Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

7 menit baca
Bayu Hikmat Purwana
Ditulis oleh Bayu Hikmat Purwana diterbitkan
Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)

UNICEF Indonesia melaporkan pada 2026 bahwa hampir seluruh anak pengguna internet di Indonesia (99,4 persen) telah menjadikan internet sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, dengan rata-rata penggunaan 5,4 jam per hari. Begitu juga di Bandung, anak-anak tumbuh di lingkungan yang semakin terkoneksi, ketika gawai, internet, dan grup percakapan telah menjadi bagian dari keseharian mereka.

Namun, bayangkan bila seorang anak datang ke sekolah dengan wajah murung dan menghindari teman-temannya. Ketika ditanya guru, ia hanya menjawab, “Tidak apa-apa, Bu.” Padahal, malam sebelumnya, foto dirinya disebarkan tanpa izin di sebuah grup percakapan dan jadi bahan ejekan.

Persoalan yang bermula dari layar ponsel akhirnya terbawa ke ruang kelas, memengaruhi rasa aman dan kenyamanan anak di sekolah. Situasi ini menunjukkan bahwa ketika risiko digital masuk ke kehidupan anak di sekolah, sudah siapkah sekolah menjadi ruang yang aman untuk mendengar, melindungi, dan membantu?

Dari Cakap Digital Menjadi Aman Digital

Dari sisi kebijakan, kerangka perlindungan anak di ruang digital semakin kuat dengan hadirnya Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS). Salah satu aksi yang fenomenal adalah telah dinonaktifkannya 4,7 juta akun anak oleh platform digital pada Juni 2026.

Namun, keberadaan kebijakan dan berbagai upaya perlindungan tersebut belum otomatis menjamin anak merasa aman di ruang digital. Pengalaman anak di ruang digital dapat terbawa ke ruang kelas dan memengaruhi rasa aman, kenyamanan, serta relasi mereka dengan teman sebaya.

Persoalan ini bukan sekadar kekhawatiran. Kajian UNICEF menunjukkan bahwa 42 persen anak mengaku pernah merasa tidak nyaman atau takut. Studi Disrupting Harm in Indonesia menunjukkan 17–56 persen anak yang mengalami masalah di ruang digital tidak menceritakannya kepada siapa pun.

Karena itu, sekolah perlu membangun lingkungan yang mampu mengenali tanda-tanda masalah dan menyediakan ruang aman untuk bercerita, bukan sekadar menunggu laporan.

Siapa yang Menyiapkan Sekolah?

Sekolah tidak cukup hanya memiliki akses internet, perangkat pembelajaran, atau guru yang mampu menggunakan berbagai aplikasi. Sekolah juga harus siap menghadapi risiko yang menyertai aktivitas digital anak.

DP3A Kota Bandung pada Tahun 2024 mencatat sekitar 15 persen kasus kekerasan terhadap anak terjadi di satuan pendidikan. Data tersebut memperlihatkan bahwa sekolah bukan hanya tempat pendidikan, tetapi juga salah satu ruang penting untuk tumbuh kembang anak.

Pengembangan literasi dan keamanan digital banyak berada dalam pembinaan Kementerian Komdigi serta Diskominfo daerah, sementara sekolah berada dalam sistem pembinaan Kementerian Dikdasmen serta Disdik baik provinsi ataupun kab/kota. Persoalannya bukan, ini program siapa? Melainkan bagaimana agenda lintas sektoral tersebut diterjemahkan menjadi praktik yang nyata di sekolah.

Karena itu, sosialisasi, pelatihan guru, dan materi cyberbullying tetap penting, tetapi belum cukup. Sekolah perlu diperkuat kapasitasnya agar tidak hanya mengajarkan kecakapan digital, tetapi juga mampu mengenali risiko, merespons kasus, dan memastikan anak memperoleh perlindungan ketika menghadapi cyberbullying di ruang digital.

Risiko cyberbullying bukan persoalan kecil. Dalam jajak pendapat U-Report yang dirujuk UNICEF, 45 persen dari 2.777 anak muda Indonesia usia 14–24 tahun melaporkan pernah mengalami perundungan siber. Dari 1.207 responden, 45 persen melaporkan pelecehan melalui aplikasi percakapan dan 41 persen penyebaran foto atau video pribadi tanpa izin

Data Bukan Sekadar Angka

Ketika seorang siswa berkata, “Bu, foto saya disebarkan tanpa izin,” sekolah harus tahu apa yang dilakukan: siapa menerima laporan, bagaimana bukti digital diamankan, kapan orang tua dilibatkan, bagaimana korban dan pelaku ditangani, serta kapan kasus perlu dirujuk.

Di Kota Bandung, UPTD PPA sepanjang 2024 telah melayani 218 anak korban kekerasan dan 156 di antaranya adalah anak perempuan. Data ini menunjukkan bahwa perlindungan anak bukan persoalan yang jauh dari kehidupan sekolah dan keluarga di Bandung.

Di balik setiap persoalan yang dialami anak, ada kemungkinan anak memilih diam karena takut, malu, merasa bersalah, atau tidak tahu kepada siapa harus bercerita. Ketika masalah tidak terdeteksi dan tidak mendapatkan dukungan, beban yang semula mungkin terlihat kecil, berkembang menjadi persoalan yang jauh lebih serius.

Berkaca dari data Pusiknas Bareskrim Polri tahun 2025, tercatat 1.270 kasus bunuh diri. Ironinya, 7,66 persen di antaranya melibatkan anak-anak. Angka ini tentu tidak dapat langsung dikaitkan dengan persoalan di ruang digital. Namun, data tersebut menjadi pengingat bahwa ketika anak menghadapi tekanan, mereka sangat membutuhkan orang dewasa dan sistem yang jelas.

Sekolah mungkin tidak dapat mencegah semua persoalan yang terjadi di ruang digital. Tetapi sekolah dapat memastikan bahwa seorang anak yang sedang menghadapi persoalan tidak harus menghadapinya sendirian.

Lintas Kewenangan, Satu Ruang Perlindungan

Bagi anak yang mengalami masalah di ruang digital. Mereka butuh orang dewasa yang mau mendengar tanpa menghakimi, dan memastikan mereka mendapatkan bantuan yang tepat.

Bukan, Ini Komdigi” dan “itu pendidikan

Karena itu, perlindungan anak di ruang digital membutuhkan pembagian peran yang jelas dan saling terhubung. Pemerintah pusat menetapkan norma, standar, pedoman, dan kompetensi minimal; pemerintah daerah memperkuat pembinaan, fasilitasi, dan supervisi; Diskominfo menyediakan dukungan keahlian dan materi keamanan digital; sementara dinas pendidikan memastikan agenda tersebut terintegrasi dalam pembinaan sekolah.

Kemudian, sekolah menerjemahkan sesuai kebutuhan dan karakteristiknya. Kewenangan boleh berbeda, tetapi fokus utamanya sama agar anak tidak dibiarkan menghadapi risiko digital sendirian.

Sekolah sebagai Gerbang Pertama

Sekolah seharusnya menjadi ruang aman, bukan sumber tekanan baru. Sekolah tidak perlu menyelesaikan semuanya. Yang penting, sekolah tahu kapan harus bertindak dan kapan harus merujuk.

Kesiapan ini penting karena tidak semua anak berani bercerita. Membangun keberanian anak untuk bercerita dan memastikan adanya orang dewasa yang siap merespons bukan pelengkap, tetapi bagian penting dari perlindungan anak.

Kebijakan perlindungan anak di ruang digital sudah hadir. Tantangannya adalah memastikan sekolah memiliki kapasitas dan mekanisme perlindungan yang nyata sebagai pintu pertama deteksi dini dan respons awal.

Setidaknya ada tiga pintu yang dapat diperkuat. Pertama, pembelajaran Informatika, sebagai ruang membangun pemahaman tentang keamanan akun, privasi, jejak digital, etika bermedia, cyberbullying, perlindungan data, risiko teknologi berbasis AI, dan mekanisme pelaporan.

Kedua, kegiatan ekstrakurikuler, melalui kegiatan literasi digital, pendidikan sebaya, atau kampanye penggunaan internet yang aman. Anak tidak hanya menjadi objek perlindungan, tetapi juga bagian dari solusi. Ketiga, kebijakan teknis sekolah, seperti aturan penggunaan gawai, prosedur penanganan cyberbullying, mekanisme pelaporan insiden, perlindungan data siswa, pelibatan orang tua, dan rujukan kasus.

Ketiganya saling melengkapi. Informatika membangun pengetahuan, kegiatan ekstrakurikuler memperkuat kesadaran dan partisipasi, sedangkan kebijakan sekolah memastikan adanya tata kelola dan respons yang jelas.

Bandung Masagi di Ruang Digital

Bandung memiliki “Bandung Masagi”, model pendidikan karakter berbasis kearifan lokal yang berlandaskan silih asih, silih asah, silih asuh, dan silih wawangi. Bandung Masagi bisa menjadi modal sekaligus kompas agar kecakapan digital tetap berjalan bersama empati, tanggung jawab, dan kepedulian.

Silih asah mendorong anak saling mencerdaskan agar mampu mengenali dan menghadapi risiko digital. Silih asih mengingatkan bahwa di balik setiap akun dan unggahan ada manusia yang memiliki perasaan dan martabat. Silih asuh menegaskan bahwa anak tidak boleh menghadapi risiko sendirian. Sementara silih wawangi mengajak anak mengisi ruang digital dengan hal-hal positif, bukan penghinaan, perundungan, atau kebencian.

Dari Program Menjadi Sistem

Kesiapan sekolah tidak seharusnya diukur dari banyaknya partisipasi dalam seminar literasi digital, tetapi dari apakah guru tahu merespons ketika anak melapor, sekolah memiliki prosedur yang jelas, orang tua mengetahui jalur komunikasi, dan tersedia mekanisme rujukan ketika kasus membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Anak mungkin masuk ke ruang digital sendirian. Tetapi ketika menghadapi masalah, mereka tidak boleh merasa sendirian. Sekolah akan menjadi institusi pertama di mana anak merasa aman untuk bercerita, mendapatkan perlindungan, dan menemukan jalan keluar.

Sebab sekolah yang siap di era digital bukan hanya sekolah yang mampu mengajarkan anak menggunakan teknologi, tetapi sekolah yang tahu bagaimana melindungi mereka ketika teknologi mulai menyakiti.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 14:41

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon

Taman Wisata Goa Sunyaragi adalah salah satu wisata bersejarah di Kota Cirebon yang menyimpan banyak cerita menarik.

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)