Air Situ Ciburuy Menyusut, Dasar Danau Berusia 1 Abad Ini Perlahan Terbuka

5 menit baca
Restu Nugraha Sauqi
Ditulis oleh Restu Nugraha Sauqi diterbitkan
Fenomena tahunan menyusutnya air Situ Ciburuy kian terasa di musim kemarau ini, berdampak langsung pada sektor pertanian, pariwisata lokal, hingga aktivitas warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Fenomena tahunan menyusutnya air Situ Ciburuy kian terasa di musim kemarau ini, berdampak langsung pada sektor pertanian, pariwisata lokal, hingga aktivitas warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Musim kemarau menyebabkan debit air Situ Ciburuy di Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), terus menyusut. Fenomena menyusut ini terjadi setiap tahun saat musim kemarau. Kondisi tersebut justru dimanfaatkan anak-anak untuk mengisi waktu libur dengan bermain, berenang, hingga mencari ikan di kawasan situ bersejarah peninggalan era kolonial Belanda itu.

Hamparan daratan yang muncul akibat surutnya air terlihat di sisi utara Situ Ciburuy. Area yang biasanya terendam kini berubah menjadi tempat bermain anak-anak. Suara tawa mereka terdengar saat bermain bola, membuat kolam kecil dari lumpur, mengapungkan rakit sederhana, hingga berburu ikan di tepian situ yang kini dangkal.

Aktivitas tersebut menjadi pemandangan rutin, terutama pada sore hari setelah pulang sekolah maupun saat masa libur. Bagi mereka, surutnya air menghadirkan ruang bermain yang hanya bisa dinikmati ketika musim kemarau tiba.

Salah seorang anak, Muhammad Faturahman (13), mengaku hampir setiap hari datang ke Situ Ciburuy bersama teman-temannya. "Kalau sore habis sekolah pasti main ke sini. Pas libur juga sering datang dari pagi," ujarnya.

Menurut Faturahman, kondisi air yang kini hanya setinggi leher anak-anak membuat mereka berani berenang di pinggiran situ. Meski demikian, mereka tetap menghindari bagian tengah yang lebih dalam.

"Sekarang enggak terlalu dalam, jadi berani berenang," katanya.

Tak hanya bermain air, ia bersama teman-temannya juga kerap membawa pulang hasil tangkapan berupa ikan kecil untuk dimasak di rumah.

"Kadang dapat ikan boboso, gabus, nila, bahkan lobster kecil," tuturnya.

Surutnya air Situ Ciburuy di tengah kemarau panjang tak hanya berdampak pada irigasi warga, tetapi juga mengubah dasar danau menjadi ruang bermain bagi anak-anak sekitar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Surutnya air Situ Ciburuy di tengah kemarau panjang tak hanya berdampak pada irigasi warga, tetapi juga mengubah dasar danau menjadi ruang bermain bagi anak-anak sekitar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Data Teknis dan Fungsi Infrastruktur Situ Ciburuy

Penyusutan air di Situ Ciburuy yang memiliki luas sekitar 25 hektare memang menjadi fenomena tahunan saat kemarau panjang. Situ yang mengandalkan pasokan air hujan itu kini diperkirakan hanya memiliki kedalaman sekitar satu hingga dua meter di sejumlah titik.

Secara historis dan teknis, Situ Ciburuy merupakan salah satu infrastruktur penampung air bersejarah di Jawa Barat yang terus menjalankan fungsinya dalam mendukung sektor pertanian di wilayah Kabupaten Bandung Barat. Berdasarkan data teknis dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PU, bendungan yang selesai dibangun sejak tahun 1925 ini mencatatkan volume tampung total hingga 12.050.000 meter kubik.

Secara administratif, Situ Ciburuy berlokasi di Kelurahan Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, dan berada dalam lingkup Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Dengan luas genangan mencapai 345.000 meter persegi, keberadaan bendungan ini diprioritaskan untuk menyokong kebutuhan irigasi lahan pertanian masyarakat sekitar seluas 50 hektar. Dari segi konstruksi, Bendungan Situ Ciburuy dirancang menggunakan tipe urugan tanah dengan inti (earthfill dam with core) serta dilengkapi dengan bangunan pelimpah tipe pelimpah samping (side channel spillway).

Meskipun saat ini pengelolaannya berfokus pada suplai air irigasi dan tidak difungsikan untuk penyediaan air baku maupun pembangkit listrik (PLTA), keberadaan Situ Ciburuy di bawah pengelolaan BBWS Citarum tetap menjadi bagian penting dalam sistem tata air dan potensi kawasan di wilayah Padalarang.

Musim kemarau yang diprediksi BMKG lebih kering tahun ini membuat Situ Ciburuy dangkal. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Musim kemarau yang diprediksi BMKG lebih kering tahun ini membuat Situ Ciburuy dangkal. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Dampak Ekonomi dan Harapan Warga

Kepala Desa Ciburuy, Firmansyah, mengatakan kondisi menyusutnya air tersebut bukan hal baru. Bahkan pada musim kemarau yang lebih ekstrem, pulau kecil di tengah situ dapat dicapai dengan berjalan kaki karena sebagian besar dasar danau mengering.

"Setiap kemarau memang selalu surut. Kalau benar-benar kering, akses ke pulau di tengah situ bisa ditempuh dengan berjalan kaki karena air hanya tersisa di bagian depan," ujar Firmansyah.

Selain menjadi sumber air bagi sektor pertanian dan perikanan warga, Situ Ciburuy juga menjadi destinasi wisata yang menopang perekonomian masyarakat. Pelaku usaha kuliner, penyedia jasa wisata perahu, hingga pemerintah desa memperoleh manfaat ekonomi dari keberadaan objek wisata tersebut.

Firmansyah berharap musim kemarau segera berakhir agar debit air kembali normal. Pasalnya, berbagai aktivitas wisata, termasuk wisata perahu dan latihan atlet dayung, sangat bergantung pada ketinggian air di Situ Ciburuy.

"Mudah-mudahan hujan segera turun juga di wilayah sini sehingga debit air Situ Ciburuy bisa kembali meningkat," pungkasnya.

Proyeksi Kemarau Menurut BMKG

Kondisi menyusutnya debit air ini sejalan dengan analisis iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pada awal Juni lalu, BMKG memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia terjadi pada Juli–September 2026. Kondisi ini harus mulai diantisipasi seluruh lapisan masyarakat untuk memastikan ketersediaan air, kondisi kesehatan, serta kebutuhan multisektor yang terdampak dapat terkendali.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, memaparkan, puncak kemarau pada Juli mencakup 83 Zona Musim (ZOM) atau 12,26 persen luas daratan Indonesia. Sedangkan, puncak kemarau terjadi di 369 ZOM (48,84 persen luas daratan) pada Agustus dan 169 ZOM (25,41 persen luas daratan) pada September.

Lalu pada bulan Agustus 2026, puncak musim kemarau terjadi di Sumatra bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku dan Maluku Utara, serta sebagian besar Pulau Papua.

Sebanyak 169 ZOM (25,41 persen luas daratan) memasuki puncak kemarau pada September 2026, meliputi Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatra Selatan, Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, dan Papua Pegunungan bagian tengah.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menambahkan musim kemarau di Indonesia pada tahun 2026 ini diprediksi lebih kering dan lebih panjang dibanding rata-rata normalnya. Kondisi ini memerlukan penyesuaian ekstra mengingat adanya peluang El Nino.

“BMKG memprediksi fenomena El Nino akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen, namun demikian dampaknya untuk wilayah Indonesia ketika bertemu periode Musim Kemarau hingga pertengahan bulan Oktober,” pungkas Ardhasena.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 18:08

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar (Bagian 2)

Acapkali PHK tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana mencari solusi sosial akibat dampak PHK tersebut. Ketika industri melemah seharusnya kehidupan ekonomi masyarakat tidak boleh terhenti.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 17:09

Wisata Jalan Kaki Melihat Jejak Sejarah Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sedangkan Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau.

Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)