Spiderman, Perdamaian, dan Pahlawan

8 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Spider-Man: No Way Home menjadi tonggak baru penayangan film di era pandemi Covid-19 dengan memecahkan rekor penjualan di pekan debutnya. (Sumber: Columbia Pictures/Marvel Studios/Matt Kennedy)
Spider-Man: No Way Home menjadi tonggak baru penayangan film di era pandemi Covid-19 dengan memecahkan rekor penjualan di pekan debutnya. (Sumber: Columbia Pictures/Marvel Studios/Matt Kennedy)

Malam yang dingin menyelimuti Babakan Dangdeur Cibiru dan sekitarnya. Saat asyik menggambar Spiderman bersama Kakang, anak ketiga (5 tahun). Sesekali bertanya tentang warna, bentuk, dan bagian mana yang harus diberi pensil merah.

Rupanya, di tengah keasyikan itu, ponsel tiba-tiba bergetar. Ada pesan WhatsApp masuk dari kawan lama. Minta izin membagikan berita, lengkap dengan tautan tentang penghargaan atas perjuangan yang selama ini dijalaninya.

Waktu membuka tautannya yang belum selesai dibaca sampai akhir, Aa Akil anak kedua ikut melongok ke layar. Matanya tertuju pada foto yang memegang cinderamata. “Itu kan kawan Babah?” Jarinya menunjuk wajah Kang Wawan yang biasa disapanya.

Muhun,” jawabku.

Sesederhana itu. Bagi Aa Akil, Kang Wawan hanya “kawan Babah”. Tidak lebih. Tentunya, belum mengenal istilah aktivis perdamaian, kohesi sosial, toleransi, keberagaman, apalagi penghargaan tingkat Asia Tenggara.

Sungguh malam itu, tanpa disadari, sedang melihat cerita tentang bagaimana perjuangan, berjibaku seseorang memilih jalan hidup dengan merawat perdamaian di tengah dunia yang tidak pernah benar-benar sepi dari perbedaan, pertentangan, konflik, hingga dianggap antek-antek asing dan aseng.

Saat membalas pesan Kang Wawan. “Ashiap, dibungkus.”

Kalimat pendek. Gaya percakapan dengan kawan lama. Padahal, di baliknya ada rasa bangga dan perintah yang tak langsung untuk menulis jejak penghargaan membanggakan biar tidak menguap begitu saja.

Wawan Gunawan, Irfan Amalee, dan dr. Septi masuk jajaran Top 10 Nominee Harmony in Diversity Award 2026. (Foto: Instagram @psppnawangwulan)
Wawan Gunawan, Irfan Amalee, dan dr. Septi masuk jajaran Top 10 Nominee Harmony in Diversity Award 2026. (Foto: Instagram @psppnawangwulan)

Mengelola Keragaman, Merayakan Perbedaan

Wawan Gunawan, dikenal sebagai penggerak perdamaian Jawa Barat, pembina Jaringan Kerja Antarumat Beragama (Jakatarub), pendiri PSPP Nawang Wulang, berhasil masuk dalam jajaran shortlisted nominee Harmony in Diversity Award 2026.

Menariknya, dari sekitar 70 aktivis perdamaian di Asia Tenggara, terpilih 10 besar. Kang Wawan menjadi salah satu di antaranya. Bersama dua nama lain dari Indonesia, Irfan Amalee Co-Founder of Peace Generation Indonesia, dan dr. Septi dari Medan.

Ini penghargaan tingkat Asia Tenggara,” jelas Kang Wawan dalam pesannya. “Diselenggarakan oleh Yayasan Temasek Singapore dan 5P Global. Jurinya terdiri dari beberapa mantan menteri luar negeri, termasuk mantan Menlu Indonesia, Bu Retno Marsudi.”

Waktu membaca perlahan. Ada sesuatu yang menarik dari kabar menggembirakan. Ya, bukan hanya karena penghargaan itu datang dari tingkat Asia Tenggara. Pasalnya, kerja (pegiat) perdamaian sering kali berlangsung dalam kesunyian.

Orang-orang seperti Kang Wawan tidak selalu muncul di halaman depan. Tak setiap hari berdiri di atas panggung. Apalagi semua kerjanya menjadi berita (viral), tetapi ada, hadir, membersamai, mengadvokasi saat perbedaan membutuhkan jembatan. Datang ketika prasangka membutuhkan percakapan. Memilih bertemu dengan korban saat sebagian orang lebih nyaman saling menjauh. Dalam susana itulah kerja perdamaian menjadi penting.

Harmony in Diversity Award sendiri merupakan penghargaan bagi individu-individu yang berkomitmen memupuk kohesi, harmoni sosial dan menjadi inspirasi bagi komunitas di seluruh Asia Tenggara.

Patron penghargaan ini Halimah Yacob, mantan Presiden Singapura. Dengan jajaran jurinya Retno Marsudi, mantan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia; Tunku Aminah Maimunah Iskandariah; Joy Belmonte, Wali Kota Quezon; Panote Sirivadhanabhakdi, Group CEO Frasers Property Limited; dan Ng Boon Heong, Executive Director & CEO Temasek Foundation.

Nama-nama besar itu tentu memberikan bobot tersendiri. Penghargaan sesungguhnya bukan terletak pada siapa yang menyerahkan piala. Justru berada pada kerja panjang yang membuat seseorang layak dinominasikan.

Ingat, perdamaian tidak pernah selesai dalam satu malam. Bukan proyek lima tahun. Program yang selesai waktu spanduk diturunkan dan panggung dibongkar. Perdamaian adalah pekerjaan yang harus diulang setiap hari, masa.

Mendengarkan, memahami, memaafkan, bertemu dan yang paling sulit, bersedia melihat orang lain sebagai manusia, tanpa sekat, sebelum melihat perbedaan yang melekat padanya.

Arsjad Rasjid, Founder 5P Global Movement, menyebut penghargaan ini lebih dari sekadar piala. Tentunya, diharapkan menjadi katalis agar kisah-kisah yang disebarkan dapat memicu lebih banyak inisiatif di seluruh Asia Tenggara.

Pesannya terasa sejuk, indah. Sebab kawasan Asia ini hidup dari keberagaman. Bahasa, budaya, agama, sejarah berbeda. Saatnya menjadikan perbedaan bukan alasan untuk saling mencurigai, melainkan kekuatan untuk saling melengkapi. Keberagaman bukan selalu ancaman. Kadang justru di sanalah kekuatan terbesar bersembunyi.

Tahun ini, penghargaan utama diberikan kepada Kardinal Orlando Beltran Quevedo dari Filipina. Dalam konteks Indonesia, Wawan Gunawan, Irfan Amalee, dan dr. Septi masuk jajaran Top 10 Nominee Harmony in Diversity Award 2026.

Kang Irfan Amalee, Co-Founder Peace Generation Indonesia, sangat dikenal luas melalui kerja-kerja pendidikan perdamaian dan toleransi. Tiga nama itu menjadi pengingat soal Indonesia memiliki banyak orang yang terus bekerja di ruang-ruang perdamaian. Mereka berbeda latar, cara, komunitas, tapi memiliki satu tujuan sama untuk membuat keberagaman tidak berubah menjadi pertengkaran. (CNN Indonesia Rabu, 15 Jul 2026 17:37 WIB dan www.beritabaru.asia)

Potret peserta saat sesi foto bersama dalam acara Open House: Kunjungan Rumah Ibadah yang diselenggarakan oleh Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (Jakatarub) pada Kamis, 4 Desember 2025 di Gereja Kristen Pasundan (GKP) Bandung (Sumber: Magang Ayobandung.com/Doni Setiawan)
Potret peserta saat sesi foto bersama dalam acara Open House: Kunjungan Rumah Ibadah yang diselenggarakan oleh Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (Jakatarub) pada Kamis, 4 Desember 2025 di Gereja Kristen Pasundan (GKP) Bandung (Sumber: Magang Ayobandung.com/Doni Setiawan)

Bergerak Menyemai Benih Keberagaman

Ada banyak orang lain yang menjadi paham ihwal interaksi dan pergaulan, persahabatan, pertemanan, bahkan percakapan, diskusi, dialog antara-iman itu sama sekali bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan, ditakuti, bukan pula harus dihindari, ditolak, dilawan.

Interaksi dan dialog antariman tidak bakal mengaburkan iman dan hidup keberagamaan siapa pun, melainkan akan lebih menguatkan dan memperteguh keyakinan imannya sendiri serta mendewasakannya sebagai seorang warga negara beradab yang paham konsitusi.

Dalam prolog #Dialog100, Wawan Gunawan, Koordinator Bandung Lautan Damai menegaskan ihwal pluralisme dan kita. Alkisah, Bu Haryono, tetangga depan rumahnya, diam-diam memberikan itu sebagai kado Natal buat si Mbak. Menariknya, Bu Haryono itu beragama Islam, yang sangat perhatian memikirkan sesuatu yang bisa menambah kebahagiaan tetangganya yang berlainan iman dalam perayaan hari besar keagamaan. Barangkali karena semuanya bersumber dari ketulusan hati apa yang diberikan begitu pas, klop dengan apa yang diinginkan.

Boleh jadi, kita menganggap itu hanya kebetulan. Tapi simpulan itu bisa berubah. Walhasil, ketika Bu Haryono dengan sengaja memasak secara khusus buat Mbak. Surprise, setelah secara diam-diam juga mengetahui Mbak menyukai satu jenis makanan.

Seratus kisah persahabatan lintas iman itu rasanya perlu dicatat baik-baik dalam lembar sejarah perjalanan kita, agar kesadaran kita terus terjaga bahwa orang Indonesia sudah sangat siap dan sangat terbiasa dengan yang namanya perbedaan. Masyarakat kita sejak dulu sudah selesai menyikapi perbedaan-perbedaan itu secara arif dalam bingkai keharmonisan alamiah yang penuh cinta. Tidak ada alasan untuk saling membenci. Pluralitas itu sudah menjadi makanan keseharian kita. Mengingkari kemajemukan itu artinya mengingkari kenyataan dalam hidup ini.

Ketika di terjadi penyerangan terhadap kelompok Ahmadiyah secara anarkis, di belahan lain terjadi konflik SARA, dan di belahan Indonesia lainnya banyak terjadi aksi kekerasan mengatasnamakan agama, ini merupakan fenomena yang aneh karena bukan termasuk watak bangsa kita sesungguhnya.

Kalaupun peristiwa-peristiwa kekerasan itu secara faktual memang ada, jangan biarkan itu mengubur kisah-kisah kearifan kita yang jelita. Anggap itu godaan dari sekelompok oknum orang Indonesia yang ingin melukis wajah kita tidak sesuai dengan aslinya. Bhineka tunggal Ika yang kita jadikan falsafah oleh para founding father kita diambil dari khazanah akar sejarah kebudayaan kita sendiri. Itu artinya sudah sejak lama bangsa kita merupakan bangsa beradab. Dengan demikian, kita no problem dengan pluralisme. Pluralisme di Indonesia itu historis dan faktual, bukan konseptual.

"Terus terang, saya mengalami perkembangan pemikiran menjadi seorang pluralis ternyata bukan karena membaca Frithjof Schuon, Hans Kung, Bubber, John Hicks, tetapi tersentuh oleh banyak interaksi antara saya dengan teman-teman lintas agama di Jakatarub yang membuahkan cerita-cerita persahabatan penuh ketulusan. Jika saja satu cerita mendatangkan satu perubahan, maka selautan cerita akan menumbuhkan samudra perubahan," (Aphrem Risdo Simangunsong, Gabriella Ria Apriyani, dkk [Wiwin Siti Aminah R, editor], 2014:11-16).

Wawan Gunawan masuk 10 besar nominasi Harmony in Diversity Award 2026. (Sumber: www.beritabaru.asia)

Dalam liputan sosok Wawan Gunawan, Setia Semai Benih Keberagaman dijelaskan taman kemajemukan Indonesia tidak akan indah tanpa kerukunan. Untuk menjaganya, Kang Wawan  (40) getol membangun dialog antarumat beragama selama dua dasawarsa. Bersama rekan-rekannya, dia bergerak menyemai benih keberagaman untuk melahirkan generasi toleran.

Dialog itu dibangun lewat kerja sama antarkomunitas keagamaan dan budaya, dimulai dengan saling mengenal, berdiskusi, dan saling memahami. ”Tidak ada dialog antaragama tanpa dialog antarsahabat. Kalau sudah bersahabat, untuk bertanya sesuatu tentang hubungan keagamaan tidak akan tersinggung,” ujarnya. (Kompas, 29 Sep 2020)

Malam semakin larut. Spiderman yang digambar belum selesai. Kakang masih sibuk dengan pensil warnanya. Dengan menatap gambar di hadapannya. Tiba-tiba merasakan, suasana inilah cara paling sederhana dalam memahami perdamaian. Saat bocil menggambar tokoh yang disukainya.

Babah hanya menemani. Di tempat lain, kawan sedang bekerja merawat hubungan antarmanusia. Dua peristiwa yang tampaknya tidak berhubungan. Padahal justru saling berkaitan. Pasalnya, apa yang kita kerjakan hari ini akan menjadi dunia yang diwarisi anak-anak.

Bila hari ini kita mengajarkan kebencian, mereka akan mewarisi kebencian. Jika hari ini kita membiasakan ejekan terhadap perbedaan, mereka akan tumbuh dengan prasangka.

Namun, bila hari ini kita memperkenalkan persahabatan, dialog, toleransi, dan penghormatan terhadap sesama, niscaya mereka akan memiliki dunia yang sedikit lebih lapang, terbuka, tidak sempit, kaku.

Kakang, Aa memang belum memahami semua itu. Hanya tahu “Itu kan kawan Babah?”

Sungguh ungkapan polos itu justru membuat berpikir lebih jauh, jernih. Saat dewasa, yang paling diingat bukan penghargaan apa yang pernah diterima seseorang. Melainkan bagaimana orang-orang di zamannya memilih memperlakukan sesama setara.

Ingat, segala penghargaan bisa disimpan di lemari. Piala bisa berdebu. Piagam bisa menguning. Justru nilai-nilai kebaikan yang diwariskan kepada generasi berikutnya bisa hidup jauh lebih lama. Selamat untuk Kang Wawan, Kang Amalee, dan Septi.

Pokoknya, selamat bagi siapa saja yang masih percaya ihwal perbedaan tidak harus berakhir menjadi permusuhan. Teruslah berjalan. Sebab jalan perdamaian memang panjang. Kadang sunyi. Melelahkan.

Semuanya butuh dipupuk, dirawat agar tumbuh menjadi keberanian untuk saling memahami, mengerti dan peduli. Malam yang mulia sepi di Cibiru, saat menutup layar ponsel. Rupanya, Kakang masih asyik menggambar Spiderman. Sebaliknya, di luar sana, dunia sedang sibuk mencari pahlawan, validasi.

Padahal, pahlawan perdamaian tidak harus mengenakan jubah. Bisa saja seorang kawan yang memilih merawat persaudaraan. Pegiat yang tetap membuka pintu dialog saat orang lain memilih menutupnya rapat-rapat. Kita percaya berbeda bukan berarti bermusuhan, dihilangkan, disamakan.

Ingat, perdamaian tidak selalu dimulai dari pidato (khutbah keras) besar, tapi dari langkah kecil, mulai dari diri sendiri, pertemanan, percakapan, dialog, keberanian menerima segala perbedaan.

"Bah ini sudah menggambar Spiderman nya!"

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Sep 2026, 10:29

Spiderman, Perdamaian, dan Pahlawan

Segala penghargaan bisa disimpan di lemari. Piala bisa berdebu. Piagam bisa menguning. Justru nilai-nilai kebaikan yang diwariskan kepada generasi berikutnya bisa hidup jauh lebih lama. Selamat Kang!

Spider-Man: No Way Home menjadi tonggak baru penayangan film di era pandemi Covid-19 dengan memecahkan rekor penjualan di pekan debutnya. (Sumber: Columbia Pictures/Marvel Studios/Matt Kennedy)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 07:46

KDM Ada di Mana-mana, Jawa Barat Ada di Mana?

Sebesar apa pun panggung nasional yang dimasukinya, mandat KDM tetap berada di Jawa Barat.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 20:55

Adakah Solusi Masalah Kualitas Udara di Lingkungan Sekolah?

Sebagian besar sekolah negeri di Bandung masih mengandalkan ventilasi alami,

Ilustrasi masalah kualitas udara di ruang kelas di kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 17:41

200 Ikon Bandung #1 Mahanagari

Mahanagari pernah menjadi salah satu cara kreatif mengenalkan identitas dan kebanggaan terhadap Bandung melalui desain, komunitas, dan kearifan lokal.

Sebuah buku yang berjudul 200 ikon Bandung. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 15:30

Esti Bhakti Warapsari Representasi Perempuan Berdaya

Stigma perempuan tidak bisa masuk ke ruang yang maskulin, ternyata dapat dibantahkan. Tahun 1948 tepatnya tanggal 1 bulan September, merupakan sejarah yang tidak dapat terhapuskan.

Stigma perempuan tidak bisa masuk ke ruang yang maskulin, ternyata dapat dibantahkan. Tahun 1948 tepatnya tanggal 1 bulan September, merupakan sejarah yang tidak dapat terhapuskan. (Sumber: Pexels | Foto: Adi Pratama)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 13:35

Ketika Hutan Terbakar, Masa Depan Ikut Terbakar

Dampak terbesar dari kebakaran hutan adalah rusaknya lingkungan hidup. Hutan pada hakikatnya adalah sistem kehidupan secara simultan, maka keseimbangan ekologis juga adalah bagian masa depan.

Ilustrasi kebakaran hutan. (Sumber: Pexels | Foto: José Luis Photographer)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 12:04

Dampak Depresiasi Rupiah Terhadap Ketahanan Operasional dan Profitabilitas UMKM

Penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika merupakan sebuah fenomena ekonomi yang krusial yang sedang terjadi sekarang ini.

Penggunaan uang rupiah di ranah UMKM. (Sumber: Pexels | Foto: rakhmat suwandi)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 10:49

Wartawan Kok Minta Uang, Inilah yang Membuat Profesi Jurnalis Terancam

Sebuah kartu pers, nama media, dan kemungkinan sebuah berita yang ditayangkannya dapat menimbulkan tekanan sosial yang besar.

Aksi solidaritas atas kekerasan terhadap Jurnalis di Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 09:14

Pentingnya Penerapan Aset Tetap untuk Menjaga Keberlanjutan Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia

Banyak UMKM di Indonesia yang mengalami kerugian hingga berakhir bangkrut akibat minimnya pengetahuan dalam mengelola aset tetap.

Pedagang beras melayani pembeli di Pasar Sederhana, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 18:53

Perang Kata-Kata

Hal ini terjadi diantara perang bersenjata antara AS, Israel, dan Iran yang berlangsung sejak awal tahun 2026.

Peta yang memuat Timur Tengah, Asia Barat, dan Afrika, dengan Iran dan Israel di dalamnya. (Sumber: Pexels/Anthony Beck)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 17:05

‘Jomblo’: Kisah Lajang yang Mencari Cinta di Soreang, Banjaran, dan  Pangalengan

Kata jomblo diserap dari bahasa Sunda yang awalnya bermakna ‘gadis tua atau barang dagangan yang belum laku’.

Lagu "Jomblo" yang dipopulerkan dan diciptakan oleh Yayan Jatnika diperkirakan dirilis secara digital antara tahun 2016–2017 melalui album kompilasi “Pria Unggulan Pop Sunda”. (Sumber: Youtube)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 16:28

Membuka Nostalgia Lewat Kartu Pilihan Pendengar di Radio Bandung

Di balik kartu pilihan lagu dan suara penyiar, radio pada masanya menjadi ruang perjumpaan yang menghubungkan pendengar, persahabatan, dan kenangan hingga melampaui batas kota.

Sejumlah kartu pilihan pendengar yang pernah diterbitkan oleh berbagai stasiun radio sebagai bagian dari interaksi dan kedekatan radio dengan para pendengarnya. (Sumber: Foto dan dokumentasi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 15:58

Menjelajah Mozaik Budaya dan Rekonstruksi Genius Lokal Grobogan

Grobogan bukan sekadar wilayah agraris, melainkan mozaik sejarah dan budaya yang memperlihatkan bagaimana genius lokal membentuk ketahanan masyarakat, merawat keberagaman, dan peluang ekonomi.

Badiatul Muchlisin Asti sebagai penyunting buku menunjukkan buku berjudul "Mozaik Budaya Grobogan: Jejak Sejarah, Ritual, dan Legenda yang Abadi dalam Ingatan". (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Generate AI)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 13:54

Merefleksi Mitigasi Kebencanaan di Bulan Kemerdekaan

Rentetan bencana di bulan Agustus tahun 2026 ini mengingatkan kita bahwa mitigasi kebencanaan memerlukan pendekatan dan metode yang tepat, demi terwujudnya langkah mengantisipasi kebencanaan.

Pengunjung saat berwisata ke Tebing Keraton, Cimenyan, Kabupaten Bandung, yang berada di kawasan Sesar Lembang, Sabtu 27 April 2024 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 12:16

Cicaheum, Eka Jaya, dan Bungbulang

Cicaheum memang berhenti menjadi terminal bus AKAP dan AKDP. Eka Jaya hanya tinggal nama dalam ingatan. Bungbulang tetap menjadi kampung halaman yang selalu memanggil pulang.

Suasana warung di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: AyoBandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 10:49

Dipungut Rp600 Ribu Gara-gara Bikin Konten di Rumah Pengabdi Setan, Siapa Sebenarnya yang Diuntungkan?

Sebuah destinasi wisata bisa membayar iklan untuk memperoleh perhatian. Tetapi ia juga bisa memperoleh perhatian tanpa membayar media secara langsung.

Ilustrasi konten kreator di sebuah lokasi wisata. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)
Wisata & Kuliner 02 Sep 2026, 10:45

Panduan Wisata Kareumbi Cicalengka, Hutan Konservasi untuk Kemah Estetik Bandung Timur

Kareumbi Cicalengka menawarkan trekking hutan, penangkaran rusa, glamping, camping, dan wisata edukasi konservasi. Simak harga tiket, lokasi, dan jam bukanya.

Wisata Kareumbi Cicalengka. (Sumber: Google Review (Vina Rostiana))
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 08:03

Ketika Data Mengubah Nasib Keluarga

Perubahan desil, akses bansos dan PBI JK, hingga risiko pendidikan anak menunjukkan bahwa akurasi data perlindungan sosial bukan sekadar persoalan administratif.

Anak-anak memanfaatkan lorong rumah deret Tamansari untuk bermain, Sabtu 25 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Sep 2026, 18:08

Awal Penemuan Teh dan Awal Penanamannya di Indonesia

Tanaman teh pertama kali ditemukan di daratan Cina, diperkirakan di Provinsi Szechwan.

Petani memanen teh di perkebunan teh PTPN VIII, Rancabali, CIwidey, Kabupaten Bandung, Kamis 13 November 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 01 Sep 2026, 17:11

September Ceria, Ikoniknya Vina Panduwinata

Nama bulan September melambungkan dengan tinggi nama Penyanyi Vina Panduwinata.

Vina Panduwinata. (Sumber: Musica Studio)