Dipungut Rp600 Ribu Gara-gara Bikin Konten di Rumah Pengabdi Setan, Siapa Sebenarnya yang Diuntungkan?

6 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Ilustrasi konten kreator di sebuah lokasi wisata. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)
Ilustrasi konten kreator di sebuah lokasi wisata. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Rumah Pengabdi Setan viral baru-baru ini gara-gara adanya tarif khusus bagi wisatawan yang membuat konten di objek wisata itu.

  • Dewasa ini, destinasi wisata tidak lagi hanya dipromosikan melalui brosur, baliho, iklan televisi, atau agenda pemerintah daerah. Hampir semua wisatawan datang membawa telepon seluler berkamera.

  • Yang penting bukan hanya besarnya tarif, tetapi kejelasan kategorinya. Ketidakjelasan sering kali lebih merusak daripada harga.

RUMAH Pengabdi Setan di Pangalengan, Jawa Barat, viral, baru-baru ini. Gara-garanya adanya tarif khusus bagi wisatawan yang membuat konten di objek wisata itu.

Kasus ini ini berawal dari unggahan di media sosial mengenai wisatawan asal Malaysia yang dikenakan tarif Rp600.000 saat membuat konten video di rumah lokasi syuting film Pengabdi Setan karya Joko Anwar tersebut.

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari kasus ini?

Peran wisatawan

Dewasa ini, destinasi wisata tidak lagi hanya dipromosikan melalui brosur, baliho, iklan televisi, atau agenda pemerintah daerah. Hampir semua wisatawan datang membawa telepon seluler berkamera. Mereka merekam, menggunggah, memberi komentar, lalu membiarkan algoritma bekerja. Dalam hitungan jam, pengalaman seseorang wisatawan di sebuah tempat wisata dapat menjadi pengalaman yang dibicarakan ribuan, bahkan jutaan orang.

Maka, persoalan tarif Rp600.000 di rumah Pengabdi Setan terhadap seorang wisatawan yang sedang membuat konten tidak cukup dipahami sebagai pertanyaan sederhana apakah ini mahal atau murah? Wajar atau tidak? Ada izin atau tidak? 

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apa yang sebenarnya sedang dijual oleh sebuah destinasi wisata di zaman ketika setiap wisatawan sekaligus berpotensi menjadi media promosi?

Ini bukan berarti setiap orang yang memegang telepon seluler berkamera harus diperlakukan sebagai duta promosi wisata gratis. Tentu tidak. Ada perbedaan antara memotret untuk kenang-kenangan, membuat video untuk akun pribadi, memonetisasi kanal media sosial, melakukan endorsement, sampai membuat produksi iklan komersial. Semua memiliki nilai ekonomi dan konsekuensi pengelolaan yang berbeda-beda.

Justru karena itu, pengelola destinasi wisata perlu membuat klasifikasi yang masuk akal. Jangan sampai setiap kamera wisatawan dianggap sebagai kamera komersial hanya karena mereka mengunggah video ke media sosial. Sebaliknya, jangan pula semua aktivitas produksi dianggap dokumentasi pribadi jika memang melibatkan kru, properti, sponsor, atau tujuan komersial yang jelas.

Masalahnya kiwari, media sosial telah mengubah batas antara konsumen dan produsen. Wisatawan membeli tiket untuk memperoleh pengalaman. Tetapi setelah itu, pengalaman tersebut dapat ia ubah menjadi foto, video, ulasan, cerita, dan rekomendasi. Nilai ekonominya tidak berhenti ketika ia keluar dari gerbang destinasi wisata.

Kekuatan mulut

Penelitian mengenai electronic word of mouth atau e-WOM menunjukkan bahwa percakapan digital memang berhubungan dengan pembentukan citra destinasi dan niat berkunjung. Studi yang membandingkan Indonesia dan Jepang, misalnya, menemukan bahwa e-WOM berpengaruh positif terhadap destination image dan niat berkunjung, dengan citra destinasi menjadi salah satu jalur penting pengaruh tersebut.

Artinya, video yang dibuat wisatawan bukan sekadar video. Ia dapat menjadi bagian dari proses pembentukan persepsi. Orang yang belum pernah datang ke Pangalengan, misalnya, tidak memiliki pengalaman langsung tentang tempat itu. Ia mengenalnya melalui cerita orang lain. Melalui foto orang lain. Melalui video orang lain. Melalui komentar orang lain. Dari sinilah reputasi sebuah destinasi wisata dapat mulai berpindah dari tangan pengelola ke tangan publik.

Bahkan riset mengenai konten buatan pengguna menunjukkan bahwa citra destinasi wisata dapat dipelajari dari jejak digital wisatawan. Peneliti menggunakan analisis teks dan jejaring sosial untuk membaca bagaimana persepsi wisatawan terhadap sebuah destinasi terbentuk dari konten yang mereka tinggalkan di jagad internet. 

Dengan kata lain, internet bukan lagi sekadar tempat promosi pariwisata. Ia telah menjadi semacam ruang observasi tentang bagaimana wisatawan sesungguhnya melihat sebuah tempat.

Tanpa membayar media

Sebuah destinasi wisata bisa membayar iklan untuk memperoleh perhatian. Tetapi, ia juga bisa memperoleh perhatian tanpa membayar media secara langsung, ketika wisatawan membuat konten dan orang lain ikut menyebarkannya. Nilai ekonominya memang tidak selalu mudah dihitung, tetapi bukan berarti nilainya tidak ada.

Sekadar ilustrasi, bayangkan seorang wisatawan membuat video berdurasi satu menit. Video itu lantas ditonton 500.000 orang. Sebagian penasaran. Sebagian menyimpan lokasinya. Sebagian mengirimkannya kepada teman. Sebagian lagi akhirnya datang.

Dari satu video lahir serangkaian kemungkinan transaksi, mulai dari tiket masuk, parkir, makanan, penginapan, transportasi, oleh-oleh, hingga kunjungan ke tempat lain di sekitar destinasi.

Itulah yang disebut ekonomi perhatian. Dalam dunia digital, yang langka bukan lagi informasi. Informasi justru berlimpah-ruah. Ceuyah, kalau kata Teh Ikoh, urang Sukadana, Ciamis mah. Yang langka adalah perhatian manusia. Karena itu, destinasi wisata tidak hanya bersaing untuk mendapatkan wisatawan. Mereka juga bersaing untuk mendapatkan beberapa detik perhatian di layar gawai.

Namun demikian, perhatian bukan selalu kabar baik. Viralitas mempunyai dua wajah. Ia bisa menjadi promosi yang luar biasa murah, tetapi juga bisa menjadi pengeras suara bagi pengalaman yang buruk. Jadi, semakin besar jangkauan sebuah cerita, semakin besar pula kemungkinan dampaknya terhadap persepsi destinasi.

Maka dari itu, kita perlu membedakan visibility dengan reputation. Sebuah tempat bisa sangat terkenal tetapi tidak disukai. Bisa banyak dibicarakan tetapi dengan sentimen negatif. Bisa memperoleh jutaan views tetapi kehilangan calon wisatawan karena percakapan yang terbentuk justru tentang harga yang dianggap tidak masuk akal, pelayanan yang buruk, atau pengelola yang tidak ramah.

Dan algoritma memperbesar persoalan itu. Algoritma tidak mempunyai kewajiban untuk mempromosikan destinasi wisata sesuai keinginan pengelola. Ia bekerja mengikuti pola perhatian pengguna, yakni apa yang menarik, mengejutkan, menghibur, memancing emosi, atau mengundang perdebatan. Karena itu, pengalaman negatif yang memiliki unsur kejutan dapat menyebar lebih cepat daripada promosi resmi yang dibuat dengan bahasa sangat rapi.

Data digital pariwisata

Saat ini, Indonesia sendiri semakin serius memanfaatkan data digital untuk memahami pariwisata. Badan Pusat Statistik (BPS), misalnya, dalam Statistik Wisatawan Nusantara 2025 telah menggunakan Mobile Positioning Data (MPD) dan Survei Digital Wisatawan Nusantara.

MPD memungkinkan BPS membaca pola pergerakan wisatawan, sementara survei digital melengkapi informasi mengenai karakteristik perjalanan, akomodasi, lama perjalanan, dan pengeluaran. Ini menunjukkan bahwa pariwisata modern semakin sulit dipahami hanya dari jumlah tiket yang terjual.

Yang perlu diketahui bukan sekadar berapa banyak orang datang, melainkan dari mana mereka datang, ke mana mereka bergerak, berapa lama tinggal, apa yang mereka lakukan, dan berapa besar nilai ekonomi yang mereka ciptakan.

Tetapi, data besar tidak otomatis berarti pengelolaan menjadi cerdas. Yang dibutuhkan bukan hanya mengetahui berapa orang datang, melainkan memahami apa yang mereka katakan setelah datang.

Dengan demikian, pengelola destinasi wisata perlu mengetahui berapa banyak wisatawan yang puas? Apa keluhan mereka? Apa yang membuat mereka ingin kembali? Apa yang membuat mereka merekomendasikan tempat itu? Dan yang tidak kalah penting, yakni narasi apa yang sedang dibangun publik mengenai destinasi tersebut?

Dalam konteks viralnya rumah Pengabdi Setan di Pangalengan, viralitas kasus ini sebenarnya bisa dibaca sebagai kesempatan belajar, dan bukan kesempatan untuk mencari siapa yang paling salah. 

Destinasi wisata yang baik pun dapat menghadapi salah komunikasi. Pengelola juga mempunyai hak untuk mengatur aktivitas komersial. Kreator pun memiliki hak untuk mendapatkan kejelasan aturan. Yang dibutuhkan adalah titik temu antara kepentingan pengelolaan dan kepentingan ekosistem digital.

Barangkali formula sederhananya adalah: dokumentasi pribadi jangan diperlakukan seperti produksi komersial; konten monetisasi perlu aturan yang transparan; sedangkan produksi iklan, endorsement, dan commercial shooting memang layak memiliki skema tarif tersendiri. 

Yang penting bukan hanya besarnya tarif, tetapi kejelasan kategorinya. Ketidakjelasan sering kali lebih merusak daripada harga.

Wisatawan sendiri tidak hanya membeli akses ke sebuah tempat. Mereka membeli pengalaman. Dan pengalaman itu sekarang memiliki kehidupan kedua di jagad internet. 

Riset terbaru bahkan menemukan, berdasarkan analisis terhadap lebih dari 700.000 ulasan TripAdvisor, bahwa gambar yang dibuat pengguna dapat mempengaruhi rating berikutnya sebuah destinasi wisata, meski efeknya dipengaruhi oleh kualitas gambar dan mekanisme ekspektasi wisatawan.

Maka, para pengelola destinasi wisata perlu memahami bahwa wisatawan memang datang sebagai konsumen, namun pulang sebagai narator. Ponsel berkamera yang mereka bawa dapat menjadi sarana promosi, kritik, rekomendasi, sekaligus audit sosial. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Sep 2026, 12:04

Dampak Depresiasi Rupiah Terhadap Ketahanan Operasional dan Profitabilitas UMKM

Penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika merupakan sebuah fenomena ekonomi yang krusial yang sedang terjadi sekarang ini.

Penggunaan uang rupiah di ranah UMKM. (Sumber: Pexels | Foto: rakhmat suwandi)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 10:49

Wartawan Kok Minta Uang, Inilah yang Membuat Profesi Jurnalis Terancam

Sebuah kartu pers, nama media, dan kemungkinan sebuah berita yang ditayangkannya dapat menimbulkan tekanan sosial yang besar.

Aksi solidaritas atas kekerasan terhadap Jurnalis di Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 09:14

Pentingnya Penerapan Aset Tetap untuk Menjaga Keberlanjutan Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia

Banyak UMKM di Indonesia yang mengalami kerugian hingga berakhir bangkrut akibat minimnya pengetahuan dalam mengelola aset tetap.

Pedagang beras melayani pembeli di Pasar Sederhana, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 18:53

Perang Kata-Kata

Hal ini terjadi diantara perang bersenjata antara AS, Israel, dan Iran yang berlangsung sejak awal tahun 2026.

Peta yang memuat Timur Tengah, Asia Barat, dan Afrika, dengan Iran dan Israel di dalamnya. (Sumber: Pexels/Anthony Beck)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 17:05

‘Jomblo’: Kisah Lajang yang Mencari Cinta di Soreang, Banjaran, dan  Pangalengan

Kata jomblo diserap dari bahasa Sunda yang awalnya bermakna ‘gadis tua atau barang dagangan yang belum laku’.

Lagu "Jomblo" yang dipopulerkan dan diciptakan oleh Yayan Jatnika diperkirakan dirilis secara digital antara tahun 2016–2017 melalui album kompilasi “Pria Unggulan Pop Sunda”. (Sumber: Youtube)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 16:28

Membuka Nostalgia Lewat Kartu Pilihan Pendengar di Radio Bandung

Di balik kartu pilihan lagu dan suara penyiar, radio pada masanya menjadi ruang perjumpaan yang menghubungkan pendengar, persahabatan, dan kenangan hingga melampaui batas kota.

Sejumlah kartu pilihan pendengar yang pernah diterbitkan oleh berbagai stasiun radio sebagai bagian dari interaksi dan kedekatan radio dengan para pendengarnya. (Sumber: Foto dan dokumentasi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 15:58

Menjelajah Mozaik Budaya dan Rekonstruksi Genius Lokal Grobogan

Grobogan bukan sekadar wilayah agraris, melainkan mozaik sejarah dan budaya yang memperlihatkan bagaimana genius lokal membentuk ketahanan masyarakat, merawat keberagaman, dan peluang ekonomi.

Badiatul Muchlisin Asti sebagai penyunting buku menunjukkan buku berjudul "Mozaik Budaya Grobogan: Jejak Sejarah, Ritual, dan Legenda yang Abadi dalam Ingatan". (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Generate AI)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 13:54

Merefleksi Mitigasi Kebencanaan di Bulan Kemerdekaan

Rentetan bencana di bulan Agustus tahun 2026 ini mengingatkan kita bahwa mitigasi kebencanaan memerlukan pendekatan dan metode yang tepat, demi terwujudnya langkah mengantisipasi kebencanaan.

Pengunjung saat berwisata ke Tebing Keraton, Cimenyan, Kabupaten Bandung, yang berada di kawasan Sesar Lembang, Sabtu 27 April 2024 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 12:16

Cicaheum, Eka Jaya, dan Bungbulang

Cicaheum memang berhenti menjadi terminal bus AKAP dan AKDP. Eka Jaya hanya tinggal nama dalam ingatan. Bungbulang tetap menjadi kampung halaman yang selalu memanggil pulang.

Suasana warung di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: AyoBandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 10:49

Dipungut Rp600 Ribu Gara-gara Bikin Konten di Rumah Pengabdi Setan, Siapa Sebenarnya yang Diuntungkan?

Sebuah destinasi wisata bisa membayar iklan untuk memperoleh perhatian. Tetapi ia juga bisa memperoleh perhatian tanpa membayar media secara langsung.

Ilustrasi konten kreator di sebuah lokasi wisata. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)
Wisata & Kuliner 02 Sep 2026, 10:45

Panduan Wisata Kareumbi Cicalengka, Hutan Konservasi untuk Kemah Estetik Bandung Timur

Kareumbi Cicalengka menawarkan trekking hutan, penangkaran rusa, glamping, camping, dan wisata edukasi konservasi. Simak harga tiket, lokasi, dan jam bukanya.

Wisata Kareumbi Cicalengka. (Sumber: Google Review (Vina Rostiana))
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 08:03

Ketika Data Mengubah Nasib Keluarga

Perubahan desil, akses bansos dan PBI JK, hingga risiko pendidikan anak menunjukkan bahwa akurasi data perlindungan sosial bukan sekadar persoalan administratif.

Anak-anak memanfaatkan lorong rumah deret Tamansari untuk bermain, Sabtu 25 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Sep 2026, 18:08

Awal Penemuan Teh dan Awal Penanamannya di Indonesia

Tanaman teh pertama kali ditemukan di daratan Cina, diperkirakan di Provinsi Szechwan.

Petani memanen teh di perkebunan teh PTPN VIII, Rancabali, CIwidey, Kabupaten Bandung, Kamis 13 November 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 01 Sep 2026, 17:11

September Ceria, Ikoniknya Vina Panduwinata

Nama bulan September melambungkan dengan tinggi nama Penyanyi Vina Panduwinata.

Vina Panduwinata. (Sumber: Musica Studio)
Ayo Netizen 01 Sep 2026, 16:10

Ketaatan Standar Cerobong Asap dan Pengendalian Pencemaran Udara di Bandung

Kota Bandung yang secara geografis berada di wilayah cekungan memiliki risiko tinggi terhadap akumulasi polutan

Ilustrasi Dinas Lingkiungan Hiup sedang melakukan pengukuran kualitas udara. (Sumber: kreasi Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Sep 2026, 15:06

Ketika Anak Tumbuh di Balik Layar: Sudahkah Mereka Aman?

Menjaga anak di ruang digital tak cukup dengan pembatasan. Edukasi digital perlu bergeser dari larangan menuju kemampuan mengenali mengenali risiko dan melindungi diri di balik layar.

Belajar menggunakan open source secara bijak di rumah (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Bayu HP)
Ayo Netizen 01 Sep 2026, 13:58

Ojol dan Negara: Batas Kabur antara Pekerja dan Pengawas Kota

Ojol bukan aparat. Juga bukan relawan keamanan. Mereka adalah pekerja ekonomi digital yang pendapatannya bergantung pada order, dan bukan pada fungsi sosial keamanan.

Pengemudi ojol sedang berkumpul di Balai Kota Bandung, beberapa waktu lalu. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar Purta)
Linimasa 01 Sep 2026, 12:05

Menjelajah Jalan Rusak yang Disentil Marsya VOB

Lebih dari satu dekade rusak, jalan Banjarwangi-Singajaya-Peundeuy Garut kembali menjadi sorotan setelah unggahan Marsya VOB.

Kondisi jalan di Garut penghubung Kecamatan Banjarwangi, Singajaya, Peundeuy dan Cibalong yang telah mengalami kerusakan parah puluhan kilometer. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 01 Sep 2026, 11:18

Peran Militer dalam Proyek Strategis Nasional, Perlu Apresiasi atau Antisipasi?

Peran militer dalam Proyek Strategis Nasional bisa menjadi indikator, kemana pembangunan Indonesia akan dibawa?

Program Makan Bergizi Gratis (MBG). (Sumber: setneg.go.id)
Beranda 01 Sep 2026, 10:11

Ratusan Ton Sampah per Hari Bisa Lenyap Jika Warga Bandung Kelola Sisa Makanan Sendiri

Selama tujuh tahun (2018–2024), jumlah sisa makanan yang dibuang warga Bandung selalu berada di kisaran 660 sampai 780 ton per hari.

Pengolahan sampah organik di di TPS Gedebage menjadi kompos. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)