AYOBANDUNG.ID – Di sebuah ruangan sederhana di Jalan Jenderal H. Amir Machmud, Cimahi Tengah, canting bergerak perlahan di atas kain putih. Asap tipis mengepul dari malam yang meleleh, meninggalkan jejak motif yang rumit dan indah. Yang membuatnya istimewa bukan hanya hasilnya, tetapi siapa yang membuatnya.
Tangan-tangan itu milik para penyandang disabilitas. Ada yang tak bisa mendengar, ada yang tak bisa berjalan tanpa alat bantu, ada yang mengalami keterbatasan gerak akibat kecelakaan. Namun di hadapan kain, semua itu seolah luruh. Hanya menyisakan ketelitian, kesabaran, dan rasa.
Di sinilah, di Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. Sebuah tempat yang, jika dilihat sekilas, tampak seperti bengkel kecil batik biasa. Namun jika ditelisik lebih dalam, ia adalah ekosistem pemberdayaan yang kompleks; dan pelajaran penting tentang bagaimana negara, dunia usaha, dan masyarakat seharusnya bekerja bersama.
Lebih dari Sekadar Produksi Kain
Sejak berdiri pada 2021, GHD telah membina lebih dari 120 peserta pelatihan dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat. Mereka tidak hanya belajar membatik. Mereka belajar menjahit, membuat kerajinan tangan, hingga keterampilan jasa. Setiap tahun, sekitar 100 orang mengikuti program kemandirian ini.
Angka itu mungkin terdengar kecil. Tapi di balik setiap angka ada nama, ada cerita, ada hidup yang berubah arah.
Nurdin (35) adalah salah satu buktinya. Pria asal Cianjur penyandang polio ini pertama kali datang ke GHD pada 2020. Tanpa banyak harapan, hanya ingin mencoba. Enam tahun kemudian, ia adalah salah satu pembatik paling senior di ruang produksi ini, sekaligus koordinator pewarnaan yang dipercaya menangani salah satu proses paling krusial dalam pembuatan batik.
“Saya pribadi, selain mendapatkan ilmu saya mendapatkan rasa bersyukur tentang kehidupan saya di sini. Sebelum saya mengenal tempat ini, saya merasa 'Tuhan, kenapa saya diciptakan seperti ini?'. Pas datang saya ke sini, maka saya tertampar dengan omongan saya sendiri,” ungkapnya penuh syukur, pada 10 April 2026.

Kepercayaan itu tidak datang tiba-tiba. Sebagai koordinator pewarnaan, Nurdin bertanggung jawab atas keselarasan warna di setiap lembar kain. Pekerjaan yang menuntut mata tajam, ketelitian tinggi, dan kepekaan terhadap detail.
Selain punya tugas sebagai koordinator pewarnaan, Nurdin pun punya peran penting dalam memupuk mental dan ahlak rekan-rekannya.
“Nah, (setelah) saya ke sini, ikut pelatihan tahun 2020, lalu kembali lagi (ke sini setelah lulus) tahun 2021 sampai saat ini; dan dipercaya jadi (instruktur) bimtal (bimbingan mental)," sambung Nurdin.
Kisah serupa juga datang dari Anggi Jatnika (28). Ia bergabung dengan GHD pada 2020 setelah mengalami kecelakaan tragis beberapa tahun sebelumnya yang membuatnya bergulat bertahun-tahun dengan kondisi fisik maupun batin. Pelatihan batik yang awalnya ia jalani tanpa ekspektasi besar, perlahan mengubah arah hidupnya. Pada 2024, Anggi resmi direkrut sebagai tenaga kerja profesional di GHD. Kini ia punya penghasilan tetap, bahkan sudah berkeluarga. Dari titik tergelap hidupnya, canting membawanya ke tempat yang tak pernah ia bayangkan.
Ketika Batik Berbicara ke Dunia
Dunia luar mengetahui GHD bukan melalui pameran resmi atau kampanye pemasaran besar-besaran. Melainkan melalui sebuah momen yang tak terduga: pada September 2023, seluruh personel grup K-pop TWICE mengenakan outer batik bermotif bunga cerah karya GHD dalam acara meet and greet brand Scarlett di Jakarta. Foto dan video menyebar deras di media sosial. Nama Griya Harapan Difabel tiba-tiba dikenal jutaan orang.
Sebelum itu pun, batik GHD sudah menembus batas geografis. Karya mereka pernah dibawa sebagai suvenir ke Italia.
Bukan keberuntungan semata, semua itu adalah hasil dari kualitas yang dibangun dengan serius. Setiap kain dikerjakan dengan proses panjang: menggambar sketsa, mencanting, mewarnai, hingga menjemur. Para pembatik bahkan diharuskan berdoa sebelum memulai proses, karena bagi GHD, batik bukan sekadar produk. ini adalah ekspresi budaya yang harus dibuat dengan kesadaran penuh.
"Di sini itu ada UMKM-nya, di bawah UPTD berupa Kampung Kreatif Batik Difabel. Ada sekitar 15 pembatik, mereka membuat batik khas seluruh Nusantara. Motif-motif batik di sini harus punya unsur sejarah dan budaya. Batik tidak bisa sembarangan dibuat, harus orang yang sadar dan dia mengerti rasa," papar Andina Rahayu Kepala UPTD Pusat Pelayanan Sosial GHD.

Namun di balik pencapaian itu, ada realita yang tidak boleh diabaikan.
Ketika kebijakan efisiensi anggaran pemerintah mulai diberlakukan pada 2025–2026, dampaknya langsung dirasakan GHD. Pesanan dari instansi pemerintah dan BUMN (yang selama ini menjadi tulang punggung penjualan) menurun drastis. Ritme produksi melambat. Para pembatik tetap datang, tetapi pekerjaan berkurang.
"Sekarang karena efisiensi, jadi (kendala terberatnya) pemasaran. Karena terimbas sekali adanya efisiensi ini, pesanan berkurang setengahnya. Kita harus sosialisasi lagi, promosi lagi," imbuh Andina.
Inilah yang membedakan GHD dari UMKM biasa: ketika omzet turun, yang terdampak bukan hanya laporan keuangan, tetapi kehidupan nyata orang-orang yang selama ini bergantung pada kegiatan produksi ini sebagai sumber makna dan penghasilan.
Peran BRI: Ketika Bank Hadir sebagai Mitra, Bukan Sekadar Pemberi Modal
Dari perjalanan UMKM Kampung Kreatif Batik Difabel, dapat dipahami bahwa peran pihak swasta menjadi krusial. Salah satu yang hadir adalah PT Bank Rakyat Indonesia (BRI).
BRI tidak hanya hadir sebagai lembaga keuangan yang menyalurkan kredit. Melalui program pemberdayaan UMKM-nya, BRI mendukung GHD dalam hal yang selama ini menjadi titik lemah: pemasaran digital. Pelatihan digital marketing yang difasilitasi BRI membuka cakrawala baru bagi para pengelola GHD. Dari yang sebelumnya mengandalkan pesanan langsung dan pameran, kini mulai belajar menjangkau pasar melalui kanal online.

"Rumah BUMN Bandung ataupun Jawa Barat ini dibentuk untuk menaungi UMKM. Tujuan utamanya pemberdayaan UMKM, dari pelatihan, literasi keuangan mendasar, sertifikasi dan sebagainya kita ajarkan semua di sini," ucap A. Radinal Pramudha Sirat, CEO Rumah BUMN Bandung, saat berbicara di kantornya.
Menariknya, batik karya Kampung Kreatif Batik Difabel juga dipajang di Rumah BUMN Bandung, tepat di dekat pintu masuk yang langsung terlihat oleh para tamu.
Namun, pelatihan saja tidak cukup. Yang dibutuhkan GHD ke depan adalah ekosistem dukungan yang menyeluruh: akses permodalan yang inklusif, ruang pamer yang representatif, fasilitas produksi yang memadai, serta pendampingan promosi digital yang berkelanjutan. Bukan bantuan sekali jalan, melainkan kemitraan jangka panjang.
"Sebagai mitra UMKM saya senang sekali, ya. Kita ikut pelatihan AI (artificial intelligence), kemudian juga tentang manajemen juga. Jadi dari BRI itu pelatihannya sangat bermanfaat sekali. Mungkin nanti bisa dapat sertifikat juga dari BRI, kalau semisalnya BRI mau membantu anak-anak difabel ini dengan membuat pelatihan untuk mereka juga," tutup Andina penuh harapan baik untuk Kampung Kreatif Batik Difabel. (*)
