R. Ipik Gandamana Sumawinata Layak sebagai Pahlawan Nasional dari Jawa Barat asal Purwakarta

5 menit baca
R.M.A. Ahmad Said Widodo
Ditulis oleh R.M.A. Ahmad Said Widodo diterbitkan
R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia)
R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia)

Barangkali tak banyak orang yang tahu, terutama generasi muda masa kini: Generasi X/Gen X (1965–1980), Generasi Y/Gen Y/Gen Milenial (1981–1996), Generasi Z/Gen Z (1997–2012), Generasi Alpha (2013–2024) dan Generasi Beta (2025–sekarang) yang tahu tentang siapa, apa dan mengapa seorang tokoh yang bernama  R. Ipik Gandamana Sumawinata.

R. Ipik Gandamana Sumawinata dilahirkan di Purwakarta, Karawang, Hindia Belanda pada tanggal 30 November 1906 dan wafat di Bandung pada tanggal 06 Agustus 1973 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra Blok D 540, Bandung. Beliau mempunyai seoran ayah bernama R. Usup Sumawinata Sumadipura. Ayah Beliau ini berputera-puteri, antara lain: Nyi R. Mariah Sumawinata, Nyi R. Jaja Sumawinata, Nyi R. Cucu Sumawinata, R. Sahrip Sumawinata, R. Ipik Gandamana Sumawinata, R. Sut Gandanegara Sumawinata dan R. Emang Rukman Sumawinata.

 Beliau menempuh pendidikan di:

  • ·Sekolah Dasar (Europeesche Lagere School, ELS)

  • ·Sekolah Menengah Reguler (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, MULO)

  • ·Sekolah Persiapan Pegawai Negeri (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren, OSVIA dan juga MOSVIA).

Beliau pernah aktif di organisasi Jong Java dan Beliau adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (Ambtenaar) sejak zaman Kolonial Hindia Belanda hingga pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Berbagai jabatan yang Beliau emban adalah sebagai berikut:

Beliau diterima sebagai seorang Calon Pegawai Negeri Sipil (Candidate Ambtenaar) pada tahun 1926 dan memulai karirnya sebagai Ajudan yang ditempatkan di Kabupaten Bogor selama 2 (dua) tahun. Kemudian menjadi Mantri Polisi di Kecamatan (Onderdistrik) Cikijing (1931). Kemudian menjadi Mantri Kabupaten Batavia (1931). Kemudian menjadi Sekretariat II Kabupaten Ciamis (1938). Kemudian menjadi Camat (Hoofd Onderdistrik) Cibeureum, Kabupaten Tasikmalaya (1942). Kemudian menjadi Pembantu Bupati (Wedana, Hoofd Distrik) Ujungberung, Bandung. Kemudian menjadi Patih Kabupaten Bogor Ke-1 (1946). Kemudian menjadi Bupati Bogor Ke-1 (1948-1949).

Karena menolak bergabung dengan Pemerintahan Belanda - RECOMBA (Regeerings Commissaris Voor Bestuurs Aangelegenheden) di bawah NICA (Nederlands-Indische Civiele Administratie) pasca Agresi Militer Belanda I tanggal 21 Juli 1947, maka pada tanggal 14 Agustus 1947 keluar Besluit dari Presiden HTB Bogor Nomor 305 yang memerintahkan penangkapan dan pengasingan tokoh pejuang nasional sekaligus Bupati Bogor dari pihak Republik, R. Ipik Gandamana Sumawinata ke wilayah Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor karena menolak bergabung dengan pemerintahan federal buatan Belanda itu.

HTB merujuk pada Hoofdtarieffens Bureau, yaitu instansi/jawatan pemerintah pada masa pendudukan atau transisi kolonial/federal (sekitar masa revolusi kemerdekaan Indonesia tahun 1947), yang dipimpin oleh seorang Presiden H.T.B. di Bogor. 

Pada saat dalam pengasingan tersebut, Beliau menerima tugas dari Pemerintah Republik Indonesia untuk menyusun kembali struktur Pemerintahan Kabupaten Bogor Darurat yang berpusat di Jasinga (tepatnya di Desa. Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor). Setelah pembentukan Kabupaten Bogor Darurat, berdasarkan Keputusan Gubernur Militer Jawa Barat merujuk sejarah terdapat nama Letnan Kolonel Abimanyu (1948) dan Kolonel Sadikin (1948–1949), Beliau diperbantukan di KMD IV/DJ.B selaku Kepala Staf Sipil Kepresidenan di Bogor.

Beliau kemudian menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat Ke-2 merangkap sebagai Bupati Lebak Ke-11 (1948-1949). Kemudian menjadi Residen Bogor. Kemudian menjadi Residen Priangan (1951). Pada periode tersebut, Beliau menjadi bagian dari Delegasi Studi Indonesia ke Amerika Serikat dan tinggal di sana selama 3 (tiga) bulan setelah berangkat pada bulan September 1953 sampai dengan bulan Desember 1953.

Setelah kembali ke Indonesia, Beliau menerbitkan buku Melawat ke Negara Dollar disertai Kata Pengantar Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Mr. Soemarman, Djakarta, 18 Mei 1956 dan Kata Pengantar Gubernur Djawa Barat H.R. Moehammad Sanoesi Hardjadinata, Bandung, Pebruari 1956 serta Kata Pendahuluan R. Ipik Gandamana Sumawinata, Pebruari 1956). Laporan kunjungannya tersebut membandingkan permasalahan demokrasi di Indonesia dengan permasalahan demokrasi di Amerika Serikat dan juga dengan struktur pemerintahan Amerika Serikat.

Beliau kemudian menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Anggota Dewan Konstituante (1955). Kemudian menjadi Gubernur Provinsi Jawa Barat Ke-6 (01 Juli 1957 – 1959/1960), menggantikan Sanusi Hardjadinata dan kemudian Beliau digantikan oleh Mashudi.

Beliau mendorong agar pejabat birokrat pemerintah daerah (lokal) terpilih lebih baik dibandingkan pejabat birokrat pemerintah pusat. Beliau memandang peran birokrat sebagai pelatihan bagi pejabat daerah yang kurang berpengalaman. Selama menjabat sebagai gubernur, Beliau juga memimpin panitia yang mendirikan Universitas Padjadjaran, Bandung yang sebagian besar sekarang telah dipindahkan ke Jatinangor. Beliau menjadi anggota pendiri dan Ketua Presidium Universitas Padjadjaran, Bandung.

Beliau kemudian menjadi Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Ke-14 pada Kabinet Kerja Pertama Sukarno di bawah pemerintahan Presiden Ir. Sukarno (10 Juli 1959 – 27 Agustus 1964), menggantikan Sanusi Hardjadinata dan digantikan oleh dr. H. Soemarno Sosroatmodjo.

Karena Kabinet Kerja Pertama Sukarno secara eksplisit dibentuk sebagai kabinet non-partai, Beliau bergabung dengan beberapa menteri lain yang ditunjuk untuk mengundurkan diri dari partai politiknya, Liga Pendukung Kemerdekaan Indonesia, yaitu sebagai Anggota Pimpinan Pusat Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI). Beliau tetap menduduki jabatan ini sampai tanggal 27 Agustus 1964.

Setelah Beliau menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri, tidak ada warga sipil lain yang menduduki jabatan tersebut hingga tahun 2009 ketika Dr. H. Gamawan Fauzi, S.H., M.M. gelar Datuk Rajo Nan Sati diangkat sebagai Menteri Dalam Negeri.

Belau kemudian menjadi Menteri Pembangunan Komunitas Desa Indonesia Republik Indonesia Ke-1 (27 Agustus 1964 – 21 Februari 1966) dan digantikan oleh Aminuddin Azis. Setelah Gerakan 30 September 1965, Presiden Sukarno melakukan perombakan kabinet dan memberhentikan Beliau dari jabatan menterinya pada tanggal 21 Februari 1966. Di bawah Presiden Suharto, ia bergabung dengan Dewan Pertimbangan Agung (DPA) )1968-1973), dimana yang menjadi Ketua Mr. Wilopo dengan Wakil Ketua: K.H. Muhammad Ilyas.

Beliau wafat di Bandung pada tanggal 06 Agustus 1979 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra Blok D 540, Bandung. Nama Beliau kemudian diabadikan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Purwakarta sebagai sebuah nama jalan yang menghubungkan antara Perlintasan Kereta Api, Lingkungan Sukasari (Rawasari) Kelurahan Tegalmunjul, Kecamatan Purwakarta hingga ke Pertigaan Cimaung, Kelurahan Ciseureuh, Kecamatan Purwakartan, Kabupayen Purwakarta, yaitu Jl. R. Ipik Gandamana (bukan Gandamanah).

R. Ipik Gandamana Sumawinata memiliki seorang istri, Nyi R. Endeh Soekarsih Natanegara dan 4 (empat) orang putera-puteri: Nyi R. Dade Suparsih Gandamana, Nyi R. Uce Sukaesih Gandamana, R. Adang Gandamana dan Nyi R. Harmini Gandamana. Oleh keluarga besarnya nama Beliau diabadikan sebagai nama Masjid R. Ipik Gandamana di Kelurahan Munjuljaya, Purwakarta. Salah seorang puteri Beliau, Nyi R. Harmini Gandamana mendirikan sebuah jaringan rumah sakit besar, yaitu Rumah Sakit Hermina.

Oleh karena itu, melalui media Ayo Bandung, saya mengusulkan kepada Bapak Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi, Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat, para sejarawan Jawa Barat dan seluruh rakyat Jawa Barat dimana pun berada, khususnya pituin urang Sunda agar mendiang R. Ipik Gandamana Sumawinata dijadikan sebagai Pahlawan Nasional dari Jawa Barat asal Purwakarta. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 18:08

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar (Bagian 2)

Acapkali PHK tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana mencari solusi sosial akibat dampak PHK tersebut. Ketika industri melemah seharusnya kehidupan ekonomi masyarakat tidak boleh terhenti.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 17:09

Wisata Jalan Kaki Melihat Jejak Sejarah Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sedangkan Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau.

Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)