Cicaheum, Eka Jaya, dan Bungbulang

9 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Suasana warung di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: AyoBandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Suasana warung di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: AyoBandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Pagi yang cerah untuk wilayah Babakan Dangdeur Cibiru dan sekitarnya yang terasa lebih hangat dari biasanya. Sambil ditemani camilan dan segelas air hangat kuku, saat asyik membaca kabar tentang penutupan Terminal Cicaheum, Kota Bandung, Jawa Barat.

Sejak 25 Agustus 2026, seluruh layanan operasional bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) dan AKDP (Antar Kota Dalam Provinsi) di terminal yang berada di kawasan timur Kota Bandung itu resmi dihentikan. Seluruh layanan dipindahkan ke Terminal Leuwipanjang.

Memang kabar penutup hanya beberapa baris berita bagi sebagian orang, tapi tidak bagiku, Cicaheum bukan sekadar terminal tempat bus datang dan pergi. Justru menjadi ruang tempat perjalanan bermula, perjumpaan terjadi, dan kepulangan menemukan arah jalannya.

Suasana Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: AyoBandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Suasana Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: AyoBandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Merawat Ingatan Kolektif 

Seorang kawan yang telah lama meninggalkan Kota Kembang, tepat setelah menyelesaikan kuliahnya di UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada 2006, tiba-tiba menanyakan ihwal penutupan Terminal Cicaheum. "Benarkah ditutup?" 

Sayang! Pasalnya, menyimpan kenangan di terminal itu dan nama Cicaheum pernah begitu lekat dengan ingatan publik melalui film dan sinetron Preman Pensiun. Terminal itu menjadi bagian dari lanskap kehidupan Bandung, ya semacam tempat bertemunya banyak manusia dengan tujuan yang berbeda. Kini wajahnya berubah.

Rencananya, terminal Cicaheum dialihfungsikan menjadi depo Bus Rapid Transit (BRT) Cekungan Bandung. Depo itu akan menangani operasional harian sebanyak 57 bus.

Terminal boleh berganti fungsi. Tapi ingatan manusia punya cara sendiri untuk mempertahankan tempat asyik. Waktu membaca kabar itu, pikiran melayang terbang kembali ke masa lalu, era 1990-an sampai 2010-an. 

Terbayang deretan bus yang memenuhi terminal. Kios-kios kecil. Pedagang asongan yang hilir mudik menawarkan dagangan. Cangcimin (kacang, kuaci, permen). Sopir dengan handuk khas yang dikalungkan di leher. Kernet (kondektur), calo yang sibuk mengatur penumpang, tapi tidak ikut berangkat hanya cukup duduk manis, minuhan wungkul.

Terdengar pula suara supir, (calo), kenek angkot yang lantang memanggil calon penumpang. “Cibiru... Cibiru... Cileunyi... Cileunyi...”

Sungguh suara itu begitu akrab bagi telinga urang Garut, Pakidulan. “Elf Enk Ing Eng... Garut! Cikajang!”

Ada Kobutri, bus mini, Elf Aldy-Aldo. Tentu saja, bagiku, ada Eka Jaya, bus mini yang membawa banyak cerita dari Cicaheum menuju Bungbulang. Begitu sebaliknya.  Eka Jaya bukan sekadar nama armada. Melainkan sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup. Ngumbara di Dayeuh!

Sejak merantau ke Bandung Coret untuk kuliah di IAIN Sunan Gunung Djati pada 2002, bus Eka Jaya menjadi andalan satu-satunya ketika hendak pulang-pergi ke kampung halaman.

Dari rumah di Darussalam, Pasar Lama Bungbulang, bisa langsung naik Eka Jaya langsung dari Stamplat, Pasar Baru, Warung Gantung, Polsek menuju Cibiru tanpa harus turun terlebih dahulu di Terminal Guntur Garut.

Ya, tinggal naik. Bada salat subuh untuk bus pertama, duduk dipaling belakang biar bisa tidur. Langsung tancap gas ke Bandung. Berbeda bila menggunakan elf Bugar (jurusan Bungbulang-Garut). Sesampainya di Terminal Guntur, perjalanan harus dilanjutkan dengan kendaraan lain, seperti Mios jurusan Garut-Cicaheum.

Betapa tidak, perjalanan Bungbulang-Bandung bukan perjalanan pendek dan mudah. Berangkat dari Stamplat, Warung Gantung, Bungbulang, sebelum zuhur untuk bus terakhir, perjalanan bisa memakan waktu sekitar lima jam untuk menempuh jarak kurang lebih 120 kilometer.

Ada satu tempat yang selalu menjadi penanda perjalanan panjang, jeda menunggu supir, kenek istirahat makan di Cisandaan, setelah Tanjakan Pengantin. Masyarakat sekitar lebih sering menyebut kawasan berkelok dan penuh tanjakan itu sebagai Gunung Halimun.

Jalan berkelok tajam membuat badan ikut bergoyang mengikuti irama kendaraan. Sesekali bus berhenti. Penumpang turun untuk meregangkan kaki. Ada rumah makan dan tempat peristirahatan yang menjadi ruang singkat untuk mengisi tenaga. Perjalanan kembali dilanjutkan.

Di sepanjang jalan yang terkenal dengan Kawadanaan itu, bus dan elf bukan sekadar alat transportasi. Melainkan roda ekonomi. Pedagang hilir mudik mencari rezeki. Anak-anak sekolah dari Garut dan Bandung ikut menggoyangkan kendaraan menuju tempat belajar. Para pekerja menumpang untuk mengejar nafkah. Ada pula mereka yang pergi jauh dari kampung halaman demi mengubah nasib.

Sebagian bekerja sebagai pembantu rumah tangga (dong sih), yang menjadi pekerja di kota, bahkan ada yang rela dan harus berjuang menjadi TKW. Semuanya berangkat dengan satu harapan. Kehidupan keluarga di kampung bisa menjadi lebih baik.

Uniknya, di dalam bus, setiap orang membawa tujuan masing-masing. Ada yang membawa barang dagangan, buku sekolah, pakaian, burung (manuk), kabar, surat, pos, jasa titip (jastip), barang, uang, termasuk rindu yang tak terbendung saat mengingat kampung halaman tercinta.

Dengan begitu suasana perjalanan bus terasa istimewa dan manusiawi. Saking akrabnya pasti pernah benar-benar tahu cerita orang yang duduk di sebelahnya. Sungguh perjalanan panjang itu terasa dekat, semakin akrab. 

Pami ayeuna aya keneh mah, mereun bakal raos jalan tos leucir kenangan kapungkur basa tiasa di ulang deui. (Sumber: Instagram @nunindrii)
Pami ayeuna aya keneh mah, mereun bakal raos jalan tos leucir kenangan kapungkur basa tiasa di ulang deui. (Sumber: Instagram @nunindrii)

Drama Huruf "O" 

Ada dua kenangan tentang Eka Jaya dan Cicaheum yang sampai sekarang masih membuat tersenyum. Pertama, saat kuliah. Tahun pertama ngampus. Ada kawan yang ingin bermain ke Rancabuaya dengan drama huruf O-nya. Titip pesan (surat) ke kondektur untuk Ibu di kampung halaman. Akhir pekan berlibur ke Bungbulang. Sejak naik Eka Jaya tepat di depan gerbang Kampus IAIN, seorang kawan membawa perlengkapan naik gunung, gitar ukulele bak pengamen ala mahasiswa. 

Selamat di perjalanan happy, nyanyi-nyanyi, baru menempuh 47,6 km Cibiru-Maktal suara gitar mulai menurun, wajahnya terlihat pucat. Parahnya, saat tiba di perempatan Cibuluh Cikajang, tempat ngetem sebentar yang berjarak 27,8 km dari Maktal ke Cibuluh Cikajang. Mahasiswa Teknik Informatika pasti hapal dan akrab karena selama ospek berlangsung di markas Yonif 303, Batalyon Infanteri 303/Setia Sampai Mati (Yonif 303 Kostrad).

Seorang kawan lain yang disamping bertanya, "Masih jauh teu?" 

"Kunaon emang," jawabku singkat. 

"Ieu nu tadi mincrak nyanyi, gitaran teh ayeuna ngulahek, utah, mana keresek yeuh," pintanya. 

Tak lanjut ke pantai kebanggaan urang Turki (Turunan Kidul) yang lebih dekat dengan Australia dari pada Kota Intan. Cukup sampai di Darussalam dan mengobati keinginan muncak ke Gunung Wayang sambil manjat tebing alakadarnya. 

Bus EKA JAYA terjebak di antara sedan dan motor sekitar tahun 90-an, debu beterbangan, klakson bersahut-sahutan. Bukan sekadar macet… ini potongan kenangan perjalanan pulang kampung. 🚌✨ Aya nu ngalaman uih malam minggu macet di CIBIRU? (Sumber: Instagram @nunindrii)
Bus EKA JAYA terjebak di antara sedan dan motor sekitar tahun 90-an, debu beterbangan, klakson bersahut-sahutan. Bukan sekadar macet… ini potongan kenangan perjalanan pulang kampung. 🚌✨ Aya nu ngalaman uih malam minggu macet di CIBIRU? (Sumber: Instagram @nunindrii)

Megat di Bunderan 

Kedua, setelah menikah. Kejadiannya sekitar satu tahun setelah ka Bale Nyungcung, kira-kira 2010. Saat itu anak pertama, Kaka Fia, belum genap satu tahun. Saat musim mudik Lebaran tiba, biasanya tidak perlu repot-repot datang ke Terminal Cicaheum.

Cukup menelepon. Membuat janji. Duduk di barisan depan dekat sopir. Ya tinggal menunggu di Bunderan Cibiru. Bus Eka Jaya akan melintas dan tinggal naik. Praktis. Namun, saat itu sedang berpuasa dan suasana mudik Lebaran cukup padat, setelah menghubungi kondektur, Amang, ternyata tetap harus datang ke Terminal Cicaheum.

Waktu itu masih janari. Sekitar pukul empat pagi. Naik angkot dari Bunderan menuju Cicaheum. Sesampainya di terminal, benar saja, penumpang sudah cukup banyak. Setelah salat subuh, bus berangkat menuju Cibiru.

Entah masih terlalu pagi, badan yang kelelahan, rasa kantuk datang begitu saja. Setelah melewati Ujungberung, mata mulai berat. Tertidur pulas. Sampai terdengar suara Amang membangunkan.

“A ari Teteh megat di tempat biasa pan. Gening henteu aya?” ucapnya.

Langsung tersadar. “Aduh, hilap henteu ngahubungi deui. Tadi ngaleuyeup!” jawabku sambil garuk-garuk kepala. Tanpa basa-basi segera menelepon istri.

Rupanya, istri bersama anak perempuan yang masih bayi sudah menunggu di kontrakan. Mereka sudah bersiap menuju bunderan dekat deretan ruko. Masalahnya, kendaraan satu-satunya yang akan membawa pulang ke Bungbulang sudah berjalan meninggalkan Cibiru.

Untungnya, masih ada jalan keluar. Di dalam Bus itu disepakati menunggu di pom bensin dekat sekolah Mekar Arum, sambil menunggu penumpang yang akan dijemput di daerah Ciguruwik sekaligus menunggu istri dan anak.

Beberapa saat, dari kejauhan tampak istri datang sambil menggendong Kaka Fia. Lega. Perjalanan mudik akhirnya dilanjutkan. “Haturnuhun, Pa Supir. Amang.”

Meskipun kalimat sederhana itu memang sudah lama hilang dari percakapan seiring dikandangkan (tidak beroperasi) bus Eka Jaya. Tetapi kenangannya tidak. Masih abadi, terpatri dalam hati dan sanubari. 

Bus Eka Jaya Angkutan Bungbulang - Garut Era Tahun 90 an (Sumber: www.erqitafm.com)
Bus Eka Jaya Angkutan Bungbulang - Garut Era Tahun 90 an (Sumber: www.erqitafm.com)

Sang Legenda Jalanan 

Dalam tulisan "Bus EKA JAYA, Sang Legenda Jalanan yang Kini Hanya Tersisa Cerita" dijelaskan dengan detail, apik. Di era 90-an, sebelum ponsel pintar dan ojek online merajai jalanan, ada satu pemandangan yang selalu dinanti oleh warga Bungbulang. Bus EKA JAYA yang perlahan masuk terminal dengan suara mesin khasnya. 

Warnanya yang biru-putih-oranye seakan-akan menjadi ikon perjalanan anak sekolah, pedagang pasar, hingga para perantau yang pulang kampung. Dulu, setiap pagi suara klaksonnya sudah terdengar dari kejauhan, tanda bahwa perjalanan segera dimulai. Sopir dan keneknya sudah seperti artis lokal.

Semua orang mengenal mereka. Anak-anak kecil sering berdiri di pinggir jalan hanya untuk melambai ketika bus itu lewat. Angin masuk dari jendela besar tanpa AC, membawa aroma khas jalanan yang entah bagaimana justru terasa menenangkan.

Di dalamnya, kursi kulit imitasi yang mulai menipis menjadi saksi bisu berbagai cerita.  Tawa para pelajar, obrolan ibu-ibu yang pulang dari pasar, hingga para pegawai yang setia menumpang setiap hari. Setiap perjalanan selalu punya cerita, mulai dari bus penuh sesak, hingga suara radio dangdut yang setia menemani.

Namun waktu terus berjalan. Jalan raya semakin padat, teknologi berubah, dan perusahaan transportasi modern mulai bermunculan. Satu per satu bus EKA JAYA berhenti beroperasi. Bengkel yang dulu ramai kini sepi. Terminal yang dulu penuh warna kini hanya meninggalkan bekas ban di lantai.

Kini, bus-bus kecil itu tinggal menjadi kenangan. Foto-fotonya masih beredar di media sosial, memicu nostalgia bagi mereka yang pernah merasakannya. Banyak yang berkata: “Dulu naik bis ini pulang sekolah…” “Ini kendaraan masa kecil saya…” “Naik EKA JAYA itu rasanya pulang…”

Walau sudah tak lagi melaju di jalanan, EKA JAYA tetap hidup dalam ingatan. Legenda transportasi yang pernah mengantarkan banyak cerita hidup di era 90-an. (www.erqitafm.com)

Anak-anak menonton kendaraan yang melintas dari Jembatan Penyebarangan Orang (JPO) Terminal Cicaheum. (Sumber: AyoBandung | Foto: Ilham Maulana)
Anak-anak menonton kendaraan yang melintas dari Jembatan Penyebarangan Orang (JPO) Terminal Cicaheum. (Sumber: AyoBandung | Foto: Ilham Maulana)

Kini Cicaheum telah berubah. Bus-bus yang dulu memenuhi halaman terminal perlahan menjadi bagian dari masa lalu. Suara kernet, teriakan pedagang, deru mesin, dan penumpang yang berlarian mengejar bus tidak akan lagi terdengar seperti dulu.

Bangunan bisa berubah fungsi. Kendaraan dapat berganti jenis. Jalan bisa berubah wajah. Orang-orang datang dan pergi silih berganti. Tapi kenangan tidak mengenal terminal. Tak membutuhkan tiket dan mengenal jadwal keberangkatan. Kerinduan, sederetan cerita, kenangan malah hadir saat dibumihanguskan dan dialihfungsikan.

Cicaheum itu potongan puzzle, perjalanan dari Bungbulang menuju Bandung. Eka Jaya menjadi kendaraan yang membawa anak muda meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu.

Bila Cicaheum itu tempat perjumpaan dengan Bandung, maka Bungbulang selalu menjadi alamat kepulangan. Tentu, di antara keduanya, ada jalan panjang, tanjakan, kelokan, rasa lelah, tawa, kantuk, percakapan, harapan, asa dan doa. Ada keluarga yang menunggu. Istri yang menggendong bayi di pinggir jalan. Amang kondektur yang mengingatkan penumpang yang tertinggal. Sopir yang bersedia menunggu agar keluarga bisa pulang bersama dan kumpul balakecrakan. 

Perjalanan bukan sekedar seberapa jauh jarak yang ditempuh. Melainkan tentang siapa yang ditemui, menunggu, dan kepada siapa (alam) ingin pulang. Cicaheum memang berhenti menjadi terminal bus AKAP dan AKDP. Eka Jaya hanya tinggal nama dalam ingatan. Bungbulang tetap menjadi kampung halaman yang selalu memanggil pulang.

Dengan demikian, bila ada tempat-tempat yang selesai sebagai bangunan, tetapi tidak pernah usang dalam kenangan. Ada kendaraan yang berhenti melaju, tetapi ceritanya terus berjalan. Kerinduan yang paling bandel, justru terus menggeliat dan tak pernah turun dari bus untuk dirayakan.  (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Sep 2026, 10:49

Wartawan Kok Minta Uang, Inilah yang Membuat Profesi Jurnalis Terancam

Sebuah kartu pers, nama media, dan kemungkinan sebuah berita yang ditayangkannya dapat menimbulkan tekanan sosial yang besar.

Aksi solidaritas atas kekerasan terhadap Jurnalis di Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 09:14

Pentingnya Penerapan Aset Tetap untuk Menjaga Keberlanjutan Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia

Banyak UMKM di Indonesia yang mengalami kerugian hingga berakhir bangkrut akibat minimnya pengetahuan dalam mengelola aset tetap.

Pedagang beras melayani pembeli di Pasar Sederhana, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 18:53

Perang Kata-Kata

Hal ini terjadi diantara perang bersenjata antara AS, Israel, dan Iran yang berlangsung sejak awal tahun 2026.

Peta yang memuat Timur Tengah, Asia Barat, dan Afrika, dengan Iran dan Israel di dalamnya. (Sumber: Pexels/Anthony Beck)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 17:05

‘Jomblo’: Kisah Lajang yang Mencari Cinta di Soreang, Banjaran, dan  Pangalengan

Kata jomblo diserap dari bahasa Sunda yang awalnya bermakna ‘gadis tua atau barang dagangan yang belum laku’.

Lagu "Jomblo" yang dipopulerkan dan diciptakan oleh Yayan Jatnika diperkirakan dirilis secara digital antara tahun 2016–2017 melalui album kompilasi “Pria Unggulan Pop Sunda”. (Sumber: Youtube)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 16:28

Membuka Nostalgia Lewat Kartu Pilihan Pendengar di Radio Bandung

Di balik kartu pilihan lagu dan suara penyiar, radio pada masanya menjadi ruang perjumpaan yang menghubungkan pendengar, persahabatan, dan kenangan hingga melampaui batas kota.

Sejumlah kartu pilihan pendengar yang pernah diterbitkan oleh berbagai stasiun radio sebagai bagian dari interaksi dan kedekatan radio dengan para pendengarnya. (Sumber: Foto dan dokumentasi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 15:58

Menjelajah Mozaik Budaya dan Rekonstruksi Genius Lokal Grobogan

Grobogan bukan sekadar wilayah agraris, melainkan mozaik sejarah dan budaya yang memperlihatkan bagaimana genius lokal membentuk ketahanan masyarakat, merawat keberagaman, dan peluang ekonomi.

Badiatul Muchlisin Asti sebagai penyunting buku menunjukkan buku berjudul "Mozaik Budaya Grobogan: Jejak Sejarah, Ritual, dan Legenda yang Abadi dalam Ingatan". (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Generate AI)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 13:54

Merefleksi Mitigasi Kebencanaan di Bulan Kemerdekaan

Rentetan bencana di bulan Agustus tahun 2026 ini mengingatkan kita bahwa mitigasi kebencanaan memerlukan pendekatan dan metode yang tepat, demi terwujudnya langkah mengantisipasi kebencanaan.

Pengunjung saat berwisata ke Tebing Keraton, Cimenyan, Kabupaten Bandung, yang berada di kawasan Sesar Lembang, Sabtu 27 April 2024 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 12:16

Cicaheum, Eka Jaya, dan Bungbulang

Cicaheum memang berhenti menjadi terminal bus AKAP dan AKDP. Eka Jaya hanya tinggal nama dalam ingatan. Bungbulang tetap menjadi kampung halaman yang selalu memanggil pulang.

Suasana warung di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: AyoBandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 10:49

Dipungut Rp600 Ribu Gara-gara Bikin Konten di Rumah Pengabdi Setan, Siapa Sebenarnya yang Diuntungkan?

Sebuah destinasi wisata bisa membayar iklan untuk memperoleh perhatian. Tetapi ia juga bisa memperoleh perhatian tanpa membayar media secara langsung.

Ilustrasi konten kreator di sebuah lokasi wisata. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)
Wisata & Kuliner 02 Sep 2026, 10:45

Panduan Wisata Kareumbi Cicalengka, Hutan Konservasi untuk Kemah Estetik Bandung Timur

Kareumbi Cicalengka menawarkan trekking hutan, penangkaran rusa, glamping, camping, dan wisata edukasi konservasi. Simak harga tiket, lokasi, dan jam bukanya.

Wisata Kareumbi Cicalengka. (Sumber: Google Review (Vina Rostiana))
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 08:03

Ketika Data Mengubah Nasib Keluarga

Perubahan desil, akses bansos dan PBI JK, hingga risiko pendidikan anak menunjukkan bahwa akurasi data perlindungan sosial bukan sekadar persoalan administratif.

Anak-anak memanfaatkan lorong rumah deret Tamansari untuk bermain, Sabtu 25 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Sep 2026, 18:08

Awal Penemuan Teh dan Awal Penanamannya di Indonesia

Tanaman teh pertama kali ditemukan di daratan Cina, diperkirakan di Provinsi Szechwan.

Petani memanen teh di perkebunan teh PTPN VIII, Rancabali, CIwidey, Kabupaten Bandung, Kamis 13 November 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 01 Sep 2026, 17:11

September Ceria, Ikoniknya Vina Panduwinata

Nama bulan September melambungkan dengan tinggi nama Penyanyi Vina Panduwinata.

Vina Panduwinata. (Sumber: Musica Studio)
Ayo Netizen 01 Sep 2026, 16:10

Ketaatan Standar Cerobong Asap dan Pengendalian Pencemaran Udara di Bandung

Kota Bandung yang secara geografis berada di wilayah cekungan memiliki risiko tinggi terhadap akumulasi polutan

Ilustrasi Dinas Lingkiungan Hiup sedang melakukan pengukuran kualitas udara. (Sumber: kreasi Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Sep 2026, 15:06

Ketika Anak Tumbuh di Balik Layar: Sudahkah Mereka Aman?

Menjaga anak di ruang digital tak cukup dengan pembatasan. Edukasi digital perlu bergeser dari larangan menuju kemampuan mengenali mengenali risiko dan melindungi diri di balik layar.

Belajar menggunakan open source secara bijak di rumah (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Bayu HP)
Ayo Netizen 01 Sep 2026, 13:58

Ojol dan Negara: Batas Kabur antara Pekerja dan Pengawas Kota

Ojol bukan aparat. Juga bukan relawan keamanan. Mereka adalah pekerja ekonomi digital yang pendapatannya bergantung pada order, dan bukan pada fungsi sosial keamanan.

Pengemudi ojol sedang berkumpul di Balai Kota Bandung, beberapa waktu lalu. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar Purta)
Linimasa 01 Sep 2026, 12:05

Menjelajah Jalan Rusak yang Disentil Marsya VOB

Lebih dari satu dekade rusak, jalan Banjarwangi-Singajaya-Peundeuy Garut kembali menjadi sorotan setelah unggahan Marsya VOB.

Kondisi jalan di Garut penghubung Kecamatan Banjarwangi, Singajaya, Peundeuy dan Cibalong yang telah mengalami kerusakan parah puluhan kilometer. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 01 Sep 2026, 11:18

Peran Militer dalam Proyek Strategis Nasional, Perlu Apresiasi atau Antisipasi?

Peran militer dalam Proyek Strategis Nasional bisa menjadi indikator, kemana pembangunan Indonesia akan dibawa?

Program Makan Bergizi Gratis (MBG). (Sumber: setneg.go.id)
Beranda 01 Sep 2026, 10:11

Ratusan Ton Sampah per Hari Bisa Lenyap Jika Warga Bandung Kelola Sisa Makanan Sendiri

Selama tujuh tahun (2018–2024), jumlah sisa makanan yang dibuang warga Bandung selalu berada di kisaran 660 sampai 780 ton per hari.

Pengolahan sampah organik di di TPS Gedebage menjadi kompos. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Sep 2026, 08:35

Krisis Reputasi Lebih Berbahaya, Sebuah Pelajaran Berharga Bagi UNVR

Mengulas dampak pandemi dan boikot terhadap kinerja UNVR serta pentingnya menjaga kepercayaan konsumen di tengah isu geopolitik.

PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). (Sumber: Unilever)