Jejak Pendatang Asli Garut di Kota Bandung yang Bertahan Tiga Generasi

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Kamis 26 Mar 2026, 07:51 WIB
Foto Eros Saifullah dan istrinya yang meninggalkan Garut untuk merantau di Kota Bandung pascakemerdekaan Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Foto Eros Saifullah dan istrinya yang meninggalkan Garut untuk merantau di Kota Bandung pascakemerdekaan Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Di sebuah jalan kecil di Andir, Bandung, berdiri tempat potong rambut yang masih bertahan sejak zaman kolonial. Sebuah plang kecil dari lempengan besi tipis yang mulai berkarat menjadi penanda bangunan itu. Namanya Barbershop Sawargi.

Berbeda dengan barbershop modern yang kerap dipenuhi anak muda sibuk dengan gawainya di ruang tunggu, suasana di Sawargi terasa kontras. Dari luar, tampak seorang pria tua duduk di kursi besi di teras depan. Kacamata bertengger setengah turun, tangannya memegang koran sambil sesekali menyipitkan mata untuk membaca. Bahkan sebelum masuk, nuansa lawasnya sudah terasa kuat.

Di balik cermin besar yang memantulkan kursi-kursi tua, tersimpan kisah panjang tentang perpindahan, perjuangan, dan upaya bertahan hidup di kota.

Risyad Erawan Harjani (50), yang akrab disapa Icad, adalah generasi ketiga yang melanjutkan usaha yang dirintis kakeknya sejak 1949.

Risyad Erawan Harjani, generasi ketiga yang mempertahankan Barbershop Sawargi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Risyad Erawan Harjani, generasi ketiga yang mempertahankan Barbershop Sawargi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Dari Kampung ke Kota

Kisah Barbershop Sawargi bermula dari sebuah keputusan besar, meninggalkan kampung halaman di Garut demi mencari kehidupan baru di Bandung. Kakek Icad, Eros Saifullah, datang dengan harapan sederhana, membawa keterampilan yang ia pelajari saat bekerja pada orang Jepang.

“Barber Shop Sawargi ini didirikan oleh kakek saya, Eros Saifullah, beliau dari Garut, dari Leles,” kata Icad saat ditemui di kediamannya.

Perpindahan itu bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan bagian dari gelombang urbanisasi pascakemerdekaan. Bandung, sebagai kota yang terus berkembang, menjadi tujuan bagi banyak pendatang untuk menggantungkan harapan hidup.

Icad bercerita, pada awalnya usaha tersebut hanya memiliki dua kursi sederhana. Namun dari titik itulah, kehidupan baru perlahan dibangun di kota ini.

Bertahan dari Masa ke Masa

Pada masa awal berdiri, pelanggan Sawargi didominasi oleh orang asing, terutama Belanda dan Jepang yang masih berada di Bandung. Seiring waktu, jumlah pelanggan terus bertambah, termasuk dari kalangan militer hingga tokoh masyarakat.

“Tahun 1953 mulai ramai, yang datang itu Belanda, Jepang, sampai tentara juga,” ucap Icad dengan wajah sumringah.

Usaha ini berkembang seiring dinamika Kota Bandung yang kala itu menjadi pusat aktivitas politik, militer, dan ekonomi. Relasi yang dibangun oleh sang kakek menjadi salah satu kunci keberlangsungan usaha.

Bahkan, sejumlah tokoh penting pernah duduk di kursi cukur sederhana itu. Dari jenderal hingga figur nasional, menjadikan Sawargi bukan sekadar tempat potong rambut, tetapi juga ruang pertemuan lintas generasi.

Foto-foto lawas yang menempel di dinding menjadi saksi perjalanan panjang Barbershop Sawargi dari masa ke masa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Foto-foto lawas yang menempel di dinding menjadi saksi perjalanan panjang Barbershop Sawargi dari masa ke masa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Urbanisasi sebagai Jalan Bertahan

Perpindahan dari Garut ke Bandung bukan tanpa alasan. Kondisi keamanan dan situasi sosial saat itu mendorong banyak orang mencari kehidupan yang lebih aman di kota.

“Waktu itu ada hubungannya juga dengan situasi DI/TII, jadi kakek akhirnya menetap di Bandung,” jelas Icad.

Kisah ini menunjukkan bahwa urbanisasi tidak selalu lahir dari ambisi besar, tetapi juga dari kebutuhan untuk bertahan hidup. Kota menjadi tempat perlindungan sekaligus ruang untuk membangun masa depan.

Dari perjalanan itu, Sawargi menjadi bukti bahwa urbanisasi dapat melahirkan warisan yang bertahan lintas generasi.

Dari Usaha Kecil Menjadi Warisan Keluarga

Seiring waktu, usaha ini tidak hanya berkembang secara ekonomi, tetapi juga menjadi ruang bagi keluarga untuk tetap terhubung. Nama “Sawargi” sendiri diambil dari nilai persaudaraan yang ingin dijaga.

“Namanya Sawargi itu (artinya) persaudaraan, supaya usaha ini bisa bantu kerabat-kerabat keluarga,” kata Icad.

Filosofi tersebut juga tercermin dalam cara mereka melayani pelanggan. Setiap orang diperlakukan layaknya keluarga. Percakapan hangat, interaksi santai, hingga kedekatan personal menjadi pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain.

Nilai inilah yang membuat pelanggan tetap setia, bahkan hingga generasi berikutnya.

Tiga Generasi dalam Satu Gunting

Kini, setelah lebih dari 70 tahun, Sawargi masih bertahan di tengah gempuran barbershop modern. Meski lingkungan sekitar terus berubah, nilai yang diwariskan tetap dijaga.

“Sesuatu yang klasik itu tidak akan pernah mati, apalagi kalau ada sejarahnya,” ucap Icad.

Ia tidak hanya mempertahankan usaha, tetapi juga merawat cerita di baliknya. Bagi Icad, Sawargi bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan warisan perjalanan keluarga yang dimulai dari keputusan berani untuk merantau.

Di balik setiap potongan rambut, tersimpan kisah urbanisasi tentang harapan, penyesuaian, dan bagaimana sebuah keluarga akhirnya menemukan tempatnya di kota.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 19 Apr 2026, 03:31

Doa Manusia, Semesta, dan Tuhan

Di dalam perspektif manusia, bahwa setiap ucapan adalah doa, dan karma terkadang menjadi sesuatu hal yang memabukkan.

Ilustrasi umat Islam sedang berdoa. (Sumber: Ayobandung.com)
Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)