Cicaheum Purna, Mampukah Leuwipanjang Menanggung Bebannya?

4 menit baca
Henri Sinurat
Ditulis oleh Henri Sinurat diterbitkan Rabu 27 Mei 2026, 10:06 WIB
Suasana Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Suasana Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Lanskap transportasi Kota Bandung tengah berada di ambang transformasi historis. Terminal Cicaheum, yang selama puluhan tahun menjadi denyut nadi pergerakan antarkota di timur Bandung, secara bertahap menanggalkan fungsinya untuk bersalin rupa menjadi Depo Bus Rapid Transit (BRT). Sebagai konsekuensinya, seluruh beban rute Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) kini dilimpahkan secara terpusat ke Terminal Leuwipanjang.

Kebijakan sentralisasi ini menghadirkan sebuah pertanyaan kritis bagi para perencana kota. Mampukah Leuwipanjang, dengan segala keterbatasan ruang eksistingnya, memikul beban sebagai terminal antarkota tunggal tanpa menciptakan episentrum kemacetan baru?

Menjadikan Leuwipanjang sebagai pintu gerbang satu-satunya bagi pergerakan bus jarak jauh sejatinya memiliki pijakan rasionalitas spasial yang kuat. Secara tata ruang, posisi Leuwipanjang yang berdekatan dengan akses jalan tol membuat pergerakan bus berbadan besar tidak lagi membebani jaringan arteri dalam kota.

Alur ini menyelamatkan infrastruktur jalan di jantung kota dari beban tonase berlebih dan mengurai kusutnya lalu lintas yang selama ini diperparah oleh manuver armada antarkota.

Di sisi lain, publik patut memberikan apresiasi tinggi terhadap visi modernisasi yang tengah dikebut di Terminal Leuwipanjang. Langkah antisipatif pemerintah dalam menyambut lonjakan hingga 12.000 penumpang per hari tidak dilakukan dengan cara-cara konvensional.

Rencana penyediaan fasilitas premium seperti lounge eksklusif khusus penumpang Perusahaan Otobus (PO), shower room, loker penitipan barang, hingga digitalisasi sistem tiket, adalah lompatan paradigma yang sangat dibutuhkan. Layaknya seperti terminal bus antar kota di negara lain yang memberikan kenyamanan dan keamanan.

Terpusatnya nama-nama besar PO seperti Budiman, Sugeng Rahayu, hingga Sinar Jaya di kawasan ini juga menandakan adanya pergeseran ekosistem pelayanan dari yang semula kurang tertata dan nir-standar, menuju layanan layaknya fasilitas di bandara maupun di pelabuhan.

Kendati demikian, estetika arsitektur dan modernisasi fasilitas ruang tunggu tidak akan berarti banyak jika gagal menjawab tantangan fundamental transportasi. Tantangannya adalah manajemen kapasitas dan sirkulasi. Di sinilah letak kerawanan sentralisasi.

Memindahkan seluruh armada dari Cicaheum berarti melipatgandakan volume pergerakan kendaraan di kawasan Leuwipanjang. Jika tidak dimitigasi dengan pendekatan rekayasa lalu lintas yang presisi, solusi ini hanya akan menjadi eufemisme dari memindahkan kemacetan kawasan timur ke kawasan selatan Bandung.

Dalam bayangan saya, Leuwipanjang akan semakin hiruk pikuk dari siang menjelang sore. Ketika Perusahaan Otobus yang menuju kawasan Priangan hingga ke Timur Pulau Jawa mulai berdatangan. Armada dengan tujuan Tasikmalaya, Pangandaran, Wonosobo, Kudus, Yogyakarta, Blitar, Surabaya, Malang, jumlahnya tidak sedikit dan menjadi penghuni tetap Cicaheum.

Harus diakui, simpul Leuwipanjang dan kawasan Kopo di sekitarnya memiliki riwayat kepadatan lalu lintas yang kronis. Bertambahnya ratusan armada bus yang keluar-masuk setiap harinya menuntut kedisiplinan operasional yang tanpa kompromi. Potensi penumpukan kendaraan (bottleneck) tidak hanya berasal dari pergerakan bus antarkota, tetapi juga dari angkutan kota eksisting, pergerakan kendaraan pribadi yang mengantar-jemput penumpang, hingga aktivitas ekonomi di sekitar terminal yang dipertahankan.

Armada bus Metro Jabar Trans di Terminal Leuwipanjang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Armada bus Metro Jabar Trans di Terminal Leuwipanjang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Untuk mencegah kelumpuhan sirkulasi, otoritas pengelola terminal harus mengubah pendekatan operasional secara radikal. Konsep terminal sebagai "tempat ngetem" (menunggu penumpang tanpa batas waktu) harus diubah. Leuwipanjang harus dioperasikan murni sebagai transit mode, di mana bus hanya diberikan waktu terbatas (slot time) untuk menaikkan dan menurunkan penumpang sebelum kembali bergerak ke jalan tol atau menuju depo penyangga. Tentunya hal ini akan menjadi tantangan tersendiri, kecuali jika Leuwipanjang mampu menampung semua kendaraan yang tiba dan menunggu jadwal keberangkatannya kembali.

Modernisasi sistem tiket digital yang sedang dibangun harus ditarik lebih jauh fungsinya. Bukan hanya untuk transaksi penumpang, melainkan untuk mengatur ritme kedatangan dan keberangkatan bus agar tidak terjadi penumpukan armada pada jam-jam sibuk.

Dari perspektif yang lebih luas, kegagapan dalam transisi kebijakan transportasi kerap terjadi karena perencana hanya berfokus pada "perangkat keras" (infrastruktur fisik) dan mengabaikan "perangkat lunak" (budaya dan ekosistem). Mengelola Terminal Leuwipanjang pasca-pelimpahan dari Cicaheum tidak hanya urusan menata lajur parkir bus saja, melainkan menata ulang kultur bertransportasi. Penumpang, kru bus, pedagang, dan operator angkutan feeder harus dipaksa beradaptasi dengan sistem yang lebih terukur dan disiplin. Transisi ini membutuhkan penegakan aturan (law enforcement) yang konsisten di lapangan. Sehingga akan memastikan bahwa penumpang semakin tertarik untuk naik bus di dalam terminal.

Pada akhirnya, kesiapan Leuwipanjang menjadi terminal antarkota tunggal adalah batu uji bagi tata kelola transportasi Kota Bandung Raya. Modernisasi fasilitas yang memanjakan penumpang adalah langkah awal yang brilian, namun ketegasan dalam manajemen sirkulasi lalu lintas adalah kunci keselamatannya. Otoritas terkait harus memastikan bahwa mega-relokasi ini adalah sebuah orkestrasi peradaban transportasi perkotaan yang terintegrasi, bukan hanya memindahkan riuh-rendah dan kemacetan lama ke halaman baru.

Keberhasilan Leuwipanjang tidak diukur dari seberapa megah lounge dan fasilitas ruang tunggunya, melainkan dari kemampuannya mendisiplinkan laju pergerakan manusia dan kendaraan, agar sentralisasi ini memecah kemacetan kota, sehingga tidak hanya memindahkannya semata. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Henri Sinurat
Tentang Henri Sinurat
Analis Kebijakan Pusat Pembelajaran Dan Strategi Kebijakan Talenta Aparatur Sipil Negara Nasional Lembaga Administrasi Negara

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 13:10

Hak Siar Piala Dunia oleh TVRI, Ekonomi Nobar dan Pengembangan Konten Lokal

Potensi ekonomi nobar yang luar biasa, mesti dikelola lebih baik dengan berbagai kreativitas masyarakat. 

Suasana nonton bareng Piala Dunia 2026 di Taman Film, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ananda Muhammad Firdaus)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)