Hikayat Terminal Cicaheum, Gerbang Perantau Bandung yang jadi Sarang Preman Pensiun

7 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Suasana Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Suasana Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Jika sebuah kota bisa bercerita lewat bangunan, maka Terminal Cicaheum adalah salah satu mulut paling cerewet di Bandung. Ia pernah riuh, berisik, bau bensin, penuh teriakan kernet, kembalian receh, dan harapan yang dibungkus tas plastik. Dari sanalah banyak orang pertama kali menginjakkan kaki di Kota Kembang, dengan mimpi sederhana yang cukup kuat untuk dibawa naik bus antarkota.

Terminal Cicaheum dibangun pada 1974 di atas lahan seluas hampir 1,2 hektar, di timur Bandung yang kala itu belum semacet sekarang. Pemerintah kota sedang getol merapikan transportasi, membayangkan masa depan kota yang tertib, modern, dan terencana. Setahun kemudian, pada 23 Agustus 1975, terminal ini resmi dibuka pada masa Wali Kota R. Otje Djundjunan. Bandung akhirnya punya terminal antarprovinsi pertama yang serius, bukan sekadar halaman luas tempat bus berhenti lalu pergi.

Sejak awal beroperasi, Terminal Cicaheum memosisikan diri sebagai terminal antarprovinsi pertama di Bandung. Fungsi ini segera membuatnya ramai bukan main. Angkutan kota berpencar ke penjuru Bandung, bus antarkota menyisir Jawa Barat bagian timur, sementara bus antarpulau mengangkut penumpang hingga ke Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Cicaheum menjadi tempat pertemuan orang kampung dan orang kota, antara yang pulang membawa oleh-oleh dan yang datang membawa harapan.

Pada masa jayanya, terminal ini seperti tidak pernah tidur. Pagi, siang, malam, bahkan dini hari, selalu ada pergerakan. Mesin bus mendengus, kernet berseru, dan penumpang berlarian mengejar keberangkatan yang katanya tinggal lima menit lagi. Terminal Cicaheum Bandung bukan sekadar fasilitas publik, melainkan lanskap sosial yang hidup.

Ekosistem ekonomi pun tumbuh dengan sendirinya. Warung kecil berderet, pedagang asongan menyelinap di antara bus, dan penjual tiket membaca wajah calon penumpang lebih tajam dari jadwal keberangkatan. Bahkan angkot pun menjadikan Cicaheum sebagai magnet. Hingga akhir 2010-an, rute angkot yang melewati terminal ini termasuk yang terpadat di Bandung, dengan ratusan kendaraan per rute. Dari sinilah uang receh berputar cepat, berpindah tangan berkali-kali sebelum matahari tenggelam.

Baca Juga: Hikayat Cibiru, dari Kawasan Timur Pinggiran Kota Bandung yang jadi Pusat Keramaian

Bagi para perantau, Terminal Cicaheum adalah gerbang nasib. Banyak yang pertama kali menginjakkan kaki di Bandung lewat tempat ini. Dari Tasikmalaya, Garut, Ciamis, Kuningan, hingga Indramayu, orang datang bukan sekadar bepergian, tapi mengadu peruntungan. Ada yang pulang membawa cerita sukses, ada pula yang bertahan dengan warung kecil dan hidup pas-pasan di sekitar terminal. Namun satu hal pasti, terminal ini memberi peluang hidup bagi ribuan orang, langsung maupun tidak langsung.

Tapi seperti hikayat pada umumnya, masa kejayaan jarang bertahan selamanya. Memasuki dekade 2010-an, perubahan datang dari arah yang tak terduga. Transportasi digital mulai merangsek masuk ke rutinitas kota. Ojek berbasis aplikasi menawarkan kemudahan, kecepatan, dan rute langsung tanpa harus singgah ke terminal. Penumpang yang dulu terbiasa naik angkot dari Cicaheum mulai berpindah pilihan. Terminal yang semula ramai perlahan kehilangan denyutnya.

Dampaknya terasa berlapis. Angkot menunggu lebih lama, bus berangkat dengan kursi kosong, dan pedagang menghitung ulang keuntungan harian. Terminal Cicaheum masih beroperasi, melayani sejumlah rute angkot dalam kota dan perbatasan, tetapi atmosfernya berubah. Jika dulu manusia berebut kendaraan, kini kendaraanlah yang menunggu manusia.

Lalu datanglah pandemi COVID-19, sebuah babak yang terasa seperti halaman gelap dalam hikayat ini. Mobilitas dibatasi, bus berhenti beroperasi, dan terminal yang biasanya gaduh mendadak sunyi. Selama hampir dua tahun, Terminal Cicaheum mengalami mati suri. Ketika pembatasan mulai dilonggarkan, keadaan tak pernah benar-benar kembali seperti semula. Jumlah penumpang anjlok tajam, armada menyusut, dan perusahaan otobus satu per satu berguguran.

Baca Juga: Hikayat Kiaracondong, Tujuan Urbanisasi Kaum Pekerja Zaman Baheula

Pada pertengahan dekade 2020-an, wajah Terminal Cicaheum jauh berbeda dibanding masa lalunya. Dari puluhan perusahaan bus, tinggal sekitar 20-an yang bertahan. Penumpang harian merosot dari ribuan menjadi ratusan. Warung-warung tutup, kios kosong, dan pedagang yang tersisa bertahan sekadar agar dapur tetap mengepul. Terminal tetap berdiri, tetapi lebih sering terdengar kosong daripada riuh.

Suasana warung di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Suasana warung di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Di tengah penurunan itu, muncul kabar yang menggetarkan. Pemerintah merencanakan alih fungsi Terminal Cicaheum menjadi depo Bus Rapid Transit (BRT) Cekungan Bandung. Terminal ini diproyeksikan menjadi bagian dari sistem transportasi massal perkotaan berbasis BRT dengan pendekatan Transit Oriented Development dan kendaraan listrik. Bus antarkota dan antarpulau akan dipindahkan, sementara Cicaheum difokuskan melayani bus perkotaan.

Secara konsep, rencana ini terdengar modern dan menjanjikan. Namun bagi mereka yang hidup bergantung pada denyut terminal, kabar tersebut terasa seperti vonis. Terminal Cicaheum bukan hanya titik transportasi, melainkan ruang hidup. Di sinilah penghasilan dicari, keluarga dibiayai, dan rutinitas dijalani puluhan tahun. Penolakan pun muncul, bukan semata karena menolak perubahan, melainkan karena ketakutan kehilangan sumber hidup.

Baca Juga: Hikayat Pangalengan, Kota Teh Kolonial yang jadi Ikon Wisata Bandung Selatan

Hikayat Preman dan Preman Pensiun

Hikayat Terminal Cicaheum juga tidak lepas dari sisi gelapnya. Pada dekade 1980-an dan 1990-an, terminal ini dikenal sebagai wilayah keras. Premanisme tumbuh subur di tengah keramaian. Pemalakan, intimidasi, dan kekerasan menjadi bagian dari risiko sehari-hari. Kisah-kisah pemalakan menjadi makanan rutin yang menyelinap ke telinga warga Bandung kala itu. Terminal ini pernah menjadi simbol wajah kota yang kusut, tempat hukum sering kalah oleh keberanian dan jumlah.

Dalam berita Berita Yudha terbitan 22 Agustus 1994 misalnya, lima anggota komplotan bertopeng “Ninja” ditangkap aparat ketika tengah memeras pedagang dan sopir angkot di Terminal Cicaheum beberapa hari sebelumnya. Mereka semau adalah remaja berusia 18 hingga 31 tahun. Dari tangan para tersangka, polisi menyita perhiasan emas, uang tunai, serta senjata tajam berupa dua samurai, tiga clurit, dan sebilah golok yang diduga kerap mereka gunakan dalam aksi-aksi sebelumnya.

Penggerebekan berlangsung setelah polisi menerima laporan adanya delapan orang bertopeng yang berkeliaran sambil mengancam warga. Empat anggota Polsekta Cibeunying Kidul segera menuju terminal. Melihat kedatangan aparat, kelompok itu kabur. Sial bagi mereka, pelarian berujung di gang buntu. Beberapa tembakan peringatan dilepaskan sebelum lima orang berhasil diringkus.

Baca Juga: Hikayat Komplotan Bandit Revolusi di Cileunyi, Sandiwara Berdarah Para Tentara Palsu

Suasana angkot ngetem di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Suasana angkot ngetem di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)

Fenomena premanisme di Terminal Cicaheum ini bahkan diabadikan dalam budaya populer Indonesia. Serial televisi komedi "Preman Pensiun" yang sempat populer di Indonesia menggunakan Terminal Cicaheum sebagai salah satu lokasi syutingnya. Serial ini mengangkat tema tentang kehidupan para mantan preman yang mencoba hidup normal, dan pemilihan Terminal Cicaheum sebagai lokasi syuting menunjukkan betapa kuatnya asosiasi antara terminal ini dengan fenomena premanisme di masa lalu.

Dipilih sebagai lokasi syuting utama sinetron Preman Pensiun sejak musim pertama tahun 2015, terminal ini merepresentasikan kehidupan jalanan yang gritty, penuh premanisme, konflik kekuasaan, dan interaksi sosial autentik. Citra terminal di masa lalu yang ramai, hectic, dan sarat preman sesuai dengan tema cerita karya Aris Nugraha tentang pensiunan preman seperti Kang Mus, yang mengelola bisnis di terminal sambil menghadapi saingan seperti Cecep, Bubun, dan Bang Edi.

Dalam cerita, terminal ini digambarkan sebagai arena konflik preman, di mana karakter seperti Kang Mus, Cecep, Bubun, Gobang, dan Jamal berebut kendali atas bisnis terminal, termasuk pungutan liar dan perebutan kekuasaan. Lokasi ikonik seperti Warung Bi Yayah sering juga menjadi set adegan. Syuting Preman Pensiun 10 masih berlangsung di sini hungga edisi teranyar 2025. Kamera televisi, kru produksi, dan penonton tak langsung ikut menjaga terminal tetap hidup di ingatan publik. Sebuah ironi yang jenaka sekaligus pahit: ketika fungsi aslinya menyusut, terminal justru abadi lewat fiksi.

Baca Juga: Hikayat Wajit Cililin, Simbol Perlawanan Kaum Perempuan terhadap Kolonialisme

Kini, Terminal Cicaheum berada di persimpangan sejarah. Ia lahir sebagai simbol keteraturan transportasi, tumbuh menjadi pusat ekonomi rakyat, lalu perlahan menyepi oleh inovasi dan krisis global. Rencana alih fungsi menjadi depo BRT menjanjikan babak baru, tetapi juga menutup banyak pintu lama. Seperti hikayat klasik, tidak semua tokohnya bisa ikut ke halaman berikutnya.

Jika suatu hari nanti bus antarpulau benar-benar tak lagi berhenti di Cicaheum, yang tersisa bukan hanya bangunan dan jalur kedatangan. Yang tertinggal adalah ingatan kolektif tentang tempat di mana orang datang dan pergi, jatuh dan bangkit, berteriak dan berdoa. Terminal Cicaheum Bandung barangkali akan berubah rupa, tetapi kisahnya sudah terlanjur menjadi bagian dari sejarah kota ini, lengket seperti debu di bangku tunggu dan aroma kopi di warung kecil yang pernah berjaya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 20:01

Ketika Gelombang Radio Menyatukan Ribuan Fans Iwan Fals

Ganesha Iwan Fals (GIF), program legendaris Radio Ganesha Bandung yang diasuh penyiar karismatik Kang Denny GIF.

Tim pengisi acara Ganesha Iwan Fals berkunjung ke kediaman Iwan Fals di Cipanas, Puncak. Dari kiri ke kanan: Arif (GIF), Denny GIF (penyiar Radio Ganesha Bandung), Iwan Fals, dan Bram (sahabat karib Iwan Fals dari Bandung). (Foto: Kemal Ferdiansyah)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 18:29

Kemerdekaan bagi Sastra

Sastra adalah salah satu ruang terakhir bagi tempat kejujuran yang masih berani bicara. Tapi apakah kehidupan bagi pelakunya sudah layak atau tenggelam dalam lautan merdeka itu sendiri?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!