Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Cicaheum Purna, Mampukah Leuwipanjang Menanggung Bebannya?

Henri Sinurat
Ditulis oleh Henri Sinurat diterbitkan Rabu 27 Mei 2026, 10:06 WIB
Suasana Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Suasana Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Lanskap transportasi Kota Bandung tengah berada di ambang transformasi historis. Terminal Cicaheum, yang selama puluhan tahun menjadi denyut nadi pergerakan antarkota di timur Bandung, secara bertahap menanggalkan fungsinya untuk bersalin rupa menjadi Depo Bus Rapid Transit (BRT). Sebagai konsekuensinya, seluruh beban rute Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) kini dilimpahkan secara terpusat ke Terminal Leuwipanjang.

Kebijakan sentralisasi ini menghadirkan sebuah pertanyaan kritis bagi para perencana kota. Mampukah Leuwipanjang, dengan segala keterbatasan ruang eksistingnya, memikul beban sebagai terminal antarkota tunggal tanpa menciptakan episentrum kemacetan baru?

Menjadikan Leuwipanjang sebagai pintu gerbang satu-satunya bagi pergerakan bus jarak jauh sejatinya memiliki pijakan rasionalitas spasial yang kuat. Secara tata ruang, posisi Leuwipanjang yang berdekatan dengan akses jalan tol membuat pergerakan bus berbadan besar tidak lagi membebani jaringan arteri dalam kota.

Alur ini menyelamatkan infrastruktur jalan di jantung kota dari beban tonase berlebih dan mengurai kusutnya lalu lintas yang selama ini diperparah oleh manuver armada antarkota.

Di sisi lain, publik patut memberikan apresiasi tinggi terhadap visi modernisasi yang tengah dikebut di Terminal Leuwipanjang. Langkah antisipatif pemerintah dalam menyambut lonjakan hingga 12.000 penumpang per hari tidak dilakukan dengan cara-cara konvensional.

Rencana penyediaan fasilitas premium seperti lounge eksklusif khusus penumpang Perusahaan Otobus (PO), shower room, loker penitipan barang, hingga digitalisasi sistem tiket, adalah lompatan paradigma yang sangat dibutuhkan. Layaknya seperti terminal bus antar kota di negara lain yang memberikan kenyamanan dan keamanan.

Terpusatnya nama-nama besar PO seperti Budiman, Sugeng Rahayu, hingga Sinar Jaya di kawasan ini juga menandakan adanya pergeseran ekosistem pelayanan dari yang semula kurang tertata dan nir-standar, menuju layanan layaknya fasilitas di bandara maupun di pelabuhan.

Kendati demikian, estetika arsitektur dan modernisasi fasilitas ruang tunggu tidak akan berarti banyak jika gagal menjawab tantangan fundamental transportasi. Tantangannya adalah manajemen kapasitas dan sirkulasi. Di sinilah letak kerawanan sentralisasi.

Memindahkan seluruh armada dari Cicaheum berarti melipatgandakan volume pergerakan kendaraan di kawasan Leuwipanjang. Jika tidak dimitigasi dengan pendekatan rekayasa lalu lintas yang presisi, solusi ini hanya akan menjadi eufemisme dari memindahkan kemacetan kawasan timur ke kawasan selatan Bandung.

Dalam bayangan saya, Leuwipanjang akan semakin hiruk pikuk dari siang menjelang sore. Ketika Perusahaan Otobus yang menuju kawasan Priangan hingga ke Timur Pulau Jawa mulai berdatangan. Armada dengan tujuan Tasikmalaya, Pangandaran, Wonosobo, Kudus, Yogyakarta, Blitar, Surabaya, Malang, jumlahnya tidak sedikit dan menjadi penghuni tetap Cicaheum.

Harus diakui, simpul Leuwipanjang dan kawasan Kopo di sekitarnya memiliki riwayat kepadatan lalu lintas yang kronis. Bertambahnya ratusan armada bus yang keluar-masuk setiap harinya menuntut kedisiplinan operasional yang tanpa kompromi. Potensi penumpukan kendaraan (bottleneck) tidak hanya berasal dari pergerakan bus antarkota, tetapi juga dari angkutan kota eksisting, pergerakan kendaraan pribadi yang mengantar-jemput penumpang, hingga aktivitas ekonomi di sekitar terminal yang dipertahankan.

Armada bus Metro Jabar Trans di Terminal Leuwipanjang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Armada bus Metro Jabar Trans di Terminal Leuwipanjang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Untuk mencegah kelumpuhan sirkulasi, otoritas pengelola terminal harus mengubah pendekatan operasional secara radikal. Konsep terminal sebagai "tempat ngetem" (menunggu penumpang tanpa batas waktu) harus diubah. Leuwipanjang harus dioperasikan murni sebagai transit mode, di mana bus hanya diberikan waktu terbatas (slot time) untuk menaikkan dan menurunkan penumpang sebelum kembali bergerak ke jalan tol atau menuju depo penyangga. Tentunya hal ini akan menjadi tantangan tersendiri, kecuali jika Leuwipanjang mampu menampung semua kendaraan yang tiba dan menunggu jadwal keberangkatannya kembali.

Modernisasi sistem tiket digital yang sedang dibangun harus ditarik lebih jauh fungsinya. Bukan hanya untuk transaksi penumpang, melainkan untuk mengatur ritme kedatangan dan keberangkatan bus agar tidak terjadi penumpukan armada pada jam-jam sibuk.

Dari perspektif yang lebih luas, kegagapan dalam transisi kebijakan transportasi kerap terjadi karena perencana hanya berfokus pada "perangkat keras" (infrastruktur fisik) dan mengabaikan "perangkat lunak" (budaya dan ekosistem). Mengelola Terminal Leuwipanjang pasca-pelimpahan dari Cicaheum tidak hanya urusan menata lajur parkir bus saja, melainkan menata ulang kultur bertransportasi. Penumpang, kru bus, pedagang, dan operator angkutan feeder harus dipaksa beradaptasi dengan sistem yang lebih terukur dan disiplin. Transisi ini membutuhkan penegakan aturan (law enforcement) yang konsisten di lapangan. Sehingga akan memastikan bahwa penumpang semakin tertarik untuk naik bus di dalam terminal.

Pada akhirnya, kesiapan Leuwipanjang menjadi terminal antarkota tunggal adalah batu uji bagi tata kelola transportasi Kota Bandung Raya. Modernisasi fasilitas yang memanjakan penumpang adalah langkah awal yang brilian, namun ketegasan dalam manajemen sirkulasi lalu lintas adalah kunci keselamatannya. Otoritas terkait harus memastikan bahwa mega-relokasi ini adalah sebuah orkestrasi peradaban transportasi perkotaan yang terintegrasi, bukan hanya memindahkan riuh-rendah dan kemacetan lama ke halaman baru.

Keberhasilan Leuwipanjang tidak diukur dari seberapa megah lounge dan fasilitas ruang tunggunya, melainkan dari kemampuannya mendisiplinkan laju pergerakan manusia dan kendaraan, agar sentralisasi ini memecah kemacetan kota, sehingga tidak hanya memindahkannya semata. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Henri Sinurat
Tentang Henri Sinurat
Analis Kebijakan Pusat Pembelajaran Dan Strategi Kebijakan Talenta Aparatur Sipil Negara Nasional Lembaga Administrasi Negara

Berita Terkait

News Update

Beranda 27 Mei 2026, 10:59

Sambut Idul Adha, PLN Nusantara Power Pastikan PLTA Cirata Beroperasi Prima

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.
Beranda 27 Mei 2026, 10:38

Kalau Tidak Ada Ketupat, Rasanya Bukan Lebaran

Lapak-lapak kecil di Jalan Gurame memperlihatkan satu hal sederhana beberapa tradisi ternyata masih bertahan.

Rio penjual ketupat musiman di Jalan Gurame, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 10:06

Cicaheum Purna, Mampukah Leuwipanjang Menanggung Bebannya?

Pemusatan terminal ke Leuwipanjang patut diapresiasi karena membawa janji modernisasi.

Suasana Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 26 Mei 2026, 11:24

3 Catatan untuk Konvoi Persib di Masa Depan: Sterilisasi Jalur, Keselamatan Bobotoh, dan Masalah Sampah

Konvoi juara Persib menyisakan sejumlah evaluasi, mulai dari sterilisasi jalur, keselamatan Bobotoh saat berdesakan, hingga 112 ton sampah di Kota Bandung.

Pemain dan official Persib Bandung bersama Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 26 Mei 2026, 09:58

Pemandian Air Panas Cimanggu kini hadir dengan wajah baru sebagai Jiwanta Hot Spring di kawasan Ciwidey.

Jiwanta Hot Spring menghadirkan konsep baru pemandian air panas alami dengan fasilitas lebih modern di Ciwidey.

Pemandian Air Panas Cimanggu. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 26 Mei 2026, 09:51

Dupan, Ketika Citarum Menolak Surut

Banjir kembali merendam Sapan Bandung. Luapan Sungai Citarum membuat Dupan terus hidup sebagai langganan genangan warga.

Banjir Citarum di Sapan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 09:29

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026

PT PLN Nusantara Power UP Cirata sukses memborong penghargaan bergengsi TOP CSR Awards 2026 atas komitmen keberlanjutan sosial mereka.

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 08:21

Remitologisasi Sunda: Milangkala Tatar Sunda Mestinya 11 Oktober

Remitologisasi merupakan hak, bahkan kewajiban, bagi suatu bangsa yang sedang krisis jatidiri. Namun, mesti dilakukan dengan baik dan benar.

Prasasti Kebon Kopi II/Prasasti Pasir Muara. (Sumber: Leiden Library)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 07:40

Fenomena Mematikan Centang Biru pada WhatsApp dalam Perspektif Etika Komunikasi Digital

Fenomena mematikan centang biru WhatsApp mencerminkan perubahan etika komunikasi digital antara kebutuhan privasi, kenyamanan, dan ekspektasi respons instan.

Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 19:25

Bandung Kembali Berpestapora untuk Tiga Kali Berturut-turut

Persib Bandung resmi menyambit gelar Liga Indonesia yang ke-5 kalinya dalam tiga kali berturut-turut. Euforia perayaan di Kota Bandung pun kembali menjadi perhatian.

Para Bobotoh merayakan gelar juara Persib Bandung di Liga Super Indonesia 2025/2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis).
Ayo Biz 25 Mei 2026, 18:51

Cerita dari Sumedang Utara, ‘Revolusi Mindset’ Warga Margamukti hingga Jadi Desa BRILiaN

Masuk 15 besar Desa BRILiaN 2025 bukan garis finish, melainkan titik awal bagi Desa Margamukti.

Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id/Aris Abdulsalam)
Linimasa 25 Mei 2026, 17:18

Sisa-sisa Kejayaan Persib Bandung di Si Jalak Harupat

Si Jalak Harupat masih menyimpan jejak kejayaan Persib lewat pedagang jersey dan kenangan juara liga.

Kondisi pedagang suvenir Persib di Stadion Si Jalak Harupat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 15:29

Persib Juara ala Atomic Habits

Analisa kemenangan Persib lewat Prinsip Atomic Habits-nya James Clear.

Pemain Persib Bandung mengangkat piala usai pertandingan melawan Persijap Jepara dalam Super League 2025-2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Gedebage, Kota Bandung, Sabtu 23 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 12:10

Magot, dan Kesabaran Warga Bandung Mengurus Sampah Dapur

Majelis Ta'lim Baitul Mu'min membuat acara pengajian mengundang mahasiswa ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan magot BSF atau larva Black Soldier Fly.

Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)