Gelar Akademik Apakah Jaminan Kesuksesan?

4 menit baca
Danang Febriansyah
Ditulis oleh Danang Febriansyah diterbitkan Senin 11 Mei 2026, 13:53 WIB
Ilustrasi wisuda. (Sumber: Pexels | Foto: Sun)

Ilustrasi wisuda. (Sumber: Pexels | Foto: Sun)

Akses informasi di era digital menjadi lebih luas dari beberapa tahun sebelumnya. Perubahan cepat di masa sekarang juga berpengaruh pada pola pikir dan pandangan Sebagian masyarakat. Pandangan masyarakat menjadi terpecah menjadi beberapa argumentasi yang berbeda.

Dalam hal akademik juga terdapat pola pikir yang berbeda. Di satu sisi ada kubu yang memiliki pandangan konvensional yang mengharuskan kuliah untuk mendapatkan apa yang disebut sukses. Di lain sisi lain ada pendapat yang menjadikan kuliah sebagai bentuk opsional, artinya kuliah bukan pilihan yang wajib. Polarisasi tersebut memiliki argumen yang masing-masing berdasar pengalaman, kondisi yang berbeda. Juga berdasar atas ekonomi dan tujuan hidup yang memiliki tujuan kesuksesan yang berbeda pula.

Pendapat pertama yang menganggap setelah lulus SMA/SMK harus masuk perguruan tinggi memiliki akar akan pandangan bahwa gelar sarjana adalah jalur yang luas untuk menaikkan status sosial dan karier yang lebih baik, misal menjadi pegawai negeri, atau kerja professional yang lain. Bagi mereka yang berpandangan bahwa kuliah selain mendapatkan status sosial dengan mendapatkan ijazah, juga mampu membangun argumen yang logis dan kritis dalam membentuk pola pikir. Dengan masuk kuliah akan memiliki dasar yang kuat untuk masuk dunia kerja ke depannya. Dalam pandangan ini, memasuki perguruan tinggi sudah membuka pintu lebar dalam ruang karier untuk menjadi pegawai kantoran, misalnya. Kuliah merupakan sebuah investasi untuk menjadikan hidup lebih baik.

Pandangan konvensional ini menekankan bahwa kesuksesan ada jika melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, yaitu kuliah. Hal ini pada umumnya berakar dari pribadi atau kelompok tertentu atau mereka yang telah meraih apa yang mereka anggap kesuksesan berawal dari gelar sarjana.

Di argumen yang lain, mindset kesuksesan tidak didapat dari kuliah semakin banyak mendapat tempat. Apalagi di era modern sekarang ini, arus informasi digital semakin mudah diakses. Informasi-informasi, berita maupun pelatihan apapun semakin bisa dibuka oleh semua orang. Apalagi dengan makin berkembangnya dunia ekonomi digital dan semakin banyak diluncurkan lokapasar. Atas dasar tersebut, pola pikir ini bertentangan dengan pola pikir konvensional yang mewajibkan kuliah.

Pendapat yang tidak mewajibkan kuliah ini menekankan bahwa sukses bisa didapat tidak harus melalui jalur akademik yang formal. Banyak orang-orang yang tidak memiliki gelar akademik tapi bisa sukses dengan kemampuan, ketrampilan yang dimiliki, serta berdasar pengalaman jatuh bangun dalam membuka pintu kesuksesan. Orang-orang tersebut sudah mempunyai portofolio dari pelajaran dan pengalaman yang dimiliki. Mereka belajar dari kegagalan di lapangan dan belajar dari orang-orang yang dilihatnya untuk berkembang menjadi lebih baik.

Di masa banyak informasi bisa dibuka dari gawai seperti sekarang ini, banyak hal bisa diakses, termasuk pelatihan-pelatihan yang bisa diikuti siapa saja melalui daring. Misal pelatihan dan panduan memulai usaha, dan pelatihan kerja yang sesuai dengan kebutuhan kerja tidak jarang lebih mendekati dunia industry dibandingkan dengan kurikulum-kurikulum di perguruan tinggi, karena out of the box, tidak sesuai pakem buku pegangan yang terkesan lebih kaku.

Ilustrasi wisuda kuliah. (Sumber: Pexels | Foto: Gül Işık)
Ilustrasi wisuda kuliah. (Sumber: Pexels | Foto: Gül Işık)

Masyarakat yang berpendapat bahwa perguruan tinggi bukanlah satu-satunya jalan untuk meraih kesuksesan memiliki pola pikir bahwa kuliah sangat memakan waktu, biaya dan sangat memungkinkan tertinggal dalam hal pendapatan ekonomi dibandingkan mereka yang langsung bekerja selepas dari SMA/SMK. Jika kuliah memakan waktu rata-rata empat hingga lima tahun, maka biaya kuliah yang mahal bisa langsung dijadikan modal usaha setelah lulus SMA/SMK. Artinya dalam empat atau lima tahun, usaha sudah berkembang sementara yang kuliah baru lulus.

Sedangkan untuk melamar pekerjaan, lulusan perguruan tinggi belum tentu langsung terserap dunia kerja. Lulusan universitas setiap tahunnya yang mencapai ratusan ribu bahkan mencapai satu juta orang tercatat sebagai pengangguran. Kompas.id menyebutkan pada tahun 2025 tingkat pengangguran lulusan universitas mencapai 5,25% - 5,39% atau mencapai satu juta orang sarjana. Data menyebutkan dalam tiga tahun terakhir terjadi peningkatan pengangguran lulusan universitas. Bisa jadi pada tahun-tahun mendatang, tingkat pengagguran dari kalangan sarjana akan meningkat.

Sebaliknya menurut liputan6.com, pengangguran lulusan SMA/SMK mencapai 2,04 juta orang. Akan tetapi terjadi tren bahwa pengangguran lulusan SMA/SMK terjadi penurunan dibanding tahun sebelumnya. Data tersebut tentu tidak termasuk lulusan yang membuka usaha sendiri. Melihat semakin banyaknya lulusan SMA, khususnya lulusan SMK yang telah memiliki dasar ketrampilan, bukan tak mungkin pengangguran dari kalangan ini semakin menurun.

Antara pola pikir harus kuliah dan kuliah tidak wajib adalah tentang kesesuaian tujuan. Bagi yang membutuhkan sertifikasi formal, seperti dokter, guru, pengacara dan beberapa profesi lain, kuliah merupakan hal wajib dan penting. Akan tetapi bagi wirausahawan, jasa kreatif, kuliah satu-satunya jalan menuju sukses, karena usaha-usaha tersebut lebih mengutamakan portofolio yang telah dikerjakan.

Kuliah atau tidak kuliah bukanlah tentang benar atau salah, karena memang berbeda pandangan dan pola pikir. Kedua hal tersebut tidak bisa disandingkan apalagi diperdebatkan. Pendidikan tidak selalu didapatkan dari sekolah formal, tapi bisa dari pengalaman. Pengembangan pola pikir adalah inti dari pendidikan. Pendidikan jalur formal maupun non formal akan sangat berarti jika dibarengi dengan kemampuan untuk belajar, berkembang, dan beradaptasi.

Kesungguhan, kemauan untuk berkembang tidak ditentukan oleh kuliah atau tidak. Karena seperti ungkapan kritik yang bisa diartikan bahwa ijazah hanya sebagai administrasi dan tidak mencerminkan kecerdasan seseorang, “ijazah hanya tanda pernah sekolah, bukan pernah berpikir”.

Dari perbedaan pendapat tersebut, bisa disimpulkan bahwa kemampuan, ketrampilan dan kemauan untuk berkembang menjadi lebih baik adalah yang perlu diutamakan. Mau melanjutkan pendidikan atau tidak adalah menyesuaikan tujuan yang diinginkan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Danang Febriansyah
penulis, ghost writer, desainer grafis

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)