Hikayat Cibiru, dari Kawasan Timur Pinggiran Kota Bandung yang jadi Pusat Keramaian

7 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Bunderan Ciburu. (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Bunderan Ciburu. (Sumber: Humas Pemkot Bandung)

AYOBANDUNG.ID - Kawasan Cibiru yang kini berdiri sebagai gerbang timur Kota Bandung, tampak seperti kawasan urban yang sibuk dan padat. Namun sebelum ada bundaran ramai, bus AKAP yang berdesakan, dan mahasiswa yang mondar-mandir mencari kos murah, wilayah ini pernah menjadi kampung kecil yang namanya saja sudah membawa rasa penasaran. Bukan karena warnanya benar biru, melainkan karena sebuah pohon misterius yang memunculkan air dari akarnya. Cerita itu mengalir seperti sungai kecil di kaki Gunung Manglayang, menyusuri zaman kolonial hingga kehidupan modern yang penuh suara klakson.

Sejak dulu Cibiru seperti anak kampung yang pelan-pelan naik kelas, dari wilayah terpencil menjadi kecamatan resmi, lalu berubah menjadi pusat pendidikan dan lalu lintas. Di balik itu semua, banyak lapisan sejarah yang seru untuk diulik. Inilah perjalanan Cibiru yang diceritakan dengan gaya tempo dulu yang agak jenaka, tetapi tetap berpijak pada fakta dan toponimi yang tercatat dalam berbagai sumber seperti T. Bachtiar dalam Toponimi Susur Galur Nama Tempat di Jawa Barat, peta lama 1811, arsip kolonial tentang Priangan, serta dokumen administratif dari era pasca-kemerdekaan.

Konon, jauh sebelum Cibiru berubah menjadi kecamatan ramai yang dilalui bus kota, angkot, dan motor yang tidak kenal pelan, nama itu sudah terbentuk dari dua kata: Ci yang berarti air, dan Biru yang berasal dari pohon biru atau Ki Biru. Pohon ini bukan sembarang pohon. Akar pohonnya mengeluarkan mata air yang dipakai penduduk untuk kebutuhan harian. Kampung yang tumbuh di sekitar pohon itu pun dinamai Cibiru.

Baca Juga: Hikayat Pangalengan, Kota Teh Kolonial yang jadi Ikon Wisata Bandung Selatan

Catatan ahli toponimi Jawa Barat, Titi Bachtiar, warna biru tidak banyak dipakai di masa lalu. Orang Sunda lama lebih akrab dengan warna hijau. Warna biru pun ketika muncul biasanya punya makna simbolis tertentu, seperti kesucian atau kebersihan. Hal itu membuat nama Cibiru lebih masuk akal jika bersumber dari pohon biru, bukan warna biru.

Pohon biru yang dimaksud adalah Garuga pinnata, seperti dicatat K. Heyne pada 1927. Pohon ini bisa tumbuh tinggi sampai 30 meter, berbatang lurus, dan bagian dalam kayunya menampilkan warna kebiruan yang unik. Kayunya tidak terlalu keras, tetapi punya keunggulan tertentu jika disimpan di bawah atap. Keberadaan pohon biru ini pula yang diyakini memberi nama bagi sejumlah tempat lain seperti Biru, Pasirbiru, dan Kampung Biru di Jawa Barat.

Tapi ada cerita alternatif. Dalam peta 1811 ditemukan nama Cipiru, yang diduga berasal dari pohon piru atau hakur. Hingga kini pohon piru masih bisa ditemukan di beberapa ruas jalan Cibiru. Ada kemungkinan nama Cipiru berubah menjadi Cibiru melalui penyebutan lisan penduduk yang terus bergulir dari generasi ke generasi.

Terlepas dari versi mana pun yang disukai, keduanya sama-sama menunjukkan bahwa Cibiru berakar dari tradisi penamaan Sunda berdasarkan pohon dan sumber air. Sesuatu yang terasa sederhana, tetapi justru itulah yang membuatnya bertahan ratusan tahun.

Sebelum Cibiru dikenal sebagai bagian timur Kota Bandung, ia adalah kawasan kampung yang berada dalam lanskap Priangan. Sejak abad ke 17 VOC sudah menaruh perhatian pada daerah ini karena kesuburan tanahnya. Di masa itu, wilayah sekitar Cibiru sudah terhubung oleh kegiatan perkebunan kecil dan jalur pergerakan antarkampung.

Baca Juga: Sejarah Kopo Bandung, Berawal dari Hikayat Sesepuh hingga Jadi Distrik Ikon Kemacetan

Perubahan besar terjadi pada 1786, ketika dibangun jalur penghubung Batavia, Bogor, Cianjur, Bandung, Sumedang, dan Cirebon. Jalur ini bukan jalan kecil yang hanya dilewati pedagang, melainkan rute penting untuk mobilitas administrasi dan militer.

Kemudian datang masa Daendels, ketika pada 1809 sang gubernur jenderal mendapat tugas membangun infrastruktur pertahanan memanjang dari Anyer ke Panarukan. Jalan Raya Pos yang rampung pada 1810 itu dialihkan ke Bandung, karena jalur utara terlalu berawa. Cibiru berada di jalur itu. Artinya, sejak awal abad ke 19, Cibiru sudah menjadi saksi ribuan kaki, roda pedati, dan pasukan yang lewat.

Pada 1850, Bandung ditunjuk sebagai pusat Residentie Priangan. Pusat pemerintahan pindah dari Cianjur ke Bandung setelah bencana alam menghancurkan kota lama. Ini membuat wilayah sekitarnya, termasuk Cibiru, semakin ramai dan mendapat perhatian pembangunan.

Pada 1882, Cibiru ditetapkan sebagai satu dari empat onderdistrict di Distrik Ujungberung Wetan. Pusat administrasinya kemudian digeser mendekati Jalan Raya Pos, sebab di situlah denyut kehidupan bergerak paling cepat.

Jalur kereta api dari Batavia ke Bandung dibangun pada 1880 dan semakin mempercepat hubungan dagang serta pertumbuhan kota. Bandung berkembang pesat, industri tumbuh, migran Tiongkok berdatangan, dan Cibiru sebagai pintu timur ikut merasakan efek domino pembangunan yang tidak bisa dihindari.

Begitu masuk abad 20, Bandung berubah menjadi kota modern. Gedung pemerintahan dibangun, kawasan permukiman dibuka, dan gagasan pindahnya ibukota Hindia Belanda ke Bandung sempat beredar. Walau rencana itu tidak pernah terjadi, infrastruktur yang dipersiapkan untuknya tetap berdiri dan menjadikan Bandung kota besar. Cibiru mendapat imbasnya sebagai jalur masuk dan keluar kota.

Baca Juga: Jejak Sejarah Ujungberung, Kota Lama dan Kiblat Skena Underground di Timur Bandung

Pada masa pendudukan Jepang dan revolusi kemerdekaan tentu juga menandai perubahan sosial. Walaupun catatan khusus tentang Cibiru tidak banyak, sudah pasti kawasan ini ikut bergejolak sebagai bagian dari Bandung Raya yang mengalami peristiwa Bandung Lautan Api pada 1946.

Peta Cibiru. (Sumber: Google Earth)
Peta Cibiru. (Sumber: Google Earth)

Setelah memasuki era Indonesia merdeka, nama Cibiru semakin menguat secara administratif. Desa Cibiru menjadi bagian Kecamatan Ujungberung. Beberapa kepala desa memimpin wilayah ini sebelum adanya pemekaran pada 1984 yang menghasilkan Desa Cibiru Kulon dan Cibiru Wetan.

Perubahan besar terjadi pada 1987 melalui PP Nomor 16 yang mengatur batas wilayah antara Kota Bandung dan Kabupaten Bandung. Dalam regulasi itulah Cibiru resmi menjadi kecamatan di wilayah Kota Bandung. Desa Cibiru Kulon berubah menjadi Kelurahan Pasir Biru, masuk dalam struktur administratif Kota Bandung. Kecamatan Cibiru kemudian meliputi enam kelurahan yang kita kenal sekarang: Pasir Biru, Cipadung, Palasari, Cisurupan, dan Kebon Kangkung.

Ketinggian wilayahnya yang berada antara 681 hingga 761 meter membuat Cibiru memiliki iklim yang sejuk, sesuatu yang masih menjadi daya tarik bagi pendatang. Tidak berlebihan jika dikatakan Cibiru adalah pintu timur Bandung, sebab posisi geografisnya membuat setiap orang dari arah timur pasti melintas di wilayah ini sebelum masuk ke pusat kota.

Baca Juga: Sejarah Cicalengka, Gudang Kopi Kompeni dengan Sejuta Cerita di Ujung Timur Bandung

Salah satu bab paling penting dalam sejarah Cibiru adalah lahirnya pusat pendidikan tinggi Islam. Pada 1960-an, para ulama dan tokoh masyarakat Jawa Barat memperjuangkan berdirinya Institut Agama Islam Negeri. Hasilnya, IAIN Sunan Gunung Djati berdiri pada 1968. Beberapa fakultas awal dibuka di Bandung dan Garut.

Pada awal 1970-an, kampus berpindah beberapa kali sebelum akhirnya menetap di Jalan Cipadung, yang kini dikenal sebagai Jalan A.H. Nasution. Lokasi ini berada di wilayah Cibiru. Sejak saat itu, wajah Cibiru berubah. Warung kopi muncul di pinggir jalan, toko fotokopi lahir bak jamur, dan kos-kosan tumbuh seperti lumbung padi di musim panen.

Pada 1990-an, fakultas-fakultas baru ditambahkan, termasuk Fakultas Dakwah dan Fakultas Adab. Program pascasarjana juga dibuka. Cibiru semakin ramai oleh mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Jika pada 1970-an angkot menjadi raja jalanan, kini ojek dan ojek daring menjadi bintang baru di sekitar kampus.

Salah satu transformasi paling monumental terjadi pada 2005 ketika IAIN Sunan Gunung Djati resmi berubah menjadi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Perubahan status ini membuat kampus memperluas cakupan akademiknya, menghadirkan berbagai fakultas baru di bidang sains, sosial, dan teknologi. Kawasan Cibiru pun semakin mengental identitasnya sebagai kawasan pendidikan.

Baca Juga: Sejarah Bandung dari Kinderkerkhof sampai Parijs van Java

Selain UIN, ada juga UPI Kampus Cibiru yang berdiri secara resmi sebagai bagian dari UPI pada tahun 2002. Walau berdiri tahun 2000-an, cikal bakalnya sudah ada dari dari Sekolah Pendidikan Guru (SPG/SGO) yang asetnya diserahkan ke UPI (IKIP Bandung) pada tahun 1990, menjadi cikal bakal program studi seperti PGSD. Kehadiran kampus membuat Cibiru berubah cepat. Warung makan tumbuh, kos-kosan dibangun, jalan semakin padat, dan ekonomi kawasan meningkat.

Tidak hanya UPI, kampus lain di sekitarnya juga mempengaruhi perkembangan urban Bandung Timur. Arus mahasiswa, dosen, pegawai, dan aktivitas akademik membuat Cibiru tidak lagi sekadar pintu masuk Bandung, tetapi juga pusat keramaian baru yang punya identitas sendiri.

Kini Cibiru menjadi perpaduan menarik antara sejarah panjang, tradisi Sunda, peninggalan kolonial, dan dinamika urban modern. Jalan Raya Pos masih menjadi jalur utama. Cerita tentang pohon biru masih dikenang. Kawasan pendidikan tumbuh pesat. Permukiman terus melebar. Semua unsur itu membuat Cibiru bukan sekadar wilayah di timur Bandung, tetapi bagian dari denyut nadi kota yang terus bergerak.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)