Inklusi di Atas Kain: Batik Difabel Cimahi dan Kriya yang Istimewa

Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Sabtu 09 Mei 2026, 12:46 WIB
Nurdin (di kursi roda), penyandang polio, pertama kali datang ke GHD pada 2020. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Nurdin (di kursi roda), penyandang polio, pertama kali datang ke GHD pada 2020. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.IDDi sebuah ruangan sederhana di Jalan Jenderal H. Amir Machmud, Cimahi Tengah, canting bergerak perlahan di atas kain putih. Asap tipis mengepul dari malam yang meleleh, meninggalkan jejak motif yang rumit dan indah. Yang membuatnya istimewa bukan hanya hasilnya, tetapi siapa yang membuatnya.

Tangan-tangan itu milik para penyandang disabilitas. Ada yang tak bisa mendengar, ada yang tak bisa berjalan tanpa alat bantu, ada yang mengalami keterbatasan gerak akibat kecelakaan. Namun di hadapan kain, semua itu seolah luruh. Hanya menyisakan ketelitian, kesabaran, dan rasa.

Di sinilah, di Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. Sebuah tempat yang, jika dilihat sekilas, tampak seperti bengkel kecil batik biasa. Namun jika ditelisik lebih dalam, ia adalah ekosistem pemberdayaan yang kompleks; dan pelajaran penting tentang bagaimana negara, dunia usaha, dan masyarakat seharusnya bekerja bersama.

Lebih dari Sekadar Produksi Kain

Sejak berdiri pada 2021, GHD telah membina lebih dari 120 peserta pelatihan dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat. Mereka tidak hanya belajar membatik. Mereka belajar menjahit, membuat kerajinan tangan, hingga keterampilan jasa. Setiap tahun, sekitar 100 orang mengikuti program kemandirian ini.

Angka itu mungkin terdengar kecil. Tapi di balik setiap angka ada nama, ada cerita, ada hidup yang berubah arah.

Nurdin (35) adalah salah satu buktinya. Pria asal Cianjur penyandang polio ini pertama kali datang ke GHD pada 2020. Tanpa banyak harapan, hanya ingin mencoba. Enam tahun kemudian, ia adalah salah satu pembatik paling senior di ruang produksi ini, sekaligus koordinator pewarnaan yang dipercaya menangani salah satu proses paling krusial dalam pembuatan batik.

“Saya pribadi, selain mendapatkan ilmu saya mendapatkan rasa bersyukur tentang kehidupan saya di sini. Sebelum saya mengenal tempat ini, saya merasa 'Tuhan, kenapa saya diciptakan seperti ini?'. Pas datang saya ke sini, maka saya tertampar dengan omongan saya sendiri,” ungkapnya penuh syukur, pada 10 April 2026.

Sebagai koordinator pewarnaan, Nurdin bertanggung jawab atas keselarasan warna di setiap lembar kain. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Sebagai koordinator pewarnaan, Nurdin bertanggung jawab atas keselarasan warna di setiap lembar kain. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Kepercayaan itu tidak datang tiba-tiba. Sebagai koordinator pewarnaan, Nurdin bertanggung jawab atas keselarasan warna di setiap lembar kain. Pekerjaan yang menuntut mata tajam, ketelitian tinggi, dan kepekaan terhadap detail.

Selain punya tugas sebagai koordinator pewarnaan, Nurdin pun punya peran penting dalam memupuk mental dan ahlak rekan-rekannya.

“Nah, (setelah) saya ke sini, ikut pelatihan tahun 2020, lalu kembali lagi (ke sini setelah lulus) tahun 2021 sampai saat ini; dan dipercaya jadi (instruktur) bimtal (bimbingan mental)," sambung Nurdin.

Kisah serupa juga datang dari Anggi Jatnika (28). Ia bergabung dengan GHD pada 2020 setelah mengalami kecelakaan tragis beberapa tahun sebelumnya yang membuatnya bergulat bertahun-tahun dengan kondisi fisik maupun batin. Pelatihan batik yang awalnya ia jalani tanpa ekspektasi besar, perlahan mengubah arah hidupnya. Pada 2024, Anggi resmi direkrut sebagai tenaga kerja profesional di GHD. Kini ia punya penghasilan tetap, bahkan sudah berkeluarga. Dari titik tergelap hidupnya, canting membawanya ke tempat yang tak pernah ia bayangkan.

Ketika Batik Berbicara ke Dunia

Dunia luar mengetahui GHD bukan melalui pameran resmi atau kampanye pemasaran besar-besaran. Melainkan melalui sebuah momen yang tak terduga: pada September 2023, seluruh personel grup K-pop TWICE mengenakan outer batik bermotif bunga cerah karya GHD dalam acara meet and greet brand Scarlett di Jakarta. Foto dan video menyebar deras di media sosial. Nama Griya Harapan Difabel tiba-tiba dikenal jutaan orang.

Sebelum itu pun, batik GHD sudah menembus batas geografis. Karya mereka pernah dibawa sebagai suvenir ke Italia.

Bukan keberuntungan semata, semua itu adalah hasil dari kualitas yang dibangun dengan serius. Setiap kain dikerjakan dengan proses panjang: menggambar sketsa, mencanting, mewarnai, hingga menjemur. Para pembatik bahkan diharuskan berdoa sebelum memulai proses, karena bagi GHD, batik bukan sekadar produk. ini adalah ekspresi budaya yang harus dibuat dengan kesadaran penuh.

"Di sini itu ada UMKM-nya, di bawah UPTD berupa Kampung Kreatif Batik Difabel. Ada sekitar 15 pembatik, mereka membuat batik khas seluruh Nusantara. Motif-motif batik di sini harus punya unsur sejarah dan budaya. Batik tidak bisa sembarangan dibuat, harus orang yang sadar dan dia mengerti rasa," papar Andina Rahayu Kepala UPTD Pusat Pelayanan Sosial GHD.

Andina Rahayu (batik hijau) Kepala UPTD Pusat Pelayanan Sosial GHD. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Andina Rahayu (batik hijau) Kepala UPTD Pusat Pelayanan Sosial GHD. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Namun di balik pencapaian itu, ada realita yang tidak boleh diabaikan.

Ketika kebijakan efisiensi anggaran pemerintah mulai diberlakukan pada 2025–2026, dampaknya langsung dirasakan GHD. Pesanan dari instansi pemerintah dan BUMN (yang selama ini menjadi tulang punggung penjualan) menurun drastis. Ritme produksi melambat. Para pembatik tetap datang, tetapi pekerjaan berkurang.

"Sekarang karena efisiensi, jadi (kendala terberatnya) pemasaran. Karena terimbas sekali adanya efisiensi ini, pesanan berkurang setengahnya. Kita harus sosialisasi lagi, promosi lagi," imbuh Andina.

Inilah yang membedakan GHD dari UMKM biasa: ketika omzet turun, yang terdampak bukan hanya laporan keuangan, tetapi kehidupan nyata orang-orang yang selama ini bergantung pada kegiatan produksi ini sebagai sumber makna dan penghasilan.

Peran BRI: Ketika Bank Hadir sebagai Mitra, Bukan Sekadar Pemberi Modal

Dari perjalanan UMKM Kampung Kreatif Batik Difabel, dapat dipahami bahwa peran pihak swasta menjadi krusial. Salah satu yang hadir adalah PT Bank Rakyat Indonesia (BRI).

BRI tidak hanya hadir sebagai lembaga keuangan yang menyalurkan kredit. Melalui program pemberdayaan UMKM-nya, BRI mendukung GHD dalam hal yang selama ini menjadi titik lemah: pemasaran digital. Pelatihan digital marketing yang difasilitasi BRI membuka cakrawala baru bagi para pengelola GHD. Dari yang sebelumnya mengandalkan pesanan langsung dan pameran, kini mulai belajar menjangkau pasar melalui kanal online.

A. Radinal Pramudha Sirat, CEO Rumah BUMN Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
A. Radinal Pramudha Sirat, CEO Rumah BUMN Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

"Rumah BUMN Bandung ataupun Jawa Barat ini dibentuk untuk menaungi UMKM. Tujuan utamanya pemberdayaan UMKM, dari pelatihan, literasi keuangan mendasar, sertifikasi dan sebagainya kita ajarkan semua di sini," ucap A. Radinal Pramudha Sirat, CEO Rumah BUMN Bandung, saat berbicara di kantornya.

Menariknya, batik karya Kampung Kreatif Batik Difabel juga dipajang di Rumah BUMN Bandung, tepat di dekat pintu masuk yang langsung terlihat oleh para tamu.

Namun, pelatihan saja tidak cukup. Yang dibutuhkan GHD ke depan adalah ekosistem dukungan yang menyeluruh: akses permodalan yang inklusif, ruang pamer yang representatif, fasilitas produksi yang memadai, serta pendampingan promosi digital yang berkelanjutan. Bukan bantuan sekali jalan, melainkan kemitraan jangka panjang.

"Sebagai mitra UMKM saya senang sekali, ya. Kita ikut pelatihan AI (artificial intelligence), kemudian juga tentang manajemen juga. Jadi dari BRI itu pelatihannya sangat bermanfaat sekali. Mungkin nanti bisa dapat sertifikat juga dari BRI, kalau semisalnya BRI mau membantu anak-anak difabel ini dengan membuat pelatihan untuk mereka juga," tutup Andina penuh harapan baik untuk Kampung Kreatif Batik Difabel. (*)

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 09 Mei 2026, 17:10

Menjaga Mimpi di Tengah Efisiensi: Peran Rumah BUMN di Masa Anggaran Ketat

Di sinilah cerita tentang ekosistem pemberdayaan UMKM yang belum sempurna bermula.

A. Radinal Pramudha Sirat CEO Rumah BUMN Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Biz 09 Mei 2026, 12:46

Inklusi di Atas Kain: Batik Difabel Cimahi dan Kriya yang Istimewa

Di sinilah, di Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat.

Nurdin (di kursi roda), penyandang polio, pertama kali datang ke GHD pada 2020. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 22:35

Ketika Persija, Persib, dan Persis Bantu Korban Tragedi Trowek

Tiga tim sepak bola beda kota menggelar laga segitiga yang seru di Lapangan Ikada. Hasil keuntungan pertandingan disumbangkan untuk korban kecelakaan KA yang mengenaskan di Trowek, Jawa Barat.

Pemandangan mengenaskan kecelakaan kereta api di Trowek, Tasikmalaya, Jawa Barat pada 28 Mei 1959. (Sumber: Harian Umum)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 21:06

Desa Kasturi, Tempat Tumbuh Mangga Kasturi 

Di Jawa Barat, sedikitnya ada dua nama geografis Kasturi.

Buah kasturi (Mangifera casturi) sudah tidak dikenali lagi di Jawa Barat, tapi abadi dalam toponim Desa Kasturi yang terdapat di Kabupaten Majalengka dan di Kabupaten Kuningan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 19:32

Sepatu Berlubang untuk Mengukir Masa Depan

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi--yang ada proses bertahan yang selalu harus terus diperjuangkan untuk terus bertahan sebagai manusia dan juga menjadi masyarakat Kota Bandung yang lebih baik.

Pendidikan adalah senjata utama untuk keluar dari kemiskinan struktural. (Sumber: Pexels | Foto: Partiu Kenai)
Linimasa 08 Mei 2026, 17:40

Tanaman Pemangsa Serangga Ini Dibudidayakan di Rumah Pemuda Bandung

Seorang pemuda di Dayeuhkolot sukses membudidayakan tanaman karnivora hingga meraup omzet belasan juta rupiah.

Tanaman pemangsa hewan Venus flytrap yang dibudiayakan Khoerul Anwar di Dayeuhkolot. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 17:20

Bandung dan Mereka yang Pulang dalam Lelah

Di balik gemerlap dan ramainya Bandung, ada banyak orang yang tetap kembali bangun esok pagi meski lelah terus menjadi bagian dari hidup mereka—agar kota dan kehidupan mereka tetap berjalan.

ekanan hidup di kota membuat banyak masyarakat terus berjalan, meski lelah perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 17:08

Merawat Kebersamaan, Meraih Kebahagiaan

Kebahagiaan sejati tidak hanya diukur dari pencapaian materi, justru dari kemampuan manusia menemukan makna hidup, menjaga keseimbangan batin, membangun hubungan yang sehat dengan Tuhan, diri sendiri

Sejumlah siswa Al Irsyad Satya Islamic School mengikuti tadarus Al-Quran di Masjid Al-Irsyad pada Kamis, 21 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 08 Mei 2026, 13:38

Jelajah Citarum, Sungai Pemberi Kehidupan Bagi Masyarakat

Di balik pencemaran dan banjir, Sungai Citarum masih menjadi sumber penghidupan masyarakat di sepanjang DAS.

Sungai Citarum jadi sumber kehidupan masyarakat di sekitarnya. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 13:34

Berangkat Ke Bandung : D'Renced Tampil Memberikan Suasana Jernih tapi Berisik

Bandung, bukan tanpa alasan band Pop Punk asal Majalengka (D'Renced) memilih kota ini untuk memperluas jangkauan gerakan perlawanan yang dibalut karya musik bergenre pop punk.

Live performance debut single D'Renced at Waroeng Bako Bandung. (Foto: Moga Yudha melalui Screenshoot Video)
Wisata & Kuliner 08 Mei 2026, 13:13

Tamasya ke Karang Resik Tasikmalaya, Wisata Keluarga dengan Sejarah Tersembunyi

Panduan wisata Karang Resik Tasikmalaya, taman hiburan keluarga yang berdiri di lokasi sejarah Agresi Militer Belanda 1947.

Wisata Karang Resik Tasikmalaya. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 12:34

Kesabaran Pedagang Pasar Baleendah dan ‘Lautan Sampah’ yang Tiada Akhir

Persoalan “lautan sampah” yang menimbulkan bau tak sedap ini bukan persoalan Pasar Baleendah saja.

Tumpukan sampah di kawasan Jalan Siliwangi, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Kamis, 5 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 09:55

Pasang Surut Perkembangan Radio Siaran di Bandung

Di tengah gempuran platform digital, radio sesungguhnya masih memiliki kekuatan yang sulit tergantikan, yakni kedekatan emosional dan interaktivitas yang alami.

Penulis bersama para penyiar B-Radio Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 08:35

Tentang Angka dan Ketakberhinggaan dalam Pelestarian Cagar Budaya

Katanya, hidup ini adalah tentang angka. Lantas, bagaimana dengan cagar budaya? Berapa angka yang akan kita sematkan pada warisan budaya kebendaan ini?

Salah satu gedung cagar budaya di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 07 Mei 2026, 20:32

Strategi Monel Gaet Konsumen Hijab, Andalkan Uniqueness Warna dan Diskon Agresif di Event Fashion

Hijab tak lagi hanya sekedar kebutuhan dalam hal berpakaian. Hijab kini bertransformasi jadi bagian ekspresi gaya hingga pembuktian identitas pada wanita muslim.

Band hijab Monel mengandalkan strategi diskon besar beserta eksplorasi beragam warna yang ditampilkan pada etalasenya supaya menarik atensi pengunjung. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 07 Mei 2026, 19:59

Lembang 1994-1997: Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Bagian 2)

Lembang tahun 1994 merujuk pada satu kata, “Hening”.

Kawasan Situ Umar masa kolonial, terlihat Gunung Burangrang di kejauhan. Kawasan Situ Umar kini berganti menjadi wisata selfie floating market Lembang. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 07 Mei 2026, 18:12

Tamasya Taman Bunga Cianjur, 35 Hektar Lanskap Dunia dalam Satu Kawasan Puncak

Taman Bunga Nusantara di Cianjur menawarkan taman tematik dunia, tiket sekitar Rp50 ribu, dan strategi kunjungan agar bisa menjelajah 35 hektar tanpa kelelahan.

Taman Bunga Nusantara Cianjur.
Bandung 07 Mei 2026, 17:52

Bukan Lagi Kaku, Batik Kini Jadi Tren Lifestyle Praktis Lewat Desain One Set

Eksistensi batik kini telah bertransformasi, dan tidak lagi sekadar kain tradisional kaku yang pemakaiannya terbatas pada acara-acara sakral atau formal saja.

Eksistensi batik kini telah bertransformasi, dan tidak lagi sekadar kain tradisional kaku yang pemakaiannya terbatas pada acara-acara sakral atau formal saja. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 07 Mei 2026, 17:30

Pekerja Swasta adalah Petarung Sejati

Banyak masyarakat yang bekerja di sektor swasta untuk mendapatkan penghidupan dengan penuh kesabaran dan pengorbanan supaya bisa bertahan hidup di Kota Bandung.

Pekerja menyelkesaikan produksi tas di salah satu pabrik produksi di Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 07 Mei 2026, 14:44

5 Wisata Pilihan di Pangandaran: dari Pantai, Hutan hingga Sungai

Rekomendasi wisata Pangandaran dari pantai hingga ngarai sungai. Lengkap dengan jam buka, harga tiket, dan aktivitas.

Pantai Pangandaran. (Sumber: Pexels)