Hikayat Cileunyi, Kampung Sunyi yang jadi Kawasan Sibuk di Bandung Timur

7 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Senin 24 Nov 2025, 15:12 WIB
Foto udara Kendaraan roda empat memenuhi gerbang keluar Tol Cileunyi. (Sumber: Ayobandung)

Foto udara Kendaraan roda empat memenuhi gerbang keluar Tol Cileunyi. (Sumber: Ayobandung)

AYOBANDUNG.ID - Di depan terminal yang kini penuh kendaraan, pedagang, dan suara klakson yang bersahutan, dulu pernah ada sebuah tempat yang jauh lebih sederhana. Di bawah rindang sebatang beringin tua, mata air jernih mengalir tenang. Warga menamainya cai lunyu, air bening yang memperlihatkan dasar sumbernya sejelas kaca. Konon katanya, dari situlah nama Cileunyi melekat. Mata airnya hilang seiring perubahan zaman, tetapi namanya bertahan sebagai pengingat bahwa kawasan ini pernah hidup dengan alam yang segar dan penuh keteduhan.

Cileunyi tidak pernah muncul sebagai tokoh utama dalam sejarah Bandung. Namanya tenggelam oleh kisah kisah besar dari pusat kota. Namun kawasan di kaki Gunung Manglayang ini telah mengemban perannya sendiri, dari kampung tenang hingga menjadi simpul lalu lintas yang tidak pernah benar benar tidur. Jalanan besar, terminal sibuk, dan bertemunya berbagai jalur utama menjadikannya gerbang timur Bandung yang jarang disebut tetapi selalu dilewati.

Sejarah Cileunyi dimulai dari bayang bayang Gunung Manglayang. Gunung setinggi 1818 meter di utara kawasan ini bukan hanya latar panorama, tetapi juga bagian penting dalam ingatan folklore masyarakat Sunda. Nama Manglayang sendiri dirangkai dari kata layang, yang berarti melayang atau terbang. Dari sini lahir kisah kuda terbang bernama Semprani, hewan sakti milik Prabu Layang Kusuma dan Ratu Layang Sari.

Dalam cerita rakyat, Semprani pernah mencoba melintasi langit dari Cirebon ke Banten. Nasib kurang baik membawanya jatuh di lereng Manglayang, terperangkap semak dan akhirnya membatu. Jejaknya dipercaya tersisa sebagai Batu Kuda, sebuah situs megalitikum yang baru diperhatikan secara resmi pada 1987. Dua dekade kemudian kawasan itu ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional, menandakan bahwa Manglayang dan daerah sekitarnya telah dihuni manusia sejak ribuan tahun lalu, diperkirakan antara 2000 hingga 500 tahun sebelum masehi.

Baca Juga: Sejarah Soreang dari Tapak Pengelana hingga jadi Pusat Pemerintahan Kabupaten Bandung

Legenda mengalir di gunung ini. Cerita Sangkuriang bahkan menyeret Manglayang sebagai salah satu gunung yang tercipta akibat amarahnya. Perahu raksasa yang dilemparkan Sangkuriang ke timur konon berubah menjadi gunung ini, sementara yang ditendang ke utara menghadirkan Gunung Tangkuban Parahu. Meskipun kisah itu berselimut mitos, hutan tropis Manglayang menyimpan fakta yang lebih konkret. Lerengnya menyediakan mata air bagi kawasan Bandung timur, termasuk Cileunyi. Kontur tanah yang melandai ke selatan menciptakan dataran subur, sehingga Cileunyi sejak lama menjadi tempat bermukim yang menjanjikan.

Pada masa prasejarah, jalur lahan subur di kaki gunung adalah lokasi ideal bagi permukiman. Pengaruh itu tetap tampak hingga kini. Meskipun kawasan sekitar telah dipenuhi rumah, toko, dan jalanan padat, sisa sisa lanskap lama masih terlihat di kampung kampung yang mempertahankan pola permukiman tradisional. Keberadaan mata air tua yang memberi nama Cileunyi menunjukkan bahwa hubungan penduduk masa lampau dengan Gunung Manglayang jauh lebih dekat daripada sekarang.

 (Sumber: Ayobandung)
(Sumber: Ayobandung)

Terpinggir di Zaman Kolonial

Kisah kolonial Hindia Belanda selalu menampilkan jalan sebagai peradaban baru, dan hal yang sama berlaku di Cileunyi. Pada akhir abad ke delapan belas pemerintah kolonial mulai menata Bandung sebagai pusat administrasi Priangan. Cileunyi, kala itu bagian wilayah pedalaman timur, menjadi bagian jalur penghubung menuju Sumedang dan Cirebon. Pada 1786 jalur darat yang menghubungkan Batavia Bogor Cianjur Bandung Sumedang hingga Cirebon disempurnakan sehingga kampung kampung kecil di sepanjang jalur itu ikut tersentuh arus pergerakan.

Baca Juga: Jejak Sejarah Ujungberung, Kota Lama dan Kiblat Skena Underground di Timur Bandung

Pembangunan Jalan Raya Pos pada 1810 menjadi tonggak penting. Jalan besar yang disiapkan oleh Herman Willem Daendels ini membentang hampir 1000 kilometer dari Anyer ke Panarukan. Meskipun jalurnya tidak persis menembus pusat Cileunyi modern, perkembangan jalur ini menjadikan Bandung dan kawasan sekitarnya lebih terhubung ke dunia luar. Bandung kemudian diangkat sebagai ibukota Karesidenan Priangan pada September 1810. Saat itu Cileunyi masih berada jauh dari keramaian, tetapi mulai ikut merasakan denyut mobilitas baru.

Ujung abad 19 membawa perubahan lebih kentara. Jalur kereta api Batavia Bandung rampung pada 1880 dan memicu perkembangan ekonomi yang menjalar ke kawasan timur Bandung. Meski stasiun stasiun utama berada di pusat kota, dampaknya terasa hingga kampung kampung pinggiran. Cileunyi berada dalam lingkaran itu. Penduduk bisa bergerak lebih cepat, dan barang dagangan mengalir lebih lancar. Ruang dunia mereka perlahan meluas.

Pada awal abad 20, Bandung berkembang pesat sebagai kota modern dengan bangunan bergaya art deco yang menjadi kebanggaannya. Sementara itu Cileunyi tetap menjadi wilayah pinggir yang tenang dalam administrasi Ujungberung di Kabupaten Bandung. Ketika Bandung menjadi gemeente pada 1906, kemudian naik status menjadi stadsgemeente pada 1926, wilayah pinggirannya tidak banyak berubah. Namun populasi Bandung yang melesat dari sekitar 38.000 orang pada 1906 menjadi hampir 600.000 orang pada 1949 membuat kawasan pinggiran ikut menerima tekanan urbanisasi.

Rencana besar pemerintah kolonial pada 1930 an untuk memindahkan pusat pemerintahan Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung pernah menciptakan harapan bagi perkembangan kawasan ini. Barak militer, kantor pemerintahan, serta rencana tata kota baru digarap serius. Namun ambisi itu berakhir seketika ketika Jepang masuk pada 1942. Bersama akhir kekuasaan Belanda, berhenti pula mimpi mimpi besar yang sempat digantungkan pada Bandung.

Baca Juga: Sejarah Kopo Bandung, Berawal dari Hikayat Sesepuh hingga Jadi Distrik Ikon Kemacetan

Pendudukan Jepang membawa masa gelap. Romusha, kelangkaan bahan pangan, serta kontrol militer yang keras meninggalkan luka. Meski begitu api nasionalisme tumbuh pada masa ini. Ketika Jepang kalah, Bandung masuk babak baru yang jauh lebih dramatis.

Bandung terbakar pada 24 Maret 1946. Peristiwa yang kelak dikenal sebagai Bandung Lautan Api membuat ratusan ribu orang meninggalkan rumahnya. Banyak yang mencari jalur aman ke timur, melewati daerah seperti Cileunyi menuju Sumedang dan wilayah lain. Walaupun kawasan ini tidak ikut terbakar, ia menjadi saksi arus pengungsian terbesar dalam sejarah Bandung. Jalur jalur kecil di kampung dan persawahan mendadak dipenuhi gerobak, barang, dan warga yang mencari keselamatan.

Setelah Indonesia merdeka, Bandung kembali berkembang cepat. Pada 1961 penduduk kota telah mencapai satu juta jiwa, naik empat kali lipat dari data tahun 1940. Lonjakan penduduk dan ekonomi Bandung membuat kampung kampung di timur seperti Cileunyi ikut berubah dari wilayah agraris menjadi kawasan urban pinggir kota.

Pemekaran wilayah pada 1987 menjadi titik penting. Dalam skema Bandung Raya, batas Kota Bandung diperluas dengan mengambil sebagian wilayah dari tujuh kecamatan di Kabupaten Bandung. Kecamatan Ujungberung terpecah. Sebagian wilayahnya masuk Kota Bandung, dan sisanya menjadi dua kecamatan baru di Kabupaten Bandung yaitu Cilengkrang dan Cileunyi. Dengan pemekaran ini Cileunyi mendapatkan status administratif yang lebih jelas.

Keputusan untuk tidak memasukkan Cileunyi ke dalam kota menjadi perdebatan tersendiri. Secara ekonomi kawasan ini terhubung erat dengan Bandung. Namun secara administratif Cileunyi tetap berada di bawah Kabupaten Bandung dengan pusat pemerintahan di Soreang. Posisi ini menjadikan Cileunyi sebuah wilayah yang berada di simpang politik administratif antara kota besar dan kabupaten yang lebih luas.

Baca Juga: Hikayat Kiaracondong, Tujuan Urbanisasi Kaum Pekerja Zaman Baheula

 (Sumber: Ayobandung)
(Sumber: Ayobandung)

Sumbu Transportasi Bandung Timur Kiwari

Perubahan paling drastis datang pada penghujung abad 20. Jalan Tol Purbaleunyi yang mulai dibangun pada 1989 dan dibuka pada 1992 menjadikan Cileunyi sebagai ujung jalur tol Bandung Purwakarta. Pada tahun itu pula kawasan ini berubah menjadi pintu masuk yang menghubungkan Bandung dengan berbagai daerah di timur. Ketika Tol Cipularang dibuka pada 2005, Cileunyi menjadi titik penting dalam jaringan transportasi antara Jakarta dan Bandung. Lalu pada 2023 Tol Cisumdawu diresmikan dan menghubungkan Cileunyi langsung dengan Bandara Kertajati, menegaskan statusnya sebagai simpul transportasi besar.

Selain jalan tol, Cileunyi berada di persimpangan dua jalan nasional utama. Jalur Bandung Cirebon dan Bandung Yogyakarta bertemu di sini, menjadikan kawasan ini titik strategis bagi mobilitas Jawa Barat dan Jawa Tengah. Tidak mengherankan jika hari hari di Cileunyi selalu ramai. Kemacetan menjadi bagian hidup. Para pengendara mesti bersabar menghadapi lalu lintas yang bisa mengular panjang terutama pada akhir pekan dan musim liburan.

Terminal Cileunyi adalah wajah publik kawasan ini. Setiap hari, bus antarkota, angkot, pedagang makanan, pemudik, dan pendatang berganti silih berganti. Terminal ini menjadi ruang pertemuan yang khas antara Bandung, Jawa Barat bagian timur, dan jalur menuju Jawa Tengah. Cileunyi menjadi tempat singgah yang menghubungkan berbagai arah, persis seperti mata air tua yang dulu menjadi tempat berhenti para pelintas kampung.

Kawasan ini juga berkembang sebagai wilayah urban yang menampung industri dan permukiman baru. Industri tekstil dan garmen yang menjadi ciri Bandung telah lama merambah ke daerah sekitar dan memberi lapangan kerja bagi warga Cileunyi. Perumahan bermunculan di lahan yang dulu sawah, sedangkan pusat belanja merangsek masuk mengikuti arus urbanisasi.

Baca Juga: Hikayat Buahbatu, Gerbang Kunci Penghubung Bandung Selatan dan Utara

Kendati begitu Cileunyi tidak kehilangan seluruh rimba warisan masa lalunya. Di lereng Manglayang, Batu Kuda dan jalur jalur pendakian tetap menjadi tempat pelarian bagi warga perkotaan. Curug Cilengkrang serta kawasan hutan di utara Cileunyi masih dijaga melalui tradisi lokal seperti Ruwatan Leuweung Babakti Gunung Manglayang yang biasa digelar pada bulan Februari. Upacara itu menjadi bentuk penghormatan masyarakat terhadap hutan sebagai sumber kehidupan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 17 Jun 2026, 08:01

Maradona, Malvinas, Juni dan Bandung

Sebuah memori siaran pertandingan Piala Dunia 1986 yang memunculkan legenda sepak bola dunia Maradona serta serunya masyarakat Bandung menonton saat itu

Ilustrasi Maradona. (Sumber: Flickr | Foto: Diego3336)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 07:12

Ambisi di Balik Coretax

Sistem Coretax dirilis untuk menyatukan 19 proses bisnis pajak lama.

Ilustrasi web coretax DJP. (Sumber: Pexels | Foto: Cottonbro Studio)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 06:34

Nama Geografis yang Bersumber dari Alat dan Cara Memasak

Toponimi telah mengabadikan kata yang produktif digunakan di suatu daerah, pada saat nama geografis itu diberikan.

Gentong untuk menampung air bersih masih terus dibuat oleh para pembuat gerabah. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 06:05

Maraknya Juru Parkir Liar di Minimarket: Cermin Lemahnya Manajemen Parkir di Perkotaan

Maraknya juru parkir liar di minimarket bukan sekadar soal uang parkir, tetapi cerminan lemahnya manajemen parkir, kepastian hukum, dan pelayanan publik di perkotaan.

Ilustrasi Juru Parkir. (Sumber: Pemkot Bandung)
Ayo Biz 16 Jun 2026, 18:21

Kausalitas Daring yang Menggerakkan Dapur KebabFactory.id

Dinamika digitalisasi perbankan yang menjaga dapur UMKM tetap ngebul.

Pegawai sedang menyiapkan pesanan konsumen kedai KebabFactory.id di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 15:30

Sepeda, dari Kendaraan Elit Jadi Merakyat

Sepeda masuk ke Indonesia abad 19 sebagai barang mewah kalangan elit.

Iklan penjualan sepeda anak-anak. (Sumber: Majalah Star Weekly (No. 502))
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 14:47

Badai Belum Berlalu, Nasib Kelas Menengah Kian Pilu

Akar masalah karena kegagalan pemerintah untuk menciptakan pasar tenaga kerja untuk kelas menengah yang berkualitas.

Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung Raya menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Kota Bandung, Senin 15 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 16 Jun 2026, 13:56

5 Wisata Pilihan di Tasikmalaya, dari Kawah Vulkanik hingga Pantai Selatan yang Terbuka ke Samudra

Tasikmalaya menyimpan banyak destinasi menarik, mulai dari Gunung Galunggung, Kampung Naga, hingga Pantai Cipatujah dan Karang Tawulan.

Pantai Karang Tawulan Tasikmalaya. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 13:10

Hak Siar Piala Dunia oleh TVRI, Ekonomi Nobar dan Pengembangan Konten Lokal

Potensi ekonomi nobar yang luar biasa, mesti dikelola lebih baik dengan berbagai kreativitas masyarakat. 

Suasana nonton bareng Piala Dunia 2026 di Taman Film, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ananda Muhammad Firdaus)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Linimasa 15 Jun 2026, 22:07

Ketika Obor Menyala di Jalanan Kota Bandung

Tradisi pawai obor kembali hadir di berbagai wilayah Bandung untuk menyambut Tahun Baru Hijriah.

Pawai obor malam tahun baru Hijriyah di Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)