KDM Ada di Mana-mana, Jawa Barat Ada di Mana?

5 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

TAK lama setelah kelar menyambangi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memberikan bantuan kepada para korban gempa, Gubernur Jawa Barat,  Kang Dedi Mulyadi (KDM), kemudian menyempatkan pula untuk bertemu dengan sejumlah tokoh dari Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) di kediamannya, Lembur Pakuan, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Pertemuan KDM tersebut lantas menjadi konsumsi publik yang jauh lebih luas daripada persoalan Pati itu sendiri.

Ditilik dari sudut komunikasi politik, langkah KDM itu masuk di akal dan sah-sah saja. Politik membutuhkan perhatian. Dan KDM paham cara mendapatkan perhatian itu.

Selama ini, KDM  dikenal punya gaya komunikasi yang mudah dicerna. Tidak terlalu birokratis. Tidak banyak istilah langit. Lebih banyak percakapan langsung. Lebih banyak perjumpaan dengan warga. Tentu, ditambah sorotan kamera dan distribusi konten di media sosial.

Hasilnya, bisa kita tebak sama-sama: KDM hadir di mana-mana. Tak cuma lokal, tapi juga nasional.

Pertanyaannya, kalau seorang gubernur kian sering hadir dalam persoalan nasional, apakah itu berarti kepemimpinannya semakin besar? Atau jangan-jangan perhatian publik sedang bergeser dari apa yang dikerjakan pemerintah pusat menjadi apa yang dilakukan seorang gubernur?

Boleh bicara

Seorang gubernur tentu boleh berbicara tentang persoalan nasional. Tidak ada larangan. Juga tidak ada yang melarang. Persoalan nasional merupakan persoalan bersama. Lagi pula, banyak masalah nasional akhirnya bermuara di daerah.

Karena itu, kritik terhadap KDM bukan seharusnya berbunyi: Gubernur Jawa Barat kok mengurusi daerah lain. Kritik yang boleh jadi lebih menarik adalah: berapa banyak energi politik seorang gubernur seharusnya digunakan untuk panggung nasional, dan berapa banyak untuk daerahnya sendiri.

Jawa Barat bukanlah daerah kecil. Penduduknya puluhan juta. Masalahnya juga bukan main-main. Pendidikan, kemiskinan, pengangguran, transportasi, lingkungan, tata ruang, kesehatan, banjir, sampah, ketimpangan wilayah, sampai kualitas pelayanan publik semuanya menunggu pekerjaan yang tidak selalu menarik untuk disorot kamera dan diunggah di media sosial.

Mengurus birokrasi itu tidak menarik perhatian. Merapikan data tidak populer. Memperbaiki tata kelola tidak mengundang sorotan. Menyelesaikan persoalan sekolah selama tiga tahun juga tidak seksi. Hal-hal tersebut tidak mudah menjadi viral.

Tetapi, justru pekerjaan seperti itulah yang menentukan apakah sebuah pemerintahan berhasil atau gagal.

Di sisi lain, media sosial punya logika berbeda. Ia menyukai peristiwa. Menyukai konflik. Menyukai kejutan. Menyukai figur. Dan terutama menyukai sesuatu yang bisa ditonton sampai selesai.

Maka, lahirlah kemudian apa yang diistilahkan ekonomi perhatian. Dalam ekonomi model ini, perhatian adalah kekuatan. Siapa yang mendapatkan perhatian, mendapatkan ruang. Siapa yang mendapatkan ruang, mendapatkan pengenalan. Siapa yang terus dikenal, memiliki modal politik. KDM, sejauh ini, tampaknya cukup berhasil bermain di ruang itu.

Namun, kita juga perlu ingat. Apa yang viral belum tentu penting. Apa yang penting belum tentu viral. Dan apa yang viral hari ini belum tentu masih diingat tiga bulan kemudian. Itulah sebabnya popularitas tidak boleh disama-sebangunkan dengan keberhasilan politik.

Popularitas terkait dengan seberapa banyak orang mengenal. Adapun elektabilitas terkiat dengan berapa banyak orang yang bersedia memilih. Adapun akseptabilitas terkait dengan berapa banyak yang mau menerima. 

Seorang politisi bisa sangat populer tetapi sekaligus sangat kontroversial. Bisa sering dibicarakan tetapi tidak selalu dipercaya. Bisa memiliki jutaan penonton tetapi tidak otomatis memiliki jutaan pemilih.

Karena itu, ketika sosok gubernur menjadi bintang nasional, maka itu sama sekali bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika status sebagai bintang nasional mulai mengalahkan status sebagai gubernur.

Bagaimanapun, ketika figur personal terlalu kuat, institusi bakal tenggelam. Walhasil, orang tidak lagi bertanya ihwal apa yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, melainkan bertanya ihwal apa yang dilakukan KDM.

Sekilas, memang tidak ada persoalan. Tetapi, dalam pemerintahan demokratis, ini bisa menjadi problem. Pasalnya, gubernur hanya satu orang. Adapun pemerintahan adalah institusi.

Pilihan yang menarik

Jawa Barat tidak boleh bergantung pada energi dan popularitas satu sosok figur. Kalau semua keberhasilan pemerintah melekat pada personal branding gubernur, lalu apa yang terjadi ketika gubernurnya berganti?

Figur bisa membuat orang tertarik. Institusi membuat kebijakan bertahan. Figur bisa membuat orang datang. Institusi membuat pelayanan berjalan. Figur bisa membuat sebuah masalah viral. Institusilah yang harus mampu menyelesaikannya.

Popularitas nasional KDM sendiri bisa menjadi aset nan berharga. Seorang gubernur yang dikenal secara nasional mempunyai akses perhatian yang lebih besar. Ia bisa membawa kepentingan Jawa Barat ke panggung nasional. Bisa membangun jejaring lebih luas. Bisa menarik perhatian pemerintah pusat. Bisa juga mengangkat persoalan daerah yang selama ini tenggelam tak pernah tersentuh oleh siapa pun.

Rakyat tidak memilih gubernur untuk menjadi sekedar selebritas. Mereka memilih gubernur untuk bekerja. Ini bukan berarti seorang gubernur harus ngadekul bekerja diam-diam. Susulumputan. Sama sekali tidak.

Di zaman media sosial, komunikasi publik adalah bagian dari pemerintahan. Masyarakat berhak tahu apa yang dilakukan para pemimpinnya. Pemerintah yang tidak bisa berkomunikasi dengan publik malah bisa kehilangan kepercayaan.

Tetapi, komunikasi publik dan pertunjukan politik mempunyai garis yang sangat tipis. Bedanya sering kali baru terlihat setelah waktu berjalan.

Kalau sebuah tindakan menghasilkan solusi, publik akan mengingat hasilnya. Kalau hanya menghasilkan tayangan video, publik akan segera mencari video berikutnya. Dan algoritma memang tidak pernah kenyang.

Kemarin isu NTT. Hari ini isu Pati. Besok mungkin isu Jakarta. Lusa isu lain lagi. Selalu ada persoalan baru yang bisa dimasuki dan diangkat. Juga selalu ada kamera yang siap merekam. Dan selalu ada jutaan mata yang siap setia menonton.

Walau begitu, toh Jawa Barat senantiasa ada di tempat yang sama. Sekolah-sekolahnya tetap harus diperbaiki. Jalan-jalannya tetap harus diurus. Sampahnya tetap harus ditangani. Angkutan umumnya tetap membutuhkan pembenahan. Lapangan kerja tetap harus diciptakan. Kemiskinan tetap harus dikurangi.

Dan birokrasi tetap harus bekerja meskipun tidak masuk For You Page siapa pun. Karena itu, mungkin pertanyaan terbaik untuk KDM barangkali adalah: “Setelah KDM selesai ikut mengurusi persoalan daerah lain, apa yang berubah di Jawa Barat?”

Jika jawabannya ada, publik mungkin akan melihat bahwa panggung nasional memang sebagai bagian dari kepemimpinan KDM.

Jika tidak ada, publik berhak melihatnya sebagai bagian dari pencarian panggung. Dan di situlah popularitas KDM diuji.

Gubernur seperti KDM boleh menjadi bintang nasional. Boleh menjadi tokoh yang paling sering muncul di media sosial. Boleh pula memiliki pengaruh politik yang melampaui wilayah administratifnya.

Namun demikian, ada satu hal yang tidak boleh ikut melebar bersama popularitasnya, yakni mandat. Sebesar apa pun panggung nasional yang dimasukinya, mandat KDM saat ini tetap berada di Jawa Barat. Di sanalah ia dipilih, di sanalah ia harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya, dan di sanalah jutaan warga menunggu hasil kerjanya.

Tersebab, semakin tinggi KDM terbang ke panggung nasional, semakin penting pula baginya sesekali menengok ke bawah, untuk memastikan bahwa di bawah sana tidak ada yang tertinggal.

Di sanalah jutaan orang yang memilihnya berada. Mereka tidak memilih seorang tokoh nasional. Mereka memilih seorang gubernur, dan berharap Jawa Barat menjadi lebih baik di bawah kepemimpinannya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 18:08

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar (Bagian 2)

Acapkali PHK tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana mencari solusi sosial akibat dampak PHK tersebut. Ketika industri melemah seharusnya kehidupan ekonomi masyarakat tidak boleh terhenti.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 17:09

Wisata Jalan Kaki Melihat Jejak Sejarah Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sedangkan Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau.

Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)