Cicaheum Purna, Mampukah Leuwipanjang Menanggung Bebannya?

4 menit baca
Henri Sinurat
Ditulis oleh Henri Sinurat diterbitkan
Suasana Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Suasana Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Lanskap transportasi Kota Bandung tengah berada di ambang transformasi historis. Terminal Cicaheum, yang selama puluhan tahun menjadi denyut nadi pergerakan antarkota di timur Bandung, secara bertahap menanggalkan fungsinya untuk bersalin rupa menjadi Depo Bus Rapid Transit (BRT). Sebagai konsekuensinya, seluruh beban rute Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) kini dilimpahkan secara terpusat ke Terminal Leuwipanjang.

Kebijakan sentralisasi ini menghadirkan sebuah pertanyaan kritis bagi para perencana kota. Mampukah Leuwipanjang, dengan segala keterbatasan ruang eksistingnya, memikul beban sebagai terminal antarkota tunggal tanpa menciptakan episentrum kemacetan baru?

Menjadikan Leuwipanjang sebagai pintu gerbang satu-satunya bagi pergerakan bus jarak jauh sejatinya memiliki pijakan rasionalitas spasial yang kuat. Secara tata ruang, posisi Leuwipanjang yang berdekatan dengan akses jalan tol membuat pergerakan bus berbadan besar tidak lagi membebani jaringan arteri dalam kota.

Alur ini menyelamatkan infrastruktur jalan di jantung kota dari beban tonase berlebih dan mengurai kusutnya lalu lintas yang selama ini diperparah oleh manuver armada antarkota.

Di sisi lain, publik patut memberikan apresiasi tinggi terhadap visi modernisasi yang tengah dikebut di Terminal Leuwipanjang. Langkah antisipatif pemerintah dalam menyambut lonjakan hingga 12.000 penumpang per hari tidak dilakukan dengan cara-cara konvensional.

Rencana penyediaan fasilitas premium seperti lounge eksklusif khusus penumpang Perusahaan Otobus (PO), shower room, loker penitipan barang, hingga digitalisasi sistem tiket, adalah lompatan paradigma yang sangat dibutuhkan. Layaknya seperti terminal bus antar kota di negara lain yang memberikan kenyamanan dan keamanan.

Terpusatnya nama-nama besar PO seperti Budiman, Sugeng Rahayu, hingga Sinar Jaya di kawasan ini juga menandakan adanya pergeseran ekosistem pelayanan dari yang semula kurang tertata dan nir-standar, menuju layanan layaknya fasilitas di bandara maupun di pelabuhan.

Kendati demikian, estetika arsitektur dan modernisasi fasilitas ruang tunggu tidak akan berarti banyak jika gagal menjawab tantangan fundamental transportasi. Tantangannya adalah manajemen kapasitas dan sirkulasi. Di sinilah letak kerawanan sentralisasi.

Memindahkan seluruh armada dari Cicaheum berarti melipatgandakan volume pergerakan kendaraan di kawasan Leuwipanjang. Jika tidak dimitigasi dengan pendekatan rekayasa lalu lintas yang presisi, solusi ini hanya akan menjadi eufemisme dari memindahkan kemacetan kawasan timur ke kawasan selatan Bandung.

Dalam bayangan saya, Leuwipanjang akan semakin hiruk pikuk dari siang menjelang sore. Ketika Perusahaan Otobus yang menuju kawasan Priangan hingga ke Timur Pulau Jawa mulai berdatangan. Armada dengan tujuan Tasikmalaya, Pangandaran, Wonosobo, Kudus, Yogyakarta, Blitar, Surabaya, Malang, jumlahnya tidak sedikit dan menjadi penghuni tetap Cicaheum.

Harus diakui, simpul Leuwipanjang dan kawasan Kopo di sekitarnya memiliki riwayat kepadatan lalu lintas yang kronis. Bertambahnya ratusan armada bus yang keluar-masuk setiap harinya menuntut kedisiplinan operasional yang tanpa kompromi. Potensi penumpukan kendaraan (bottleneck) tidak hanya berasal dari pergerakan bus antarkota, tetapi juga dari angkutan kota eksisting, pergerakan kendaraan pribadi yang mengantar-jemput penumpang, hingga aktivitas ekonomi di sekitar terminal yang dipertahankan.

Armada bus Metro Jabar Trans di Terminal Leuwipanjang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Armada bus Metro Jabar Trans di Terminal Leuwipanjang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Untuk mencegah kelumpuhan sirkulasi, otoritas pengelola terminal harus mengubah pendekatan operasional secara radikal. Konsep terminal sebagai "tempat ngetem" (menunggu penumpang tanpa batas waktu) harus diubah. Leuwipanjang harus dioperasikan murni sebagai transit mode, di mana bus hanya diberikan waktu terbatas (slot time) untuk menaikkan dan menurunkan penumpang sebelum kembali bergerak ke jalan tol atau menuju depo penyangga. Tentunya hal ini akan menjadi tantangan tersendiri, kecuali jika Leuwipanjang mampu menampung semua kendaraan yang tiba dan menunggu jadwal keberangkatannya kembali.

Modernisasi sistem tiket digital yang sedang dibangun harus ditarik lebih jauh fungsinya. Bukan hanya untuk transaksi penumpang, melainkan untuk mengatur ritme kedatangan dan keberangkatan bus agar tidak terjadi penumpukan armada pada jam-jam sibuk.

Dari perspektif yang lebih luas, kegagapan dalam transisi kebijakan transportasi kerap terjadi karena perencana hanya berfokus pada "perangkat keras" (infrastruktur fisik) dan mengabaikan "perangkat lunak" (budaya dan ekosistem). Mengelola Terminal Leuwipanjang pasca-pelimpahan dari Cicaheum tidak hanya urusan menata lajur parkir bus saja, melainkan menata ulang kultur bertransportasi. Penumpang, kru bus, pedagang, dan operator angkutan feeder harus dipaksa beradaptasi dengan sistem yang lebih terukur dan disiplin. Transisi ini membutuhkan penegakan aturan (law enforcement) yang konsisten di lapangan. Sehingga akan memastikan bahwa penumpang semakin tertarik untuk naik bus di dalam terminal.

Pada akhirnya, kesiapan Leuwipanjang menjadi terminal antarkota tunggal adalah batu uji bagi tata kelola transportasi Kota Bandung Raya. Modernisasi fasilitas yang memanjakan penumpang adalah langkah awal yang brilian, namun ketegasan dalam manajemen sirkulasi lalu lintas adalah kunci keselamatannya. Otoritas terkait harus memastikan bahwa mega-relokasi ini adalah sebuah orkestrasi peradaban transportasi perkotaan yang terintegrasi, bukan hanya memindahkan riuh-rendah dan kemacetan lama ke halaman baru.

Keberhasilan Leuwipanjang tidak diukur dari seberapa megah lounge dan fasilitas ruang tunggunya, melainkan dari kemampuannya mendisiplinkan laju pergerakan manusia dan kendaraan, agar sentralisasi ini memecah kemacetan kota, sehingga tidak hanya memindahkannya semata. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Henri Sinurat
Tentang Henri Sinurat
Analis Kebijakan Pusat Pembelajaran Dan Strategi Kebijakan Talenta Aparatur Sipil Negara Nasional Lembaga Administrasi Negara

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)