Malam yang dingin menyelimuti Babakan Dangdeur Cibiru dan sekitarnya. Saat asyik menggambar Spiderman bersama Kakang, anak ketiga (5 tahun). Sesekali bertanya tentang warna, bentuk, dan bagian mana yang harus diberi pensil merah.
Rupanya, di tengah keasyikan itu, ponsel tiba-tiba bergetar. Ada pesan WhatsApp masuk dari kawan lama. Minta izin membagikan berita, lengkap dengan tautan tentang penghargaan atas perjuangan yang selama ini dijalaninya.
Waktu membuka tautannya yang belum selesai dibaca sampai akhir, Aa Akil anak kedua ikut melongok ke layar. Matanya tertuju pada foto yang memegang cinderamata. “Itu kan kawan Babah?” Jarinya menunjuk wajah Kang Wawan yang biasa disapanya.
“Muhun,” jawabku.
Sesederhana itu. Bagi Aa Akil, Kang Wawan hanya “kawan Babah”. Tidak lebih. Tentunya, belum mengenal istilah aktivis perdamaian, kohesi sosial, toleransi, keberagaman, apalagi penghargaan tingkat Asia Tenggara.
Sungguh malam itu, tanpa disadari, sedang melihat cerita tentang bagaimana perjuangan, berjibaku seseorang memilih jalan hidup dengan merawat perdamaian di tengah dunia yang tidak pernah benar-benar sepi dari perbedaan, pertentangan, konflik, hingga dianggap antek-antek asing dan aseng.
Saat membalas pesan Kang Wawan. “Ashiap, dibungkus.”
Kalimat pendek. Gaya percakapan dengan kawan lama. Padahal, di baliknya ada rasa bangga dan perintah yang tak langsung untuk menulis jejak penghargaan membanggakan biar tidak menguap begitu saja.

Mengelola Keragaman, Merayakan Perbedaan
Wawan Gunawan, dikenal sebagai penggerak perdamaian Jawa Barat, pembina Jaringan Kerja Antarumat Beragama (Jakatarub), pendiri PSPP Nawang Wulang, berhasil masuk dalam jajaran shortlisted nominee Harmony in Diversity Award 2026.
Menariknya, dari sekitar 70 aktivis perdamaian di Asia Tenggara, terpilih 10 besar. Kang Wawan menjadi salah satu di antaranya. Bersama dua nama lain dari Indonesia, Irfan Amalee Co-Founder of Peace Generation Indonesia, dan dr. Septi dari Medan.
“Ini penghargaan tingkat Asia Tenggara,” jelas Kang Wawan dalam pesannya. “Diselenggarakan oleh Yayasan Temasek Singapore dan 5P Global. Jurinya terdiri dari beberapa mantan menteri luar negeri, termasuk mantan Menlu Indonesia, Bu Retno Marsudi.”
Waktu membaca perlahan. Ada sesuatu yang menarik dari kabar menggembirakan. Ya, bukan hanya karena penghargaan itu datang dari tingkat Asia Tenggara. Pasalnya, kerja (pegiat) perdamaian sering kali berlangsung dalam kesunyian.
Orang-orang seperti Kang Wawan tidak selalu muncul di halaman depan. Tak setiap hari berdiri di atas panggung. Apalagi semua kerjanya menjadi berita (viral), tetapi ada, hadir, membersamai, mengadvokasi saat perbedaan membutuhkan jembatan. Datang ketika prasangka membutuhkan percakapan. Memilih bertemu dengan korban saat sebagian orang lebih nyaman saling menjauh. Dalam susana itulah kerja perdamaian menjadi penting.
Harmony in Diversity Award sendiri merupakan penghargaan bagi individu-individu yang berkomitmen memupuk kohesi, harmoni sosial dan menjadi inspirasi bagi komunitas di seluruh Asia Tenggara.
Patron penghargaan ini Halimah Yacob, mantan Presiden Singapura. Dengan jajaran jurinya Retno Marsudi, mantan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia; Tunku Aminah Maimunah Iskandariah; Joy Belmonte, Wali Kota Quezon; Panote Sirivadhanabhakdi, Group CEO Frasers Property Limited; dan Ng Boon Heong, Executive Director & CEO Temasek Foundation.
Nama-nama besar itu tentu memberikan bobot tersendiri. Penghargaan sesungguhnya bukan terletak pada siapa yang menyerahkan piala. Justru berada pada kerja panjang yang membuat seseorang layak dinominasikan.
Ingat, perdamaian tidak pernah selesai dalam satu malam. Bukan proyek lima tahun. Program yang selesai waktu spanduk diturunkan dan panggung dibongkar. Perdamaian adalah pekerjaan yang harus diulang setiap hari, masa.
Mendengarkan, memahami, memaafkan, bertemu dan yang paling sulit, bersedia melihat orang lain sebagai manusia, tanpa sekat, sebelum melihat perbedaan yang melekat padanya.
Arsjad Rasjid, Founder 5P Global Movement, menyebut penghargaan ini lebih dari sekadar piala. Tentunya, diharapkan menjadi katalis agar kisah-kisah yang disebarkan dapat memicu lebih banyak inisiatif di seluruh Asia Tenggara.
Pesannya terasa sejuk, indah. Sebab kawasan Asia ini hidup dari keberagaman. Bahasa, budaya, agama, sejarah berbeda. Saatnya menjadikan perbedaan bukan alasan untuk saling mencurigai, melainkan kekuatan untuk saling melengkapi. Keberagaman bukan selalu ancaman. Kadang justru di sanalah kekuatan terbesar bersembunyi.
Tahun ini, penghargaan utama diberikan kepada Kardinal Orlando Beltran Quevedo dari Filipina. Dalam konteks Indonesia, Wawan Gunawan, Irfan Amalee, dan dr. Septi masuk jajaran Top 10 Nominee Harmony in Diversity Award 2026.
Kang Irfan Amalee, Co-Founder Peace Generation Indonesia, sangat dikenal luas melalui kerja-kerja pendidikan perdamaian dan toleransi. Tiga nama itu menjadi pengingat soal Indonesia memiliki banyak orang yang terus bekerja di ruang-ruang perdamaian. Mereka berbeda latar, cara, komunitas, tapi memiliki satu tujuan sama untuk membuat keberagaman tidak berubah menjadi pertengkaran. (CNN Indonesia Rabu, 15 Jul 2026 17:37 WIB dan www.beritabaru.asia)

Bergerak Menyemai Benih Keberagaman
Ada banyak orang lain yang menjadi paham ihwal interaksi dan pergaulan, persahabatan, pertemanan, bahkan percakapan, diskusi, dialog antara-iman itu sama sekali bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan, ditakuti, bukan pula harus dihindari, ditolak, dilawan.
Interaksi dan dialog antariman tidak bakal mengaburkan iman dan hidup keberagamaan siapa pun, melainkan akan lebih menguatkan dan memperteguh keyakinan imannya sendiri serta mendewasakannya sebagai seorang warga negara beradab yang paham konsitusi.
Dalam prolog #Dialog100, Wawan Gunawan, Koordinator Bandung Lautan Damai menegaskan ihwal pluralisme dan kita. Alkisah, Bu Haryono, tetangga depan rumahnya, diam-diam memberikan itu sebagai kado Natal buat si Mbak. Menariknya, Bu Haryono itu beragama Islam, yang sangat perhatian memikirkan sesuatu yang bisa menambah kebahagiaan tetangganya yang berlainan iman dalam perayaan hari besar keagamaan. Barangkali karena semuanya bersumber dari ketulusan hati apa yang diberikan begitu pas, klop dengan apa yang diinginkan.
Boleh jadi, kita menganggap itu hanya kebetulan. Tapi simpulan itu bisa berubah. Walhasil, ketika Bu Haryono dengan sengaja memasak secara khusus buat Mbak. Surprise, setelah secara diam-diam juga mengetahui Mbak menyukai satu jenis makanan.
Seratus kisah persahabatan lintas iman itu rasanya perlu dicatat baik-baik dalam lembar sejarah perjalanan kita, agar kesadaran kita terus terjaga bahwa orang Indonesia sudah sangat siap dan sangat terbiasa dengan yang namanya perbedaan. Masyarakat kita sejak dulu sudah selesai menyikapi perbedaan-perbedaan itu secara arif dalam bingkai keharmonisan alamiah yang penuh cinta. Tidak ada alasan untuk saling membenci. Pluralitas itu sudah menjadi makanan keseharian kita. Mengingkari kemajemukan itu artinya mengingkari kenyataan dalam hidup ini.
Ketika di terjadi penyerangan terhadap kelompok Ahmadiyah secara anarkis, di belahan lain terjadi konflik SARA, dan di belahan Indonesia lainnya banyak terjadi aksi kekerasan mengatasnamakan agama, ini merupakan fenomena yang aneh karena bukan termasuk watak bangsa kita sesungguhnya.
Kalaupun peristiwa-peristiwa kekerasan itu secara faktual memang ada, jangan biarkan itu mengubur kisah-kisah kearifan kita yang jelita. Anggap itu godaan dari sekelompok oknum orang Indonesia yang ingin melukis wajah kita tidak sesuai dengan aslinya. Bhineka tunggal Ika yang kita jadikan falsafah oleh para founding father kita diambil dari khazanah akar sejarah kebudayaan kita sendiri. Itu artinya sudah sejak lama bangsa kita merupakan bangsa beradab. Dengan demikian, kita no problem dengan pluralisme. Pluralisme di Indonesia itu historis dan faktual, bukan konseptual.
"Terus terang, saya mengalami perkembangan pemikiran menjadi seorang pluralis ternyata bukan karena membaca Frithjof Schuon, Hans Kung, Bubber, John Hicks, tetapi tersentuh oleh banyak interaksi antara saya dengan teman-teman lintas agama di Jakatarub yang membuahkan cerita-cerita persahabatan penuh ketulusan. Jika saja satu cerita mendatangkan satu perubahan, maka selautan cerita akan menumbuhkan samudra perubahan," (Aphrem Risdo Simangunsong, Gabriella Ria Apriyani, dkk [Wiwin Siti Aminah R, editor], 2014:11-16).

Dalam liputan sosok Wawan Gunawan, Setia Semai Benih Keberagaman dijelaskan taman kemajemukan Indonesia tidak akan indah tanpa kerukunan. Untuk menjaganya, Kang Wawan (40) getol membangun dialog antarumat beragama selama dua dasawarsa. Bersama rekan-rekannya, dia bergerak menyemai benih keberagaman untuk melahirkan generasi toleran.
Dialog itu dibangun lewat kerja sama antarkomunitas keagamaan dan budaya, dimulai dengan saling mengenal, berdiskusi, dan saling memahami. ”Tidak ada dialog antaragama tanpa dialog antarsahabat. Kalau sudah bersahabat, untuk bertanya sesuatu tentang hubungan keagamaan tidak akan tersinggung,” ujarnya. (Kompas, 29 Sep 2020)
Malam semakin larut. Spiderman yang digambar belum selesai. Kakang masih sibuk dengan pensil warnanya. Dengan menatap gambar di hadapannya. Tiba-tiba merasakan, suasana inilah cara paling sederhana dalam memahami perdamaian. Saat bocil menggambar tokoh yang disukainya.
Babah hanya menemani. Di tempat lain, kawan sedang bekerja merawat hubungan antarmanusia. Dua peristiwa yang tampaknya tidak berhubungan. Padahal justru saling berkaitan. Pasalnya, apa yang kita kerjakan hari ini akan menjadi dunia yang diwarisi anak-anak.
Bila hari ini kita mengajarkan kebencian, mereka akan mewarisi kebencian. Jika hari ini kita membiasakan ejekan terhadap perbedaan, mereka akan tumbuh dengan prasangka.
Namun, bila hari ini kita memperkenalkan persahabatan, dialog, toleransi, dan penghormatan terhadap sesama, niscaya mereka akan memiliki dunia yang sedikit lebih lapang, terbuka, tidak sempit, kaku.
Kakang, Aa memang belum memahami semua itu. Hanya tahu “Itu kan kawan Babah?”
Sungguh ungkapan polos itu justru membuat berpikir lebih jauh, jernih. Saat dewasa, yang paling diingat bukan penghargaan apa yang pernah diterima seseorang. Melainkan bagaimana orang-orang di zamannya memilih memperlakukan sesama setara.
Ingat, segala penghargaan bisa disimpan di lemari. Piala bisa berdebu. Piagam bisa menguning. Justru nilai-nilai kebaikan yang diwariskan kepada generasi berikutnya bisa hidup jauh lebih lama. Selamat untuk Kang Wawan, Kang Amalee, dan Septi.
Pokoknya, selamat bagi siapa saja yang masih percaya ihwal perbedaan tidak harus berakhir menjadi permusuhan. Teruslah berjalan. Sebab jalan perdamaian memang panjang. Kadang sunyi. Melelahkan.

Semuanya butuh dipupuk, dirawat agar tumbuh menjadi keberanian untuk saling memahami, mengerti dan peduli. Malam yang mulia sepi di Cibiru, saat menutup layar ponsel. Rupanya, Kakang masih asyik menggambar Spiderman. Sebaliknya, di luar sana, dunia sedang sibuk mencari pahlawan, validasi.
Padahal, pahlawan perdamaian tidak harus mengenakan jubah. Bisa saja seorang kawan yang memilih merawat persaudaraan. Pegiat yang tetap membuka pintu dialog saat orang lain memilih menutupnya rapat-rapat. Kita percaya berbeda bukan berarti bermusuhan, dihilangkan, disamakan.
Ingat, perdamaian tidak selalu dimulai dari pidato (khutbah keras) besar, tapi dari langkah kecil, mulai dari diri sendiri, pertemanan, percakapan, dialog, keberanian menerima segala perbedaan.
"Bah ini sudah menggambar Spiderman nya!"