Petisi Warga Empat Lereng Gunung untuk Gubernur Dedi Mulyadi

8 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Perwakilan warga lerenng Gunung Ciremai, Gede Pangrango, Tampomas, dan Halimun saat membacakan petisi untuk Gubernur Jawa Barat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Perwakilan warga lerenng Gunung Ciremai, Gede Pangrango, Tampomas, dan Halimun saat membacakan petisi untuk Gubernur Jawa Barat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Di Ijen, krisis air terjadi hanya dalam waktu satu tahun setelah operasi berjalan.

Kalimat itu meluncur dari Lila Puspitaningrum, peneliti Centre of Economic and Law Studies (CELIOS), saat berbicara di hadapan warga pegunungan dari berbagai daerah di Jawa Barat.

Mereka berasal dari kaki Gunung Ciremai, Gunung Gede Pangrango, Gunung Tampomas, hingga Gunung Halimun. Jarak tempat tinggal mereka berjauhan. Lanskap yang mereka tinggali pun tidak sama. Namun ketika petisi dibacakan secara bergantian, terlihat jelas bahwa mereka membawa keresahan yang serupa.

Mereka tidak datang untuk membicarakan pendakian atau wisata alam. Bukan pula untuk mempromosikan keindahan pegunungan.

Di hadapan jurnalis, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil, mereka menyuarakan kekhawatiran atas masa depan gunung-gunung di Jawa Barat yang dinilai semakin terancam oleh ekspansi proyek panas bumi atau geothermal.

Kekhawatiran itu kemudian dituangkan dalam sebuah petisi bersama yang lahir dari Konsolidasi Jaringan Warga Perlindungan Gunung Jawa Barat.

Bagi mereka, gunung bukan sekadar bentang alam.

“Gunung bagi kami bukan hanya sekadar tempat fisik, melainkan ruang hidup yang memiliki dimensi sakral dan menjadi sumber penghidupan,” demikian penggalan petisi yang dibacakan siang itu.

Dalam petisi tersebut, warga juga mengingatkan kembali falsafah Sunda yang selama ini hidup di masyarakat pegunungan, gunung teu meunang dilebur, leuweung teu meunang digempur, cai teu meunang dihalangan.

Bagi warga yang hidup di kaki gunung, kalimat itu bukan sekadar petuah turun-temurun. Di sanalah sumber air mengalir, lahan pertanian tumbuh, dan kehidupan sehari-hari berlangsung.

Lebih lengkapnya, bunti petisi tersebut adalah

1. Hentikan seluruh rencana proyek geotermal di pegunungan Jawa bagian Barat dan di seluruh Indonesia;

2. Hentikan seluruh proyek pembangunan yang merusak lingkungan dan merampas ruang hidup masyarakat di pegunungan Jawa bagian Barat dan di seluruh Indonesia;

3. Dukung penuh sektor pertanian sebagai sektor ekonomi potensial, serta pelestarian lingkungan di pegunungan Jawa bagian Barat dan di seluruh Indonesia untuk kesejahteraan masyarakat.

Keresahan yang Sama

Di antara warga yang hadir adalah Ahmad Afif Yusuf, pemuda 25 tahun dari kawasan Gunung Ciremai. Afif mengaku kehadirannya dalam konsolidasi tersebut berangkat dari satu kesadaran sederhana: warga pegunungan di berbagai daerah menghadapi ancaman yang serupa.

“Karena kita semua punya satu keresahan yang sama. Kalau berbicara secara geografis, kita sama-sama orang pegunungan. Ruang hidup kita bergantung pada tanah dan air,” ujarnya.

Ahmad Afif Yusuf, perwakilan warga dari kawasan Gunung Ciremai, menyampaikan keresahan masyarakat pegunungan terhadap rencana pengembangan proyek panas bumi di Jawa Barat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ahmad Afif Yusuf, perwakilan warga dari kawasan Gunung Ciremai, menyampaikan keresahan masyarakat pegunungan terhadap rencana pengembangan proyek panas bumi di Jawa Barat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Menurut Afif, selama ini warga di masing-masing wilayah sebenarnya telah berulang kali menyampaikan penolakan dan kekhawatiran mereka. Namun suara itu kerap berhenti di tingkat lokal dan tidak benar-benar sampai kepada para pengambil kebijakan.

“Yang telah kita suarakan di tempat masing-masing itu belum tembus atau belum tersampaikan kepada pemangku kebijakan. Makanya kita membangun solidaritas dengan wilayah-wilayah pegunungan lain yang terdampak ekspansi geothermal,” katanya.

Pertemuan di Bandung ini juga menyingkap satu pola yang seragam. Saat berbincang dengan perwakilan gunung lain, Afif menyadari bahwa target pengembangan energi panas bumi banyak berada di kawasan yang memiliki fungsi konservasi.

“Proyeksi-proyeksi yang ada itu kebanyakan hadir di wilayah konservasi Taman Nasional. Ini yang bikin kami terkejut, sekaligus memicu kami untuk membangun kekuatan bersama,” ungkap Afif.

Meski tidak semua wilayah telah memasuki tahap eksplorasi, warga menilai ancaman tetap ada selama kawasan mereka masih masuk dalam Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP).

“Kalau untuk Ciremai sendiri memang belum terjadi eksplorasi. Tapi WKP-nya masih ada. Itu yang membuat kami tetap waspada,” ujarnya.

Solidaritas itu kemudian berkembang menjadi jejaring yang lebih luas. Mereka tidak lagi melihat persoalan geothermal sebagai isu masing-masing daerah, melainkan persoalan bersama yang menyangkut keberlangsungan kawasan pegunungan di Jawa bagian barat.

Air yang Menjadi Penopang Kehidupan

Bagi warga yang hadir dalam konsolidasi itu, persoalan terbesar dari proyek panas bumi bukan semata soal listrik atau target transisi energi. Yang mereka pertaruhkan adalah air.

Di banyak kawasan pegunungan Jawa Barat, air bukan hanya kebutuhan rumah tangga. Air menghidupi sawah, kebun, peternakan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari.

Ahmad Afif Yusuf mengatakan kekhawatiran itu bukan muncul tanpa alasan. Bahkan sebelum isu geothermal kembali mengemuka, masyarakat di sekitar Gunung Ciremai sudah menghadapi persoalan perebutan sumber daya air akibat berkembangnya industri pariwisata.

“Sekarang pun sudah mulai ada konflik antara bisnis pariwisata dengan petani karena adanya privatisasi air. Apalagi kalau geothermal jadi dijalankan. Itu akan memengaruhi pertanian dan pengairan dari hulu Ciremai sampai ke hilir,” katanya.

Menurut Afif, Gunung Ciremai tidak hanya menopang kebutuhan masyarakat Kabupaten Kuningan. Mata air dari kawasan tersebut juga mengalir hingga memenuhi kebutuhan warga di Cirebon dan Majalengka.

Karena itu, ketika berbicara tentang gunung, warga tidak sedang membicarakan kepentingan kelompok kecil yang tinggal di lereng pegunungan semata. Mereka berbicara tentang sumber kehidupan yang dampaknya menjangkau wilayah yang jauh lebih luas.

Kerusakan di kawasan hulu, menurut mereka, pada akhirnya akan dirasakan pula oleh masyarakat perkotaan hingga pesisir.

“Masyarakat kaki gunung, masyarakat perkotaan, masyarakat pesisir, semuanya butuh air dan pangan. Itu kebutuhan paling utama manusia,” ujar Afif.

Kekhawatiran tersebut turut diperkuat oleh data yang tercantum dalam petisi warga.

Gunung Tampomas, misalnya, disebut memiliki sekitar 140 titik mata air dengan debit mencapai 7.000 liter per detik yang menopang kebutuhan air minum dan pertanian masyarakat. Sementara Gunung Ciremai memiliki sekitar 97 titik mata air dengan debit mencapai 9.000 liter per detik.

Angka-angka itu menjadi pengingat bahwa keberadaan gunung tidak bisa dipisahkan dari kehidupan jutaan orang yang tinggal jauh dari kawasan pegunungan sekalipun.

Bagi warga, menjaga gunung berarti menjaga pasokan air yang selama ini mengalir ke rumah-rumah, sawah, dan lahan pertanian di berbagai daerah Jawa Barat.

Sudah Sejahtera Sebelum Proyek Datang

Di tengah narasi bahwa proyek panas bumi akan membawa pertumbuhan ekonomi baru, warga justru memiliki pandangan yang berbeda.

Dalam petisi yang mereka bacakan, warga menegaskan bahwa kawasan pegunungan selama ini telah menjadi sumber kesejahteraan masyarakat tanpa harus bergantung pada proyek-proyek industri berskala besar.

Mereka memaparkan bagaimana hasil pertanian dari kawasan pegunungan telah menopang perekonomian masyarakat selama puluhan tahun.

Kawasan sekitar Gunung Gede Pangrango, misalnya, disebut menyuplai sekitar 10 ton sayuran setiap hari ke wilayah Jabodetabek. Gunung Ciremai menjadi salah satu pemasok ubi dan sayuran ke berbagai daerah. Sementara masyarakat di sekitar Gunung Tampomas menghasilkan beras, durian, cengkeh, kakao, hingga alpukat yang dipasarkan ke berbagai kota.

Di kawasan Gunung Halimun dan Gunung Prakasak, hasil pertanian dan perkebunan juga menjadi sumber utama penghidupan masyarakat.

“Putaran ekonomi yang menyejahterakan masyarakat pegunungan selama ini ditopang oleh keberadaan air yang melimpah,” demikian bunyi petisi tersebut.

Dari sisi hukum dan hak asasi manusia, LBH Bandung menilai persoalan geothermal tidak dapat dipandang hanya sebagai proyek energi nasional semata.

Heri Pramono dari LBH Bandung menegaskan bahwa air merupakan bagian dari hak dasar warga negara yang bersifat absolut dan wajib dijamin penuh oleh negara.

Heri Pramono dari LBH Bandung menjelaskan pentingnya perlindungan hak atas air dan pelibatan warga dalam setiap proses pembangunan yang berdampak pada masyarakat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Heri Pramono dari LBH Bandung menjelaskan pentingnya perlindungan hak atas air dan pelibatan warga dalam setiap proses pembangunan yang berdampak pada masyarakat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

“Hak atas air adalah salah satu hak yang sangat penting karena hampir semua sumber kehidupan berawal dari air,” ujarnya.

Menurut Heri, berbagai keluhan yang disampaikan warga dari Ciremai, Tampomas, hingga Gede Pangrango menunjukkan adanya kekhawatiran yang sama dan juga menunjukkan bahwa negara sedang abai terhadap perlindungan sumber-sumber penghidupan rakyatnya.

“Kalau sumber penghidupan warga direnggut, tentu akan memengaruhi hak-hak yang lain. Hak atas kesehatan, hak atas pangan, sampai hak atas lingkungan yang baik dan sehat,” katanya.

Ia menilai negara semestinya lebih serius mendengar suara warga yang akan terdampak langsung oleh proyek-proyek pembangunan.

“Partisipasi masyarakat itu sangat penting dan sangat vital karena masyarakat yang akan terdampak. Kalau masyarakat tidak mendapatkan informasi yang utuh, mereka yang akan menanggung kerugiannya,” ujarnya.

Heri juga menyoroti masih minimnya pelibatan warga dalam berbagai proses pengambilan keputusan terkait proyek geothermal.

Menurutnya, sosialisasi semata tidak cukup jika masyarakat tidak benar-benar memahami risiko yang mungkin mereka hadapi.

“Yang paling penting itu bukan hanya menunjukkan dokumen atau izin. Yang paling penting adalah menjelaskan dampaknya kepada warga karena yang akan menerima dampak itu adalah masyarakat sendiri,” katanya.

Menitipkan Pesan kepada Gubernur

Petisi yang dibacakan warga secara khusus ditujukan kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Bagi mereka, hal itu bukan tanpa alasan. Selama ini Dedi Mulyadi dikenal cukup vokal menyuarakan pentingnya menjaga gunung, sungai, dan lingkungan hidup di Jawa Barat.

Karena itu, warga berharap komitmen tersebut diwujudkan dalam sikap yang jelas terhadap berbagai rencana proyek yang mereka nilai berpotensi mengancam kawasan pegunungan.

Afif mengatakan warga hanya meminta konsistensi dari para pemimpin daerah.

“Kalau beliau mengajak masyarakat menjaga gunung dan lingkungan, maka kami juga mengajak beliau untuk konsisten terhadap apa yang sudah disampaikan,” katanya.

Melalui petisi tersebut, warga menyampaikan tiga tuntutan utama. Mereka meminta pemerintah menghentikan rencana proyek geothermal di pegunungan Jawa bagian barat, menghentikan pembangunan yang dinilai merusak lingkungan dan ruang hidup masyarakat, serta memperkuat dukungan terhadap sektor pertanian dan pelestarian lingkungan sebagai fondasi kesejahteraan warga.

Di penghujung acara, satu per satu perwakilan warga kembali berdiri.

Ada yang datang dari Ciremai, ada yang berasal dari Tampomas, Gede Pangrango, hingga Halimun. Mereka berasal dari daerah yang berbeda, tetapi membawa kegelisahan yang serupa.

Tak lama kemudian, seruan “Tolak Geotermal!” bergema di dalam ruangan.

Bagi warga yang hadir siang itu, persoalannya bukan semata tentang sebuah proyek energi.

Yang mereka khawatirkan adalah masa depan mata air yang selama ini menghidupi sawah dan kebun, hutan yang menjaga keseimbangan alam, serta ruang hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Sebab bagi mereka, ketika gunung kehilangan kemampuannya menyimpan air, yang terdampak bukan hanya masyarakat yang tinggal di lerengnya. Dampaknya akan mengalir hingga ke kota-kota yang selama ini bergantung pada sumber kehidupan dari kawasan pegunungan.

Mereka datang ke Bandung membawa keresahan yang sama. Dan sebelum pulang, mereka menitipkan pesan yang juga sama: gunung, air, dan hutan yang selama ini menopang kehidupan warga Jawa Barat harus tetap dijaga.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 14:41

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon

Taman Wisata Goa Sunyaragi adalah salah satu wisata bersejarah di Kota Cirebon yang menyimpan banyak cerita menarik.

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)