Spiderman, Perdamaian, dan Pahlawan

8 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Spider-Man: No Way Home menjadi tonggak baru penayangan film di era pandemi Covid-19 dengan memecahkan rekor penjualan di pekan debutnya. (Sumber: Columbia Pictures/Marvel Studios/Matt Kennedy)
Spider-Man: No Way Home menjadi tonggak baru penayangan film di era pandemi Covid-19 dengan memecahkan rekor penjualan di pekan debutnya. (Sumber: Columbia Pictures/Marvel Studios/Matt Kennedy)

Malam yang dingin menyelimuti Babakan Dangdeur Cibiru dan sekitarnya. Saat asyik menggambar Spiderman bersama Kakang, anak ketiga (5 tahun). Sesekali bertanya tentang warna, bentuk, dan bagian mana yang harus diberi pensil merah.

Rupanya, di tengah keasyikan itu, ponsel tiba-tiba bergetar. Ada pesan WhatsApp masuk dari kawan lama. Minta izin membagikan berita, lengkap dengan tautan tentang penghargaan atas perjuangan yang selama ini dijalaninya.

Waktu membuka tautannya yang belum selesai dibaca sampai akhir, Aa Akil anak kedua ikut melongok ke layar. Matanya tertuju pada foto yang memegang cinderamata. “Itu kan kawan Babah?” Jarinya menunjuk wajah Kang Wawan yang biasa disapanya.

“Muhun,” jawabku.

Sesederhana itu. Bagi Aa Akil, Kang Wawan hanya “kawan Babah”. Tidak lebih. Tentunya, belum mengenal istilah aktivis perdamaian, kohesi sosial, toleransi, keberagaman, apalagi penghargaan tingkat Asia Tenggara.

Sungguh malam itu, tanpa disadari, sedang melihat cerita tentang bagaimana perjuangan, berjibaku seseorang memilih jalan hidup dengan merawat perdamaian di tengah dunia yang tidak pernah benar-benar sepi dari perbedaan, pertentangan, konflik, hingga dianggap antek-antek asing dan aseng.

Saat membalas pesan Kang Wawan. “Ashiap, dibungkus.”

Kalimat pendek. Gaya percakapan dengan kawan lama. Padahal, di baliknya ada rasa bangga dan perintah yang tak langsung untuk menulis jejak penghargaan membanggakan biar tidak menguap begitu saja.

Wawan Gunawan, Irfan Amalee, dan dr. Septi masuk jajaran Top 10 Nominee Harmony in Diversity Award 2026. (Foto: Instagram @psppnawangwulan)
Wawan Gunawan, Irfan Amalee, dan dr. Septi masuk jajaran Top 10 Nominee Harmony in Diversity Award 2026. (Foto: Instagram @psppnawangwulan)

Mengelola Keragaman, Merayakan Perbedaan

Wawan Gunawan, dikenal sebagai penggerak perdamaian Jawa Barat, pembina Jaringan Kerja Antarumat Beragama (Jakatarub), pendiri PSPP Nawang Wulang, berhasil masuk dalam jajaran shortlisted nominee Harmony in Diversity Award 2026.

Menariknya, dari sekitar 70 aktivis perdamaian di Asia Tenggara, terpilih 10 besar. Kang Wawan menjadi salah satu di antaranya. Bersama dua nama lain dari Indonesia, Irfan Amalee Co-Founder of Peace Generation Indonesia, dan dr. Septi dari Medan.

“Ini penghargaan tingkat Asia Tenggara,” jelas Kang Wawan dalam pesannya. “Diselenggarakan oleh Yayasan Temasek Singapore dan 5P Global. Jurinya terdiri dari beberapa mantan menteri luar negeri, termasuk mantan Menlu Indonesia, Bu Retno Marsudi.”

Waktu membaca perlahan. Ada sesuatu yang menarik dari kabar menggembirakan. Ya, bukan hanya karena penghargaan itu datang dari tingkat Asia Tenggara. Pasalnya, kerja (pegiat) perdamaian sering kali berlangsung dalam kesunyian.

Orang-orang seperti Kang Wawan tidak selalu muncul di halaman depan. Tak setiap hari berdiri di atas panggung. Apalagi semua kerjanya menjadi berita (viral), tetapi ada, hadir, membersamai, mengadvokasi saat perbedaan membutuhkan jembatan. Datang ketika prasangka membutuhkan percakapan. Memilih bertemu dengan korban saat sebagian orang lebih nyaman saling menjauh. Dalam susana itulah kerja perdamaian menjadi penting.

Harmony in Diversity Award sendiri merupakan penghargaan bagi individu-individu yang berkomitmen memupuk kohesi, harmoni sosial dan menjadi inspirasi bagi komunitas di seluruh Asia Tenggara.

Patron penghargaan ini Halimah Yacob, mantan Presiden Singapura. Dengan jajaran jurinya Retno Marsudi, mantan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia; Tunku Aminah Maimunah Iskandariah; Joy Belmonte, Wali Kota Quezon; Panote Sirivadhanabhakdi, Group CEO Frasers Property Limited; dan Ng Boon Heong, Executive Director & CEO Temasek Foundation.

Nama-nama besar itu tentu memberikan bobot tersendiri. Penghargaan sesungguhnya bukan terletak pada siapa yang menyerahkan piala. Justru berada pada kerja panjang yang membuat seseorang layak dinominasikan.

Ingat, perdamaian tidak pernah selesai dalam satu malam. Bukan proyek lima tahun. Program yang selesai waktu spanduk diturunkan dan panggung dibongkar. Perdamaian adalah pekerjaan yang harus diulang setiap hari, masa.

Mendengarkan, memahami, memaafkan, bertemu dan yang paling sulit, bersedia melihat orang lain sebagai manusia, tanpa sekat, sebelum melihat perbedaan yang melekat padanya.

Arsjad Rasjid, Founder 5P Global Movement, menyebut penghargaan ini lebih dari sekadar piala. Tentunya, diharapkan menjadi katalis agar kisah-kisah yang disebarkan dapat memicu lebih banyak inisiatif di seluruh Asia Tenggara.

Pesannya terasa sejuk, indah. Sebab kawasan Asia ini hidup dari keberagaman. Bahasa, budaya, agama, sejarah berbeda. Saatnya menjadikan perbedaan bukan alasan untuk saling mencurigai, melainkan kekuatan untuk saling melengkapi. Keberagaman bukan selalu ancaman. Kadang justru di sanalah kekuatan terbesar bersembunyi.

Tahun ini, penghargaan utama diberikan kepada Kardinal Orlando Beltran Quevedo dari Filipina. Dalam konteks Indonesia, Wawan Gunawan, Irfan Amalee, dan dr. Septi masuk jajaran Top 10 Nominee Harmony in Diversity Award 2026.

Kang Irfan Amalee, Co-Founder Peace Generation Indonesia, sangat dikenal luas melalui kerja-kerja pendidikan perdamaian dan toleransi. Tiga nama itu menjadi pengingat soal Indonesia memiliki banyak orang yang terus bekerja di ruang-ruang perdamaian. Mereka berbeda latar, cara, komunitas, tapi memiliki satu tujuan sama untuk membuat keberagaman tidak berubah menjadi pertengkaran. (CNN Indonesia Rabu, 15 Jul 2026 17:37 WIB dan www.beritabaru.asia)

Potret peserta saat sesi foto bersama dalam acara Open House: Kunjungan Rumah Ibadah yang diselenggarakan oleh Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (Jakatarub) pada Kamis, 4 Desember 2025 di Gereja Kristen Pasundan (GKP) Bandung (Sumber: Magang Ayobandung.com/Doni Setiawan)
Potret peserta saat sesi foto bersama dalam acara Open House: Kunjungan Rumah Ibadah yang diselenggarakan oleh Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (Jakatarub) pada Kamis, 4 Desember 2025 di Gereja Kristen Pasundan (GKP) Bandung (Sumber: Magang Ayobandung.com/Doni Setiawan)

Bergerak Menyemai Benih Keberagaman

Ada banyak orang lain yang menjadi paham ihwal interaksi dan pergaulan, persahabatan, pertemanan, bahkan percakapan, diskusi, dialog antara-iman itu sama sekali bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan, ditakuti, bukan pula harus dihindari, ditolak, dilawan.

Interaksi dan dialog antariman tidak bakal mengaburkan iman dan hidup keberagamaan siapa pun, melainkan akan lebih menguatkan dan memperteguh keyakinan imannya sendiri serta mendewasakannya sebagai seorang warga negara beradab yang paham konsitusi.

Dalam prolog #Dialog100, Wawan Gunawan, Koordinator Bandung Lautan Damai menegaskan ihwal pluralisme dan kita. Alkisah, Bu Haryono, tetangga depan rumahnya, diam-diam memberikan itu sebagai kado Natal buat si Mbak. Menariknya, Bu Haryono itu beragama Islam, yang sangat perhatian memikirkan sesuatu yang bisa menambah kebahagiaan tetangganya yang berlainan iman dalam perayaan hari besar keagamaan. Barangkali karena semuanya bersumber dari ketulusan hati apa yang diberikan begitu pas, klop dengan apa yang diinginkan.

Boleh jadi, kita menganggap itu hanya kebetulan. Tapi simpulan itu bisa berubah. Walhasil, ketika Bu Haryono dengan sengaja memasak secara khusus buat Mbak. Surprise, setelah secara diam-diam juga mengetahui Mbak menyukai satu jenis makanan.

Seratus kisah persahabatan lintas iman itu rasanya perlu dicatat baik-baik dalam lembar sejarah perjalanan kita, agar kesadaran kita terus terjaga bahwa orang Indonesia sudah sangat siap dan sangat terbiasa dengan yang namanya perbedaan. Masyarakat kita sejak dulu sudah selesai menyikapi perbedaan-perbedaan itu secara arif dalam bingkai keharmonisan alamiah yang penuh cinta. Tidak ada alasan untuk saling membenci. Pluralitas itu sudah menjadi makanan keseharian kita. Mengingkari kemajemukan itu artinya mengingkari kenyataan dalam hidup ini.

Ketika di terjadi penyerangan terhadap kelompok Ahmadiyah secara anarkis, di belahan lain terjadi konflik SARA, dan di belahan Indonesia lainnya banyak terjadi aksi kekerasan mengatasnamakan agama, ini merupakan fenomena yang aneh karena bukan termasuk watak bangsa kita sesungguhnya.

Kalaupun peristiwa-peristiwa kekerasan itu secara faktual memang ada, jangan biarkan itu mengubur kisah-kisah kearifan kita yang jelita. Anggap itu godaan dari sekelompok oknum orang Indonesia yang ingin melukis wajah kita tidak sesuai dengan aslinya. Bhineka tunggal Ika yang kita jadikan falsafah oleh para founding father kita diambil dari khazanah akar sejarah kebudayaan kita sendiri. Itu artinya sudah sejak lama bangsa kita merupakan bangsa beradab. Dengan demikian, kita no problem dengan pluralisme. Pluralisme di Indonesia itu historis dan faktual, bukan konseptual.

"Terus terang, saya mengalami perkembangan pemikiran menjadi seorang pluralis ternyata bukan karena membaca Frithjof Schuon, Hans Kung, Bubber, John Hicks, tetapi tersentuh oleh banyak interaksi antara saya dengan teman-teman lintas agama di Jakatarub yang membuahkan cerita-cerita persahabatan penuh ketulusan. Jika saja satu cerita mendatangkan satu perubahan, maka selautan cerita akan menumbuhkan samudra perubahan," (Aphrem Risdo Simangunsong, Gabriella Ria Apriyani, dkk [Wiwin Siti Aminah R, editor], 2014:11-16).

Wawan Gunawan masuk 10 besar nominasi Harmony in Diversity Award 2026. (Sumber: www.beritabaru.asia)

Dalam liputan sosok Wawan Gunawan, Setia Semai Benih Keberagaman dijelaskan taman kemajemukan Indonesia tidak akan indah tanpa kerukunan. Untuk menjaganya, Kang Wawan  (40) getol membangun dialog antarumat beragama selama dua dasawarsa. Bersama rekan-rekannya, dia bergerak menyemai benih keberagaman untuk melahirkan generasi toleran.

Dialog itu dibangun lewat kerja sama antarkomunitas keagamaan dan budaya, dimulai dengan saling mengenal, berdiskusi, dan saling memahami. ”Tidak ada dialog antaragama tanpa dialog antarsahabat. Kalau sudah bersahabat, untuk bertanya sesuatu tentang hubungan keagamaan tidak akan tersinggung,” ujarnya. (Kompas, 29 Sep 2020)

Malam semakin larut. Spiderman yang digambar belum selesai. Kakang masih sibuk dengan pensil warnanya. Dengan menatap gambar di hadapannya. Tiba-tiba merasakan, suasana inilah cara paling sederhana dalam memahami perdamaian. Saat bocil menggambar tokoh yang disukainya.

Babah hanya menemani. Di tempat lain, kawan sedang bekerja merawat hubungan antarmanusia. Dua peristiwa yang tampaknya tidak berhubungan. Padahal justru saling berkaitan. Pasalnya, apa yang kita kerjakan hari ini akan menjadi dunia yang diwarisi anak-anak.

Bila hari ini kita mengajarkan kebencian, mereka akan mewarisi kebencian. Jika hari ini kita membiasakan ejekan terhadap perbedaan, mereka akan tumbuh dengan prasangka.

Namun, bila hari ini kita memperkenalkan persahabatan, dialog, toleransi, dan penghormatan terhadap sesama, niscaya mereka akan memiliki dunia yang sedikit lebih lapang, terbuka, tidak sempit, kaku.

Kakang, Aa memang belum memahami semua itu. Hanya tahu “Itu kan kawan Babah?”

Sungguh ungkapan polos itu justru membuat berpikir lebih jauh, jernih. Saat dewasa, yang paling diingat bukan penghargaan apa yang pernah diterima seseorang. Melainkan bagaimana orang-orang di zamannya memilih memperlakukan sesama setara.

Ingat, segala penghargaan bisa disimpan di lemari. Piala bisa berdebu. Piagam bisa menguning. Justru nilai-nilai kebaikan yang diwariskan kepada generasi berikutnya bisa hidup jauh lebih lama. Selamat untuk Kang Wawan, Kang Amalee, dan Septi.

Pokoknya, selamat bagi siapa saja yang masih percaya ihwal perbedaan tidak harus berakhir menjadi permusuhan. Teruslah berjalan. Sebab jalan perdamaian memang panjang. Kadang sunyi. Melelahkan.

Semuanya butuh dipupuk, dirawat agar tumbuh menjadi keberanian untuk saling memahami, mengerti dan peduli. Malam yang mulia sepi di Cibiru, saat menutup layar ponsel. Rupanya, Kakang masih asyik menggambar Spiderman. Sebaliknya, di luar sana, dunia sedang sibuk mencari pahlawan, validasi.

Padahal, pahlawan perdamaian tidak harus mengenakan jubah. Bisa saja seorang kawan yang memilih merawat persaudaraan. Pegiat yang tetap membuka pintu dialog saat orang lain memilih menutupnya rapat-rapat. Kita percaya berbeda bukan berarti bermusuhan, dihilangkan, disamakan.

Ingat, perdamaian tidak selalu dimulai dari pidato (khutbah keras) besar, tapi dari langkah kecil, mulai dari diri sendiri, pertemanan, percakapan, dialog, keberanian menerima segala perbedaan.

"Bah ini sudah menggambar Spiderman nya!"

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)