Jejak Pendatang Asli Garut di Kota Bandung yang Bertahan Tiga Generasi

3 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Foto Eros Saifullah dan istrinya yang meninggalkan Garut untuk merantau di Kota Bandung pascakemerdekaan Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Foto Eros Saifullah dan istrinya yang meninggalkan Garut untuk merantau di Kota Bandung pascakemerdekaan Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Di sebuah jalan kecil di Andir, Bandung, berdiri tempat potong rambut yang masih bertahan sejak zaman kolonial. Sebuah plang kecil dari lempengan besi tipis yang mulai berkarat menjadi penanda bangunan itu. Namanya Barbershop Sawargi.

Berbeda dengan barbershop modern yang kerap dipenuhi anak muda sibuk dengan gawainya di ruang tunggu, suasana di Sawargi terasa kontras. Dari luar, tampak seorang pria tua duduk di kursi besi di teras depan. Kacamata bertengger setengah turun, tangannya memegang koran sambil sesekali menyipitkan mata untuk membaca. Bahkan sebelum masuk, nuansa lawasnya sudah terasa kuat.

Di balik cermin besar yang memantulkan kursi-kursi tua, tersimpan kisah panjang tentang perpindahan, perjuangan, dan upaya bertahan hidup di kota.

Risyad Erawan Harjani (50), yang akrab disapa Icad, adalah generasi ketiga yang melanjutkan usaha yang dirintis kakeknya sejak 1949.

Risyad Erawan Harjani, generasi ketiga yang mempertahankan Barbershop Sawargi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Risyad Erawan Harjani, generasi ketiga yang mempertahankan Barbershop Sawargi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Dari Kampung ke Kota

Kisah Barbershop Sawargi bermula dari sebuah keputusan besar, meninggalkan kampung halaman di Garut demi mencari kehidupan baru di Bandung. Kakek Icad, Eros Saifullah, datang dengan harapan sederhana, membawa keterampilan yang ia pelajari saat bekerja pada orang Jepang.

“Barber Shop Sawargi ini didirikan oleh kakek saya, Eros Saifullah, beliau dari Garut, dari Leles,” kata Icad saat ditemui di kediamannya.

Perpindahan itu bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan bagian dari gelombang urbanisasi pascakemerdekaan. Bandung, sebagai kota yang terus berkembang, menjadi tujuan bagi banyak pendatang untuk menggantungkan harapan hidup.

Icad bercerita, pada awalnya usaha tersebut hanya memiliki dua kursi sederhana. Namun dari titik itulah, kehidupan baru perlahan dibangun di kota ini.

Bertahan dari Masa ke Masa

Pada masa awal berdiri, pelanggan Sawargi didominasi oleh orang asing, terutama Belanda dan Jepang yang masih berada di Bandung. Seiring waktu, jumlah pelanggan terus bertambah, termasuk dari kalangan militer hingga tokoh masyarakat.

“Tahun 1953 mulai ramai, yang datang itu Belanda, Jepang, sampai tentara juga,” ucap Icad dengan wajah sumringah.

Usaha ini berkembang seiring dinamika Kota Bandung yang kala itu menjadi pusat aktivitas politik, militer, dan ekonomi. Relasi yang dibangun oleh sang kakek menjadi salah satu kunci keberlangsungan usaha.

Bahkan, sejumlah tokoh penting pernah duduk di kursi cukur sederhana itu. Dari jenderal hingga figur nasional, menjadikan Sawargi bukan sekadar tempat potong rambut, tetapi juga ruang pertemuan lintas generasi.

Foto-foto lawas yang menempel di dinding menjadi saksi perjalanan panjang Barbershop Sawargi dari masa ke masa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Foto-foto lawas yang menempel di dinding menjadi saksi perjalanan panjang Barbershop Sawargi dari masa ke masa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Urbanisasi sebagai Jalan Bertahan

Perpindahan dari Garut ke Bandung bukan tanpa alasan. Kondisi keamanan dan situasi sosial saat itu mendorong banyak orang mencari kehidupan yang lebih aman di kota.

“Waktu itu ada hubungannya juga dengan situasi DI/TII, jadi kakek akhirnya menetap di Bandung,” jelas Icad.

Kisah ini menunjukkan bahwa urbanisasi tidak selalu lahir dari ambisi besar, tetapi juga dari kebutuhan untuk bertahan hidup. Kota menjadi tempat perlindungan sekaligus ruang untuk membangun masa depan.

Dari perjalanan itu, Sawargi menjadi bukti bahwa urbanisasi dapat melahirkan warisan yang bertahan lintas generasi.

Dari Usaha Kecil Menjadi Warisan Keluarga

Seiring waktu, usaha ini tidak hanya berkembang secara ekonomi, tetapi juga menjadi ruang bagi keluarga untuk tetap terhubung. Nama “Sawargi” sendiri diambil dari nilai persaudaraan yang ingin dijaga.

“Namanya Sawargi itu (artinya) persaudaraan, supaya usaha ini bisa bantu kerabat-kerabat keluarga,” kata Icad.

Filosofi tersebut juga tercermin dalam cara mereka melayani pelanggan. Setiap orang diperlakukan layaknya keluarga. Percakapan hangat, interaksi santai, hingga kedekatan personal menjadi pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain.

Nilai inilah yang membuat pelanggan tetap setia, bahkan hingga generasi berikutnya.

Tiga Generasi dalam Satu Gunting

Kini, setelah lebih dari 70 tahun, Sawargi masih bertahan di tengah gempuran barbershop modern. Meski lingkungan sekitar terus berubah, nilai yang diwariskan tetap dijaga.

“Sesuatu yang klasik itu tidak akan pernah mati, apalagi kalau ada sejarahnya,” ucap Icad.

Ia tidak hanya mempertahankan usaha, tetapi juga merawat cerita di baliknya. Bagi Icad, Sawargi bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan warisan perjalanan keluarga yang dimulai dari keputusan berani untuk merantau.

Di balik setiap potongan rambut, tersimpan kisah urbanisasi tentang harapan, penyesuaian, dan bagaimana sebuah keluarga akhirnya menemukan tempatnya di kota.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 16:29

Pesona Garut: 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Lanskap alam Kabupaten Garut menyajikan kekayaan vegetasi dan topografi yang memikat.

Situ Cangkuang, Leles, Garut. (Sumber: Wikimedia Commons/Lisensi CC | Foto: Mssetiadi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 15:33

Cagar Budaya dan Ragam Gaya Bangunannya di Kota Bandung

Jelajahi pesona sejarah Kota Bandung melalui jejak Cagar Budaya. Temukan kisah unik di balik arsitektur ikonis Art Deco, situs kolonial dan warisan legendaris yang tetap lestari hingga kini.

Gedung Sate, Bandung, 2024 (Sumber: Wikipedia | Foto: Rahmat Denas)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 13:08

RT/RW di Bandung Tidak Perlu Jadi Densus 88 Kecil-kecilan

Teror adalah peristiwa langka. Pergantian penghuni kontrakan adalah peristiwa sehari-hari.

Tim Densus 88. (Sumber: ayobandung.com | Foto: suara.com via ayobandung.com)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 10:49

Membincangkan Hujan di Musim Kemarau

Membicarakan hujan dalam kacamata kesadaran lingkungan dan seni.

Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)