Serunya Belajar di Alam Bebas

13 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Asyiknya Kakang naik Bebek Gowes di Pondok Tandang Bakti Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Ahad (31/5/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Asyiknya Kakang naik Bebek Gowes di Pondok Tandang Bakti Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Ahad (31/5/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)

Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya di Babakan Dangdeur, Cibiru, Kota Bandung. Setelah salat Magrib, dengan rutinitas kecil, saat membaca kisah para nabi. Baru tiga paragraf cerita Nabi Nuh (dengan kekuatan airnya) dibaca, tiba-tiba Kakang, anak ketiga (5 tahun), memotong lewat pertanyaan yang membuatku tersenyum.

"Bah, waktu main, berenang, mancing, lihat ayam, bebek di Pa Dekan sudah dibuatkan cerita belum?" tanyanya polos.

"Henteu acan. Pan waktos kapungkur nyebatkeun video wae," jawabku.

Bocil dengan rambut ikal yang enggan dipotong melebihi telingan itu langsung menyambung dengan wajah penuh harap. "Tolong buatkan ya Bah. Masa cerita Kaka sama Aa terus."

Permintaan sederhana itu menutup halaman kisah Nabi Nuh yang syarat dengan pentingnya menjaga arti kehidupan. Justru pikiran melayang pada kenangan perjalanan sehari sebelumnya ke Pondok Tandang Bakti di Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang. Ya ngabolang singkat yang tampak biasa bagi orang dewasa, tetapi meninggalkan kesan yang sangat dalam bagi anak-anak.

Semuanya berawal dari obrolan ringan mengenai rencana Kelas Menulis melalui zoom (video call). Karena waktunya selepas Magrib, Kakang ikut duduk, mendengar, sesekali menyela dengan pertanyaan yang mengundang tawa. Dari percakapan santai itu muncul kesepakatan spontan.

Suasana asri Cigendel (Sumber: www.sumedangtandang.com)
Suasana asri Cigendel (Sumber: www.sumedangtandang.com)

Singkatnya, rencana diskusi serius nanti dipindahkan ke Cigendel dengan satu syarat sederhana. Semuanya harus membawa keluarga. Pengalaman mengajarkan, rencana yang terlalu panjang sering kali hanya berhenti menjadi wacana. Sebaliknya, keputusan yang mendadak justru lebih sering benar-benar terlaksana.

Keesokan paginya, sebelum matahari benar-benar meninggi, Kakang sudah terbangun. Dengan mata yang masih menyisakan kantuk bertanya, "Bah, jadi ke Sumedang?"

"Muhun. Hayu ibak," jawabku singkat.

Perjalanan dimulai dari kawasan Golden Sata Digital Printing, Cibiru Bandung. Dengan menggunakan kendaraan aplikasi yang mengantar momobilan menuju Cigendel. Aa Akil memilih duduk di kursi depan, takut mabok, Kakang menikmati perjalanan dari bangku belakang sambil bernyanyi tanpa henti, "Naik-naik ke puncak gunung..." Suaranya memenuhi ruang mobil, mengalahkan suara mesin kendaraan yang terus melaju.

Di tengah-tengah perjalanan, tepatnya di depan RM Ponyo istri sempat bertanya kepada pengemudi, apakah lebih baik melewati jalan tol atau jalan biasa. "Jalan biasa saja, Bu. Tidak macet. Lebih cepat ke sana. Saya orang daerah situ," jawabnya penuh keyakinan.

Sekitar lima puluh menit lancar jaya karena tidak macet, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 21 kilometer, tiba di gerbang Pondok Tandang Bakti. Udara terasa lebih segar. Pepohonan rindang menyambut sejak pintu masuk. Suasana di dalam kawasan itu terdapat masjid, rumah-rumah sederhana, kolam renang, kolam pemancingan, kandang ayam, bebek, angsa, kolam lele, hingga dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Alam dan aktivitas keseharian berpadu tanpa dibuat-buat.

Tak lama keluarga Mang Ali datang bersama kedua anaknya. Disusul Ayah yang membawa dua cucunya. Di sana tinggal Ki Guru (Rektor ke-6 UIN Bandung, Endang Soetari Ad). Suasana mendadak riuh oleh suara anak-anak yang berlarian ke sana kemari. Tidak ada yang sibuk memegang gawai. Tidak ada yang meminta kata sandi Wi-Fi. Bocil asyik mencari rumput, ikan, ayam, bebek, angsa, dan tempat untuk berlarian.

Sejak pukul setengah delapan pagi hingga menjelang beduk Zuhur, anak-anak hampir tidak berhenti bermain. Mereka berenang, saling menyiram air, berpura-pura berperang, tertawa tanpa alasan yang rumit, sesekali berhenti hanya untuk menikmati camilan sebelum kembali mencebur ke kolam. Saat lapar datang, liwet hangat menjadi jeda yang sebentar sebelum petualangan berikutnya dimulai.

Usai berenang, rasa ingin tahu Kakang belum habis. Naik bebek gowes, sambil mengejar angsa yang berenang tenang di kolam, memperhatikan ikan yang berebut umpan, melihat lele muncul ke permukaan, mencoba terapi ikan, menaiki becak kecil, bermain ayunan, hingga sekadar berjalan mengelilingi area pondok sambil terus bertanya tentang apa saja yang dilihat. Termasuk saat Bapak naik pohon kepala yang tinggi untuk mengambil dawegan, kalapa kolot.

Bagi orang dewasa, semua itu hanya rangkaian permainan sederhana. Namun bagi seorang anak, itulah cara mereka belajar memahami dunia. Air mengajarkan keberanian. Tanah melatih keseimbangan. Hewan memperkenalkan kasih sayang kepada makhluk hidup. Berlari menguatkan tubuh. Bertanya menumbuhkan rasa ingin tahu. Alam menjadi ruang belajar yang tak memiliki papan tulis, tetapi penuh pelajaran kehidupan.

Kini, di tengah derasnya arus digital, anak-anak memang semakin akrab dengan layar. Mereka dapat mengenal ayam dari video, melihat angsa dari internet, bahkan memancing ikan melalui permainan virtual. Tapi pengalaman menyentuh air yang dingin, mendengar suara kepakan sayap bebek, memberi makan ikan secara langsung, merasakan rumput di bawah telapak kaki, tidak pernah bisa digantikan oleh teknologi secanggih apa pun.

Berbagai aktivitas itulah perjalanan singkat ke Cigendel begitu membekas di hati Kakang, hingga meminta dibuatkan cerita khusus. Ya, bukan semata karena kolam renang, lele, ayam, bebek, angsa yang ditemuinya, melainkan dihari itu benar-benar hidup di tengah alam semesta. Dengan bebas bisa bermain, tertawa, bergerak, berinteraksi, dan pulang membawa kenangan, bukan sekadar foto, video yang memenuhi galeri telepon genggam.

Perang air di kolam renang Pondok Tandang Bakti Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Ahad (31/5/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Mang Ali)

Pentingnya Waktu Bermain bagi Anak

Dalam belajar di alam bebas (lingkungan), misalnya, siswa benar-benar diajak oleh guru untuk belajar di semesta kehidupan. Mereka secara tidak langsung diajak untuk melakukan pengamatan di alam bebas, sehingga mereka mendapatkan pengalaman yang akan membantu mereka untuk belajar secara kreatif.

Durasi waktu belajar siswa di Finlandia tidak panjang. Uniknya, siswa di negara yang berada di kawasan Eropa itu lebih banyak bermain. Khusus anak-anak PAUD dan TKA atau yang masih berumur 5-6 tahun digolongkan kategori pra sekolah. Tidak heran jika anak-anak di negara ini lebih banyak menghabiskan waktu mereka untuk bermain. Tentunya berbanding terbalik dengan sistem pendidikan di Indonesia yang justru membatasi siswa bermain, lebih banyak waktu belajar, terutama di dalam kelas.

Namun demikian, guru-guru dan praktisi pendidikan di Finlandia memiliki alasan tersendiri perihal ini. Mereka berpendapat bahwa dengan bermain, siswa dapat mempelajari berbagai hal, seperti komunikasi, kemampuan logika, dan belajar memecahkan masalah. Selain itu, anak-anak belajar dengan meniru dan menggunakan mainan atau peralatan apa saja yang ada di sekeliling mereka.

Perlu diketahui bahwa sekolah-sekolah di Finlandia dilengkapi dengan banyak fasilitas permainan, yang tujuannya untuk memudahkan mereka melakukan role play. Arja-Sisko Holappa, salah satu anggota Dewan Pendidikan Nasional Finlandia, menyatakan bahwa bermain adalah cara belajar yang sangat efisien untuk anak-anak. Menurutnya, kita bisa menggunakan permainan tertentu untuk mengajarkan anak-anak banyak hal, sehingga mereka bisa belajar dengan penuh suka cita.

Dengan bermain, banyak aspek kecerdasan yang terasah dari anak. Hal ini terbukti di Finlandia di mana anak-anak di negara tersebut memiliki kecerdasan di atas rata-rata, meski lebih banyak waktu bermain daripada belajar di dalam kelas.

Tentunya, ini berbanding terbalik dengan sistem pendidikan di Indonesia, yang mana anak-anak justru lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kelas dan sangat sedikit waktu untuk bermain. Para orang tua kadang tidak suka jika anaknya terlalu banyak bermain.

Pada umumnya menganggap bermain tidak banyak manfaatnya, bahkan ada orang tua yang komplain pada pihak sekolah ketika mereka mengetahui bahwa di sekolah anak-anak hanya bermain, yang seharusnya diajarkan tentang membaca, menulis, dan berhitung.

Padahal sebenarnya masa pra sekolah adalah masa bermain. Maka tepat sekali jika pembelajaran di sekolah, khususnya di TKA dilakukan dengan bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain. Para ahli, bermain itu sangat penting bagi anak karena bermain merupakan bagian yang sangat penting dalam proses perkembangan anak. Melalui kegiatan bermain, anak-anak akan belajar berbagai macam hal tentang kehidupan sehari-hari.

Anak akan mendapatkan pengalaman yang berkaitan dengan lingkungannya, baik lingkungan sosial-budaya, sosial-ekonomi, maupun fisik dan alam, yang sangat berguna untuk meningkatkan kemampuan berbahasa, berpikir, bersikap, bergaul, berkarya, dan sebagainya.

Aa Akil, Affan dan Kakang main congklak di Pondok Tandang Bakti Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Ahad (31/5/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Mang Ali)

Dalam permainan, anak mencurahkan perhatian, perasaan, dan pikiran mereka pada proses bermain serta sifat dan bentuk alat permainannya. Dengan demikian, anak-anak akan belajar mengenal dan menjajaki lingkungannya.

Berikut ini ketigabelas manfaat bermain bagi anak:

  1. Bermain yang melibatkan fisik seperti berlari, meloncat dan menendang, bermanfaat untuk menguatkan dan menterampilkan anggota badan anak.
  2. Bermain yang melibatkan alat indra atau pikiran seperti menggunakan alat-alat bermain yang mengeluarkan perasaan seperti menggambar dan bermain musik atau mendengarkan aba-aba memberikan peluang pada anak untuk belajar tentang pengertian baru, sifat-sifat, dan bentuk barang tertentu.
  3. Bermain balok-balok mainan, membentuk lilin atau tanah liat, menggambar dan sebagainya dapat mendorong kreativitas anak.
  4. Bermain dapat membantu mengembangkan kepribadian seperti bertanggung jawab, berkerjasama, mematuhi peraturan, dan sebagainya.
  5. Bermain dapat membantu anak mengenal dirinya baik yang berkaitan dengan kelemahan dan kekurangan maupun kelebihannya. Misalnya, dengan bermain seorang anak akan mengetahui bahwa dirinya ternyata lebih mampu berlari dengan cepat dibandingkan dengan teman-temannya, dan lain sebagainya.
  6. Bermain dapat digunakan sebagai penyalur keinginan dan kebutuhan anak yang tidak terpenuhi. Misalnya, keinginan untuk berlaku seperti orang tuanya dengan bermain peran orang tua, bermain sebagai sopir mobil-mobilan, dan sebagainya.
  7. Bermain bersama anggota keluarga dapat mengakrabkan hubungan antara anak dengan anggota keluarganya yang lain.
  8. Bermain secara aktif dapat mengembangkan otot-otot dan melatih seluruh bagian tubuh sehingga menjadi kuat.
  9. Gerakan dalam bermain seperti berlari, melatih kemampuan motorik kasar dan melompat, melempar, menangkap, mendorong, koordinasi visual motorik, keseimbangan, ketepatan, kelenturan, kemampuan mengontrol gerakan, dan bertindak spontan.
  10. Kelebihan energi anak dapat tersalurkan sehingga mengurangi kemungkinan munculnya perilaku agresif yang bersifat merusak dan merugikan.
  11. Melalui eksperimen dalam bermain, anak-anak menemukan bahwa merancang suatu hal baru dan berbeda dapat menimbulkan kepuasan. Selanjutnya, mereka dapat mengalihkan minat kreatif ke situasi di luar dunia bermain.
  12. Bermain dapat digunakan sebagai media pengenalan dan pengembangan diri. Anak dapat mengetahui sejauh mana kemampuannya dibandingkan dengan temannya. Sehingga hal ini memungkinkan mereka mengembangkan konsep diri dengan lebih pasti dan nyata.
  13. Dengan bermain, anak belajar berkomunikasi, yaitu bagaimana membentuk hubungan sosial dan menghadapi serta memecahkan masalah yang timbul dalam hubungan tersebut.

Dengan demikian, bermain bukanlah hal sia-sia karena dengan bermain, anak dapat melakukan proses belajar, sehingga perlu kita sadari bahwa dunia anak adalah dunia bermain dan anak berkembang dengan cara bermain.

Secara garis besar, permainan memiliki urgensi yang bersifat kognitif, sosial, dan emosional: Pertama, kognitif. Permainan dapat membantu perkembangan kognitif anak. Melalui permainan, anak menjelajahi lingkungannya, mempelajari objek-objek di sekitarnya, dan belajar memecahkan masalah yang dihadapinya.

Bagi Piaget, struktur-struktur kognitif anak perlu dilatih, dan permainan merupakan cara yang sempurna bagi pelatihan kognitif anak. Melalui permainan, anak dimungkinkan mengembangkan kompetensi-kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dengan cara yang menyenangkan.

Kedua, sosial. Permainan dapat meningkatkan dan mengembangkan perkembangan sosial anak, khususnya dalam fantasi dengan memerankan suatu peran. Anak belajar memahami orang lain dan peran-peran yang akan dia mainkan di kemudian hari setelah tumbuh menjadi orang dewasa.

Ketiga, emosional. Permainan memungkinkan anak memecahkan sebagian dari masalah emosional, belajar mengatasi kegelisahan dan konflik batin. Permainan memungkinkan anak melepaskan energi fisik yang berlebihan dan membebaskan batin di dalam permainan yang dimainkan, sehingga anak tersebut dapat mengatasi masalah-masalah kehidupan.

Pada prinsipnya, bermain adalah untuk melatih pancaindra dan anggota badan anak yang lain sebagai persiapan dalam kehidupannya di masa yang akan datang. Sungguh tidak heran apabila siswa-siswa di Finlandia lebih banyak menghabiskan waktu mereka untuk bermain daripada berlama-lama di dalam kelas. Taman-taman di berbagai sudut kota di negara itu menyediakan tempat bermain yang aman dan nyaman bagi anak-anak.

Di Finlandia, bermain tidak lagi dianggap sebagai kegiatan yang sia-sia. Para guru menilai bahwa bermain menjadi bagian dari proses anak-anak mempelajari banyak hal. Dengan bermain dijadikan sarana oleh guru untuk mendidik siswa-siswinya.

Rupanya, kenyataan itu tampak berkebalikan dengan apa yang ada di negara Indonesia. Kebanyakan guru cenderung melakukan proses belajar mengajar secara formal di mana guru menjadi sentral pembelajaran. Kalaupun ada model permainan, itu pun hanya dilaksanakan sesekali saja dan dijadikan sebagai selingan. Karena itu, diperlukan kesamaan perspektif diantara para guru mengenai pengaruh permainan dalam pendidikan. (Najamuddin Muhammad, 2020:33-40)

Aa Akil, Kakang naik Bebek Gowes di Pondok Tandang Bakti Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Ahad (31/5/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Mang Ali)

Belajar dari Cigendel, Ayo Bermain dan Kurangi Gawai

Saat Kakang berlari mengejar bebek, mengamati angsa berenang, memancing ikan, main congklak, menaiki ayunan, sekadar mencelupkan kaki ke kolam terapi ikan, sesungguhnya bukan hanya otot-ototnya yang sedang bekerja. Seluruh pancaindra ikut aktif. Motorik kasar terlatih, koordinasi tubuh berkembang, rasa ingin tahu tumbuh, imajinasi hidup, emosinya belajar dikelola ketika harus menunggu giliran, menerima kekalahan dalam permainan. Semua itu terjadi secara alami, tanpa perlu dipaksa-paksa.

Sepulang dari Cigendel, yang paling diingat Kakang bukan makanan yang disantap, kendaraan yang ditumpangi. Justru yang terus diceritakan kepada teman sepermainan, sekolah (PAUD) soal kolam renang, ikan, ayam, bebek, angsa, dan permainan yang tak pernah habis. Kenangan itu terus melekat karena diperoleh melalui pengalaman langsung, bukan sekadar tontonan di layar.

Semua itu menyadarkan tentang anak-anak tidak selalu membutuhkan tempat bermain yang mahal, wahana yang serba modern. Mereka lebih membutuhkan kesempatan untuk menyentuh tanah, bermain air, berlari di rerumputan, mengamati kehidupan di sekitarnya, dan menghabiskan waktu bersama keluarga.

Dunia anak itu dunia bermain. Dengan bermain di alam bebas sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupan yang jauh lebih besar di masa depan. Bukan masa kecil yang dipenuhi jadwal les dari satu tempat ke tempat lain, bukan pula hari-hari yang dihabiskan menatap layar tanpa jeda.

Walhasil, pengalaman di Cigendel mengingatkan ihwal alam menjadi guru yang sangat sabar. Tidak pernah memaksa anak untuk menghafal, tetapi mengajak mereka mengamati. Tak memberi nilai, justru menghadirkan pengalaman. Di sanalah anak belajar mengenali kehidupan lewat sentuhan, suara, aroma, gerak, dan ruang perjumpaan yang nyata.

Di tengah dunia yang semakin sibuk mengukur prestasi anak melalui angka dan capaian akademik, barangkali kita perlu sesekali berhenti. Memberi (menyediakan) waktu untuk bermain, berlari, jatuh, bangkit, bertanya, dan tertawa bersama alam.

Ingat, sering kali pendidikan yang paling membekas bukanlah yang diajarkan di dalam kelas, melainkan yang tumbuh pelan-pelan di bawah langit terbuka. Di sanalah karakter, rasa syukur, kepedulian, dan cinta terhadap kehidupan menemukan akarnya.

Serunya Aa Akil, Affan dan Adiknya  naik Bebek Gowes di Pondok Tandang Bakti Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Ahad (31/5/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Mang Ali)

HAN 2026, Semua Setara Riang Bersama

Kehadiran kehadiran  Hari Anak Nasional (HAN) Tahun 2026 bertajuk "Semua Setara Riang Bersama" ini tidak hanya seremonial, melainkan momen untuk menyatukan tekad seluruh pemangku kepentingan dalam menghadirkan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.

Sebagai bagian dari peringatan HAN 2026, Kemendikdasmen menghadirkan Main Raya Anak Nusantara, ruang bermain yang memadukan permainan tradisional, aktivitas berbasis Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics (STEAM), serta eksplorasi alam sebagai pengalaman belajar yang menyenangkan.

Pembatasan penggunaan gawai di lingkungan satuan pendidikan bukan merupakan larangan terhadap pemanfaatan teknologi, melainkan upaya menghadirkan keseimbangan agar anak lebih banyak memperoleh pengalaman belajar melalui interaksi langsung. "Permainan langsung dan interaksi antarsesama adalah cara terbaik anak belajar. Pembatasan gawai di sekolah bukan larangan mutlak, melainkan upaya memastikan anak lebih banyak berinteraksi nyata, bukan melalui layar."

Peringatan Hari Anak Nasional Tahun 2026 diharapkan semakin memperkuat kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam memenuhi hak anak dan menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, inklusif, dan ramah anak.

Momentum ini diharapkan menjadi langkah nyata untuk membangun kebiasaan belajar dan bermain yang sehat, sehingga setiap anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. "Mari bergandengan tangan. Pastikan setiap anak tumbuh setara, berkembang seutuhnya, dan riang bersama menuju masa depan yang gemilang." (Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor: 609/sipers/A6/VII/2026)

Malam itu, kisah Nabi Nuh memang belum selesai dibaca. Cerita malahan terhenti di tengah halaman karena pertanyaan sederhana dari Kakang tentang bebek, ayam, kolam, dan perjalanan ke Cigendel. Justru dari Cigendel menemukan kelanjutan kisah sederhana dan berharga itu dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Air selalu hadir sebagai bagian dari kehidupan. Bila dalam kisah Nabi Nuh, cai menjadi jalan keselamatan bagi mereka yang beriman dan pengingat akan kebesaran Allah. Untuk di Cigendel, air menjelma menjadi kolam tempat anak-anak tertawa, belajar berani, berbagi, dan mengenal alam. Air yang sama, tetapi menghadirkan pelajaran yang berbeda pada setiap zaman.

Saat Kakang berlari, melompat, mengamati, bertanya, dan berinteraksi dengan alam, sesungguhnya sedang membangun kecerdasan berpikir, kepekaan sosial, kreativitas, hingga ketangguhan emosional. Pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi tumbuh di tepian kolam, di bawah rindangnya pepohonan, dan di antara gelak tawa yang mengalir tanpa beban.

Dengan demikian, pendidikan terbaik memang bukan selalu tentang seberapa cepat anak mampu membaca, menulis, berhitung. Melainkan ketika anak tumbuh menjadi manusia utuh yang berusaha merawat rasa ingin tahunya tetap hidup, hatinya tetap lembut, dan jiwanya tetap dekat (terpaut) dengan alam. Ibarat air yang terus mengalir, semoga setiap pengalaman kecil di masa kanak-kanak menjadi aliran kebaikan yang tak pernah berhenti hingga dewasa kelak. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 24 Jul 2026, 19:06

Ketika Pelajar Diminta Pulang Cepat, Apakah Bandung Menjadi Lebih Aman?

Jika seorang pelajar dianggap aman hanya karena berada di rumah setelah pukul 21.00, lalu bagaimana dengan keamanan kota setelah jam itu?

Warga berlalu lalang di kawasan Asia Afrika, Kota Bandung, pada malam hari. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ditya Rafi Muttaqin/Magang)
Linimasa 24 Jul 2026, 18:41

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari

Seni ukir kayu menjadi cara warga Kampung Bunisakti, Arjasari, memperkenalkan daerahnya. Beragam ukiran bernilai seni diproduksi dengan teknik khas.

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 18:33

5 'Warung' Sarapan di Pilihan Bandung, dari Kedai Legendaris hingga Hidden Gem

Jelajahi 5 kedai sarapan favorit di Bandung dengan pilihan menu rumahan, panorama asri, hingga hidden gem yang cocok untuk memulai hari.

Sajian di Sepiring Pagi.
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 17:15

Di Balik Kampanye Digital Jakarta International Marathon 2025: Analisis Merek Air Mineral Nasional

Membedah hal-hal yang tidak terlihat di balik kampanye digital.

Ilustrasi. (Sumber: AI)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 16:18

Pesta Kesenian Bali sebagai Bukti Apresiasi Seni yang Perlu Ditularkan ke Provinsi Lain

Ketika suatu festival seni dapat memberi inspirasi bagi daerah lain.

Pertunjukan Pesta Kesenian Bali tahun 2026 (Sumber: Youtube: Disbud Prov. Bali)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:27

Mega Korupsi Era 90-an Skandal Bapindo dan Eddy Tansil Mengguncang Indonesia

Pengusaha bernama lengkap Edy Tansil (Tan Tjoa Ing) dituntut hukuman penjara seumur hidup serta diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp800 miliar.

Surat kabar Bandung Pos edisi akhir Juli 1994 yang menampilkan berita utama mengenai kasus mega korupsi Eddy Tansil. (Sumber: Foto dan koleksi surat kabar Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:10

Modernisasi Berkebaya yang Berbudaya

Tidak dapat ditawar lagi dengan berkebaya. Kebaya sudah menjadi identitas yang sangat penting bagi Indonesia.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 14:17

Telusur Arca Derenten: Ikonografi Durga-Agastya, Omon-Omon dari Kebun Binatang ke Museum Kota

Pengejawantahan arkeolog sebagai 'detektif masa lalu': mengkaji ikonografi Arca batu, menelusuri jejak hilangnya, hingga mengurai urgensi lembaga Museum Kota

Pintu masuk kebun binatang Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 13:40

Pentingnya Patuh Minum Obat Hipertensi: Penyuluhan Mahasiswa PKPA UMB di Puskesmas Cibiru

Kegiatan kolaborasi yang dilakukan oleh mahasiswa dan praktisi fasilitas pelayanan kesehatan di puskesmas dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup pasien di puskesmas cibiru.

Mahasiswa PKPA Universitas Muhammadiyah Bandung sedang melaksanakan Penyuluhan di Puskesmas Cibiru. Kamis (23/6/2026). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Indri Wahyuni A)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 13:22

Lontong Goreng Gasibu, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Gedung Sate Bandung

Cari sarapan enak di Bandung? Lontong Goreng Gasibu menawarkan lontong goreng hangat dan tahu Sumedang dengan harga mulai Rp4.000 di kawasan Lapangan Gasibu.

Lontong Goreng Gasibu. (Sumber: Instagram @hayulahgaskeun)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 10:22

Sate, Sang Mahakarya Kuliner Nusantara: Dari Warisan Budaya hingga Diplomasi Rasa Dunia

Indonesia boleh dibilang merupakan "Negeri Seribu Sate".

Pedagang sate. (Sumber: Pexels | Foto: nourrie zein)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 07:55

Kesantunan Berdigital bagi Anak

Kecerdasan buatan tidak boleh membatasi proses tumbuh kembang anak.

Orang tua dan anaknya. (Sumber: Pexels/Lgh_9)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 19:42

Gunung Alit Telah Lahir di Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu

Gunung Alit ini lahir di sisi utara Kawah Ratu Gunung Tangkubanparahu.

Gunung Alit lahir di dalam Kawah Ratu pascaletusan Juli–Agustus 2019. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 18:02

Serunya Belajar di Alam Bebas

Pendidikan terbaik bukan selalu tentang seberapa cepat anak mampu membaca, menulis, berhitung. Melainkan ketika anak tumbuh menjadi manusia yang rasa ingin tahunya tetap hidup, hatinya tetap lembut

Asyiknya Kakang naik Bebek Gowes di Pondok Tandang Bakti Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Ahad (31/5/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 17:00

Hari Anak Nasional: Kenalkan Proses Kreatif Sejak Dini Lewat Program Little Creator

Kreativitas di segala bidang kehidupan adalah kunci masa depan anak.

Program Kreator Cilik yang diselenggarakan oleh Omochatoys menekankan proses kreatif sejak usia dini (Foto: dok Omochatoys)
Wisata & Kuliner 23 Jul 2026, 16:22

Wahana Pilihan TMII, dari Kereta Gantung hingga Drone Show Gratis

Rencanakan kunjungan ke TMII dengan panduan wahana terbaik, lengkap dengan tiket, museum pilihan, Jagat Satwa Nusantara, dan tips berkunjung hemat.

Museum Indonesia TMII. (Sumber: TMII)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 16:21

Hari Anak Nasional: Sudahkah Anak-Anak Indonesia Merdeka?

Apakah anak-anak layak dikatakan sudah merdeka? jika rasa aman, nyaman dan hak-hak dasar dalam hidup mereka belum sepenuhnya bisa ditunaikan.

Seorang anak sekolah di Aceh yang menyebrangi jembatan tali menuju sekolah. (Sumber: Generated AI (Terinspirasi dari Video Asli di Aceh))
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 15:11

Hari Anak Nasional Menjadi Momen Tumbuhnya Generasi Kuat dan Cerdas

Seharusnya peringatan Hari Anak Nasional dijadikan momentum penting untuk membangun anak-anak yang kuat dan cerdas.

Butuh kerjasama dan partisipasi dari berbagai pihak dalam rangka mewujudkan pendidikan terbaik bagi anak-anak negeri ini. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 14:39

Ketika Kritik Tenggelam dalam Kebisingan

Status quo tidak selalu bertahan karena kritik dibungkam, tetapi karena perhatian kita terlalu mudah dialihkan.

Sebuah pagelaran seni dog-dog di tengah sebuah aksi. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 13:33

Sayembara Tangkap Begal dan Batas Tanggung Jawab Negara

Keamanan merupakan salah satu alasan paling fundamental mengapa negara dibentuk.

Ilustrasi sayembara tangkap begal. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)