Ketika Data Mengubah Nasib Keluarga

5 menit baca
Dadang Suhenda
Ditulis oleh Dadang Suhenda diterbitkan
Anak-anak memanfaatkan lorong rumah deret Tamansari untuk bermain, Sabtu 25 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Anak-anak memanfaatkan lorong rumah deret Tamansari untuk bermain, Sabtu 25 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Di balik perubahan satu angka desil, terdapat kemungkinan perubahan akses terhadap bantuan sosial, Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK), bantuan pendidikan, dan berbagai bentuk perlindungan lainnya.

  • Data harus mampu menggambarkan kondisi masyarakat secara aktual, dapat diverifikasi, dan mudah dikoreksi ketika terjadi perubahan.

  • Desil hanyalah alat untuk membaca kehidupan tersebut. Jangan sampai angka menggantikan kenyataan.

Ada ironi dalam tata kelola perlindungan sosial saat ini. Ketika kesejahteraan meningkat, semestinya hal itu menjadi kabar baik. Namun, ketika kenaikan status kesejahteraan berimplikasi pada berkurangnya akses terhadap bantuan sosial, sebagian warga justru merasa cemas. Di sejumlah tempat, warga bahkan berbondong-bondong mendatangi RT dan RW untuk mempertanyakan dan meminta koreksi terhadap desil kesejahteraannya.

Mereka bukan ingin dianggap miskin. Mereka hanya merasa bahwa angka dalam sistem belum sepenuhnya menggambarkan kondisi kehidupan mereka.

Fenomena ini menunjukkan bahwa data sosial ekonomi bukan sekadar urusan administrasi. Di balik perubahan satu angka desil, terdapat kemungkinan perubahan akses terhadap bantuan sosial, Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK), bantuan pendidikan, dan berbagai bentuk perlindungan lainnya.

Ketika Desil Menjadi Persoalan Kehidupan

Kisah Timbul, seorang tukang becak berusia 49 tahun di Kulon Progo, memberikan gambaran nyata. Desil keluarganya sempat melonjak dari desil 1 menjadi desil 9. Ia bahkan mengaku heran karena status keluarganya lebih tinggi daripada lurah di lingkungannya yang berada pada desil 8.

Persoalannya menjadi serius ketika status tersebut muncul saat Timbul sedang berusaha mencari keringanan biaya pendidikan bagi anaknya yang diterima kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta. Perubahan desil yang terlihat administratif ternyata dapat bersentuhan langsung dengan masa depan seorang anak.

Namun, kisah Timbul memiliki perkembangan yang justru penting. Setelah dilakukan pengecekan dan pemutakhiran, statusnya kemudian berubah menjadi desil 3. Artinya, data dapat dikoreksi ketika ditemukan ketidaksesuaian dengan kondisi aktual.

Pelajaran pentingnya bukan hanya bahwa seseorang sempat masuk desil 9. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: berapa banyak keluarga lain yang mengalami ketidaksesuaian serupa tetapi tidak mengetahui statusnya, tidak tahu cara mengajukan keberatan, atau tidak memiliki kemampuan untuk memperjuangkannya?

Kegelisahan serupa muncul di Bandung. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mempertanyakan kondisi ketika penghasilan sekitar Rp3 juta dapat membuat seseorang masuk kelompok desil 9 atau 10. Pertanyaan tersebut sesungguhnya mengingatkan bahwa pendapatan tidak dapat dibaca tanpa melihat konteks rumah tangga. Penghasilan yang sama tentu memiliki arti berbeda bagi seseorang yang hidup sendiri dengan kepala keluarga yang harus membiayai beberapa anak, membayar kontrakan, pendidikan, pangan, transportasi, dan kebutuhan kesehatan.

Di sinilah kita perlu membedakan antara tidak miskin, tidak lagi miskin, dan tidak rentan terhadap kemiskinan. Keluarga mungkin sudah tidak berada dalam kelompok termiskin, tetapi belum tentu memiliki tabungan, pekerjaan yang stabil, atau kemampuan menghadapi guncangan.

Risikonya menjadi lebih besar ketika menyangkut pendidikan. Bagi keluarga rentan, pendidikan anak merupakan jalan penting untuk memutus kemiskinan antargenerasi. Jika keluarga kehilangan dukungan ketika kemampuan ekonominya belum benar-benar kuat, mahasiswa dapat terancam berhenti kuliah bukan karena persoalan akademik, tetapi karena biaya.

Ketika Bantuan Tidak Otomatis Membuat Keluarga Mandiri

Warga antre untuk menerima bantuan sosial program keluarga harapan (PKH) di Kantor Pos Cabang Utama, Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Jumat 10 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Warga antre untuk menerima bantuan sosial program keluarga harapan (PKH) di Kantor Pos Cabang Utama, Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Jumat 10 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Persoalan serupa dapat dilihat dari kondisi rumah. Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda mengingatkan bahwa rumah yang tampak bagus belum tentu menunjukkan pemiliknya telah sejahtera, karena kondisi tersebut bisa merupakan hasil bantuan pemerintah.

Hal ini relevan dengan program bedah rumah atau Rumah Tidak Layak Huni (RUTILAHU). Ketika atap, dinding, lantai, dan sanitasi rumah diperbaiki, kualitas tempat tinggal memang meningkat. Tetapi pendapatan keluarga belum tentu berubah. Pekerjaan belum tentu lebih stabil, jumlah tanggungan tetap, biaya pendidikan tetap ada, dan risiko kesehatan tetap dihadapi.

Karena itu, rumah yang menjadi lebih baik sebagai hasil intervensi pemerintah tidak otomatis berarti kemampuan ekonomi keluarganya juga meningkat. Jangan sampai keberhasilan program bedah rumah justru menjadi alasan administratif bahwa keluarga tersebut sudah tidak membutuhkan perlindungan sosial.

Hal yang sama perlu diperhatikan dalam PBI JK. Bagi keluarga berpenghasilan rendah, jaminan kesehatan bukan sekadar bantuan, tetapi perlindungan agar satu kejadian sakit tidak membuat keluarga jatuh miskin. Kenaikan desil seharusnya tidak otomatis dibaca sebagai tanda bahwa keluarga telah mampu menanggung seluruh risiko kesehatan secara mandiri.

Di sinilah exclusion error menjadi penting: keluarga yang sebenarnya masih membutuhkan perlindungan justru keluar dari sistem karena kondisi ekonominya terbaca lebih baik daripada kenyataan. Selama ini perhatian sering diberikan pada mereka yang menerima bantuan tetapi dianggap tidak berhak. Padahal, mereka yang seharusnya mendapatkan perlindungan tetapi justru terlewat juga perlu menjadi perhatian.

Data Harus Mengikuti Kehidupan

Indonesia tentu membutuhkan data sosial ekonomi yang terintegrasi. Pemutakhiran diperlukan agar bantuan semakin tepat sasaran. Namun, data yang baik bukan hanya data yang besar dan lengkap. Data harus mampu menggambarkan kondisi masyarakat secara aktual, dapat diverifikasi, dan mudah dikoreksi ketika terjadi perubahan.

Fenomena warga yang datang ke RT dan RW menunjukkan bahwa pengetahuan lokal tetap penting di tengah sistem data yang semakin digital. RT dan RW sering mengetahui perubahan kehidupan warga lebih cepat: siapa yang kehilangan pekerjaan, memiliki banyak tanggungan, sedang membiayai anak kuliah, memperoleh bantuan rumah, atau mengalami tekanan ekonomi.

Pengetahuan tersebut tidak perlu menggantikan sistem data nasional. Sebaliknya, dapat menjadi bagian dari mekanisme verifikasi ketika terdapat perbedaan antara data dan kenyataan. Yang dibutuhkan adalah prosedur yang jelas agar koreksi tidak bergantung pada siapa yang paling kuat menyuarakan keberatan.

Kasus Timbul memberikan pelajaran bahwa data dapat diperbaiki. Tantangannya adalah memastikan mekanisme koreksi tidak baru bekerja setelah persoalan menjadi perhatian publik. Masyarakat perlu mengetahui ketika statusnya berubah dan memiliki saluran yang mudah untuk mengajukan keberatan.

Pada akhirnya, keberhasilan perlindungan sosial bukanlah ketika daftar penerima bantuan semakin pendek. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa mereka yang memang sudah mampu dapat mandiri, sementara mereka yang masih rentan tidak terlewatkan oleh sistem.

Sebab keluarga tidak hidup dalam desil. Mereka hidup dalam rumah, bekerja dengan pendapatan yang dapat berubah, membesarkan anak, membayar pendidikan, menghadapi sakit, dan berusaha mempertahankan masa depan.

Desil hanyalah alat untuk membaca kehidupan tersebut. Jangan sampai angka menggantikan kenyataan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dadang Suhenda
Tentang Dadang Suhenda
Peneliti demografi sosial di BRIN, menautkan riset dan pengabdian sebagai Ketua Forum RW Panyileukan serta Direktur Bank Sampah RESIK 04.

Berita Terkait

News Update

Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)