Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Hikayat Cibiru, dari Kawasan Timur Pinggiran Kota Bandung yang jadi Pusat Keramaian

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Selasa 09 Des 2025, 13:12 WIB
Bunderan Ciburu. (Sumber: Humas Pemkot Bandung)

Bunderan Ciburu. (Sumber: Humas Pemkot Bandung)

AYOBANDUNG.ID - Kawasan Cibiru yang kini berdiri sebagai gerbang timur Kota Bandung, tampak seperti kawasan urban yang sibuk dan padat. Namun sebelum ada bundaran ramai, bus AKAP yang berdesakan, dan mahasiswa yang mondar-mandir mencari kos murah, wilayah ini pernah menjadi kampung kecil yang namanya saja sudah membawa rasa penasaran. Bukan karena warnanya benar biru, melainkan karena sebuah pohon misterius yang memunculkan air dari akarnya. Cerita itu mengalir seperti sungai kecil di kaki Gunung Manglayang, menyusuri zaman kolonial hingga kehidupan modern yang penuh suara klakson.

Sejak dulu Cibiru seperti anak kampung yang pelan-pelan naik kelas, dari wilayah terpencil menjadi kecamatan resmi, lalu berubah menjadi pusat pendidikan dan lalu lintas. Di balik itu semua, banyak lapisan sejarah yang seru untuk diulik. Inilah perjalanan Cibiru yang diceritakan dengan gaya tempo dulu yang agak jenaka, tetapi tetap berpijak pada fakta dan toponimi yang tercatat dalam berbagai sumber seperti T. Bachtiar dalam Toponimi Susur Galur Nama Tempat di Jawa Barat, peta lama 1811, arsip kolonial tentang Priangan, serta dokumen administratif dari era pasca-kemerdekaan.

Konon, jauh sebelum Cibiru berubah menjadi kecamatan ramai yang dilalui bus kota, angkot, dan motor yang tidak kenal pelan, nama itu sudah terbentuk dari dua kata: Ci yang berarti air, dan Biru yang berasal dari pohon biru atau Ki Biru. Pohon ini bukan sembarang pohon. Akar pohonnya mengeluarkan mata air yang dipakai penduduk untuk kebutuhan harian. Kampung yang tumbuh di sekitar pohon itu pun dinamai Cibiru.

Baca Juga: Hikayat Pangalengan, Kota Teh Kolonial yang jadi Ikon Wisata Bandung Selatan

Catatan ahli toponimi Jawa Barat, Titi Bachtiar, warna biru tidak banyak dipakai di masa lalu. Orang Sunda lama lebih akrab dengan warna hijau. Warna biru pun ketika muncul biasanya punya makna simbolis tertentu, seperti kesucian atau kebersihan. Hal itu membuat nama Cibiru lebih masuk akal jika bersumber dari pohon biru, bukan warna biru.

Pohon biru yang dimaksud adalah Garuga pinnata, seperti dicatat K. Heyne pada 1927. Pohon ini bisa tumbuh tinggi sampai 30 meter, berbatang lurus, dan bagian dalam kayunya menampilkan warna kebiruan yang unik. Kayunya tidak terlalu keras, tetapi punya keunggulan tertentu jika disimpan di bawah atap. Keberadaan pohon biru ini pula yang diyakini memberi nama bagi sejumlah tempat lain seperti Biru, Pasirbiru, dan Kampung Biru di Jawa Barat.

Tapi ada cerita alternatif. Dalam peta 1811 ditemukan nama Cipiru, yang diduga berasal dari pohon piru atau hakur. Hingga kini pohon piru masih bisa ditemukan di beberapa ruas jalan Cibiru. Ada kemungkinan nama Cipiru berubah menjadi Cibiru melalui penyebutan lisan penduduk yang terus bergulir dari generasi ke generasi.

Terlepas dari versi mana pun yang disukai, keduanya sama-sama menunjukkan bahwa Cibiru berakar dari tradisi penamaan Sunda berdasarkan pohon dan sumber air. Sesuatu yang terasa sederhana, tetapi justru itulah yang membuatnya bertahan ratusan tahun.

Sebelum Cibiru dikenal sebagai bagian timur Kota Bandung, ia adalah kawasan kampung yang berada dalam lanskap Priangan. Sejak abad ke 17 VOC sudah menaruh perhatian pada daerah ini karena kesuburan tanahnya. Di masa itu, wilayah sekitar Cibiru sudah terhubung oleh kegiatan perkebunan kecil dan jalur pergerakan antarkampung.

Baca Juga: Sejarah Kopo Bandung, Berawal dari Hikayat Sesepuh hingga Jadi Distrik Ikon Kemacetan

Perubahan besar terjadi pada 1786, ketika dibangun jalur penghubung Batavia, Bogor, Cianjur, Bandung, Sumedang, dan Cirebon. Jalur ini bukan jalan kecil yang hanya dilewati pedagang, melainkan rute penting untuk mobilitas administrasi dan militer.

Kemudian datang masa Daendels, ketika pada 1809 sang gubernur jenderal mendapat tugas membangun infrastruktur pertahanan memanjang dari Anyer ke Panarukan. Jalan Raya Pos yang rampung pada 1810 itu dialihkan ke Bandung, karena jalur utara terlalu berawa. Cibiru berada di jalur itu. Artinya, sejak awal abad ke 19, Cibiru sudah menjadi saksi ribuan kaki, roda pedati, dan pasukan yang lewat.

Pada 1850, Bandung ditunjuk sebagai pusat Residentie Priangan. Pusat pemerintahan pindah dari Cianjur ke Bandung setelah bencana alam menghancurkan kota lama. Ini membuat wilayah sekitarnya, termasuk Cibiru, semakin ramai dan mendapat perhatian pembangunan.

Pada 1882, Cibiru ditetapkan sebagai satu dari empat onderdistrict di Distrik Ujungberung Wetan. Pusat administrasinya kemudian digeser mendekati Jalan Raya Pos, sebab di situlah denyut kehidupan bergerak paling cepat.

Jalur kereta api dari Batavia ke Bandung dibangun pada 1880 dan semakin mempercepat hubungan dagang serta pertumbuhan kota. Bandung berkembang pesat, industri tumbuh, migran Tiongkok berdatangan, dan Cibiru sebagai pintu timur ikut merasakan efek domino pembangunan yang tidak bisa dihindari.

Begitu masuk abad 20, Bandung berubah menjadi kota modern. Gedung pemerintahan dibangun, kawasan permukiman dibuka, dan gagasan pindahnya ibukota Hindia Belanda ke Bandung sempat beredar. Walau rencana itu tidak pernah terjadi, infrastruktur yang dipersiapkan untuknya tetap berdiri dan menjadikan Bandung kota besar. Cibiru mendapat imbasnya sebagai jalur masuk dan keluar kota.

Baca Juga: Jejak Sejarah Ujungberung, Kota Lama dan Kiblat Skena Underground di Timur Bandung

Pada masa pendudukan Jepang dan revolusi kemerdekaan tentu juga menandai perubahan sosial. Walaupun catatan khusus tentang Cibiru tidak banyak, sudah pasti kawasan ini ikut bergejolak sebagai bagian dari Bandung Raya yang mengalami peristiwa Bandung Lautan Api pada 1946.

Peta Cibiru. (Sumber: Google Earth)
Peta Cibiru. (Sumber: Google Earth)

Setelah memasuki era Indonesia merdeka, nama Cibiru semakin menguat secara administratif. Desa Cibiru menjadi bagian Kecamatan Ujungberung. Beberapa kepala desa memimpin wilayah ini sebelum adanya pemekaran pada 1984 yang menghasilkan Desa Cibiru Kulon dan Cibiru Wetan.

Perubahan besar terjadi pada 1987 melalui PP Nomor 16 yang mengatur batas wilayah antara Kota Bandung dan Kabupaten Bandung. Dalam regulasi itulah Cibiru resmi menjadi kecamatan di wilayah Kota Bandung. Desa Cibiru Kulon berubah menjadi Kelurahan Pasir Biru, masuk dalam struktur administratif Kota Bandung. Kecamatan Cibiru kemudian meliputi enam kelurahan yang kita kenal sekarang: Pasir Biru, Cipadung, Palasari, Cisurupan, dan Kebon Kangkung.

Ketinggian wilayahnya yang berada antara 681 hingga 761 meter membuat Cibiru memiliki iklim yang sejuk, sesuatu yang masih menjadi daya tarik bagi pendatang. Tidak berlebihan jika dikatakan Cibiru adalah pintu timur Bandung, sebab posisi geografisnya membuat setiap orang dari arah timur pasti melintas di wilayah ini sebelum masuk ke pusat kota.

Baca Juga: Sejarah Cicalengka, Gudang Kopi Kompeni dengan Sejuta Cerita di Ujung Timur Bandung

Salah satu bab paling penting dalam sejarah Cibiru adalah lahirnya pusat pendidikan tinggi Islam. Pada 1960-an, para ulama dan tokoh masyarakat Jawa Barat memperjuangkan berdirinya Institut Agama Islam Negeri. Hasilnya, IAIN Sunan Gunung Djati berdiri pada 1968. Beberapa fakultas awal dibuka di Bandung dan Garut.

Pada awal 1970-an, kampus berpindah beberapa kali sebelum akhirnya menetap di Jalan Cipadung, yang kini dikenal sebagai Jalan A.H. Nasution. Lokasi ini berada di wilayah Cibiru. Sejak saat itu, wajah Cibiru berubah. Warung kopi muncul di pinggir jalan, toko fotokopi lahir bak jamur, dan kos-kosan tumbuh seperti lumbung padi di musim panen.

Pada 1990-an, fakultas-fakultas baru ditambahkan, termasuk Fakultas Dakwah dan Fakultas Adab. Program pascasarjana juga dibuka. Cibiru semakin ramai oleh mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Jika pada 1970-an angkot menjadi raja jalanan, kini ojek dan ojek daring menjadi bintang baru di sekitar kampus.

Salah satu transformasi paling monumental terjadi pada 2005 ketika IAIN Sunan Gunung Djati resmi berubah menjadi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Perubahan status ini membuat kampus memperluas cakupan akademiknya, menghadirkan berbagai fakultas baru di bidang sains, sosial, dan teknologi. Kawasan Cibiru pun semakin mengental identitasnya sebagai kawasan pendidikan.

Baca Juga: Sejarah Bandung dari Kinderkerkhof sampai Parijs van Java

Selain UIN, ada juga UPI Kampus Cibiru yang berdiri secara resmi sebagai bagian dari UPI pada tahun 2002. Walau berdiri tahun 2000-an, cikal bakalnya sudah ada dari dari Sekolah Pendidikan Guru (SPG/SGO) yang asetnya diserahkan ke UPI (IKIP Bandung) pada tahun 1990, menjadi cikal bakal program studi seperti PGSD. Kehadiran kampus membuat Cibiru berubah cepat. Warung makan tumbuh, kos-kosan dibangun, jalan semakin padat, dan ekonomi kawasan meningkat.

Tidak hanya UPI, kampus lain di sekitarnya juga mempengaruhi perkembangan urban Bandung Timur. Arus mahasiswa, dosen, pegawai, dan aktivitas akademik membuat Cibiru tidak lagi sekadar pintu masuk Bandung, tetapi juga pusat keramaian baru yang punya identitas sendiri.

Kini Cibiru menjadi perpaduan menarik antara sejarah panjang, tradisi Sunda, peninggalan kolonial, dan dinamika urban modern. Jalan Raya Pos masih menjadi jalur utama. Cerita tentang pohon biru masih dikenang. Kawasan pendidikan tumbuh pesat. Permukiman terus melebar. Semua unsur itu membuat Cibiru bukan sekadar wilayah di timur Bandung, tetapi bagian dari denyut nadi kota yang terus bergerak.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)