Dari I Hate Monday Menjadi 'Dimanusiakan' Pengalaman Tak Terduga di BP Kebudayaan Jabar

4 menit baca
pungkit wijaya
Ditulis oleh pungkit wijaya diterbitkan
Ilustrasi tulisan "I hate monday". (Sumber: Pexels | Foto: elena_ sher)
Ilustrasi tulisan "I hate monday". (Sumber: Pexels | Foto: elena_ sher)

Senin pagi itu, matahari menyapa dedaunan area Bandung Timur, Ujungberung. Saya tiba dengan sepeda motor menuju area parkir gedung Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat.

Dari rumah jalur kota menuju timur rasanya malas sekali berangkat ke situ. Pasalnya, saya berlawanan dengan arah matarahi bergerak. Oh, mungkin orang bilang bilang I hate Monday, karena hari itu adalah mesin penggunting libur. Akan tetapi, karena satu hal yang mesti diselesaikan saya pun tiba di gedung tersebut.

Sebagai calon penerima Dana Indonesia Raya 2026, dengan sedikit rasa malas itu saya tiba di area balai, sebuah gedung birokrasi yang tidak terlalu luas dengan cat yang membosankan coklat tua, seperti warna dasar Kementrian Kebudayaan. Ya, karena Balai Pelestarian Kebudayaan perpanjangan tangan dari lembaga itu khususnya di wilayah Jawa Barat.

Dari data sebaran yang diunggah sosial media Instagram BP Kebudayaan Jabar data calon penerima provinsi Jawa Barat memang paling tinggi diantara daerah lain. Ini cukup luar biasa, misalnya saja kota Bandung terdapat sekitar sembilan puluh sembilan orang, sementara Kabupaten Bandung, kabupaten Bogor dan Depok di bawahnya. Sementara data usulan untuk kegiatan pendayagunaan ruang publik menempati kegiatan tertinggi.

Baiklah, setelah bicara data saya akan melanjutkan perjalanan itu. Seorang lelaki menyapa saya dengan sumringah, ia berkata silakan naik ke atas di lantai dua untuk bimbingan penerima Dana Indonesiaraya. Saya pun berjalan menuju ruangan itu dengan menaiki tangga. Terlihat lima orang dengan satu orang yang menggenakan seragam coklat yaitu perempuan sedang berbicara serta mengambilkan sebuah kertas di atas meja untuk satu dan dua orang lelaki tamu. Ia pun berbincang kemudian mencoba menghantarkan tamu itu ke dalam ruangan. Sementara saya, memotret aktivitas pengisian daftar hadir di meja tersebut. Kemudian disambut ramah oleh front line dua orang wanita. Masuklah saya dengan nomor antrian lima belas.

Di dalam ruangan peserta dengan semangat sedang mencoba menjelaskan sesuatu di depan laptop kepada petugas berbaju putih itu. Saya pun mencoba duduk dan menikmati suasana suhu dan udara saja.

Namun, saya teringat kepada perempuan yang menghantar tamu tadi. Oia, itu kalau tidak salah namanya Ibu Retno Raswaty, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat (BP Kebudayaan Jabar). Saya pernah melihat beliau di sosial media saya.

Lalu saya pun mulai berpikir, wah barangkali Bu Retno sedang melakukan pelayanan publik yang tidak hanya melakukan service tapi ia memberikan hospitaly, pasalnya ia sampai turun kaki mengantar beberapa tamu penerima manfaat Dana Indonesiaraya 2026.

Bagi saya, ini cukup menarik, karena saya beberapa waktu lalu pernah berada di Industri (F&B) yang erat kaitannya dengan hospitaly saya sedikit paham tentang bagaimana pelayanan agar orang merasa diakui bukan hanya melakukan "service" alakadarnya saja, sehingga menimbulkan experience bagi "pengunjung". Ia tidak hanya dilayani karena bukan raja, bukan pula sebagai orang asing yang datang dari planet lain, tapi kedatangan "tamu" dianggap sebagai manusia, ia suaranya didengar dan diberikan hal kecil dengan tulus. Utamanya, oleh keseluruhan pegawai yang ada di situ baik yang berstatus pegawai negeri atau bukan.

Sambil menikmati suhu dan udara itu, saya pun menyeduh secangkir kopi hitam. Ini membuat saya lebih bersemangat dan bertenaga. Kemudian bercakap dengan pikiran lain: " lah, itukan Standart Operasional (SOP) seperti di banyak industri hospitaly lain donk", ujar saya dalam dialog. Akan tetapi, jika hanya sebatas SOP justru hal kecil dengan tulus tidak akan membentuk experience yang lain: yang merasa dimanusiakan.

Oleh karena itu, saya melihat bahwa hospitaly itu bekerja memanusiakan manusia, meskipun ini balai kebudayaan yang mesti berbudaya santun dan baik, seterusnya karena sudah dipastikan diberi gaji dan tunjangan oleh negara yang sifatnya wajib melayani degan hati, tapi jika itu tidak tertransfer dengan baik tidak akan sampai kepada pengunjung dan tidak memberikan experience positif.

Dalam tegukan kedua, saya pun berpikir, jika banyak lembaga negara lain bisa memberikan hospitaly dengan cara seperti yang diterapkan BP Kebudayaan Jabar: memanusiakan manusia itu akan menjadi lain, meskipun saya tidak tahu lain lembaga negara yang lain sudah menerapkan itu atau tidak. Yang mesti diingat, karena internal kepegawaian itu tergantung kepala, yang layak dipuji adalah Bu Retno karena mampu mentransfer itu bukan hanya menerapkan. Seperti buah lampu, jika sudah nerap belum tentu bisa mentransfer cahaya jika aliran listriknya mati.

Saya pribadi tidak mengenal jelas balai ini dan kepalanya, tapi rasanya dimanusiakan oleh manusia itu lebih okeh: pelayanan pegawai yang lain ramah dengan pertanyaan yang rudet terkait pendampingan revisi Rancangan Anggaran Biaya (RAB) hingga petugas kantin di situ. Ini luar biasa. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

pungkit wijaya
Tentang pungkit wijaya
Esais, penikmat kopi

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 11 Sep 2026, 16:57

Sekali di Udara, Tetap di Hati: 81 Tahun Perjalanan RRI

Radio Republik Indonesia (RRI) memperingati hari jadinya setiap 11 September.

Gedung RRI Bandung, diambil pada bulan Agustus 2024. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Pijri Paijar)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 14:04

Komunikasi di Era AI: Mengapa Suara Manusia di Radio Tak Tergantikan

Di era AI, radio bertahan sebagai benteng keaslian manusia. Hari Radio Nasional mengingatkan bahwa kehangatan dan koneksi emosional dari suara penyiar tak tergantikan oleh algoritma.

Ilustrasi ruangan siaran radio. (Sumber: Pexels | Foto: Pixabay)
Linimasa 11 Sep 2026, 14:02

Dulu Sempat Viral, Apa Kabar Odading Mang Oleh?

Odading Mang Soleh pernah viral berkat video Ade Londok. Kini usaha tersebut diteruskan anak-anak dan memiliki cabang di luar Bandung.

Odading Mang Oleh yang dulu sempat viral. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 13:27

Menghidupkan Siaran RRI Bandung dengan Kreativitas Siniar

Alih wahana oleh RRI Bandung membutuhkan platform digital karya anak bangsa yang multifungsi.

Gedung Radio Republik Indonesia Bandung di Jalan Diponegoro No.61 Kota Bandung (Sumber: RRI | Foto: Atep)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 10:16

Dari I Hate Monday Menjadi 'Dimanusiakan' Pengalaman Tak Terduga di BP Kebudayaan Jabar

Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat adalah unit pelaksana teknis di bawah Kementerian Kebudayaan yang bertugas merawat dan memajukan kebudayaan serta cagar budaya di wilayah Provinsi Jawa Barat.

Ilustrasi tulisan "I hate monday". (Sumber: Pexels | Foto: elena_ sher)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 09:00

Mengapa Laga Persib–Persija Lebih dari Sekadar Tiga Poin

Para pemain Persib tidak hanya bermain untuk klub, tetapi juga menjadi simbol kebanggaan sebagian masyarakat Jawa Barat. 

Pemain Persib dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 20:26

Warisan Gunung Sunda Purba, dari Purwakarta, Subang, sampai Bandung Barat

Menjelajah warisan Gunung Sunda Purba melalui kemegahan Gunung Burangrang. Sisi Utara membentang di Purwakarta dan Subang, sementara sisi Selatan megah berdiri di Bandung Barat.

Keadaan ronabumi seperti inilah yang dilihat oleh masyarakat, bukan Gunung Sunda yang menjulang  tinggi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:26

Transformasi Perpustakaan Meningkatkan Kunjungan Masyarakat

Setiap perpustakaan memang mengidentifikasi problematika yang sama, salah satunya berkaitan dengan kunjungan masyarakat yang minim.

Ilustrasi perpustakaan. (Sumber: Pexels | Foto: Tima Miroshnichenko)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:00

ASN Gen Z dan Tantangan Mengubah Kepastian Menjadi Kinerja

Artikel ini mengkaji persepsi ASN Gen Z terhadap kecocokan karier, kompetensi, dan kebutuhan pengembangan dalam birokrasi.

Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 17:01

Polemik Desil dalam Indikator Kesejahteraan Ekonomi

Apakah desil bisa dijadikan indikator dalam menentukan strata kesejahteraan masyarakat kini? Desil hanya sebuah istilah dalam algoritma statistik. Jangan memaksa manusia menjadi angka dalam database.

Bantuan pangan cadangan beras pemerintah alokasi Juni dan Juli wilayah Kota Bandung di Kantor Kelurahan Cihapit, Jalan Sabang, Kota Bandung, Jumat 18 Juli 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 16:37

Remy Sylado: Jejak Sang Maestro di Bandung

Jejak Remy Sylado di Bandung kembali ditelusuri melalui buku, arsip, dan kesaksian orang-orang terdekat yang menghidupkan kembali sosok maestro multidisipliner tersebut.

Silaturahmi menyambut terbitnya buku Remy Sylado dan Dua Brouwer yang dihadiri budayawan, pegiat seni, serta sahabat dekat Remy Sylado, di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut No. 2, Kota Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 15:11

KDM, Jawa Barat, dan Temtasi 2029

KDM membutuhkan policy dashboard, bukan sekadar social-media dashboard.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 10 Sep 2026, 10:57

Kampung Sate, Ketika Bambu Bisa Diubah Menjadi Rupiah Oleh Warga Satu Kampung

Kampung Randukurung Kutawaringin dikenal sebagai sentra tusuk sate. Warga mengolah bambu secara tradisional menjadi sumber penghasilan.

Di Kampung Randukurung, bambu gombong diolah menjadi ribuan tusuk sate dengan tangan dan peralatan tradisional. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 10:44

Stok Masker mulai Langka dan Harganya Melambung Kembali

Permintaan pasar yang tinggi seringkali membuat harga pun ikut naik begitu juga dengan kondisi yang terjadi pada masker.

Maskter kesehatan. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 08:58

Strategi Kuliah Luar Negeri Tembus Ivy League dan Program Pre-College

Sejak didirikan pada tahun 2003, Euro Management Indonesia mengembangkan pola pendampingan studi ke luar negeri secara terpadu dan terintegrasi.

Suasana belajar di Euro Management Indonesia, Menteng Jakarta. (Foto: Humas Euro MI)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)