Hikayat Terminal Cicaheum, Gerbang Perantau Bandung yang jadi Sarang Preman Pensiun

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Rabu 10 Des 2025, 17:03 WIB
Suasana Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Suasana Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Jika sebuah kota bisa bercerita lewat bangunan, maka Terminal Cicaheum adalah salah satu mulut paling cerewet di Bandung. Ia pernah riuh, berisik, bau bensin, penuh teriakan kernet, kembalian receh, dan harapan yang dibungkus tas plastik. Dari sanalah banyak orang pertama kali menginjakkan kaki di Kota Kembang, dengan mimpi sederhana yang cukup kuat untuk dibawa naik bus antarkota.

Terminal Cicaheum dibangun pada 1974 di atas lahan seluas hampir 1,2 hektar, di timur Bandung yang kala itu belum semacet sekarang. Pemerintah kota sedang getol merapikan transportasi, membayangkan masa depan kota yang tertib, modern, dan terencana. Setahun kemudian, pada 23 Agustus 1975, terminal ini resmi dibuka pada masa Wali Kota R. Otje Djundjunan. Bandung akhirnya punya terminal antarprovinsi pertama yang serius, bukan sekadar halaman luas tempat bus berhenti lalu pergi.

Sejak awal beroperasi, Terminal Cicaheum memosisikan diri sebagai terminal antarprovinsi pertama di Bandung. Fungsi ini segera membuatnya ramai bukan main. Angkutan kota berpencar ke penjuru Bandung, bus antarkota menyisir Jawa Barat bagian timur, sementara bus antarpulau mengangkut penumpang hingga ke Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Cicaheum menjadi tempat pertemuan orang kampung dan orang kota, antara yang pulang membawa oleh-oleh dan yang datang membawa harapan.

Pada masa jayanya, terminal ini seperti tidak pernah tidur. Pagi, siang, malam, bahkan dini hari, selalu ada pergerakan. Mesin bus mendengus, kernet berseru, dan penumpang berlarian mengejar keberangkatan yang katanya tinggal lima menit lagi. Terminal Cicaheum Bandung bukan sekadar fasilitas publik, melainkan lanskap sosial yang hidup.

Ekosistem ekonomi pun tumbuh dengan sendirinya. Warung kecil berderet, pedagang asongan menyelinap di antara bus, dan penjual tiket membaca wajah calon penumpang lebih tajam dari jadwal keberangkatan. Bahkan angkot pun menjadikan Cicaheum sebagai magnet. Hingga akhir 2010-an, rute angkot yang melewati terminal ini termasuk yang terpadat di Bandung, dengan ratusan kendaraan per rute. Dari sinilah uang receh berputar cepat, berpindah tangan berkali-kali sebelum matahari tenggelam.

Baca Juga: Hikayat Cibiru, dari Kawasan Timur Pinggiran Kota Bandung yang jadi Pusat Keramaian

Bagi para perantau, Terminal Cicaheum adalah gerbang nasib. Banyak yang pertama kali menginjakkan kaki di Bandung lewat tempat ini. Dari Tasikmalaya, Garut, Ciamis, Kuningan, hingga Indramayu, orang datang bukan sekadar bepergian, tapi mengadu peruntungan. Ada yang pulang membawa cerita sukses, ada pula yang bertahan dengan warung kecil dan hidup pas-pasan di sekitar terminal. Namun satu hal pasti, terminal ini memberi peluang hidup bagi ribuan orang, langsung maupun tidak langsung.

Tapi seperti hikayat pada umumnya, masa kejayaan jarang bertahan selamanya. Memasuki dekade 2010-an, perubahan datang dari arah yang tak terduga. Transportasi digital mulai merangsek masuk ke rutinitas kota. Ojek berbasis aplikasi menawarkan kemudahan, kecepatan, dan rute langsung tanpa harus singgah ke terminal. Penumpang yang dulu terbiasa naik angkot dari Cicaheum mulai berpindah pilihan. Terminal yang semula ramai perlahan kehilangan denyutnya.

Dampaknya terasa berlapis. Angkot menunggu lebih lama, bus berangkat dengan kursi kosong, dan pedagang menghitung ulang keuntungan harian. Terminal Cicaheum masih beroperasi, melayani sejumlah rute angkot dalam kota dan perbatasan, tetapi atmosfernya berubah. Jika dulu manusia berebut kendaraan, kini kendaraanlah yang menunggu manusia.

Lalu datanglah pandemi COVID-19, sebuah babak yang terasa seperti halaman gelap dalam hikayat ini. Mobilitas dibatasi, bus berhenti beroperasi, dan terminal yang biasanya gaduh mendadak sunyi. Selama hampir dua tahun, Terminal Cicaheum mengalami mati suri. Ketika pembatasan mulai dilonggarkan, keadaan tak pernah benar-benar kembali seperti semula. Jumlah penumpang anjlok tajam, armada menyusut, dan perusahaan otobus satu per satu berguguran.

Baca Juga: Hikayat Kiaracondong, Tujuan Urbanisasi Kaum Pekerja Zaman Baheula

Pada pertengahan dekade 2020-an, wajah Terminal Cicaheum jauh berbeda dibanding masa lalunya. Dari puluhan perusahaan bus, tinggal sekitar 20-an yang bertahan. Penumpang harian merosot dari ribuan menjadi ratusan. Warung-warung tutup, kios kosong, dan pedagang yang tersisa bertahan sekadar agar dapur tetap mengepul. Terminal tetap berdiri, tetapi lebih sering terdengar kosong daripada riuh.

Suasana warung di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Suasana warung di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Di tengah penurunan itu, muncul kabar yang menggetarkan. Pemerintah merencanakan alih fungsi Terminal Cicaheum menjadi depo Bus Rapid Transit (BRT) Cekungan Bandung. Terminal ini diproyeksikan menjadi bagian dari sistem transportasi massal perkotaan berbasis BRT dengan pendekatan Transit Oriented Development dan kendaraan listrik. Bus antarkota dan antarpulau akan dipindahkan, sementara Cicaheum difokuskan melayani bus perkotaan.

Secara konsep, rencana ini terdengar modern dan menjanjikan. Namun bagi mereka yang hidup bergantung pada denyut terminal, kabar tersebut terasa seperti vonis. Terminal Cicaheum bukan hanya titik transportasi, melainkan ruang hidup. Di sinilah penghasilan dicari, keluarga dibiayai, dan rutinitas dijalani puluhan tahun. Penolakan pun muncul, bukan semata karena menolak perubahan, melainkan karena ketakutan kehilangan sumber hidup.

Baca Juga: Hikayat Pangalengan, Kota Teh Kolonial yang jadi Ikon Wisata Bandung Selatan

Hikayat Preman dan Preman Pensiun

Hikayat Terminal Cicaheum juga tidak lepas dari sisi gelapnya. Pada dekade 1980-an dan 1990-an, terminal ini dikenal sebagai wilayah keras. Premanisme tumbuh subur di tengah keramaian. Pemalakan, intimidasi, dan kekerasan menjadi bagian dari risiko sehari-hari. Kisah-kisah pemalakan menjadi makanan rutin yang menyelinap ke telinga warga Bandung kala itu. Terminal ini pernah menjadi simbol wajah kota yang kusut, tempat hukum sering kalah oleh keberanian dan jumlah.

Dalam berita Berita Yudha terbitan 22 Agustus 1994 misalnya, lima anggota komplotan bertopeng “Ninja” ditangkap aparat ketika tengah memeras pedagang dan sopir angkot di Terminal Cicaheum beberapa hari sebelumnya. Mereka semau adalah remaja berusia 18 hingga 31 tahun. Dari tangan para tersangka, polisi menyita perhiasan emas, uang tunai, serta senjata tajam berupa dua samurai, tiga clurit, dan sebilah golok yang diduga kerap mereka gunakan dalam aksi-aksi sebelumnya.

Penggerebekan berlangsung setelah polisi menerima laporan adanya delapan orang bertopeng yang berkeliaran sambil mengancam warga. Empat anggota Polsekta Cibeunying Kidul segera menuju terminal. Melihat kedatangan aparat, kelompok itu kabur. Sial bagi mereka, pelarian berujung di gang buntu. Beberapa tembakan peringatan dilepaskan sebelum lima orang berhasil diringkus.

Baca Juga: Hikayat Komplotan Bandit Revolusi di Cileunyi, Sandiwara Berdarah Para Tentara Palsu

Suasana angkot ngetem di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Suasana angkot ngetem di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)

Fenomena premanisme di Terminal Cicaheum ini bahkan diabadikan dalam budaya populer Indonesia. Serial televisi komedi "Preman Pensiun" yang sempat populer di Indonesia menggunakan Terminal Cicaheum sebagai salah satu lokasi syutingnya. Serial ini mengangkat tema tentang kehidupan para mantan preman yang mencoba hidup normal, dan pemilihan Terminal Cicaheum sebagai lokasi syuting menunjukkan betapa kuatnya asosiasi antara terminal ini dengan fenomena premanisme di masa lalu.

Dipilih sebagai lokasi syuting utama sinetron Preman Pensiun sejak musim pertama tahun 2015, terminal ini merepresentasikan kehidupan jalanan yang gritty, penuh premanisme, konflik kekuasaan, dan interaksi sosial autentik. Citra terminal di masa lalu yang ramai, hectic, dan sarat preman sesuai dengan tema cerita karya Aris Nugraha tentang pensiunan preman seperti Kang Mus, yang mengelola bisnis di terminal sambil menghadapi saingan seperti Cecep, Bubun, dan Bang Edi.

Dalam cerita, terminal ini digambarkan sebagai arena konflik preman, di mana karakter seperti Kang Mus, Cecep, Bubun, Gobang, dan Jamal berebut kendali atas bisnis terminal, termasuk pungutan liar dan perebutan kekuasaan. Lokasi ikonik seperti Warung Bi Yayah sering juga menjadi set adegan. Syuting Preman Pensiun 10 masih berlangsung di sini hungga edisi teranyar 2025. Kamera televisi, kru produksi, dan penonton tak langsung ikut menjaga terminal tetap hidup di ingatan publik. Sebuah ironi yang jenaka sekaligus pahit: ketika fungsi aslinya menyusut, terminal justru abadi lewat fiksi.

Baca Juga: Hikayat Wajit Cililin, Simbol Perlawanan Kaum Perempuan terhadap Kolonialisme

Kini, Terminal Cicaheum berada di persimpangan sejarah. Ia lahir sebagai simbol keteraturan transportasi, tumbuh menjadi pusat ekonomi rakyat, lalu perlahan menyepi oleh inovasi dan krisis global. Rencana alih fungsi menjadi depo BRT menjanjikan babak baru, tetapi juga menutup banyak pintu lama. Seperti hikayat klasik, tidak semua tokohnya bisa ikut ke halaman berikutnya.

Jika suatu hari nanti bus antarpulau benar-benar tak lagi berhenti di Cicaheum, yang tersisa bukan hanya bangunan dan jalur kedatangan. Yang tertinggal adalah ingatan kolektif tentang tempat di mana orang datang dan pergi, jatuh dan bangkit, berteriak dan berdoa. Terminal Cicaheum Bandung barangkali akan berubah rupa, tetapi kisahnya sudah terlanjur menjadi bagian dari sejarah kota ini, lengket seperti debu di bangku tunggu dan aroma kopi di warung kecil yang pernah berjaya.

News Update

Bandung 06 Mei 2026, 20:20

Mulai Rp10 Ribu, Aksesori Batu Rimba Buktikan Produk Lokal Bisa Tampil Berkelas dan Bernilai Estetika Tinggi

Di tengah geliat keragaman aspek budaya nasional yang dipadu-padankan dengan ranah bisnis, kini pelaku UMKM aksesori turut menjadi sasaran atensi.

Batu Rimba asal Kalimantan, produk ini menampilkan gelang jenis batu alam hingga mutiara Lombok. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 18:29

Separuh Kehidupan untuk Kemacetan di Kota Bandung

Bagi pengguna fasilitas transportasi umum, kemacetan adalah pergumulan yang melelahkan tapi harus dilewati setiap hari.

Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 17:21

Bandung Kini, Mereka yang Bertahan di Antara Deru Zaman

Di tengah impitan kondisi sosial yang terasa begitu tajam, warga Bandung harus bisa tetap bertahan hidup dengan cara pengorbanan dan kesabaran. Yang akhirnya akan menemukan solusi terbaik.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 16:38

Panduan Wisata ke Little Venice Kota Bunga, Wisata Kanal ala Italia di Kaki Gunung Gede

Destinasi tematik di Kota Bunga ini menghadirkan kanal buatan, bangunan Eropa, dan wahana keluarga dengan latar pegunungan.

Little Venice Kota Bunga Puncak.
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 14:59

Menuju Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung yang Progresif dan Berkeadilan: Kebijakan Insentif Pajak Bumi dan Bangunan

Strategi pelestarian cagar budaya yang progresif dan berkelanjutan untuk menciptakan simbiosis mutualisme antara pelestarian Cagar Budaya dan kepastian hak ekonomi pemilik Cagar Budaya.

Pengendara melintas di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Selasa 21 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Mei 2026, 13:51

Panjat Dinding, Prestasi dan Profesi yang Langka

Prestasi panjat dinding Indonesia didominasi nomor speed, sementara kekurangan route setter jadi kendala perkembangan atlet.

Panjat dinding. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 11:25

5 Tempat Kuliner dan Restoran Pilihan dengan View Ikonik di Ciwidey Bandung

Panduan tempat makan di Ciwidey dengan view paling menarik. Dari warung sederhana hingga restoran unik di tepi danau.

Warung Kabut, Ciwidey.
Ayo Biz 06 Mei 2026, 11:23

Kita Butuh Isinya, Bukan Wadahnya

Jaga Bumi Ecomart mengajak belanja tanpa kemasan sekali pakai lewat konsep *refill* dan *reuse*. Pesannya sederhana: yang dibutuhkan adalah isi, bukan wadah, demi mengurangi sampah.

Beragam produk hasil recycle di Jaga Bumi Ecomart, menunjukkan limbah dapat diolah menjadi barang bernilai guna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 09:45

Tujuan Kawula Muda Nonton Film di Tahun 1980-an

Kawula muda Kota Bandung sangat beruntung karena kota tempat mereka beraktifitas di sekolah punya seribu buat menghilangkan kepenatan sebagai pelajar di tahun 1980-an.

Bioskop Majestic, Kota Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Chainwit)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 07:39

Dari Loyalitas ke Konsumsi, Ketika Bobotoh dan Merchandise Jadi Satu Cerita

Dukungan klub kini bukan hanya emosi, tapi juga konsumsi. Artikel ini mengulas perubahan loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender.

Loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender. (Sumber: TikTok @terracedistric)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 20:28

Panduan Wisata Taman Safari Bogor, Tiket, Wahana, dan Safari Journey

Panduan lengkap Taman Safari Bogor mencakup harga tiket, Safari Journey, wahana, pertunjukan satwa, serta tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Wisata Taman Safari Indonesia di kawasan Puncak, Bogor. (Sumber: Taman Safari Indonesia)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 18:05

Mobilitas Tinggi, Perlindungan Rendah: Catatan Hari Buruh dari Sektor Transportasi Darat

Mobilitas transportasi darat meningkat, tetapi perlindungan pengemudi tertinggal. Hari Buruh menyoroti risiko tinggi, jam kerja panjang, dan lemahnya pengawasan di sektor logistik dan bus.

Ilustrasi sejumlah pengemudi truk logistik dan bus sedang memperingati hari buruh 1 Mei. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 17:22

Meng(hardik)nas, Peringatan, dan Kesadaran

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, sebagai manusia seutuhnya.

Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 16:28

Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Prolog)

Keheningan dan kesederhanaan Lembang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menorehkan kesan yang tiada duanya.

Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 13:37

10 Netizen Terpilih April 2026: Bandung di Mata Pendatang, antara Bayangan dan Kenyataan

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 13:14

Tamasya ke Pulau Biawak, Wisata Pulau Konservasi di Laut Jawa

Wisata Pulau Biawak Indramayu mencakup akses dari Karangsong, mercusuar Belanda, habitat biawak liar, kondisi terumbu karang, serta tips kunjungan ke pulau.

Pulau Biawak, Indramayu. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 05 Mei 2026, 10:46

Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

Mal BTM di Bandung perlahan sepi seiring perubahan cara orang berbelanja ke digital, memangkas peran toko fisik dan menggeser rantai distribusi tradisional.

Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 09:25

Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)
Beranda 05 Mei 2026, 09:15

Nasib Pekerja Informal yang Setiap Hari Dikejar Setoran, Tapi Masa Depan Tak Pernah Ikut Dijamin

Kisah dua saudara yang berjuang di tengah keterbatasan peluang kerja dan ketidakpastian upah sebagai petugas parkir demi menyambung hidup hari demi hari.

Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 21:56

Belajar dari Tragedi KA Argo: Sudah Saatnya Ubah Cara Awasi Perlintasan Biar Mobil Mogok Tak Lagi Jadi Maut

Tragedi KA Argo 2026 mendesak PT KAI untuk memodernisasi keamanan perlintasan sebidang guna mencegah mobil mogok akibat gangguan elektromagnetik dan rel yang tidak rata.

(Sumber: Pixels | Foto: Irsyad Rifqi)