Hikayat Cileunyi, Kampung Sunyi yang jadi Kawasan Sibuk di Bandung Timur

7 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Foto udara Kendaraan roda empat memenuhi gerbang keluar Tol Cileunyi. (Sumber: Ayobandung)
Foto udara Kendaraan roda empat memenuhi gerbang keluar Tol Cileunyi. (Sumber: Ayobandung)

AYOBANDUNG.ID - Di depan terminal yang kini penuh kendaraan, pedagang, dan suara klakson yang bersahutan, dulu pernah ada sebuah tempat yang jauh lebih sederhana. Di bawah rindang sebatang beringin tua, mata air jernih mengalir tenang. Warga menamainya cai lunyu, air bening yang memperlihatkan dasar sumbernya sejelas kaca. Konon katanya, dari situlah nama Cileunyi melekat. Mata airnya hilang seiring perubahan zaman, tetapi namanya bertahan sebagai pengingat bahwa kawasan ini pernah hidup dengan alam yang segar dan penuh keteduhan.

Cileunyi tidak pernah muncul sebagai tokoh utama dalam sejarah Bandung. Namanya tenggelam oleh kisah kisah besar dari pusat kota. Namun kawasan di kaki Gunung Manglayang ini telah mengemban perannya sendiri, dari kampung tenang hingga menjadi simpul lalu lintas yang tidak pernah benar benar tidur. Jalanan besar, terminal sibuk, dan bertemunya berbagai jalur utama menjadikannya gerbang timur Bandung yang jarang disebut tetapi selalu dilewati.

Sejarah Cileunyi dimulai dari bayang bayang Gunung Manglayang. Gunung setinggi 1818 meter di utara kawasan ini bukan hanya latar panorama, tetapi juga bagian penting dalam ingatan folklore masyarakat Sunda. Nama Manglayang sendiri dirangkai dari kata layang, yang berarti melayang atau terbang. Dari sini lahir kisah kuda terbang bernama Semprani, hewan sakti milik Prabu Layang Kusuma dan Ratu Layang Sari.

Dalam cerita rakyat, Semprani pernah mencoba melintasi langit dari Cirebon ke Banten. Nasib kurang baik membawanya jatuh di lereng Manglayang, terperangkap semak dan akhirnya membatu. Jejaknya dipercaya tersisa sebagai Batu Kuda, sebuah situs megalitikum yang baru diperhatikan secara resmi pada 1987. Dua dekade kemudian kawasan itu ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional, menandakan bahwa Manglayang dan daerah sekitarnya telah dihuni manusia sejak ribuan tahun lalu, diperkirakan antara 2000 hingga 500 tahun sebelum masehi.

Baca Juga: Sejarah Soreang dari Tapak Pengelana hingga jadi Pusat Pemerintahan Kabupaten Bandung

Legenda mengalir di gunung ini. Cerita Sangkuriang bahkan menyeret Manglayang sebagai salah satu gunung yang tercipta akibat amarahnya. Perahu raksasa yang dilemparkan Sangkuriang ke timur konon berubah menjadi gunung ini, sementara yang ditendang ke utara menghadirkan Gunung Tangkuban Parahu. Meskipun kisah itu berselimut mitos, hutan tropis Manglayang menyimpan fakta yang lebih konkret. Lerengnya menyediakan mata air bagi kawasan Bandung timur, termasuk Cileunyi. Kontur tanah yang melandai ke selatan menciptakan dataran subur, sehingga Cileunyi sejak lama menjadi tempat bermukim yang menjanjikan.

Pada masa prasejarah, jalur lahan subur di kaki gunung adalah lokasi ideal bagi permukiman. Pengaruh itu tetap tampak hingga kini. Meskipun kawasan sekitar telah dipenuhi rumah, toko, dan jalanan padat, sisa sisa lanskap lama masih terlihat di kampung kampung yang mempertahankan pola permukiman tradisional. Keberadaan mata air tua yang memberi nama Cileunyi menunjukkan bahwa hubungan penduduk masa lampau dengan Gunung Manglayang jauh lebih dekat daripada sekarang.

 (Sumber: Ayobandung)
(Sumber: Ayobandung)

Terpinggir di Zaman Kolonial

Kisah kolonial Hindia Belanda selalu menampilkan jalan sebagai peradaban baru, dan hal yang sama berlaku di Cileunyi. Pada akhir abad ke delapan belas pemerintah kolonial mulai menata Bandung sebagai pusat administrasi Priangan. Cileunyi, kala itu bagian wilayah pedalaman timur, menjadi bagian jalur penghubung menuju Sumedang dan Cirebon. Pada 1786 jalur darat yang menghubungkan Batavia Bogor Cianjur Bandung Sumedang hingga Cirebon disempurnakan sehingga kampung kampung kecil di sepanjang jalur itu ikut tersentuh arus pergerakan.

Baca Juga: Jejak Sejarah Ujungberung, Kota Lama dan Kiblat Skena Underground di Timur Bandung

Pembangunan Jalan Raya Pos pada 1810 menjadi tonggak penting. Jalan besar yang disiapkan oleh Herman Willem Daendels ini membentang hampir 1000 kilometer dari Anyer ke Panarukan. Meskipun jalurnya tidak persis menembus pusat Cileunyi modern, perkembangan jalur ini menjadikan Bandung dan kawasan sekitarnya lebih terhubung ke dunia luar. Bandung kemudian diangkat sebagai ibukota Karesidenan Priangan pada September 1810. Saat itu Cileunyi masih berada jauh dari keramaian, tetapi mulai ikut merasakan denyut mobilitas baru.

Ujung abad 19 membawa perubahan lebih kentara. Jalur kereta api Batavia Bandung rampung pada 1880 dan memicu perkembangan ekonomi yang menjalar ke kawasan timur Bandung. Meski stasiun stasiun utama berada di pusat kota, dampaknya terasa hingga kampung kampung pinggiran. Cileunyi berada dalam lingkaran itu. Penduduk bisa bergerak lebih cepat, dan barang dagangan mengalir lebih lancar. Ruang dunia mereka perlahan meluas.

Pada awal abad 20, Bandung berkembang pesat sebagai kota modern dengan bangunan bergaya art deco yang menjadi kebanggaannya. Sementara itu Cileunyi tetap menjadi wilayah pinggir yang tenang dalam administrasi Ujungberung di Kabupaten Bandung. Ketika Bandung menjadi gemeente pada 1906, kemudian naik status menjadi stadsgemeente pada 1926, wilayah pinggirannya tidak banyak berubah. Namun populasi Bandung yang melesat dari sekitar 38.000 orang pada 1906 menjadi hampir 600.000 orang pada 1949 membuat kawasan pinggiran ikut menerima tekanan urbanisasi.

Rencana besar pemerintah kolonial pada 1930 an untuk memindahkan pusat pemerintahan Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung pernah menciptakan harapan bagi perkembangan kawasan ini. Barak militer, kantor pemerintahan, serta rencana tata kota baru digarap serius. Namun ambisi itu berakhir seketika ketika Jepang masuk pada 1942. Bersama akhir kekuasaan Belanda, berhenti pula mimpi mimpi besar yang sempat digantungkan pada Bandung.

Baca Juga: Sejarah Kopo Bandung, Berawal dari Hikayat Sesepuh hingga Jadi Distrik Ikon Kemacetan

Pendudukan Jepang membawa masa gelap. Romusha, kelangkaan bahan pangan, serta kontrol militer yang keras meninggalkan luka. Meski begitu api nasionalisme tumbuh pada masa ini. Ketika Jepang kalah, Bandung masuk babak baru yang jauh lebih dramatis.

Bandung terbakar pada 24 Maret 1946. Peristiwa yang kelak dikenal sebagai Bandung Lautan Api membuat ratusan ribu orang meninggalkan rumahnya. Banyak yang mencari jalur aman ke timur, melewati daerah seperti Cileunyi menuju Sumedang dan wilayah lain. Walaupun kawasan ini tidak ikut terbakar, ia menjadi saksi arus pengungsian terbesar dalam sejarah Bandung. Jalur jalur kecil di kampung dan persawahan mendadak dipenuhi gerobak, barang, dan warga yang mencari keselamatan.

Setelah Indonesia merdeka, Bandung kembali berkembang cepat. Pada 1961 penduduk kota telah mencapai satu juta jiwa, naik empat kali lipat dari data tahun 1940. Lonjakan penduduk dan ekonomi Bandung membuat kampung kampung di timur seperti Cileunyi ikut berubah dari wilayah agraris menjadi kawasan urban pinggir kota.

Pemekaran wilayah pada 1987 menjadi titik penting. Dalam skema Bandung Raya, batas Kota Bandung diperluas dengan mengambil sebagian wilayah dari tujuh kecamatan di Kabupaten Bandung. Kecamatan Ujungberung terpecah. Sebagian wilayahnya masuk Kota Bandung, dan sisanya menjadi dua kecamatan baru di Kabupaten Bandung yaitu Cilengkrang dan Cileunyi. Dengan pemekaran ini Cileunyi mendapatkan status administratif yang lebih jelas.

Keputusan untuk tidak memasukkan Cileunyi ke dalam kota menjadi perdebatan tersendiri. Secara ekonomi kawasan ini terhubung erat dengan Bandung. Namun secara administratif Cileunyi tetap berada di bawah Kabupaten Bandung dengan pusat pemerintahan di Soreang. Posisi ini menjadikan Cileunyi sebuah wilayah yang berada di simpang politik administratif antara kota besar dan kabupaten yang lebih luas.

Baca Juga: Hikayat Kiaracondong, Tujuan Urbanisasi Kaum Pekerja Zaman Baheula

 (Sumber: Ayobandung)
(Sumber: Ayobandung)

Sumbu Transportasi Bandung Timur Kiwari

Perubahan paling drastis datang pada penghujung abad 20. Jalan Tol Purbaleunyi yang mulai dibangun pada 1989 dan dibuka pada 1992 menjadikan Cileunyi sebagai ujung jalur tol Bandung Purwakarta. Pada tahun itu pula kawasan ini berubah menjadi pintu masuk yang menghubungkan Bandung dengan berbagai daerah di timur. Ketika Tol Cipularang dibuka pada 2005, Cileunyi menjadi titik penting dalam jaringan transportasi antara Jakarta dan Bandung. Lalu pada 2023 Tol Cisumdawu diresmikan dan menghubungkan Cileunyi langsung dengan Bandara Kertajati, menegaskan statusnya sebagai simpul transportasi besar.

Selain jalan tol, Cileunyi berada di persimpangan dua jalan nasional utama. Jalur Bandung Cirebon dan Bandung Yogyakarta bertemu di sini, menjadikan kawasan ini titik strategis bagi mobilitas Jawa Barat dan Jawa Tengah. Tidak mengherankan jika hari hari di Cileunyi selalu ramai. Kemacetan menjadi bagian hidup. Para pengendara mesti bersabar menghadapi lalu lintas yang bisa mengular panjang terutama pada akhir pekan dan musim liburan.

Terminal Cileunyi adalah wajah publik kawasan ini. Setiap hari, bus antarkota, angkot, pedagang makanan, pemudik, dan pendatang berganti silih berganti. Terminal ini menjadi ruang pertemuan yang khas antara Bandung, Jawa Barat bagian timur, dan jalur menuju Jawa Tengah. Cileunyi menjadi tempat singgah yang menghubungkan berbagai arah, persis seperti mata air tua yang dulu menjadi tempat berhenti para pelintas kampung.

Kawasan ini juga berkembang sebagai wilayah urban yang menampung industri dan permukiman baru. Industri tekstil dan garmen yang menjadi ciri Bandung telah lama merambah ke daerah sekitar dan memberi lapangan kerja bagi warga Cileunyi. Perumahan bermunculan di lahan yang dulu sawah, sedangkan pusat belanja merangsek masuk mengikuti arus urbanisasi.

Baca Juga: Hikayat Buahbatu, Gerbang Kunci Penghubung Bandung Selatan dan Utara

Kendati begitu Cileunyi tidak kehilangan seluruh rimba warisan masa lalunya. Di lereng Manglayang, Batu Kuda dan jalur jalur pendakian tetap menjadi tempat pelarian bagi warga perkotaan. Curug Cilengkrang serta kawasan hutan di utara Cileunyi masih dijaga melalui tradisi lokal seperti Ruwatan Leuweung Babakti Gunung Manglayang yang biasa digelar pada bulan Februari. Upacara itu menjadi bentuk penghormatan masyarakat terhadap hutan sebagai sumber kehidupan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 18:29

Kemerdekaan bagi Sastra

Sastra adalah salah satu ruang terakhir bagi tempat kejujuran yang masih berani bicara. Tapi apakah kehidupan bagi pelakunya sudah layak atau tenggelam dalam lautan merdeka itu sendiri?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.