Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

7 menit baca
Bayu Hikmat Purwana
Ditulis oleh Bayu Hikmat Purwana diterbitkan
Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • UNICEF Indonesia melaporkan pada 2026 bahwa hampir seluruh anak pengguna internet di Indonesia (99,4 persen) telah menjadikan internet sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

  • Di Kota Bandung, UPTD PPA sepanjang 2024 telah melayani 218 anak korban kekerasan dan 156 di antaranya adalah anak perempuan.

  • Sekolah perlu membangun lingkungan yang mampu mengenali tanda-tanda masalah dan menyediakan ruang aman untuk bercerita.

  • Sekolah tidak cukup hanya memiliki akses internet, perangkat pembelajaran, atau guru yang mampu menggunakan berbagai aplikasi. Sekolah juga harus siap menghadapi risiko yang menyertai aktivitas digital anak.

  • “Bandung Masagi”, model pendidikan karakter berbasis kearifan lokal yang berlandaskan silih asih, silih asah, silih asuh, dan silih wawangi.

  • Sekolah yang siap menghadapi era digital bukan hanya mampu mengajarkan anak menggunakan teknologi, tetapi juga mampu melindungi mereka ketika teknologi mulai menjadi ancaman.

UNICEF Indonesia melaporkan pada 2026 bahwa hampir seluruh anak pengguna internet di Indonesia (99,4 persen) telah menjadikan internet sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, dengan rata-rata penggunaan 5,4 jam per hari. Begitu juga di Bandung, anak-anak tumbuh di lingkungan yang semakin terkoneksi, ketika gawai, internet, dan grup percakapan telah menjadi bagian dari keseharian mereka.

Namun, bayangkan bila seorang anak datang ke sekolah dengan wajah murung dan menghindari teman-temannya. Ketika ditanya guru, ia hanya menjawab, “Tidak apa-apa, Bu.” Padahal, malam sebelumnya, foto dirinya disebarkan tanpa izin di sebuah grup percakapan dan jadi bahan ejekan.

Persoalan yang bermula dari layar ponsel akhirnya terbawa ke ruang kelas, memengaruhi rasa aman dan kenyamanan anak di sekolah. Situasi ini menunjukkan bahwa ketika risiko digital masuk ke kehidupan anak di sekolah, sudah siapkah sekolah menjadi ruang yang aman untuk mendengar, melindungi, dan membantu?

Dari Cakap Digital Menjadi Aman Digital

Dari sisi kebijakan, kerangka perlindungan anak di ruang digital semakin kuat dengan hadirnya Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS). Salah satu aksi yang fenomenal adalah telah dinonaktifkannya 4,7 juta akun anak oleh platform digital pada Juni 2026.

Namun, keberadaan kebijakan dan berbagai upaya perlindungan tersebut belum otomatis menjamin anak merasa aman di ruang digital. Pengalaman anak di ruang digital dapat terbawa ke ruang kelas dan memengaruhi rasa aman, kenyamanan, serta relasi mereka dengan teman sebaya.

Persoalan ini bukan sekadar kekhawatiran. Kajian UNICEF menunjukkan bahwa 42 persen anak mengaku pernah merasa tidak nyaman atau takut. Studi Disrupting Harm in Indonesia menunjukkan 17–56 persen anak yang mengalami masalah di ruang digital tidak menceritakannya kepada siapa pun.

Karena itu, sekolah perlu membangun lingkungan yang mampu mengenali tanda-tanda masalah dan menyediakan ruang aman untuk bercerita, bukan sekadar menunggu laporan.

Siapa yang Menyiapkan Sekolah?

Sekolah tidak cukup hanya memiliki akses internet, perangkat pembelajaran, atau guru yang mampu menggunakan berbagai aplikasi. Sekolah juga harus siap menghadapi risiko yang menyertai aktivitas digital anak.

DP3A Kota Bandung pada Tahun 2024 mencatat sekitar 15 persen kasus kekerasan terhadap anak terjadi di satuan pendidikan. Data tersebut memperlihatkan bahwa sekolah bukan hanya tempat pendidikan, tetapi juga salah satu ruang penting untuk tumbuh kembang anak.

Pengembangan literasi dan keamanan digital banyak berada dalam pembinaan Kementerian Komdigi serta Diskominfo daerah, sementara sekolah berada dalam sistem pembinaan Kementerian Dikdasmen serta Disdik baik provinsi ataupun kab/kota. Persoalannya bukan, ini program siapa? Melainkan bagaimana agenda lintas sektoral tersebut diterjemahkan menjadi praktik yang nyata di sekolah.

Karena itu, sosialisasi, pelatihan guru, dan materi cyberbullying tetap penting, tetapi belum cukup. Sekolah perlu diperkuat kapasitasnya agar tidak hanya mengajarkan kecakapan digital, tetapi juga mampu mengenali risiko, merespons kasus, dan memastikan anak memperoleh perlindungan ketika menghadapi cyberbullying di ruang digital.

Risiko cyberbullying bukan persoalan kecil. Dalam jajak pendapat U-Report yang dirujuk UNICEF, 45 persen dari 2.777 anak muda Indonesia usia 14–24 tahun melaporkan pernah mengalami perundungan siber. Dari 1.207 responden, 45 persen melaporkan pelecehan melalui aplikasi percakapan dan 41 persen penyebaran foto atau video pribadi tanpa izin

Data Bukan Sekadar Angka

Ketika seorang siswa berkata, “Bu, foto saya disebarkan tanpa izin,” sekolah harus tahu apa yang dilakukan: siapa menerima laporan, bagaimana bukti digital diamankan, kapan orang tua dilibatkan, bagaimana korban dan pelaku ditangani, serta kapan kasus perlu dirujuk.

Di Kota Bandung, UPTD PPA sepanjang 2024 telah melayani 218 anak korban kekerasan dan 156 di antaranya adalah anak perempuan. Data ini menunjukkan bahwa perlindungan anak bukan persoalan yang jauh dari kehidupan sekolah dan keluarga di Bandung.

Di balik setiap persoalan yang dialami anak, ada kemungkinan anak memilih diam karena takut, malu, merasa bersalah, atau tidak tahu kepada siapa harus bercerita. Ketika masalah tidak terdeteksi dan tidak mendapatkan dukungan, beban yang semula mungkin terlihat kecil, berkembang menjadi persoalan yang jauh lebih serius.

Berkaca dari data Pusiknas Bareskrim Polri tahun 2025, tercatat 1.270 kasus bunuh diri. Ironinya, 7,66 persen di antaranya melibatkan anak-anak. Angka ini tentu tidak dapat langsung dikaitkan dengan persoalan di ruang digital. Namun, data tersebut menjadi pengingat bahwa ketika anak menghadapi tekanan, mereka sangat membutuhkan orang dewasa dan sistem yang jelas.

Sekolah mungkin tidak dapat mencegah semua persoalan yang terjadi di ruang digital. Tetapi sekolah dapat memastikan bahwa seorang anak yang sedang menghadapi persoalan tidak harus menghadapinya sendirian.

Lintas Kewenangan, Satu Ruang Perlindungan

Bagi anak yang mengalami masalah di ruang digital. Mereka butuh orang dewasa yang mau mendengar tanpa menghakimi, dan memastikan mereka mendapatkan bantuan yang tepat.

Bukan, Ini Komdigi” dan “itu pendidikan

Karena itu, perlindungan anak di ruang digital membutuhkan pembagian peran yang jelas dan saling terhubung. Pemerintah pusat menetapkan norma, standar, pedoman, dan kompetensi minimal; pemerintah daerah memperkuat pembinaan, fasilitasi, dan supervisi; Diskominfo menyediakan dukungan keahlian dan materi keamanan digital; sementara dinas pendidikan memastikan agenda tersebut terintegrasi dalam pembinaan sekolah.

Kemudian, sekolah menerjemahkan sesuai kebutuhan dan karakteristiknya. Kewenangan boleh berbeda, tetapi fokus utamanya sama agar anak tidak dibiarkan menghadapi risiko digital sendirian.

Sekolah sebagai Gerbang Pertama

Sekolah seharusnya menjadi ruang aman, bukan sumber tekanan baru. Sekolah tidak perlu menyelesaikan semuanya. Yang penting, sekolah tahu kapan harus bertindak dan kapan harus merujuk.

Kesiapan ini penting karena tidak semua anak berani bercerita. Membangun keberanian anak untuk bercerita dan memastikan adanya orang dewasa yang siap merespons bukan pelengkap, tetapi bagian penting dari perlindungan anak.

Kebijakan perlindungan anak di ruang digital sudah hadir. Tantangannya adalah memastikan sekolah memiliki kapasitas dan mekanisme perlindungan yang nyata sebagai pintu pertama deteksi dini dan respons awal.

Setidaknya ada tiga pintu yang dapat diperkuat. Pertama, pembelajaran Informatika, sebagai ruang membangun pemahaman tentang keamanan akun, privasi, jejak digital, etika bermedia, cyberbullying, perlindungan data, risiko teknologi berbasis AI, dan mekanisme pelaporan.

Kedua, kegiatan ekstrakurikuler, melalui kegiatan literasi digital, pendidikan sebaya, atau kampanye penggunaan internet yang aman. Anak tidak hanya menjadi objek perlindungan, tetapi juga bagian dari solusi. Ketiga, kebijakan teknis sekolah, seperti aturan penggunaan gawai, prosedur penanganan cyberbullying, mekanisme pelaporan insiden, perlindungan data siswa, pelibatan orang tua, dan rujukan kasus.

Ketiganya saling melengkapi. Informatika membangun pengetahuan, kegiatan ekstrakurikuler memperkuat kesadaran dan partisipasi, sedangkan kebijakan sekolah memastikan adanya tata kelola dan respons yang jelas.

Bandung Masagi di Ruang Digital

Bandung memiliki “Bandung Masagi”, model pendidikan karakter berbasis kearifan lokal yang berlandaskan silih asih, silih asah, silih asuh, dan silih wawangi. Bandung Masagi bisa menjadi modal sekaligus kompas agar kecakapan digital tetap berjalan bersama empati, tanggung jawab, dan kepedulian.

Silih asah mendorong anak saling mencerdaskan agar mampu mengenali dan menghadapi risiko digital. Silih asih mengingatkan bahwa di balik setiap akun dan unggahan ada manusia yang memiliki perasaan dan martabat. Silih asuh menegaskan bahwa anak tidak boleh menghadapi risiko sendirian. Sementara silih wawangi mengajak anak mengisi ruang digital dengan hal-hal positif, bukan penghinaan, perundungan, atau kebencian.

Dari Program Menjadi Sistem

Kesiapan sekolah tidak seharusnya diukur dari banyaknya partisipasi dalam seminar literasi digital, tetapi dari apakah guru tahu merespons ketika anak melapor, sekolah memiliki prosedur yang jelas, orang tua mengetahui jalur komunikasi, dan tersedia mekanisme rujukan ketika kasus membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Anak mungkin masuk ke ruang digital sendirian. Tetapi ketika menghadapi masalah, mereka tidak boleh merasa sendirian. Sekolah akan menjadi institusi pertama di mana anak merasa aman untuk bercerita, mendapatkan perlindungan, dan menemukan jalan keluar.

Sebab sekolah yang siap di era digital bukan hanya sekolah yang mampu mengajarkan anak menggunakan teknologi, tetapi sekolah yang tahu bagaimana melindungi mereka ketika teknologi mulai menyakiti.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Bayu Hikmat Purwana
Analis Kebijakan dengan bidang kepakaran pengembangan kapasitas ASN di Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Manajemen Talenta ASN Nasional LAN RI

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)