Ketika Anak Tumbuh di Balik Layar: Sudahkah Mereka Aman?

5 menit baca
Bayu Hikmat Purwana
Ditulis oleh Bayu Hikmat Purwana diterbitkan
Belajar menggunakan open source secara bijak di rumah (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Bayu HP)
Belajar menggunakan open source secara bijak di rumah (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Bayu HP)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Pemerintah Kota Bandung melalui Diskominfo secara konsisten mendorong edukasi dan literasi digital.

  • Orang tua juga harus melatih anak cara memblokir akun (block), melaporkan (report), menyimpan bukti tangkapan layar, serta ke mana harus mencari bantuan saat mengalami cyberbullying.

  • Di Kota Bandung, edukasi literasi digital telah menyentuh isu keamanan online, privasi, hingga pengelolaan waktu penggunaan internet.

Coba bayangkan: di angkot, di halte, atau di halaman sekolah, anak-anak menunduk menatap layar gawai. Ada yang menonton video, bermain gim, mengirim pesan kepada teman, mencari bahan tugas sekolah, atau sekadar menggulir media sosial. Bahkan di rumah pun, kita dengan mudah menemukan pemandangan serupa.

Bandung sebenarnya bukan kota yang tinggal diam menghadapi fenomena tersebut. Pemerintah Kota Bandung melalui Diskominfo secara konsisten mendorong edukasi dan literasi digital. Namun, di tengah semakin lekatnya teknologi dalam keseharian anak, muncul satu pertanyaan mendasar: apakah anak-anak sudah cukup siap menghadapi berbagai risiko ketika berada di balik layar?

Pertanyaan ini menjadi semakin penting karena literasi internet yang belum merata dan keamanan data masih menjadi tantangan yang tercantum dalam Rencana Strategis Diskominfo Kota Bandung 2025–2029. Dokumen tersebut juga menempatkan penguatan literasi digital generasi muda sebagai bagian dari upaya menghadapi hoaks, cyberbullying, konten negatif, ancaman keamanan daring, serta persoalan pengelolaan waktu penggunaan internet.

Jago Pakai Gawai, Belum Tentu Aman di Internet

Anak-anak zaman sekarang tidak perlu diajari cara menyalakan gawai. Mereka sudah mahir membuka WhatsApp, bermain gim, menonton YouTube, membuat konten TikTok, hingga berselancar di media sosial. Sebagian anak bahkan jauh lebih cepat menguasai fitur-fitur baru dibandingkan orang tuanya.

Namun, ketika seseorang yang tidak dikenal mengirim pesan pribadi, apakah mereka paham bahwa itu bisa menjadi awal ancaman? Ketika seorang teman menyebarkan foto pribadi tanpa izin, apakah anak tahu harus berbuat apa dan kapan harus berhenti? Dan ketika mengalami perundungan siber (cyberbullying), intimidasi, atau pelecehan, apakah mereka tahu harus melapor kepada siapa?

Yang dibutuhkan anak saat ini bukan sekadar kemampuan teknologis menggunakan gawai, melainkan kompetensi untuk mengenali kapan sebuah interaksi mulai berbahaya, bagaimana melindungi diri, dan kepada siapa harus meminta bantuan.

Studi UNICEF mencatat 99,4 persen anak di Indonesia telah menggunakan internet dengan rata-rata durasi mencapai 5,4 jam per hari. Namun, hanya 37,5 persen di antaranya yang memperoleh informasi tentang cara menjaga keamanan saat daring. Sebanyak 42 persen anak mengaku pernah merasa tidak nyaman atau takut akibat pengalaman di ruang digital, sementara 50,3 persen pernah terpapar konten seksual di media sosial.

Lebih mengkhawatirkan lagi, studi Disrupting Harm in Indonesia memperkirakan sekitar 2 persen anak pengguna internet mengalami eksploitasi dan kekerasan seksual secara daring (online child sexual exploitation and abuse) dalam 12 bulan terakhir. Angka ini setara dengan lebih dari setengah juta anak setiap tahunnya. Lalu, apa artinya data ini bagi para orang tua di Bandung?

Dari “Jangan!” Menjadi “Tahu Bagaimana”

Di banyak keluarga, respons terhadap risiko digital sering kali disederhanakan dengan kata larangan.

Jangan main HP terus!”, “Jangan chat sama orang asing!”, “Jangan buka situs aneh-aneh!.

Masalahnya, anak tidak cukup hanya diberi tahu apa yang dilarang. Mereka harus dibekali pemahaman tentang apa yang wajib dilakukan ketika situasi berbahaya benar-benar terjadi. Di sinilah letak perbedaannya: literasi membuat anak tahu, sedangkan kompetensi keamanan membuat anak mampu bertindak.

Edukasi harus bergeser dari sekadar larangan menjadi pembekalan. Orang tua perlu mengajarkan bagaimana seseorang dapat membangun kepercayaan palsu untuk memanipulasi (grooming), bukan hanya melarang bicara dengan orang asing. Orang tua juga harus melatih anak cara memblokir akun (block), melaporkan (report), menyimpan bukti tangkapan layar, serta ke mana harus mencari bantuan saat mengalami cyberbullying.

Di sisi lain, orang tua perlu memahami dunia digital yang dimasuki anak. Tidak harus menjadi ahli teknologi, tetapi setidaknya memahami risikonya, mampu menggunakan fitur pengawasan (parental control), serta rutin mendiskusikan pengalaman anak di internet. Kebanyakan anak yang menghadapi masalah di dunia maya enggan melapor karena takut dimarahi, malu, atau khawatir gawainya disita. Anak tidak hanya butuh pengawasan, tetapi juga hubungan yang hangat agar mereka merasa aman untuk bercerita.

Sekolah sebagai Ruang Aman di Dunia Maya

Jika Bandung sudah gencar menjalankan literasi digital, apa langkah konkret berikutnya? Salah satunya adalah menjadikan sekolah sebagai pusat pembelajaran kompetensi keamanan digital, sebagai kelanjutan dari antusiasme kegiatan Kelas Digital Sahabat Tunas yang diselenggarakan di Kota Bandung beberapa waktu lalu.

Sekolah tidak cukup hanya mengajarkan anak cara memanfaatkan teknologi secara bijak sesuai jenjang usia. Lebih dari itu, sekolah perlu membekali mereka kemampuan mengenali risiko, melindungi diri, dan mencari bantuan ketika menghadapi dampak negatif teknologi. Para guru juga perlu diperkuat kepekaannya untuk mengenali indikasi awal cyberbullying, eksploitasi, maupun gangguan psikologis akibat interaksi digital.

Selain itu, sekolah perlu memiliki mekanisme pelaporan dan pendampingan yang jelas, mudah diakses, dan ramah anak. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar dan mengembangkan kecakapan digital, tetapi juga menjadi ruang aman bagi anak untuk tumbuh, belajar, dan berinteraksi di tengah derasnya perkembangan teknologi.

Regulasi Bergerak, Kapasitas Harus Diperkuat

Kehadiran regulasi seperti PP Nomor 17 Tahun 2025 (PP TUNAS) dan Permen Komdigi Nomor 9 Tahun 2026 menjadi fondasi penting dalam memperkuat perlindungan anak di ruang digital. Namun, regulasi di atas kertas tidak akan cukup tanpa keterlibatan aktif keluarga, sekolah, pemerintah, dan penyedia platform digital.

Di Kota Bandung, edukasi literasi digital telah menyentuh isu keamanan online, privasi, hingga pengelolaan waktu penggunaan internet. Kampanye seperti “Cerdas Digital Sejak Dini” juga terus digaungkan untuk mendorong ketahanan keluarga dari rumah.

Tantangan terbesar saat ini adalah memastikan pengetahuan tersebut menjelma menjadi keterampilan praktis. Perlindungan anak di ruang digital harus bergerak dari sekadar mengatur menjadi membekali, dari sekadar sosialisasi menjadi penguasaan kompetensi.

Anak dibekali kemampuan proteksi diri, orang tua dibekali pemahaman, guru dibekali keterampilan deteksi dini, sekolah menyediakan mekanisme pelaporan, dan platform digital menyediakan fitur keamanan yang mudah diakses.

Pagi berikutnya, kita mungkin akan kembali melihat anak-anak Bandung menatap layar di angkot, halte, atau sudut ruang tamu. Mereka akan tetap scrolling, bermain, belajar, dan berinteraksi di dunia maya.

Perubahan sejati bukanlah membatasi keberadaan mereka di ruang digital, melainkan memastikan bekal apa yang mereka bawa saat berada di sana. Anak-anak memang tidak bisa selalu didampingi di balik layar, tetapi mereka bisa dibekali kemampuan untuk menjaga diri mereka sendiri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Bayu Hikmat Purwana
Analis Kebijakan dengan bidang kepakaran pengembangan kapasitas ASN di Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Manajemen Talenta ASN Nasional LAN RI

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Sep 2026, 12:04

Dampak Depresiasi Rupiah Terhadap Ketahanan Operasional dan Profitabilitas UMKM

Penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika merupakan sebuah fenomena ekonomi yang krusial yang sedang terjadi sekarang ini.

Penggunaan uang rupiah di ranah UMKM. (Sumber: Pexels | Foto: rakhmat suwandi)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 10:49

Wartawan Kok Minta Uang, Inilah yang Membuat Profesi Jurnalis Terancam

Sebuah kartu pers, nama media, dan kemungkinan sebuah berita yang ditayangkannya dapat menimbulkan tekanan sosial yang besar.

Aksi solidaritas atas kekerasan terhadap Jurnalis di Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 09:14

Pentingnya Penerapan Aset Tetap untuk Menjaga Keberlanjutan Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia

Banyak UMKM di Indonesia yang mengalami kerugian hingga berakhir bangkrut akibat minimnya pengetahuan dalam mengelola aset tetap.

Pedagang beras melayani pembeli di Pasar Sederhana, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 18:53

Perang Kata-Kata

Hal ini terjadi diantara perang bersenjata antara AS, Israel, dan Iran yang berlangsung sejak awal tahun 2026.

Peta yang memuat Timur Tengah, Asia Barat, dan Afrika, dengan Iran dan Israel di dalamnya. (Sumber: Pexels/Anthony Beck)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 17:05

‘Jomblo’: Kisah Lajang yang Mencari Cinta di Soreang, Banjaran, dan  Pangalengan

Kata jomblo diserap dari bahasa Sunda yang awalnya bermakna ‘gadis tua atau barang dagangan yang belum laku’.

Lagu "Jomblo" yang dipopulerkan dan diciptakan oleh Yayan Jatnika diperkirakan dirilis secara digital antara tahun 2016–2017 melalui album kompilasi “Pria Unggulan Pop Sunda”. (Sumber: Youtube)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 16:28

Membuka Nostalgia Lewat Kartu Pilihan Pendengar di Radio Bandung

Di balik kartu pilihan lagu dan suara penyiar, radio pada masanya menjadi ruang perjumpaan yang menghubungkan pendengar, persahabatan, dan kenangan hingga melampaui batas kota.

Sejumlah kartu pilihan pendengar yang pernah diterbitkan oleh berbagai stasiun radio sebagai bagian dari interaksi dan kedekatan radio dengan para pendengarnya. (Sumber: Foto dan dokumentasi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 15:58

Menjelajah Mozaik Budaya dan Rekonstruksi Genius Lokal Grobogan

Grobogan bukan sekadar wilayah agraris, melainkan mozaik sejarah dan budaya yang memperlihatkan bagaimana genius lokal membentuk ketahanan masyarakat, merawat keberagaman, dan peluang ekonomi.

Badiatul Muchlisin Asti sebagai penyunting buku menunjukkan buku berjudul "Mozaik Budaya Grobogan: Jejak Sejarah, Ritual, dan Legenda yang Abadi dalam Ingatan". (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Generate AI)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 13:54

Merefleksi Mitigasi Kebencanaan di Bulan Kemerdekaan

Rentetan bencana di bulan Agustus tahun 2026 ini mengingatkan kita bahwa mitigasi kebencanaan memerlukan pendekatan dan metode yang tepat, demi terwujudnya langkah mengantisipasi kebencanaan.

Pengunjung saat berwisata ke Tebing Keraton, Cimenyan, Kabupaten Bandung, yang berada di kawasan Sesar Lembang, Sabtu 27 April 2024 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 12:16

Cicaheum, Eka Jaya, dan Bungbulang

Cicaheum memang berhenti menjadi terminal bus AKAP dan AKDP. Eka Jaya hanya tinggal nama dalam ingatan. Bungbulang tetap menjadi kampung halaman yang selalu memanggil pulang.

Suasana warung di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: AyoBandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 10:49

Dipungut Rp600 Ribu Gara-gara Bikin Konten di Rumah Pengabdi Setan, Siapa Sebenarnya yang Diuntungkan?

Sebuah destinasi wisata bisa membayar iklan untuk memperoleh perhatian. Tetapi ia juga bisa memperoleh perhatian tanpa membayar media secara langsung.

Ilustrasi konten kreator di sebuah lokasi wisata. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)
Wisata & Kuliner 02 Sep 2026, 10:45

Panduan Wisata Kareumbi Cicalengka, Hutan Konservasi untuk Kemah Estetik Bandung Timur

Kareumbi Cicalengka menawarkan trekking hutan, penangkaran rusa, glamping, camping, dan wisata edukasi konservasi. Simak harga tiket, lokasi, dan jam bukanya.

Wisata Kareumbi Cicalengka. (Sumber: Google Review (Vina Rostiana))
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 08:03

Ketika Data Mengubah Nasib Keluarga

Perubahan desil, akses bansos dan PBI JK, hingga risiko pendidikan anak menunjukkan bahwa akurasi data perlindungan sosial bukan sekadar persoalan administratif.

Anak-anak memanfaatkan lorong rumah deret Tamansari untuk bermain, Sabtu 25 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Sep 2026, 18:08

Awal Penemuan Teh dan Awal Penanamannya di Indonesia

Tanaman teh pertama kali ditemukan di daratan Cina, diperkirakan di Provinsi Szechwan.

Petani memanen teh di perkebunan teh PTPN VIII, Rancabali, CIwidey, Kabupaten Bandung, Kamis 13 November 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 01 Sep 2026, 17:11

September Ceria, Ikoniknya Vina Panduwinata

Nama bulan September melambungkan dengan tinggi nama Penyanyi Vina Panduwinata.

Vina Panduwinata. (Sumber: Musica Studio)
Ayo Netizen 01 Sep 2026, 16:10

Ketaatan Standar Cerobong Asap dan Pengendalian Pencemaran Udara di Bandung

Kota Bandung yang secara geografis berada di wilayah cekungan memiliki risiko tinggi terhadap akumulasi polutan

Ilustrasi Dinas Lingkiungan Hiup sedang melakukan pengukuran kualitas udara. (Sumber: kreasi Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Sep 2026, 15:06

Ketika Anak Tumbuh di Balik Layar: Sudahkah Mereka Aman?

Menjaga anak di ruang digital tak cukup dengan pembatasan. Edukasi digital perlu bergeser dari larangan menuju kemampuan mengenali mengenali risiko dan melindungi diri di balik layar.

Belajar menggunakan open source secara bijak di rumah (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Bayu HP)
Ayo Netizen 01 Sep 2026, 13:58

Ojol dan Negara: Batas Kabur antara Pekerja dan Pengawas Kota

Ojol bukan aparat. Juga bukan relawan keamanan. Mereka adalah pekerja ekonomi digital yang pendapatannya bergantung pada order, dan bukan pada fungsi sosial keamanan.

Pengemudi ojol sedang berkumpul di Balai Kota Bandung, beberapa waktu lalu. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar Purta)
Linimasa 01 Sep 2026, 12:05

Menjelajah Jalan Rusak yang Disentil Marsya VOB

Lebih dari satu dekade rusak, jalan Banjarwangi-Singajaya-Peundeuy Garut kembali menjadi sorotan setelah unggahan Marsya VOB.

Kondisi jalan di Garut penghubung Kecamatan Banjarwangi, Singajaya, Peundeuy dan Cibalong yang telah mengalami kerusakan parah puluhan kilometer. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 01 Sep 2026, 11:18

Peran Militer dalam Proyek Strategis Nasional, Perlu Apresiasi atau Antisipasi?

Peran militer dalam Proyek Strategis Nasional bisa menjadi indikator, kemana pembangunan Indonesia akan dibawa?

Program Makan Bergizi Gratis (MBG). (Sumber: setneg.go.id)
Beranda 01 Sep 2026, 10:11

Ratusan Ton Sampah per Hari Bisa Lenyap Jika Warga Bandung Kelola Sisa Makanan Sendiri

Selama tujuh tahun (2018–2024), jumlah sisa makanan yang dibuang warga Bandung selalu berada di kisaran 660 sampai 780 ton per hari.

Pengolahan sampah organik di di TPS Gedebage menjadi kompos. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)