Hikayat Kiaracondong, Tujuan Urbanisasi Kaum Pekerja Zaman Baheula

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Para buruh pekerja Artillerie Constructie Winkel (ACW) di Kiaracondong yang merupakan cikal bakal PT Pindad. (Sumber: Tropenmuseum)
Para buruh pekerja Artillerie Constructie Winkel (ACW) di Kiaracondong yang merupakan cikal bakal PT Pindad. (Sumber: Tropenmuseum)

AYOBANDUNG.ID - Siapa pun yang melintas di Jalan Kiaracondong pada jam berangkat atau pulang kerja pasti paham, kesabaran di sini diuji seperti ujian nasional tanpa kisi-kisi. Deru klakson, angkot ngetem, dan pedagang kaki lima berbaur di bawah flyover yang seolah berdiri hanya untuk menambah bayangan di tengah panas. Tapi di balik keruwetan lalu lintas dan aroma khas pasar, Kiaracondong menyimpan sejarah panjang yang jauh lebih menarik daripada sekadar macet harian.

Catatan Perpustakaan Digital Budaya Indonesia menyebutkan, pada masa lampau tumbuh sebatang pohon kiara yang sangat besar dan tinggi di kawasan ini. Batangnya miring—dalam bahasa Sunda disebut “condong”. Orang-orang yang lewat kerap menunjuk pohon itu sambil berkata, “Eta kiara condong.” Seiring waktu, sebutan itu melekat menjadi nama wilayah: Kiaracondong. Sebuah penanda sederhana bahwa kadang sejarah besar lahir hanya dari satu batang pohon yang miring.

Tapi perjalanan Kiaracondong tak berhenti pada legenda pohon. Kawasan ini tumbuh bersama denyut industri, rel kereta, dan pergerakan manusia yang membentuk wajah Bandung Timur. Dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe dipaparka, pada 1870-an penduduk Bandung mulai giat menggarap lahan menjadi kebun-kebun dengan nama “kebon” di depannya, sepeti Kebon Kawung, Kebon Kalapa, Kebon Gedang, dan seterusnya. Bersamaan dengan itu, muncul pula kampung-kampung yang diambil dari nama pepohonan atau benda mencolok di lingkungannya, seperti Awibitung, Cukangjati, Gardujati, hingga Kiaracondong. Setiap nama menyimpan kisah kecil yang membentuk mosaik sejarah kota.

Baca Juga: Sejarah Flyover Pasupati Bandung, Gagasan Kolonial yang Dieksekusi Setelah Reformasi

Dari Halte Kiaratjondong ke Pindad, Jejak Senjata dan Industrialisasi

Dalam catatan Komunitas Aleut, nama Kiaracondong pertama kali muncul di koran-koran Hindia Belanda pada September 1893, bersamaan dengan pengumuman pembukaan halte kereta api baru antara Stasiun Bandung dan halte Gedebage. Ejaan lama yang digunakan kala itu: Kiaratjondong. Halte ini bukan sekadar pemberhentian, melainkan titik awal perjalanan Kiaracondong menjadi pusat industri di timur Bandung.

Tak lama setelah halte itu berdiri, pemerintah kolonial memindahkan sejumlah instalasi militer ke Bandung. Salah satunya adalah Artillerie Constructie Winkel (ACW), pabrik senjata dan artileri yang sebelumnya beroperasi di Surabaya. Menurut Komunitas Aleut, pada tahun 1920 dimulai pembangunan gedung-gedung pabrik ACW beserta kampung pekerjanya di sekitar Kampung Kiaratjondong. Pindahnya ACW ke Bandung menandai babak baru: Bandung tak lagi sekadar kota peristirahatan, melainkan kota industri dan militer.

Pembangunan kampung pekerja ACW bahkan sempat menjadi buah bibir. Banyak buruh dari Surabaya ingin ikut pindah ke Bandung, namun jumlah rumah terbatas. Perekrutan pun dihentikan sementara. Di saat bersamaan, pada tahun 1920 juga dibangun kompleks Pabrik Gas di sebelah barat Babakan Surabaya, tepat di selatan Daendelsweg—yang kini dikenal sebagai Jalan Jakarta. De Preanger-bode edisi 5 April 1921 mencatat bahwa proyek itu dimulai pada 20 April, dengan Firma Schoemaker & Associate sebagai perancang gedung kantor dan rumah staf, sementara Firma Selle & De Bruijn menangani struktur pendukungnya.

Sejak 1940, muncul lagi kompleks industri lain bernama Central Magazijn GEBEO. Setelah Indonesia merdeka, geliat industri tak surut. Pada 1955, Preanger-bode melaporkan rencana pemindahan Pabrik Philips dari Surabaya ke Bandung. Prosesnya sempat ricuh akibat pemutusan hubungan kerja terhadap 132 buruh di Surabaya yang kemudian mengadu ke Kementerian Perekonomian.

Dengan semua industri itu, kawasan Kiaracondong tumbuh menjadi episentrum aktivitas logam dan manufaktur. Karakter industri logam yang masih kental hingga era modern merupakan warisan dari masa kolonial, ketika kawasan ini menjadi tempat produksi senjata dan mesin. Di berbagai gang Babakan Surabaya dan Kiaracondong, deru mesin las dan patri seolah menyambung gema dari masa lalu.

Baca Juga: Sejarah Pindad, Pindah ke Bandung Gegara Perang Dunia

Suasana Kiaracondong zaman kiwari. (Sumber: Unsplas | Foto: Abdul Ridwan)
Suasana Kiaracondong zaman kiwari. (Sumber: Unsplas | Foto: Abdul Ridwan)

Dari Karsten Plan ke Pemukiman Padat, Kiaracondong dalam Lajur Urbanisasi

Tata ruang Bandung yang kacau ternyata sudah diprediksi sejak zaman kolonial. Dalam Sejarah Kota Bandung 1945–1979 disebutkan, pada 1921 luas kota baru mencapai 2.853 hektare, namun terus meluas seiring meningkatnya jumlah penduduk. Thomas Karsten kemudian menyusun Karsten Plan, rencana pengembangan kota selama 25 tahun dengan proyeksi 750.000 penduduk pada tahun 1955.

Salah satu rekomendasi penting Karsten adalah menambah halte-halte kereta api agar mobilitas warga lebih merata. Dalam Risalah No. 4 tanggal 12 Agustus 1919 disebutkan, perlu dibangun halte di Andir, Ciroyom, Cikudapateuh, dan Kiaracondong, guna mengurangi kepadatan penumpang di Stasiun Bandung serta memudahkan akses menuju pasar-pasar timur seperti Cicadas. Halte-halte ini menjadi cikal bakal integrasi transportasi Bandung yang modern—meski, seperti halnya banyak rencana bagus lain, tak semua berjalan sesuai harapan.

Setelah kemerdekaan, Bandung berubah cepat. Buku Nama Tempat yang Berhubungan dengan Air menjelaskan bahwa pada pertengahan 1950-an, gelombang urbanisasi besar-besaran terjadi akibat gangguan keamanan oleh gerombolan DI/TII di pedesaan Jawa Barat. Warga desa mencari perlindungan di kota, dan ketika situasi kembali tenang, sebagian besar enggan pulang. Kota dianggap lebih menjanjikan, meski pekerjaan terbatas dan lahan sempit.

Baca Juga: Sejarah Kopo Bandung, Berawal dari Hikayat Sesepuh hingga Jadi Distrik Ikon Kemacetan

Kiaracondong menjadi salah satu kantong pemukiman padat baru. Buku Sejarah Kota Bandung 1945–1979 mencatat, pada 1966 jumlah rumah resmi di Bandung hanya 87.849 unit—cukup untuk sekitar 878 ribu jiwa—padahal penduduknya sudah melampaui 1,1 juta. Sekitar 237 ribu orang tinggal di rumah-rumah liar tanpa izin, banyak di antaranya di Kiaracondong, Babakan Surabaya, dan Sasakgantung. Rumah-rumah itu berdiri di atas lahan tanpa izin, rapat, dan nyaris tanpa perencanaan.

Pemerintah mencoba menata ulang dengan membangun perumahan baru di berbagai kawasan, termasuk di Kiaracondong. Pada 1980-an, wilayah ini ditetapkan sebagai zona industri timur Bandung. Pertimbangannya sederhana: dekat dengan jaringan transportasi dan jauh dari kawasan pendidikan serta pariwisata. Dalam catatan Buku Sejarah Kota Bandung 1945–1979, kebijakan itu dimaksudkan untuk menghindari gangguan aktivitas industri terhadap permukiman dan kampus. Ironisnya, justru industri yang datang duluan, dan permukiman yang menyesuaikan di kemudian hari.

Stasiun Kiaracondong menjadi simpul vital. Perpustakaan Digital Budaya Indonesia menyebutnya sebagai stasiun terbesar kedua di Bandung, berdekatan dengan Jalan Ibrahim Adjie, pasar tradisional, dan jalan layang Kiaracondong. Dari sini, barang dan manusia mengalir tanpa henti, membentuk denyut ekonomi dan sekaligus kemacetan abadi. Jalur rel yang dulu dibangun untuk artileri kini mengangkut pekerja harian dan pedagang sayur, sementara bekas kampung buruh ACW menjelma menjadi labirin gang padat dengan bengkel logam dan warung mi kocok berdempetan.

Hari ini, Kiaracondong mungkin tak lagi punya pohon kiara miring, tapi kemiringan masih ada di mana-mana. Kabel listrik menggantung miring di udara, trotoar miring menampung genangan, dan bangunan miring menyempil di sela gang. Sejarah di sini tidak berjalan lurus, ia berliku seperti jalanan sore hari yang penuh klakson.

Baca Juga: Jejak Sejarah Ujungberung, Kota Lama dan Kiblat Skena Underground di Timur Bandung

Tapi di situlah pesonanya. Kiaracondong bukan sekadar nama jalan atau stasiun, melainkan kronik panjang tentang bagaimana Bandung timur tumbuh: dari pohon condong, halte kolonial, pabrik senjata, rumah liar, hingga flyover yang selalu ramai. Setiap lapisan sejarahnya masih terlihat, hanya saja tertutup sedikit oleh debu jalanan dan asap knalpot.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)