Ketika Kritik Tenggelam dalam Kebisingan

4 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan
Sebuah pagelaran seni dog-dog di tengah sebuah aksi. (Foto: Dokumen pribadi)
Sebuah pagelaran seni dog-dog di tengah sebuah aksi. (Foto: Dokumen pribadi)

Pernahkah kita menghitung berapa kali jempol menggulir layar telepon dalam sehari? Puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan kali. Bersama setiap guliran itu lewat pula berita tentang begal di Bandung, harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik, kasus korupsi, konflik politik, video lucu, promosi belanja, gosip selebritas, hingga meme terbaru. Semuanya meminta perhatian dalam waktu yang bersamaan.

Tidak ada yang benar-benar tinggal lama.

Kita membaca sepintas, memberi tanda suka, mungkin menuliskan komentar, lalu berpindah ke unggahan berikutnya. Informasi datang tanpa henti, tetapi perhatian kita justru semakin pendek. Barangkali inilah salah satu ciri zaman yang jarang kita sadari: kita tidak kekurangan informasi, kita justru mengalami krisis perhatian.

Bandung beberapa waktu terakhir kembali diramaikan kabar begal. Rekaman CCTV beredar di berbagai platform media sosial. Percakapan pun bermunculan. Ada yang menyalahkan aparat, ada yang menyalahkan pelaku, ada yang menyalahkan kondisi ekonomi, bahkan ada yang menjadikannya bahan lelucon. Namun sebelum percakapan itu sempat berkembang menjadi pembahasan yang lebih serius tentang akar persoalannya, linimasa sudah bergerak ke isu berikutnya.

Saya kemudian bertanya, kapan terakhir kali kita benar-benar bertahan cukup lama pada satu persoalan hingga mampu mengawalnya sampai selesai?

Pertanyaan itu mengingatkan saya pada pemikir Prancis, Guy Debord. Dalam The Society of the Spectacle, Debord berpendapat bahwa masyarakat modern tidak selalu dijauhkan dari kenyataan melalui penyembunyian informasi. Justru sebaliknya, realitas dibanjiri oleh begitu banyak citra, peristiwa, dan tontonan sehingga kita kesulitan membedakan mana yang sungguh penting dan mana yang sekadar lewat di depan mata. Debord tentu menulis dalam konteks zamannya, jauh sebelum media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun gagasannya terasa tetap relevan ketika kita melihat bagaimana perhatian publik kini bergerak begitu cepat dari satu isu ke isu lain.

Sudut pandang itu menjadi semakin menarik jika dibaca berdampingan dengan Manufacturing Consent karya Edward S. Herman dan Noam Chomsky. Mereka menunjukkan bahwa pembentukan opini publik tidak selalu berlangsung melalui penyensoran yang keras. Yang sering kali lebih menentukan adalah bagaimana sebuah isu dipilih, dibingkai, diberi ruang, lalu diulang terus-menerus, sementara isu lain perlahan menghilang dari percakapan. Di era media sosial, proses itu tidak hanya berlangsung melalui media arus utama, tetapi juga melalui algoritma yang bekerja berdasarkan perhatian kita sendiri.

Algoritma tidak mengenal benar atau salah. Ia mengenal apa yang membuat orang berhenti menggulir layar, memberi komentar, atau membagikan sebuah unggahan. Dalam logika seperti itu, kemarahan lebih menguntungkan daripada ketenangan, sensasi lebih menarik daripada penjelasan yang panjang, dan sarkasme sering kali lebih mudah menyebar daripada argumentasi yang jernih.

Di sinilah saya melihat sarkasme dari sudut yang berbeda.

Sarkasme bukan musuh demokrasi. Dalam sejarah, satire dan humor justru sering menjadi cara paling ampuh untuk mengkritik kekuasaan. Persoalannya muncul ketika sarkasme berubah menjadi komoditas perhatian. Kritik tidak lagi dinilai dari kemampuannya menjelaskan persoalan, melainkan dari kemampuannya menjadi viral.

Akibatnya, kita memasuki situasi yang paradoks. Kritik tidak pernah sebanyak sekarang, tetapi daya ubahnya terasa semakin kecil. Bukan karena kritik dibungkam, melainkan karena ia harus berebut perhatian dengan ribuan konten lain yang sama-sama meminta untuk dilihat. Sebelum satu persoalan dipahami, persoalan berikutnya sudah datang. Sebelum satu perdebatan selesai, perdebatan lain sudah mengambil alih panggung.

Dalam situasi seperti ini, status quo memperoleh keuntungan yang tidak sedikit. Bukan semata-mata karena ada pihak yang sengaja mempertahankannya, melainkan karena ruang publik semakin sulit memelihara perhatian dalam waktu yang cukup lama. Persoalan-persoalan yang membutuhkan pengawalan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, sering kali hanya memperoleh umur beberapa hari di linimasa.

Tentu saja, dalam setiap ruang publik selalu ada aktor-aktor yang berusaha memengaruhi arah percakapan. Ada yang membangun narasi tandingan, ada yang menyerang pribadi pengkritik, ada yang menggeser fokus pembahasan ke isu lain yang lebih gaduh, dan ada pula yang sekadar mengejar viralitas. Namun semua itu hanya efektif karena bertemu dengan budaya scrolling yang membuat perhatian kita mudah berpindah.

Pada akhirnya, persoalan paling besar bukanlah banyaknya informasi yang kita terima, melainkan sedikitnya waktu yang kita berikan untuk memahaminya.

Sementara kita sibuk berpindah dari satu isu ke isu berikutnya, kehidupan sehari-hari tetap menuntut jawaban. Harga kebutuhan pokok tidak berhenti naik hanya karena sebuah tagar menjadi tren. Kesempatan kerja tidak bertambah hanya karena sebuah video ditonton jutaan kali. Rasa aman warga tidak pulih hanya karena kolom komentar dipenuhi kemarahan.

Demokrasi memang membutuhkan kebebasan berbicara. Tetapi demokrasi juga membutuhkan warga yang mampu mempertahankan perhatian terhadap persoalan yang benar-benar menentukan kehidupan bersama. Tanpa perhatian yang cukup, kritik mudah berubah menjadi sekadar kebisingan. Dan di tengah kebisingan itu, persoalan-persoalan yang paling mendesak justru perlahan menghilang dari pandangan kita.

Mungkin itulah tantangan terbesar zaman ini. Bukan bagaimana membuat lebih banyak orang berbicara, melainkan bagaimana menjaga agar perhatian publik tidak terus-menerus tercerai-berai. Sebab perubahan tidak lahir hanya dari kritik yang ramai, tetapi dari perhatian yang cukup lama untuk berubah menjadi kesadaran, lalu mendorong tindakan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Abah Omtris
Tentang Abah Omtris
Musisi balada juga aktif di berbagai komunitas lainnya

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Agu 2026, 11:24

Defisit Rp300 Miliar, Siapa yang Gagal Mengelola Bandung?

Defisit Rp300 miliar itu tentu saja merupakan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar kekurangan duit kas.

Balai Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Humas Setda Kota Bandung  via ayobandung.com)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 08:18

Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

Makna kemerdekaan di era digital tercermin dari kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)