Akses informasi di era digital menjadi lebih luas dari beberapa tahun sebelumnya. Perubahan cepat di masa sekarang juga berpengaruh pada pola pikir dan pandangan Sebagian masyarakat. Pandangan masyarakat menjadi terpecah menjadi beberapa argumentasi yang berbeda.
Dalam hal akademik juga terdapat pola pikir yang berbeda. Di satu sisi ada kubu yang memiliki pandangan konvensional yang mengharuskan kuliah untuk mendapatkan apa yang disebut sukses. Di lain sisi lain ada pendapat yang menjadikan kuliah sebagai bentuk opsional, artinya kuliah bukan pilihan yang wajib. Polarisasi tersebut memiliki argumen yang masing-masing berdasar pengalaman, kondisi yang berbeda. Juga berdasar atas ekonomi dan tujuan hidup yang memiliki tujuan kesuksesan yang berbeda pula.
Pendapat pertama yang menganggap setelah lulus SMA/SMK harus masuk perguruan tinggi memiliki akar akan pandangan bahwa gelar sarjana adalah jalur yang luas untuk menaikkan status sosial dan karier yang lebih baik, misal menjadi pegawai negeri, atau kerja professional yang lain. Bagi mereka yang berpandangan bahwa kuliah selain mendapatkan status sosial dengan mendapatkan ijazah, juga mampu membangun argumen yang logis dan kritis dalam membentuk pola pikir. Dengan masuk kuliah akan memiliki dasar yang kuat untuk masuk dunia kerja ke depannya. Dalam pandangan ini, memasuki perguruan tinggi sudah membuka pintu lebar dalam ruang karier untuk menjadi pegawai kantoran, misalnya. Kuliah merupakan sebuah investasi untuk menjadikan hidup lebih baik.
Pandangan konvensional ini menekankan bahwa kesuksesan ada jika melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, yaitu kuliah. Hal ini pada umumnya berakar dari pribadi atau kelompok tertentu atau mereka yang telah meraih apa yang mereka anggap kesuksesan berawal dari gelar sarjana.
Di argumen yang lain, mindset kesuksesan tidak didapat dari kuliah semakin banyak mendapat tempat. Apalagi di era modern sekarang ini, arus informasi digital semakin mudah diakses. Informasi-informasi, berita maupun pelatihan apapun semakin bisa dibuka oleh semua orang. Apalagi dengan makin berkembangnya dunia ekonomi digital dan semakin banyak diluncurkan lokapasar. Atas dasar tersebut, pola pikir ini bertentangan dengan pola pikir konvensional yang mewajibkan kuliah.
Pendapat yang tidak mewajibkan kuliah ini menekankan bahwa sukses bisa didapat tidak harus melalui jalur akademik yang formal. Banyak orang-orang yang tidak memiliki gelar akademik tapi bisa sukses dengan kemampuan, ketrampilan yang dimiliki, serta berdasar pengalaman jatuh bangun dalam membuka pintu kesuksesan. Orang-orang tersebut sudah mempunyai portofolio dari pelajaran dan pengalaman yang dimiliki. Mereka belajar dari kegagalan di lapangan dan belajar dari orang-orang yang dilihatnya untuk berkembang menjadi lebih baik.
Di masa banyak informasi bisa dibuka dari gawai seperti sekarang ini, banyak hal bisa diakses, termasuk pelatihan-pelatihan yang bisa diikuti siapa saja melalui daring. Misal pelatihan dan panduan memulai usaha, dan pelatihan kerja yang sesuai dengan kebutuhan kerja tidak jarang lebih mendekati dunia industry dibandingkan dengan kurikulum-kurikulum di perguruan tinggi, karena out of the box, tidak sesuai pakem buku pegangan yang terkesan lebih kaku.

Masyarakat yang berpendapat bahwa perguruan tinggi bukanlah satu-satunya jalan untuk meraih kesuksesan memiliki pola pikir bahwa kuliah sangat memakan waktu, biaya dan sangat memungkinkan tertinggal dalam hal pendapatan ekonomi dibandingkan mereka yang langsung bekerja selepas dari SMA/SMK. Jika kuliah memakan waktu rata-rata empat hingga lima tahun, maka biaya kuliah yang mahal bisa langsung dijadikan modal usaha setelah lulus SMA/SMK. Artinya dalam empat atau lima tahun, usaha sudah berkembang sementara yang kuliah baru lulus.
Sedangkan untuk melamar pekerjaan, lulusan perguruan tinggi belum tentu langsung terserap dunia kerja. Lulusan universitas setiap tahunnya yang mencapai ratusan ribu bahkan mencapai satu juta orang tercatat sebagai pengangguran. Kompas.id menyebutkan pada tahun 2025 tingkat pengangguran lulusan universitas mencapai 5,25% - 5,39% atau mencapai satu juta orang sarjana. Data menyebutkan dalam tiga tahun terakhir terjadi peningkatan pengangguran lulusan universitas. Bisa jadi pada tahun-tahun mendatang, tingkat pengagguran dari kalangan sarjana akan meningkat.

Sebaliknya menurut liputan6.com, pengangguran lulusan SMA/SMK mencapai 2,04 juta orang. Akan tetapi terjadi tren bahwa pengangguran lulusan SMA/SMK terjadi penurunan dibanding tahun sebelumnya. Data tersebut tentu tidak termasuk lulusan yang membuka usaha sendiri. Melihat semakin banyaknya lulusan SMA, khususnya lulusan SMK yang telah memiliki dasar ketrampilan, bukan tak mungkin pengangguran dari kalangan ini semakin menurun.
Antara pola pikir harus kuliah dan kuliah tidak wajib adalah tentang kesesuaian tujuan. Bagi yang membutuhkan sertifikasi formal, seperti dokter, guru, pengacara dan beberapa profesi lain, kuliah merupakan hal wajib dan penting. Akan tetapi bagi wirausahawan, jasa kreatif, kuliah satu-satunya jalan menuju sukses, karena usaha-usaha tersebut lebih mengutamakan portofolio yang telah dikerjakan.
Kuliah atau tidak kuliah bukanlah tentang benar atau salah, karena memang berbeda pandangan dan pola pikir. Kedua hal tersebut tidak bisa disandingkan apalagi diperdebatkan. Pendidikan tidak selalu didapatkan dari sekolah formal, tapi bisa dari pengalaman. Pengembangan pola pikir adalah inti dari pendidikan. Pendidikan jalur formal maupun non formal akan sangat berarti jika dibarengi dengan kemampuan untuk belajar, berkembang, dan beradaptasi.
Kesungguhan, kemauan untuk berkembang tidak ditentukan oleh kuliah atau tidak. Karena seperti ungkapan kritik yang bisa diartikan bahwa ijazah hanya sebagai administrasi dan tidak mencerminkan kecerdasan seseorang, “ijazah hanya tanda pernah sekolah, bukan pernah berpikir”.
Dari perbedaan pendapat tersebut, bisa disimpulkan bahwa kemampuan, ketrampilan dan kemauan untuk berkembang menjadi lebih baik adalah yang perlu diutamakan. Mau melanjutkan pendidikan atau tidak adalah menyesuaikan tujuan yang diinginkan. (*)
