Sudah baca puluhan jurnal tapi masih bingung apa yang membedakan penelitianmu dengan yang sudah ada?
Atau sering ditanya dosen pembimbing "apa kebaruan dari skripsimu ini", dan belum punya jawaban yang meyakinkan?
Kalau iya, kemungkinan besar kamu belum menemukan research gap yang jelas.
Artikel ini membahas apa itu research gap, jenis jenisnya, dan langkah konkret menemukannya dari jurnal sampai menjadi rumusan masalah.
Apa Itu Research Gap?
Dikutip dari Academia Open Publisher, research gap adalah celah antara apa yang sudah diketahui ilmu pengetahuan dan apa yang belum terjawab, belum konsisten, atau belum diuji dalam konteks tertentu.
Müller-Bloch dan Kranz (2015) menyebut identifikasi research gap sebagai tujuan mendasar dari tinjauan literatur, dan idealnya dilakukan secara sistematis, bukan sekadar tebakan.
Satu kesalahpahaman umum, research gap tidak selalu berarti topik yang belum pernah diteliti sama sekali.
Gap juga bisa muncul dari hasil penelitian yang saling bertentangan, metode yang belum pernah dipakai, atau teori yang belum diuji pada konteks dan populasi berbeda.
Apa Saja Jenis-Jenis Research Gap?
Merujuk pada kerangka Müller-Bloch dan Kranz (2015) serta taksonomi Miles (2017), berikut jenis gap yang umum ditemukan.
- Knowledge gap Terjadi ketika suatu topik belum banyak dijelaskan oleh penelitian yang ada, sehingga pemahaman tentangnya masih terbatas.
- Evidence gap Muncul ketika beberapa penelitian menghasilkan temuan yang saling bertentangan tentang fenomena yang sama.
- Methodological gap Terjadi ketika suatu metode, misalnya pendekatan kualitatif, belum pernah dipakai untuk menjawab pertanyaan di bidang tersebut.
- Population atau context gap Muncul ketika penelitian sebelumnya hanya fokus pada kelompok, wilayah, atau periode waktu tertentu.
- Theoretical gap Terjadi ketika teori yang ada belum bisa menjelaskan fenomena baru secara memadai, atau belum pernah diuji pada konteks tertentu.
Penamaan kategori ini bisa berbeda antar bidang ilmu. Yang penting bukan menghafal istilahnya, tapi memahami logikanya, yaitu menemukan apa yang belum terjawab, belum konsisten, atau belum diuji.
Bagaimana Cara Mencari Research Gap untuk Skripsi?
- Tentukan topik yang spesifik Topik yang terlalu luas membuat gap sulit ditemukan karena literaturnya terlalu banyak dan beragam.
- Kumpulkan jurnal yang relevan Kumpulkan minimal sepuluh sampai lima belas jurnal sebagai bahan pembanding, jangan hanya mengandalkan satu atau dua sumber.
- Baca introduction dan literature review lebih dulu Bagian ini berisi ringkasan penelitian sebelumnya sehingga kamu bisa cepat memetakan apa yang sudah diteliti.
- Periksa bagian limitation Peneliti biasanya jujur menyebutkan batasan studi mereka, seperti sampel kecil atau metode yang terbatas.
- Perhatikan suggestion for future research Bagian ini sering menjadi cara paling langsung menemukan gap karena peneliti sebelumnya sudah menuliskan apa yang belum sempat mereka teliti.
- Bandingkan temuan antar jurnal Susun dalam tabel sederhana agar terlihat pola mana yang konsisten dan mana yang bertentangan.
- Identifikasi perbedaan konteks, metode, variabel, atau populasi Perbedaan ini sering menjadi titik awal gap yang konkret dan bisa langsung dirumuskan.
- Validasi gap dengan jurnal tambahan Pastikan gap itu bukan karena kamu belum menemukan penelitian yang sebenarnya sudah membahasnya.
- Rumuskan gap menjadi pertanyaan penelitian Ubah celah yang ditemukan menjadi pertanyaan spesifik yang bisa dijawab dengan metode yang kamu kuasai.
Contoh singkat, penelitian tentang pengaruh media sosial terhadap keputusan pembelian selama ini banyak meneliti masyarakat umum dengan metode survei.
Kalau kelompok mahasiswa belum banyak diteliti secara khusus, dan pendekatan kualitatif untuk menggali alasan di balik pengaruh itu juga belum banyak dipakai, di situlah population gap dan methodological gap bisa dirumuskan menjadi topik baru.
Apa Kesalahan yang Perlu Dihindari?
- Menganggap gap selalu berarti topik yang belum pernah diteliti sama sekali Padahal gap juga bisa muncul dari kontradiksi hasil atau keterbatasan metode penelitian sebelumnya.
- Hanya mengganti lokasi atau objek tanpa dasar akademik Perbedaan tempat atau subjek saja tidak otomatis menjadi gap yang kuat.
- Mengandalkan satu jurnal saja sebagai dasar gap Argumen menjadi lemah karena tidak menunjukkan pola dari banyak penelitian.
- Mengandalkan AI tanpa memverifikasi sumber aslinya AI bisa saja merangkum secara tidak akurat atau menyebut referensi yang sebenarnya tidak ada.
AI memang bisa membantu merangkum literatur, mengelompokkan topik, dan menyusun daftar keyword pencarian.
Tapi hasilnya tetap harus dicek ulang ke jurnal asli sebelum dijadikan dasar penelitian.
Menemukan research gap memang butuh proses membaca yang telaten, bukan jalan pintas.
Tapi begitu gap-nya jelas, seluruh bab pendahuluan, rumusan masalah, sampai metode penelitian akan jauh lebih mudah disusun karena punya dasar yang kuat. (*)
Referensi:
- https://academiaopenpublisher.com