Cicaheum, Eka Jaya, dan Bungbulang

9 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Suasana warung di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: AyoBandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Suasana warung di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: AyoBandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Pagi yang cerah untuk wilayah Babakan Dangdeur Cibiru dan sekitarnya yang terasa lebih hangat dari biasanya. Sambil ditemani camilan dan segelas air hangat kuku, saat asyik membaca kabar tentang penutupan Terminal Cicaheum, Kota Bandung, Jawa Barat.

Sejak 25 Agustus 2026, seluruh layanan operasional bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) dan AKDP (Antar Kota Dalam Provinsi) di terminal yang berada di kawasan timur Kota Bandung itu resmi dihentikan. Seluruh layanan dipindahkan ke Terminal Leuwipanjang.

Memang kabar penutup hanya beberapa baris berita bagi sebagian orang, tapi tidak bagiku, Cicaheum bukan sekadar terminal tempat bus datang dan pergi. Justru menjadi ruang tempat perjalanan bermula, perjumpaan terjadi, dan kepulangan menemukan arah jalannya.

Suasana Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: AyoBandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Suasana Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: AyoBandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Merawat Ingatan Kolektif 

Seorang kawan yang telah lama meninggalkan Kota Kembang, tepat setelah menyelesaikan kuliahnya di UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada 2006, tiba-tiba menanyakan ihwal penutupan Terminal Cicaheum. "Benarkah ditutup?" 

Sayang! Pasalnya, menyimpan kenangan di terminal itu dan nama Cicaheum pernah begitu lekat dengan ingatan publik melalui film dan sinetron Preman Pensiun. Terminal itu menjadi bagian dari lanskap kehidupan Bandung, ya semacam tempat bertemunya banyak manusia dengan tujuan yang berbeda. Kini wajahnya berubah.

Rencananya, terminal Cicaheum dialihfungsikan menjadi depo Bus Rapid Transit (BRT) Cekungan Bandung. Depo itu akan menangani operasional harian sebanyak 57 bus.

Terminal boleh berganti fungsi. Tapi ingatan manusia punya cara sendiri untuk mempertahankan tempat asyik. Waktu membaca kabar itu, pikiran melayang terbang kembali ke masa lalu, era 1990-an sampai 2010-an. 

Terbayang deretan bus yang memenuhi terminal. Kios-kios kecil. Pedagang asongan yang hilir mudik menawarkan dagangan. Cangcimin (kacang, kuaci, permen). Sopir dengan handuk khas yang dikalungkan di leher. Kernet (kondektur), calo yang sibuk mengatur penumpang, tapi tidak ikut berangkat hanya cukup duduk manis, minuhan wungkul.

Terdengar pula suara supir, (calo), kenek angkot yang lantang memanggil calon penumpang. “Cibiru... Cibiru... Cileunyi... Cileunyi...”

Sungguh suara itu begitu akrab bagi telinga urang Garut, Pakidulan. “Elf Enk Ing Eng... Garut! Cikajang!”

Ada Kobutri, bus mini, Elf Aldy-Aldo. Tentu saja, bagiku, ada Eka Jaya, bus mini yang membawa banyak cerita dari Cicaheum menuju Bungbulang. Begitu sebaliknya.  Eka Jaya bukan sekadar nama armada. Melainkan sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup. Ngumbara di Dayeuh!

Sejak merantau ke Bandung Coret untuk kuliah di IAIN Sunan Gunung Djati pada 2002, bus Eka Jaya menjadi andalan satu-satunya ketika hendak pulang-pergi ke kampung halaman.

Dari rumah di Darussalam, Pasar Lama Bungbulang, bisa langsung naik Eka Jaya langsung dari Stamplat, Pasar Baru, Warung Gantung, Polsek menuju Cibiru tanpa harus turun terlebih dahulu di Terminal Guntur Garut.

Ya, tinggal naik. Bada salat subuh untuk bus pertama, duduk dipaling belakang biar bisa tidur. Langsung tancap gas ke Bandung. Berbeda bila menggunakan elf Bugar (jurusan Bungbulang-Garut). Sesampainya di Terminal Guntur, perjalanan harus dilanjutkan dengan kendaraan lain, seperti Mios jurusan Garut-Cicaheum.

Betapa tidak, perjalanan Bungbulang-Bandung bukan perjalanan pendek dan mudah. Berangkat dari Stamplat, Warung Gantung, Bungbulang, sebelum zuhur untuk bus terakhir, perjalanan bisa memakan waktu sekitar lima jam untuk menempuh jarak kurang lebih 120 kilometer.

Ada satu tempat yang selalu menjadi penanda perjalanan panjang, jeda menunggu supir, kenek istirahat makan di Cisandaan, setelah Tanjakan Pengantin. Masyarakat sekitar lebih sering menyebut kawasan berkelok dan penuh tanjakan itu sebagai Gunung Halimun.

Jalan berkelok tajam membuat badan ikut bergoyang mengikuti irama kendaraan. Sesekali bus berhenti. Penumpang turun untuk meregangkan kaki. Ada rumah makan dan tempat peristirahatan yang menjadi ruang singkat untuk mengisi tenaga. Perjalanan kembali dilanjutkan.

Di sepanjang jalan yang terkenal dengan Kawadanaan itu, bus dan elf bukan sekadar alat transportasi. Melainkan roda ekonomi. Pedagang hilir mudik mencari rezeki. Anak-anak sekolah dari Garut dan Bandung ikut menggoyangkan kendaraan menuju tempat belajar. Para pekerja menumpang untuk mengejar nafkah. Ada pula mereka yang pergi jauh dari kampung halaman demi mengubah nasib.

Sebagian bekerja sebagai pembantu rumah tangga (dong sih), yang menjadi pekerja di kota, bahkan ada yang rela dan harus berjuang menjadi TKW. Semuanya berangkat dengan satu harapan. Kehidupan keluarga di kampung bisa menjadi lebih baik.

Uniknya, di dalam bus, setiap orang membawa tujuan masing-masing. Ada yang membawa barang dagangan, buku sekolah, pakaian, burung (manuk), kabar, surat, pos, jasa titip (jastip), barang, uang, termasuk rindu yang tak terbendung saat mengingat kampung halaman tercinta.

Dengan begitu suasana perjalanan bus terasa istimewa dan manusiawi. Saking akrabnya pasti pernah benar-benar tahu cerita orang yang duduk di sebelahnya. Sungguh perjalanan panjang itu terasa dekat, semakin akrab. 

Pami ayeuna aya keneh mah, mereun bakal raos jalan tos leucir kenangan kapungkur basa tiasa di ulang deui. (Sumber: Instagram @nunindrii)
Pami ayeuna aya keneh mah, mereun bakal raos jalan tos leucir kenangan kapungkur basa tiasa di ulang deui. (Sumber: Instagram @nunindrii)

Drama Huruf "O" 

Ada dua kenangan tentang Eka Jaya dan Cicaheum yang sampai sekarang masih membuat tersenyum. Pertama, saat kuliah. Tahun pertama ngampus. Ada kawan yang ingin bermain ke Rancabuaya dengan drama huruf O-nya. Titip pesan (surat) ke kondektur untuk Ibu di kampung halaman. Akhir pekan berlibur ke Bungbulang. Sejak naik Eka Jaya tepat di depan gerbang Kampus IAIN, seorang kawan membawa perlengkapan naik gunung, gitar ukulele bak pengamen ala mahasiswa. 

Selamat di perjalanan happy, nyanyi-nyanyi, baru menempuh 47,6 km Cibiru-Maktal suara gitar mulai menurun, wajahnya terlihat pucat. Parahnya, saat tiba di perempatan Cibuluh Cikajang, tempat ngetem sebentar yang berjarak 27,8 km dari Maktal ke Cibuluh Cikajang. Mahasiswa Teknik Informatika pasti hapal dan akrab karena selama ospek berlangsung di markas Yonif 303, Batalyon Infanteri 303/Setia Sampai Mati (Yonif 303 Kostrad).

Seorang kawan lain yang disamping bertanya, "Masih jauh teu?" 

"Kunaon emang," jawabku singkat. 

"Ieu nu tadi mincrak nyanyi, gitaran teh ayeuna ngulahek, utah, mana keresek yeuh," pintanya. 

Tak lanjut ke pantai kebanggaan urang Turki (Turunan Kidul) yang lebih dekat dengan Australia dari pada Kota Intan. Cukup sampai di Darussalam dan mengobati keinginan muncak ke Gunung Wayang sambil manjat tebing alakadarnya. 

Bus EKA JAYA terjebak di antara sedan dan motor sekitar tahun 90-an, debu beterbangan, klakson bersahut-sahutan. Bukan sekadar macet… ini potongan kenangan perjalanan pulang kampung. 🚌✨ Aya nu ngalaman uih malam minggu macet di CIBIRU? (Sumber: Instagram @nunindrii)
Bus EKA JAYA terjebak di antara sedan dan motor sekitar tahun 90-an, debu beterbangan, klakson bersahut-sahutan. Bukan sekadar macet… ini potongan kenangan perjalanan pulang kampung. 🚌✨ Aya nu ngalaman uih malam minggu macet di CIBIRU? (Sumber: Instagram @nunindrii)

Megat di Bunderan 

Kedua, setelah menikah. Kejadiannya sekitar satu tahun setelah ka Bale Nyungcung, kira-kira 2010. Saat itu anak pertama, Kaka Fia, belum genap satu tahun. Saat musim mudik Lebaran tiba, biasanya tidak perlu repot-repot datang ke Terminal Cicaheum.

Cukup menelepon. Membuat janji. Duduk di barisan depan dekat sopir. Ya tinggal menunggu di Bunderan Cibiru. Bus Eka Jaya akan melintas dan tinggal naik. Praktis. Namun, saat itu sedang berpuasa dan suasana mudik Lebaran cukup padat, setelah menghubungi kondektur, Amang, ternyata tetap harus datang ke Terminal Cicaheum.

Waktu itu masih janari. Sekitar pukul empat pagi. Naik angkot dari Bunderan menuju Cicaheum. Sesampainya di terminal, benar saja, penumpang sudah cukup banyak. Setelah salat subuh, bus berangkat menuju Cibiru.

Entah masih terlalu pagi, badan yang kelelahan, rasa kantuk datang begitu saja. Setelah melewati Ujungberung, mata mulai berat. Tertidur pulas. Sampai terdengar suara Amang membangunkan.

“A ari Teteh megat di tempat biasa pan. Gening henteu aya?” ucapnya.

Langsung tersadar. “Aduh, hilap henteu ngahubungi deui. Tadi ngaleuyeup!” jawabku sambil garuk-garuk kepala. Tanpa basa-basi segera menelepon istri.

Rupanya, istri bersama anak perempuan yang masih bayi sudah menunggu di kontrakan. Mereka sudah bersiap menuju bunderan dekat deretan ruko. Masalahnya, kendaraan satu-satunya yang akan membawa pulang ke Bungbulang sudah berjalan meninggalkan Cibiru.

Untungnya, masih ada jalan keluar. Di dalam Bus itu disepakati menunggu di pom bensin dekat sekolah Mekar Arum, sambil menunggu penumpang yang akan dijemput di daerah Ciguruwik sekaligus menunggu istri dan anak.

Beberapa saat, dari kejauhan tampak istri datang sambil menggendong Kaka Fia. Lega. Perjalanan mudik akhirnya dilanjutkan. “Haturnuhun, Pa Supir. Amang.”

Meskipun kalimat sederhana itu memang sudah lama hilang dari percakapan seiring dikandangkan (tidak beroperasi) bus Eka Jaya. Tetapi kenangannya tidak. Masih abadi, terpatri dalam hati dan sanubari. 

Bus Eka Jaya Angkutan Bungbulang - Garut Era Tahun 90 an (Sumber: www.erqitafm.com)
Bus Eka Jaya Angkutan Bungbulang - Garut Era Tahun 90 an (Sumber: www.erqitafm.com)

Sang Legenda Jalanan 

Dalam tulisan "Bus EKA JAYA, Sang Legenda Jalanan yang Kini Hanya Tersisa Cerita" dijelaskan dengan detail, apik. Di era 90-an, sebelum ponsel pintar dan ojek online merajai jalanan, ada satu pemandangan yang selalu dinanti oleh warga Bungbulang. Bus EKA JAYA yang perlahan masuk terminal dengan suara mesin khasnya. 

Warnanya yang biru-putih-oranye seakan-akan menjadi ikon perjalanan anak sekolah, pedagang pasar, hingga para perantau yang pulang kampung. Dulu, setiap pagi suara klaksonnya sudah terdengar dari kejauhan, tanda bahwa perjalanan segera dimulai. Sopir dan keneknya sudah seperti artis lokal.

Semua orang mengenal mereka. Anak-anak kecil sering berdiri di pinggir jalan hanya untuk melambai ketika bus itu lewat. Angin masuk dari jendela besar tanpa AC, membawa aroma khas jalanan yang entah bagaimana justru terasa menenangkan.

Di dalamnya, kursi kulit imitasi yang mulai menipis menjadi saksi bisu berbagai cerita.  Tawa para pelajar, obrolan ibu-ibu yang pulang dari pasar, hingga para pegawai yang setia menumpang setiap hari. Setiap perjalanan selalu punya cerita, mulai dari bus penuh sesak, hingga suara radio dangdut yang setia menemani.

Namun waktu terus berjalan. Jalan raya semakin padat, teknologi berubah, dan perusahaan transportasi modern mulai bermunculan. Satu per satu bus EKA JAYA berhenti beroperasi. Bengkel yang dulu ramai kini sepi. Terminal yang dulu penuh warna kini hanya meninggalkan bekas ban di lantai.

Kini, bus-bus kecil itu tinggal menjadi kenangan. Foto-fotonya masih beredar di media sosial, memicu nostalgia bagi mereka yang pernah merasakannya. Banyak yang berkata: “Dulu naik bis ini pulang sekolah…” “Ini kendaraan masa kecil saya…” “Naik EKA JAYA itu rasanya pulang…”

Walau sudah tak lagi melaju di jalanan, EKA JAYA tetap hidup dalam ingatan. Legenda transportasi yang pernah mengantarkan banyak cerita hidup di era 90-an. (www.erqitafm.com)

Anak-anak menonton kendaraan yang melintas dari Jembatan Penyebarangan Orang (JPO) Terminal Cicaheum. (Sumber: AyoBandung | Foto: Ilham Maulana)
Anak-anak menonton kendaraan yang melintas dari Jembatan Penyebarangan Orang (JPO) Terminal Cicaheum. (Sumber: AyoBandung | Foto: Ilham Maulana)

Kini Cicaheum telah berubah. Bus-bus yang dulu memenuhi halaman terminal perlahan menjadi bagian dari masa lalu. Suara kernet, teriakan pedagang, deru mesin, dan penumpang yang berlarian mengejar bus tidak akan lagi terdengar seperti dulu.

Bangunan bisa berubah fungsi. Kendaraan dapat berganti jenis. Jalan bisa berubah wajah. Orang-orang datang dan pergi silih berganti. Tapi kenangan tidak mengenal terminal. Tak membutuhkan tiket dan mengenal jadwal keberangkatan. Kerinduan, sederetan cerita, kenangan malah hadir saat dibumihanguskan dan dialihfungsikan.

Cicaheum itu potongan puzzle, perjalanan dari Bungbulang menuju Bandung. Eka Jaya menjadi kendaraan yang membawa anak muda meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu.

Bila Cicaheum itu tempat perjumpaan dengan Bandung, maka Bungbulang selalu menjadi alamat kepulangan. Tentu, di antara keduanya, ada jalan panjang, tanjakan, kelokan, rasa lelah, tawa, kantuk, percakapan, harapan, asa dan doa. Ada keluarga yang menunggu. Istri yang menggendong bayi di pinggir jalan. Amang kondektur yang mengingatkan penumpang yang tertinggal. Sopir yang bersedia menunggu agar keluarga bisa pulang bersama dan kumpul balakecrakan. 

Perjalanan bukan sekedar seberapa jauh jarak yang ditempuh. Melainkan tentang siapa yang ditemui, menunggu, dan kepada siapa (alam) ingin pulang. Cicaheum memang berhenti menjadi terminal bus AKAP dan AKDP. Eka Jaya hanya tinggal nama dalam ingatan. Bungbulang tetap menjadi kampung halaman yang selalu memanggil pulang.

Dengan demikian, bila ada tempat-tempat yang selesai sebagai bangunan, tetapi tidak pernah usang dalam kenangan. Ada kendaraan yang berhenti melaju, tetapi ceritanya terus berjalan. Kerinduan yang paling bandel, justru terus menggeliat dan tak pernah turun dari bus untuk dirayakan.  (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)