Cerita Ibu-ibu Majelis Taklim Menjaga Bumi dari Tumpukan Sampah di Jatihandap

6 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Inisiatif perempuan di Bank Sampah Ikhtiar RW 15 membuktikan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi keluarga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Inisiatif perempuan di Bank Sampah Ikhtiar RW 15 membuktikan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi keluarga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Di antara sekian banyak pekerja informal yang nasibnya tidak selalu bersandar pada perlindungan hak yang jelas, ada satu profesi yang kerap luput dari perhatian. Mereka bukan tokoh yang tampil di panggung seminar lingkungan, bukan pula aktivis yang lantang berbicara di depan kamera. Namun dari sudut-sudut kecil kehidupan kota, mereka bekerja dalam diam menjaga lingkungan.

Mereka adalah perempuan-perempuan yang setiap hari bersentuhan langsung dengan sampah—memilah, membersihkan, dan mengelompokkannya dari sumber paling awal sampah itu berasal.

“Kadang saat orang memberikan sampah kepada kami, seolah-olah mereka menilai kami seperti sampah,” ucap Wiwi dengan suara pelan di tengah obrolan. Matanya berkaca-kaca, seolah menahan air mata yang hampir jatuh.

Wiwi Wijayanti (56), yang akrab disapa Ambu, adalah salah satu perempuan pengelola sampah di Bank Sampah Ikhtiar 15, Jatihandap, Kota Bandung. Bersama tiga rekannya, ia telah sekitar tiga tahun bekerja memilah sampah di tempat sederhana itu.

Wiwi Wijayanti telah tiga tahun bekerja bersama ibu-ibu lainnya mengurangi sampah dari sumber rumah tangga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Wiwi Wijayanti telah tiga tahun bekerja bersama ibu-ibu lainnya mengurangi sampah dari sumber rumah tangga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Bagi sebagian orang, pekerjaan ini mungkin tidak terlihat bergengsi. Namun bagi mereka, ada semangat lain yang membuatnya tetap dijalani.

“Walaupun bau, walaupun uangnya tidak seberapa, tapi ada semangat untuk peduli lingkungan,” kata Iis, rekan Ambu yang juga bekerja sebagai pemilah sampah.

Baca Juga: Eco Enzyme dari Sampah Organik, Langkah Warga Jatihandap Tekan Sampah dan Hasilkan Produk Ramah Lingkungan

Dari Majelis Taklim ke Bank Sampah

Di halaman kecil RW 15 Jatihandap, tumpukan karung berisi berbagai jenis sampah tersusun rapi. Botol plastik, kardus, kaleng, hingga plastik kemasan dipisahkan sesuai jenisnya.

Di tengah tumpukan itu, beberapa perempuan berkerudung kuning tampak sibuk memilah sampah yang baru datang dari warga. Tangan mereka bergerak cepat memisahkan botol, plastik, dan kaleng.

Aktivitas ini rutin dilakukan setiap hari Rabu di Bank Sampah Ikhtiar 15. Tempat sederhana ini dikelola oleh sekelompok perempuan yang sebelumnya hanya berkumpul untuk kegiatan keagamaan.

“Awalnya dari Majelis Taklim. Kami sering kumpul di masjid, lalu ada kegiatan Jumat bersih. Dari situ akhirnya ibu-ibu yang mengurus bank sampah,” ujar Lina Gusmatina (56), Ketua Bank Sampah Ikhtiar 15.

Seiring waktu, kegiatan membersihkan lingkungan berkembang menjadi upaya yang lebih terorganisir. Para ibu yang terbiasa bertemu dalam majelis taklim kemudian mengambil langkah lebih jauh dengan mengelola sampah dari rumah-rumah warga.

Menurut Lina, sejak awal gerakan ini memang banyak digerakkan oleh perempuan di lingkungan tersebut.

“Ibu-ibu yang biasanya kumpul pengajian akhirnya ikut terlibat mengurus bank sampah,” ujarnya.

Lewat kegiatan memilah sampah, para perempuan di Bank Sampah Ikhtiar RW 15 Kelurahan Jatihandap menunjukkan bahwa gerakan kecil di tingkat rumah tangga dapat memberi dampak ekonomi dan lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Lewat kegiatan memilah sampah, para perempuan di Bank Sampah Ikhtiar RW 15 Kelurahan Jatihandap menunjukkan bahwa gerakan kecil di tingkat rumah tangga dapat memberi dampak ekonomi dan lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

WTS: Wanita Tenaga Super

Di antara para pengelola bank sampah itu terdapat nama-nama seperti Oneng Juwaini (63), Ingrid yang akrab dipanggil Pengki (66), Iis Nurhayati (55), dan Wiwi Wijayanti (56). Mereka datang dari latar belakang yang berbeda, namun dipersatukan oleh kepedulian terhadap lingkungan.

Dengan nada bercanda, mereka bahkan menyebut diri sebagai WTS—Wanita Tenaga Super.

Menurut Lina, ada enam perempuan yang aktif mengelola operasional Bank Sampah Ikhtiar 15. Lima orang bekerja langsung di lapangan memilah sampah, sementara satu orang bertugas mengurus administrasi.

“Kalau yang operasional langsung ada lima orang, satu lagi di bagian admin. Jadi totalnya enam ibu-ibu yang mengelola,” jelas Lina.

Di bank sampah ini, setiap jenis limbah memiliki perlakuan yang berbeda. Botol plastik tidak bisa langsung digabung begitu saja karena warna dan jenisnya harus dipisahkan terlebih dahulu.

“Tugasnya memilah. Botol saja harus dipisah-pisah—ada yang bening, biru, hijau. Plastik juga beda lagi jenisnya,” jelas Lina.

Para pengelola biasanya memiliki bagian masing-masing saat bekerja.

“Kalau saya memang menangani botol. Botol dan gelas itu dipisah-pisah,” kata Oneng.

“Kalau saya menangani plastik-plastik yang bening, seperti kresek,” ujar Iis.

Baca Juga: Dari Botol Plastik jadi Tabungan Emas: Cara Warga Jatihandap Mengelola Sampah yang Bisa Ditiru

Namun pembagian tugas tersebut tidak selalu kaku. Ketika volume sampah yang datang meningkat, mereka saling membantu menyelesaikan pekerjaan.

“Kalau saya biasanya menangani duplek dan tetra, tapi pada akhirnya semua ikut membantu,” ujar Ingrid.

Tidak ada pelatihan resmi ketika para ibu ini mulai mengelola bank sampah. Pengetahuan mengenai jenis sampah dan cara memilahnya dipelajari secara otodidak.

“Tidak ada pelatihan khusus. Langsung praktik saja,” ujar Lina.

Ia mengaku awalnya belajar sendiri tentang berbagai jenis plastik dan material sampah. Pengetahuan itu kemudian dibagikan kepada anggota lainnya.

“Saya belajar sendiri, lalu saya ajarkan ke ibu-ibu yang lain,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, selama tiga tahun merawat Bank Sampah Ikhtiar 15, keterampilan mereka semakin berkembang. Kini mereka mampu mengenali berbagai jenis plastik dan bahan lain dengan lebih teliti.

Demi memudahkan warga menabung sampah, pengurus Bank Sampah Ikhtiar RW 15 secara rutin menjemput sampah pilahan dari rumah ke rumah. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Demi memudahkan warga menabung sampah, pengurus Bank Sampah Ikhtiar RW 15 secara rutin menjemput sampah pilahan dari rumah ke rumah. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

“Orang Lain Membuang, Kita Mengambil”

Bekerja di tengah tumpukan sampah tentu bukan perkara mudah. Bau menyengat dan kotoran kerap menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari mereka.

“Walaupun bau, walaupun uangnya tidak seberapa, tapi ada semangat untuk peduli lingkungan,” ucap Iis sambil menautkan kedua tangannya dengan penuh keyakinan.

Bagi mereka, aktivitas ini lebih dari sekadar pekerjaan. Ada kepedulian yang tumbuh dari pengalaman melihat persoalan sampah di lingkungan sekitar.

“Ada kebanggaan tersendiri. Jadi lebih peduli terhadap lingkungan. Orang lain membuang, kita mengambil,” ujar Ingrid.

“Saya merasa bahagia dan bangga walaupun kerjaannya begini,” kata Wiwi dengan tulus.

Di balik kerja mereka, masih ada stigma dari sebagian masyarakat. Mengelola sampah sering dipandang sebagai pekerjaan rendahan yang tidak banyak diminati.

“Untuk merekrut orang ke bank sampah itu susah. Tidak semua orang mau,” kata Ingrid.

“Kalau semua orang peduli, mungkin banyak yang mau ikut seperti ini,” tambahnya.

Ada pula pengalaman yang meninggalkan kesan mendalam bagi para pengelola saat menerima sampah dari warga.

Wiwi pernah mengalami kejadian yang membuatnya terpukul. Suatu hari, seorang warga memberikan sampah dengan cara menendangnya ke arah dirinya.

“Kadang saat orang memberikan sampah kepada kami, seolah-olah mereka menilai kami seperti sampah,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Ia juga kerap menemukan sampah yang tidak dipilah, bahkan bercampur dengan pembalut bekas dan kotoran lainnya.

“Masih ada yang memberi sampah bercampur pembalut wanita dan kotoran,” katanya sambil menyeka air mata.

Menurut mereka, persoalan utama bukan hanya soal banyaknya sampah, tetapi juga kebiasaan masyarakat yang belum terbiasa memilah sampah dari rumah.

“Saya kadang berpikir, kapan ya mereka sadar?” keluh Wiwi.

Lina Gusmatina bersama para ibu rumah tangga di RW 15 Jatihandap membuktikan bahwa pengelolaan sampah dapat menjadi ruang pemberdayaan ekonomi perempuan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Lina Gusmatina bersama para ibu rumah tangga di RW 15 Jatihandap membuktikan bahwa pengelolaan sampah dapat menjadi ruang pemberdayaan ekonomi perempuan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Lebih dari Sekadar Uang

Walaupun bank sampah memberikan insentif kecil kepada para pengelolanya, tujuan utama kegiatan ini bukanlah keuntungan ekonomi.

“Kalau uang mah nomor sekian. Yang penting kepedulian,” kata Ingrid.

“Tujuannya bukan mengejar uang, tapi kemanusiaan,” ujar Iis.

Selain mengurangi sampah di lingkungan sekitar, kegiatan ini juga memiliki dampak sosial. Sebagian hasil pengelolaan sampah disisihkan untuk kegiatan kemasyarakatan.

“Kami juga sisihkan untuk dana sosial, seperti santunan anak yatim,” ujar Lina.

Pengalaman mengelola sampah selama beberapa tahun terakhir turut mengubah cara pandang para ibu ini terhadap lingkungan.

“Menyelamatkan dunia itu bukan dari luar, tapi dari diri kita sendiri, dari rumah,” ujar Ingrid.

Bagi mereka, kebiasaan sederhana seperti memilah sampah bisa membawa dampak besar jika dilakukan secara bersama-sama.

“Satu plastik yang kita buang mungkin kecil bagi kita. Tapi kalau menumpuk bisa jadi banjir,” tambah Iis.

Di sela kegiatan memilah sampah setiap pekan, para perempuan ini menyimpan harapan agar kerja kecil mereka mendapat perhatian yang lebih luas.

“Harapan kami ke pemerintah, lihatlah kami di sini bekerja kotor-kotor seperti ini,” ucap Ingrid.

Bagi mereka, bank sampah bukan sekadar tempat mengolah limbah, tetapi juga ruang untuk membangun kesadaran bersama tentang lingkungan.

“Kalau semua orang peduli, mungkin banyak yang mau ikut seperti ini,” katanya.

Di sudut halaman kecil RW 15 itu, tangan-tangan para perempuan terus bergerak memilah sampah satu per satu. Karung-karung berisi plastik dan botol perlahan bertambah, sementara percakapan ringan di antara mereka sesekali terdengar di sela pekerjaan.

“Ini ibu-ibu Majelis Taklim, jadi kami kerjakannya lillahi ta’ala,” ujar Lina.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)