Gelar Akademik Apakah Jaminan Kesuksesan?

4 menit baca
Danang Febriansyah
Ditulis oleh Danang Febriansyah diterbitkan
Ilustrasi wisuda. (Sumber: Pexels | Foto: Sun)
Ilustrasi wisuda. (Sumber: Pexels | Foto: Sun)

Akses informasi di era digital menjadi lebih luas dari beberapa tahun sebelumnya. Perubahan cepat di masa sekarang juga berpengaruh pada pola pikir dan pandangan Sebagian masyarakat. Pandangan masyarakat menjadi terpecah menjadi beberapa argumentasi yang berbeda.

Dalam hal akademik juga terdapat pola pikir yang berbeda. Di satu sisi ada kubu yang memiliki pandangan konvensional yang mengharuskan kuliah untuk mendapatkan apa yang disebut sukses. Di lain sisi lain ada pendapat yang menjadikan kuliah sebagai bentuk opsional, artinya kuliah bukan pilihan yang wajib. Polarisasi tersebut memiliki argumen yang masing-masing berdasar pengalaman, kondisi yang berbeda. Juga berdasar atas ekonomi dan tujuan hidup yang memiliki tujuan kesuksesan yang berbeda pula.

Pendapat pertama yang menganggap setelah lulus SMA/SMK harus masuk perguruan tinggi memiliki akar akan pandangan bahwa gelar sarjana adalah jalur yang luas untuk menaikkan status sosial dan karier yang lebih baik, misal menjadi pegawai negeri, atau kerja professional yang lain. Bagi mereka yang berpandangan bahwa kuliah selain mendapatkan status sosial dengan mendapatkan ijazah, juga mampu membangun argumen yang logis dan kritis dalam membentuk pola pikir. Dengan masuk kuliah akan memiliki dasar yang kuat untuk masuk dunia kerja ke depannya. Dalam pandangan ini, memasuki perguruan tinggi sudah membuka pintu lebar dalam ruang karier untuk menjadi pegawai kantoran, misalnya. Kuliah merupakan sebuah investasi untuk menjadikan hidup lebih baik.

Pandangan konvensional ini menekankan bahwa kesuksesan ada jika melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, yaitu kuliah. Hal ini pada umumnya berakar dari pribadi atau kelompok tertentu atau mereka yang telah meraih apa yang mereka anggap kesuksesan berawal dari gelar sarjana.

Di argumen yang lain, mindset kesuksesan tidak didapat dari kuliah semakin banyak mendapat tempat. Apalagi di era modern sekarang ini, arus informasi digital semakin mudah diakses. Informasi-informasi, berita maupun pelatihan apapun semakin bisa dibuka oleh semua orang. Apalagi dengan makin berkembangnya dunia ekonomi digital dan semakin banyak diluncurkan lokapasar. Atas dasar tersebut, pola pikir ini bertentangan dengan pola pikir konvensional yang mewajibkan kuliah.

Pendapat yang tidak mewajibkan kuliah ini menekankan bahwa sukses bisa didapat tidak harus melalui jalur akademik yang formal. Banyak orang-orang yang tidak memiliki gelar akademik tapi bisa sukses dengan kemampuan, ketrampilan yang dimiliki, serta berdasar pengalaman jatuh bangun dalam membuka pintu kesuksesan. Orang-orang tersebut sudah mempunyai portofolio dari pelajaran dan pengalaman yang dimiliki. Mereka belajar dari kegagalan di lapangan dan belajar dari orang-orang yang dilihatnya untuk berkembang menjadi lebih baik.

Di masa banyak informasi bisa dibuka dari gawai seperti sekarang ini, banyak hal bisa diakses, termasuk pelatihan-pelatihan yang bisa diikuti siapa saja melalui daring. Misal pelatihan dan panduan memulai usaha, dan pelatihan kerja yang sesuai dengan kebutuhan kerja tidak jarang lebih mendekati dunia industry dibandingkan dengan kurikulum-kurikulum di perguruan tinggi, karena out of the box, tidak sesuai pakem buku pegangan yang terkesan lebih kaku.

Ilustrasi wisuda kuliah. (Sumber: Pexels | Foto: Gül Işık)
Ilustrasi wisuda kuliah. (Sumber: Pexels | Foto: Gül Işık)

Masyarakat yang berpendapat bahwa perguruan tinggi bukanlah satu-satunya jalan untuk meraih kesuksesan memiliki pola pikir bahwa kuliah sangat memakan waktu, biaya dan sangat memungkinkan tertinggal dalam hal pendapatan ekonomi dibandingkan mereka yang langsung bekerja selepas dari SMA/SMK. Jika kuliah memakan waktu rata-rata empat hingga lima tahun, maka biaya kuliah yang mahal bisa langsung dijadikan modal usaha setelah lulus SMA/SMK. Artinya dalam empat atau lima tahun, usaha sudah berkembang sementara yang kuliah baru lulus.

Sedangkan untuk melamar pekerjaan, lulusan perguruan tinggi belum tentu langsung terserap dunia kerja. Lulusan universitas setiap tahunnya yang mencapai ratusan ribu bahkan mencapai satu juta orang tercatat sebagai pengangguran. Kompas.id menyebutkan pada tahun 2025 tingkat pengangguran lulusan universitas mencapai 5,25% - 5,39% atau mencapai satu juta orang sarjana. Data menyebutkan dalam tiga tahun terakhir terjadi peningkatan pengangguran lulusan universitas. Bisa jadi pada tahun-tahun mendatang, tingkat pengagguran dari kalangan sarjana akan meningkat.

Sebaliknya menurut liputan6.com, pengangguran lulusan SMA/SMK mencapai 2,04 juta orang. Akan tetapi terjadi tren bahwa pengangguran lulusan SMA/SMK terjadi penurunan dibanding tahun sebelumnya. Data tersebut tentu tidak termasuk lulusan yang membuka usaha sendiri. Melihat semakin banyaknya lulusan SMA, khususnya lulusan SMK yang telah memiliki dasar ketrampilan, bukan tak mungkin pengangguran dari kalangan ini semakin menurun.

Antara pola pikir harus kuliah dan kuliah tidak wajib adalah tentang kesesuaian tujuan. Bagi yang membutuhkan sertifikasi formal, seperti dokter, guru, pengacara dan beberapa profesi lain, kuliah merupakan hal wajib dan penting. Akan tetapi bagi wirausahawan, jasa kreatif, kuliah satu-satunya jalan menuju sukses, karena usaha-usaha tersebut lebih mengutamakan portofolio yang telah dikerjakan.

Kuliah atau tidak kuliah bukanlah tentang benar atau salah, karena memang berbeda pandangan dan pola pikir. Kedua hal tersebut tidak bisa disandingkan apalagi diperdebatkan. Pendidikan tidak selalu didapatkan dari sekolah formal, tapi bisa dari pengalaman. Pengembangan pola pikir adalah inti dari pendidikan. Pendidikan jalur formal maupun non formal akan sangat berarti jika dibarengi dengan kemampuan untuk belajar, berkembang, dan beradaptasi.

Kesungguhan, kemauan untuk berkembang tidak ditentukan oleh kuliah atau tidak. Karena seperti ungkapan kritik yang bisa diartikan bahwa ijazah hanya sebagai administrasi dan tidak mencerminkan kecerdasan seseorang, “ijazah hanya tanda pernah sekolah, bukan pernah berpikir”.

Dari perbedaan pendapat tersebut, bisa disimpulkan bahwa kemampuan, ketrampilan dan kemauan untuk berkembang menjadi lebih baik adalah yang perlu diutamakan. Mau melanjutkan pendidikan atau tidak adalah menyesuaikan tujuan yang diinginkan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Danang Febriansyah
penulis, ghost writer, desainer grafis

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 12:24

Ayam Bekakak: Eksplorasi Gastronomi, Akar Historis, dan Filosofi Budaya Sunda

Dalam peta kuliner Tatar Pasundan, Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam) bukan sekadar sajian pemuas lapar.

Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam), hidangan ayam panggang utuh khas Tatar Pasundan. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: amrufm)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 11:19

Sesi Cukur Malam

Berkisah pembicaraan dua orang sobat, tukang cukur dan pelanggannya yang seorang dosen. Mereka menggosipkan mengenai kesialan-kesialan nasib karib mereka semasa SMA.

Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)