Mengapa Laga Persib–Persija Lebih dari Sekadar Tiga Poin

5 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Pemain Persib dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Pemain Persib dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Rivalitas Persib dan Persija akhirnya tidak hanya mempertemukan dua kesebelasan, tetapi juga mempertemukan dua simbol kota dan pengalaman sosial yang berbeda.

  • Penelitian terbaru mengenai budaya suporter Indonesia juga menemukan bahwa stadion berfungsi sebagai ruang ritual, tempat identitas diekspresikan melalui nyanyian, koreografi, maupun atribut.

  • Mungkin itu sebabnya istilah "harga diri" terasa begitu kuat dalam pertandingan seperti yang dilakoni Persib-Persija.

RIVALITAS olahraga menjadi kian kuat ketika pertandingan membawa-bawa identitas kolektif.

Klub sepakbola kebanggaan urang Jawa Barat, Persib Maung Bandung, bersua lagi Macam Kemayoran Persija Jakarta. Secara teknis, pertandingan itu tetap hanya berlangsung 90 menit. Ada 11 pemain di masing-masing sisi. Satu bola. Dua gawang. Dan tiga poin yang saling diperebutkan. 

Akan tetapi, bagi banyak orang, hitung-hitungan itu terasa tidak cukup untuk menjelaskan kenapa pertandingan ini selalu mempunyai bobot emosional yang lebih besar.

Kamis (10/9/2026) kemarin, ribuan Bobotoh sengaja ngaleut dan berkumpul di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) menjelang pertemuan Persib dengan Persija pada pekan kedua Super League 2026/2027. 

Tentu para bobotoh itu tidak akan ikut merumput. Mereka bahkan tidak akan berada di tribun dan motah ketika pertandingan dihelat di kandang sang Macan, di Jakarta. Namun, mereka datang untuk menyampaikan pesan yang sederhana: berjuang habis-habisan. All out. Bebeakan.

Kemenangan pribadi

Seorang penonton sebenarnya tidak pernah mempunyai hubungan langsung dengan hasil pertandingan. Pasalnya, ia tidak mengoper bola. Tidak melakukan tekel. Dan tidak menentukan strategi. Tetapi, ketika klub yang didukungnya menang, kemenangan itu dapat terasa seperti kemenangan pribadi. Ketika kalah, kekalahan itu juga dapat terasa menyakitkan.

Dalam psikologi sosial, gejala semacam ini dapat dijelaskan melalui social identity theory. Manusia tidak hanya melihat dirinya sebagai individu, tetapi juga sebagai bagian dari kelompok. 

Klub sepak bola menyediakan salah satu bentuk kelompok yang sangat kuat karena identitas itu dapat dirasakan, dipertontonkan, dan dijalankan bersama. Studi mengenai fandom sepak bola bahkan menunjukkan bahwa dukungan terhadap klub dapat menjadi komponen penting dalam identitas seseorang.

Walhasil, bobotoh tidak sekadar berarti orang yang membeli tiket pertandingan. Identitas sebagai pendukung Persib dapat menjadi bagian dari cara seseorang menjawab pertanyaan sederhana: "Siapa saya?" 

Identitas tersebut boleh jadi berkaitan dengan tempat, terutama Bandung, sekaligus dengan konstruksi kesundaan. Namun, identitas itu tidak bersifat tertutup. Di era digital, ia juga terus dinegosiasikan oleh orang Sunda, pendatang di Bandung, maupun pendukung Persib yang berada jauh dari Jawa Barat.

Dan itu menjelaskan satu hal penting bahwa Persib memang berasal dari Bandung, tetapi identitas Persib tidak berhenti di batas-batas administratif ngan saukur Kota Bandung. Faktanya, ada Bobotoh di berbagai kota, termasuk mereka yang hidup jauh dari Jawa Barat.

Bahkan, di ibukota Jakarta, yang menjadi kandang Persija, mempunyai komunitas pendukung Persib karena banyak orang Jawa Barat merantau dan tinggal di sana. 

Maka, rivalitas Persib dan Persija akhirnya tidak hanya mempertemukan dua kesebelasan, tetapi juga mempertemukan dua simbol kota dan pengalaman sosial yang berbeda.

Akibatnya,  laga Persib–Persija mempunyai karakter khusus. Rivalitas membuat identitas kelompok menjadi lebih kentara karena selalu ada pembanding. 

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat sekaligus menjadi warga Bandung, orang Sunda, pekerja kantoran, ayah, ibu, mahasiswa, penggemar musik, dan pendukung Persib. Semua identitas itu dapat hidup berdampingan tanpa masalah.

Tetapi, ketika Persib berhadapan dengan Persija, sebagian identitas tersebut seolah mengerucut. Studi mengenai suporter olahraga menemukan bahwa identitas yang biasanya berlapis dapat menjadi jauh lebih eksklusif ketika seseorang berhadapan dengan rival. Pada saat itulah perbedaan antara "kami" dan "mereka" menjadi lebih tebal dan terasa.

Itulah sebabnya kalimat yang dilontarkan Marc Klok yang menegaskan bahwa pertandingan Persib-Persija menyangkut "harga diri" tidak perlu dibaca secara harfiah sebagai persoalan hidup dan mati. 

Harga diri dalam konteks ini lebih tepat dipahami sebagai nilai simbolik. Artinya, pemain bukan hanya membawa nama klub. Mereka juga membawa ekspektasi kelompok yang merasa mempunyai hubungan emosional dengan klub tersebut.

Masalahnya, identitas kolektif selalu mempunyai dua sisi. Ia dapat menghasilkan solidaritas yang luar biasa, tetapi juga dapat memperkeras batas antara kelompok. 

Dinamika suporter sepakbola Indonesia saat ini menunjukkan bahwa sebagian besar suporter tetap mendukung tim secara damai, sementara perilaku antisosial jauh lebih terkait dengan kelompok dengan tingkat identity fusion yang tinggi. Artinya, tidak tepat menyamakan kecintaan terhadap klub dengan kekerasan. 

Tetapi, semakin kuat identifikasi kelompok, semakin penting pula kemampuan mengelola batas antara loyalitas dan permusuhan.

Karena itu, sorakan Bobotoh di GBLA sebenarnya mempunyai makna yang lebih luas daripada sekadar membakar semangat pemain Persib sebelum mereka makalangan di Jakarta. Sorakan itu adalah sebuah ritual sosial. Orang-orang berkumpul, menggunakan simbol yang sama, meneriakkan dukungan yang sama, lalu merasakan bahwa mereka merupakan bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. 

Penelitian terbaru mengenai budaya suporter Indonesia juga menemukan bahwa stadion berfungsi sebagai ruang ritual, tempat identitas diekspresikan melalui nyanyian, koreografi, maupun atribut.

Menariknya, ritual semacam itu tetap mempunyai arti meskipun pertandingan berlangsung ratusan kilometer jaraknya dari Kota  Bandung. Bobotoh tidak selamanya perlu berada di GBK, atau di Stadion Patriot Candrabhaga, atau di Tambaksari untuk merasa menjadi bagian dari pertandingan Persib. 

Menunggu hasil

Tentu saja, pesan para bobotoh yang menyemut di GBLA dapat menjadi semacam "kehadiran psikologis". Pemain Persib mengetahui bahwa ada ribuan orang yang menunggu hasil pertandingan dan menganggap perjuangan mereka penting.

Tetapi, ingat juga, dukungan juga bukan obat ajaib. Pemain profesional tetap harus berhadapan dengan taktik, kondisi fisik, kualitas lawan, kesalahan sendiri, dan situasi pertandingan. 

Dukungan bobotoh tidak otomatis selalu menghasilkan kemenangan. Bahkan dalam olahraga elite, dukungan yang terlalu besar bisa berubah menjadi tuntutan dan dapat menambah tekanan terhadap tim dan pemain. Tantangannya tentu justru bagaimana pemain mengubah ekspektasi itu menjadi energi tanpa membiarkannya mengganggu konsentrasi mereka.

Perseteruan Persib dan Persija tetaplah terkait sepak bola. Tidak ada teori sosial yang bisa mengubah satu gol menjadi dua gol atau sebaliknya. Tetapi, sepak bola mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki banyak olahraga lain, yakni mengubah pertandingan menjadi pengalaman kolektif. 

Orang-orang yang tidak saling mengenal dapat merasa mempunyai kepentingan yang sama hanya karena mengenakan warna jersey yang sama atau meneriakkan yel yel yang sama.

Mungkin itu sebabnya istilah "harga diri" terasa begitu kuat dalam pertandingan seperti yang dilakoni Persib-Persija. Yang dipertaruhkan bukan cuma angka di papan skor atau posisi di klasemen. Ada kebanggaan, ingatan, identitas, dan perasaan menjadi bagian dari suatu kelompok. 

Persib tidak harus menjadi representasi seluruh Jawa Barat untuk mempunyai makna sebesar itu. Cukup bagi jutaan orang untuk merasa bahwa ketika Persib bermain, ada sebagian dari dirinya yang ikut bermain.

Karena itulah perjumpaan Persib–Persija seharusnya tidak diukur hanya dari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Rivalitas menjadi berarti ketika ia membuat pertandingan lebih hidup, identitas lebih terasa, dan dukungan lebih kuat, tanpa harus menghilangkan rasa hormat kepada pihak yang berbeda. 

Sebab, pada akhirnya, harga diri sebuah klub tidak hanya terlihat dari keberaniannya menghadapi rival, tetapi juga dari kemampuannya menjaga agar rivalitas tetap sebatas bagian dari olahraga, bukan berubah menjadi permusuhan abadi di luar lapangan -- apalagi sampai diwariskan secara turun temurun.

Artinya, setelah piriwit akhir dibunyikan, tak ada lagi perseteruan, tak ada lagi rivalitas. Yang tersisa hanya persahabatan dan persaudaraan -- tanpa batas.***

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 11 Sep 2026, 16:57

Sekali di Udara, Tetap di Hati: 81 Tahun Perjalanan RRI

Radio Republik Indonesia (RRI) memperingati hari jadinya setiap 11 September.

Gedung RRI Bandung, diambil pada bulan Agustus 2024. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Pijri Paijar)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 14:04

Komunikasi di Era AI: Mengapa Suara Manusia di Radio Tak Tergantikan

Di era AI, radio bertahan sebagai benteng keaslian manusia. Hari Radio Nasional mengingatkan bahwa kehangatan dan koneksi emosional dari suara penyiar tak tergantikan oleh algoritma.

Ilustrasi ruangan siaran radio. (Sumber: Pexels | Foto: Pixabay)
Linimasa 11 Sep 2026, 14:02

Dulu Sempat Viral, Apa Kabar Odading Mang Oleh?

Odading Mang Soleh pernah viral berkat video Ade Londok. Kini usaha tersebut diteruskan anak-anak dan memiliki cabang di luar Bandung.

Odading Mang Oleh yang dulu sempat viral. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 13:27

Menghidupkan Siaran RRI Bandung dengan Kreativitas Siniar

Alih wahana oleh RRI Bandung membutuhkan platform digital karya anak bangsa yang multifungsi.

Gedung Radio Republik Indonesia Bandung di Jalan Diponegoro No.61 Kota Bandung (Sumber: RRI | Foto: Atep)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 10:16

Dari I Hate Monday Menjadi 'Dimanusiakan' Pengalaman Tak Terduga di BP Kebudayaan Jabar

Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat adalah unit pelaksana teknis di bawah Kementerian Kebudayaan yang bertugas merawat dan memajukan kebudayaan serta cagar budaya di wilayah Provinsi Jawa Barat.

Ilustrasi tulisan "I hate monday". (Sumber: Pexels | Foto: elena_ sher)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 09:00

Mengapa Laga Persib–Persija Lebih dari Sekadar Tiga Poin

Para pemain Persib tidak hanya bermain untuk klub, tetapi juga menjadi simbol kebanggaan sebagian masyarakat Jawa Barat. 

Pemain Persib dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 20:26

Warisan Gunung Sunda Purba, dari Purwakarta, Subang, sampai Bandung Barat

Menjelajah warisan Gunung Sunda Purba melalui kemegahan Gunung Burangrang. Sisi Utara membentang di Purwakarta dan Subang, sementara sisi Selatan megah berdiri di Bandung Barat.

Keadaan ronabumi seperti inilah yang dilihat oleh masyarakat, bukan Gunung Sunda yang menjulang  tinggi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:26

Transformasi Perpustakaan Meningkatkan Kunjungan Masyarakat

Setiap perpustakaan memang mengidentifikasi problematika yang sama, salah satunya berkaitan dengan kunjungan masyarakat yang minim.

Ilustrasi perpustakaan. (Sumber: Pexels | Foto: Tima Miroshnichenko)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:00

ASN Gen Z dan Tantangan Mengubah Kepastian Menjadi Kinerja

Artikel ini mengkaji persepsi ASN Gen Z terhadap kecocokan karier, kompetensi, dan kebutuhan pengembangan dalam birokrasi.

Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 17:01

Polemik Desil dalam Indikator Kesejahteraan Ekonomi

Apakah desil bisa dijadikan indikator dalam menentukan strata kesejahteraan masyarakat kini? Desil hanya sebuah istilah dalam algoritma statistik. Jangan memaksa manusia menjadi angka dalam database.

Bantuan pangan cadangan beras pemerintah alokasi Juni dan Juli wilayah Kota Bandung di Kantor Kelurahan Cihapit, Jalan Sabang, Kota Bandung, Jumat 18 Juli 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 16:37

Remy Sylado: Jejak Sang Maestro di Bandung

Jejak Remy Sylado di Bandung kembali ditelusuri melalui buku, arsip, dan kesaksian orang-orang terdekat yang menghidupkan kembali sosok maestro multidisipliner tersebut.

Silaturahmi menyambut terbitnya buku Remy Sylado dan Dua Brouwer yang dihadiri budayawan, pegiat seni, serta sahabat dekat Remy Sylado, di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut No. 2, Kota Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 15:11

KDM, Jawa Barat, dan Temtasi 2029

KDM membutuhkan policy dashboard, bukan sekadar social-media dashboard.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 10 Sep 2026, 10:57

Kampung Sate, Ketika Bambu Bisa Diubah Menjadi Rupiah Oleh Warga Satu Kampung

Kampung Randukurung Kutawaringin dikenal sebagai sentra tusuk sate. Warga mengolah bambu secara tradisional menjadi sumber penghasilan.

Di Kampung Randukurung, bambu gombong diolah menjadi ribuan tusuk sate dengan tangan dan peralatan tradisional. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 10:44

Stok Masker mulai Langka dan Harganya Melambung Kembali

Permintaan pasar yang tinggi seringkali membuat harga pun ikut naik begitu juga dengan kondisi yang terjadi pada masker.

Maskter kesehatan. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 08:58

Strategi Kuliah Luar Negeri Tembus Ivy League dan Program Pre-College

Sejak didirikan pada tahun 2003, Euro Management Indonesia mengembangkan pola pendampingan studi ke luar negeri secara terpadu dan terintegrasi.

Suasana belajar di Euro Management Indonesia, Menteng Jakarta. (Foto: Humas Euro MI)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)