diterjemahkan menjadi cadangan mineral. Di balik angka-angka tersebut, manusia justru kehilangan kemampuan untuk mengalami alam sebagai rumah bersama. Heidegger juga pernah mengingatkan, ketika manusia memperlakukan alam sebagai objek, maka yang lahir bukan keseimbangan, tapi kehancuran.

Sementara itu, Michel Foucault melalui Discipline and Punish serta The History of Sexuality menunjukkan bahwa kekuasaan modern tidak selalu bekerja melalui paksaan terbuka. Kekuasaan hadir melalui produksi pengetahuan, regulasi, statistik, birokrasi, bahkan bahasa yang membentuk cara masyarakat memahami kenyataan. Dalam konteks konflik lingkungan, narasi tentang “kepentingan nasional”, “hilirisasi”, atau “pembangunan strategis” dapat menjadi perangkat diskursif yang menggeser suara masyarakat lokal ke pinggir ruang demokrasi.

Dengan kata lain, konflik alam tidak hanya berlangsung di lapangan, tetapi juga di dalam bahasa. Siapa yang berhak mendefinisikan kemajuan? Siapa yang menentukan bahwa sebuah hutan lebih bernilai sebagai kawasan industri dibandingkan sebagai ruang ekologis? Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan inti dari pertarungan demokrasi kontemporer.

Simulakra

Dalam masyarakat digital, persoalan menjadi semakin rumit. Perdebatan mengenai lingkungan sering kali berubah menjadi pertunjukan citra. Data dipilih sesuai kepentingan, opini diproduksi secara masif, sementara kenyataan ekologis justru menghilang di balik banjir informasi. Di sinilah pemikiran Jean Baudrillard mengenai simulakra menemukan relevansinya. Simulakra menggambarkan keadaan ketika representasi tidak lagi mencerminkan realitas, melainkan menggantikannya. Kita menyaksikan kampanye hijau, slogan keberlanjutan, dan berbagai simbol pelestarian, tetapi pada saat yang sama kerusakan ekologis tetap berlangsung. Demokrasi akhirnya lebih sibuk mengelola persepsi daripada menyelesaikan persoalan.

Peradaban yang hidup dalam simulakra mudah terjebak pada demokrasi yang bersifat seremonial. Partisipasi publik dipamerkan, konsultasi dilakukan, laporan keberlanjutan diterbitkan, tetapi keputusan penting tetap berada dalam lingkaran kepentingan ekonomi dan politik tertentu. Rakyat hadir sebagai penonton, bukan sebagai subjek yang menentukan arah kebijakan.

Konflik alam juga memperlihatkan bahwa krisis lingkungan hampir selalu beriringan dengan ketimpangan sosial. Kelompok yang paling sedikit menikmati keuntungan eksploitasi justru menjadi pihak yang paling besar menanggung risiko bencana. Fenomena ini memperlihatkan bahwa demokrasi ekologis bukan sekadar isu konservasi, melainkan persoalan keadilan.

Masa depan demokrasi tidak cukup dijaga melalui pemilu yang jujur atau kebebasan berpendapat semata. Ini bukan sebuah episteme dalam demokrasi kebangsaan. Demokrasi juga membutuhkan sungai yang tetap mengalir, hutan yang masih berdiri, udara yang layak dihirup, serta ruang hidup yang tidak terus-menerus dipertukarkan dengan kepentingan jangka pendek. Ketika alam kehilangan haknya untuk tetap hidup, manusia pada akhirnya kehilangan fondasi moral bagi kebebasannya sendiri.

Mungkin inilah ironi terbesar peradaban modern. Kita membangun gedung-gedung yang semakin tinggi, tetapi kehilangan kemampuan mendengar suara angin dari hutan. Kita menciptakan teknologi yang semakin canggih, tetapi gagal memahami bahwa bumi bukan sekadar objek pembangunan. Demokrasi sejati bukan hanya soal menghitung suara pada hari pemungutan suara, melainkan juga kemampuan mendengar suara yang tidak pernah masuk ke kotak suara: suara tanah yang retak, sungai yang keruh, dan pepohonan yang tumbang.

Pada akhirnya, kualitas demokrasi akan selalu ditentukan oleh cara sebuah bangsa memperlakukan alamnya. Sebab ketika bumi tidak lagi dipercaya sebagai rumah bersama, demokrasi perlahan berubah menjadi panggung yang mempertontonkan kebebasan semu—sebuah simulakra peradaban yang kehilangan kenyataan paling mendasarnya, yakni kehidupan itu sendiri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Vito Prasetyo
Tentang Vito Prasetyo
Malang

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 11 Sep 2026, 17:12

Cara Mencari Research Gap untuk Skripsi dan Penelitian

Sulit menemukan research gap untuk skripsi? Pelajari cara menemukannya dari jurnal, melihat celah penelitian, hingga mengubahnya menjadi ide penelitian.

Cara Mencari Research Gap untuk Skripsi dan Penelitian (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 16:57

Sekali di Udara, Tetap di Hati: 81 Tahun Perjalanan RRI

Radio Republik Indonesia (RRI) memperingati hari jadinya setiap 11 September.

Gedung RRI Bandung, diambil pada bulan Agustus 2024. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Pijri Paijar)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 14:04

Komunikasi di Era AI: Mengapa Suara Manusia di Radio Tak Tergantikan

Di era AI, radio bertahan sebagai benteng keaslian manusia. Hari Radio Nasional mengingatkan bahwa kehangatan dan koneksi emosional dari suara penyiar tak tergantikan oleh algoritma.

Ilustrasi ruangan siaran radio. (Sumber: Pexels | Foto: Pixabay)
Linimasa 11 Sep 2026, 14:02

Dulu Sempat Viral, Apa Kabar Odading Mang Oleh?

Odading Mang Soleh pernah viral berkat video Ade Londok. Kini usaha tersebut diteruskan anak-anak dan memiliki cabang di luar Bandung.

Odading Mang Oleh yang dulu sempat viral. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 13:27

Menghidupkan Siaran RRI Bandung dengan Kreativitas Siniar

Alih wahana oleh RRI Bandung membutuhkan platform digital karya anak bangsa yang multifungsi.

Gedung Radio Republik Indonesia Bandung di Jalan Diponegoro No.61 Kota Bandung (Sumber: RRI | Foto: Atep)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 10:16

Dari I Hate Monday Menjadi 'Dimanusiakan' Pengalaman Tak Terduga di BP Kebudayaan Jabar

Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat adalah unit pelaksana teknis di bawah Kementerian Kebudayaan yang bertugas merawat dan memajukan kebudayaan serta cagar budaya di wilayah Provinsi Jawa Barat.

Ilustrasi tulisan "I hate monday". (Sumber: Pexels | Foto: elena_ sher)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 09:00

Mengapa Laga Persib–Persija Lebih dari Sekadar Tiga Poin

Para pemain Persib tidak hanya bermain untuk klub, tetapi juga menjadi simbol kebanggaan sebagian masyarakat Jawa Barat. 

Pemain Persib dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 20:26

Warisan Gunung Sunda Purba, dari Purwakarta, Subang, sampai Bandung Barat

Menjelajah warisan Gunung Sunda Purba melalui kemegahan Gunung Burangrang. Sisi Utara membentang di Purwakarta dan Subang, sementara sisi Selatan megah berdiri di Bandung Barat.

Keadaan ronabumi seperti inilah yang dilihat oleh masyarakat, bukan Gunung Sunda yang menjulang  tinggi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:26

Transformasi Perpustakaan Meningkatkan Kunjungan Masyarakat

Setiap perpustakaan memang mengidentifikasi problematika yang sama, salah satunya berkaitan dengan kunjungan masyarakat yang minim.

Ilustrasi perpustakaan. (Sumber: Pexels | Foto: Tima Miroshnichenko)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:00

ASN Gen Z dan Tantangan Mengubah Kepastian Menjadi Kinerja

Artikel ini mengkaji persepsi ASN Gen Z terhadap kecocokan karier, kompetensi, dan kebutuhan pengembangan dalam birokrasi.

Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 17:01

Polemik Desil dalam Indikator Kesejahteraan Ekonomi

Apakah desil bisa dijadikan indikator dalam menentukan strata kesejahteraan masyarakat kini? Desil hanya sebuah istilah dalam algoritma statistik. Jangan memaksa manusia menjadi angka dalam database.

Bantuan pangan cadangan beras pemerintah alokasi Juni dan Juli wilayah Kota Bandung di Kantor Kelurahan Cihapit, Jalan Sabang, Kota Bandung, Jumat 18 Juli 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 16:37

Remy Sylado: Jejak Sang Maestro di Bandung

Jejak Remy Sylado di Bandung kembali ditelusuri melalui buku, arsip, dan kesaksian orang-orang terdekat yang menghidupkan kembali sosok maestro multidisipliner tersebut.

Silaturahmi menyambut terbitnya buku Remy Sylado dan Dua Brouwer yang dihadiri budayawan, pegiat seni, serta sahabat dekat Remy Sylado, di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut No. 2, Kota Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 15:11

KDM, Jawa Barat, dan Temtasi 2029

KDM membutuhkan policy dashboard, bukan sekadar social-media dashboard.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 10 Sep 2026, 10:57

Kampung Sate, Ketika Bambu Bisa Diubah Menjadi Rupiah Oleh Warga Satu Kampung

Kampung Randukurung Kutawaringin dikenal sebagai sentra tusuk sate. Warga mengolah bambu secara tradisional menjadi sumber penghasilan.

Di Kampung Randukurung, bambu gombong diolah menjadi ribuan tusuk sate dengan tangan dan peralatan tradisional. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 10:44

Stok Masker mulai Langka dan Harganya Melambung Kembali

Permintaan pasar yang tinggi seringkali membuat harga pun ikut naik begitu juga dengan kondisi yang terjadi pada masker.

Maskter kesehatan. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 08:58

Strategi Kuliah Luar Negeri Tembus Ivy League dan Program Pre-College

Sejak didirikan pada tahun 2003, Euro Management Indonesia mengembangkan pola pendampingan studi ke luar negeri secara terpadu dan terintegrasi.

Suasana belajar di Euro Management Indonesia, Menteng Jakarta. (Foto: Humas Euro MI)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)