Analisis Perkembangan Sepak Bola Indonesia dan Persib Bandung

5 menit baca
Rizal ahmad
Ditulis oleh Rizal ahmad diterbitkan
Persib Nu Aing sebagai bentuk ikrar dan menunjukkan rasa cintanya pada Persib. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Persib Nu Aing sebagai bentuk ikrar dan menunjukkan rasa cintanya pada Persib. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)

Menelisik perkembangan sepak bola Indonesia, olahraga ini mulai diminati oleh sebagian sektor pemerintah dan swasta sebagai industri hiburan. Investor siap menggelontorkan anggaran besar karena umpan balik yang diterima hampir sebanding. Hal ini boleh jadi dipicu oleh loyalitas basis pendukung yang amat kuat atau keberhasilan jenama (rebranding) klub secara bisnis sehingga sponsor siap menjadi mitra (partner).

Tak dapat kita mungkiri bahwa era modern memaksa sepak bola bertransformasi menjadi perusahaan yang harus mencari keuntungan mandiri demi keberlangsungan klub dan hajat hidup orang banyak. Namun, hal tersebut sering kali disalahartikan sebagai bentuk kapitalisme olahraga semata.

Begitu pula dengan dinamika yang terjadi di Kota Bandung. Klub sepak bola kebanggaan masyarakat Bandung memiliki cerita serupa tentang gairah dan minat sepak bola yang telah membudaya. Persib merupakan bentuk regenerasi yang langka di antara klub-klub Indonesia; mereka menjelma menjadi entitas mandiri yang mampu mengarungi lautan kompetisi tanpa harus bergantung pada sokongan pemerintah.

Diinisiasi oleh para pengusaha keturunan Tatar Sunda, kecintaan mereka terhadap klub yang menjadi lambang budaya masyarakat Jawa Barat tidak membuat mereka lupa bahwa Persib bukan hanya sekadar untuk dicintai. Slogan “Persib kudu diurus” menjadi representasi makna pelestarian budaya karena nyatanya, bagi masyarakat Bandung dan Jawa Barat, Persib adalah warisan turun-temurun.

Layaknya bunga Rafflesia yang langka dan indah namun menyimpan aroma yang menyengat, era gelap tanpa prestasi—yang kala itu hanya mengandalkan anggaran daerah—menjadi momok bagi semua pihak. Internal Persib saat itu tampak mudah dikendalikan oleh kepentingan politis, bahkan terseret lebih jauh ketika Persib digadaikan sebagai komoditas politik oleh oknum tertentu.

Di sisi lain, muncul isu miring mengenai pengalihan anggaran daerah atau PNS di beberapa sektor untuk menyokong klub, yang kemudian memicu bola liar di tengah masyarakat mengenai pro dan kontra dalam mencintai Persib.

Transformasi Persib bukannya tanpa kecaman, meski banyak pula pihak yang menyambut baik. Muncul narasi bahwa sepak bola dan Persib telah dikomersialisasi. Beragam faktor dan isu berkembang liar; ada yang berasumsi hal ini terjadi karena jatuhnya rezim, ada pula yang menyayangkan hilangnya mata pencaharian sebagian komunitas akibat perubahan sistem kerja klub. Namun, Persib tetap konsisten di jalur perubahan. Walau selangkah demi selangkah, titik terang itu terbukti bukan sekadar asa pada tahun 2014 dan 2024.

Namun, satu hal yang menjadi tabiat pendukung kita dan tak lekang oleh waktu adalah sikap pragmatis. Sebagian orang memandang bahwa segala perubahan harus terjadi secepat membalikkan telapak tangan. Ketidaksabaran suporter dalam memaknai prestasi sering kali berubah menjadi aksi brutal yang dibalut narasi heroik. Mereka seolah buta bahwa rasa cinta ini membutuhkan realitas yang penuh intrik dan gimik.

Pola pragmatisme ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Persib, tetapi juga pada beberapa kelompok pendukung klub lain. Dengan dalih loyalitas, mereka tidak memahami sudut pandang manajemen yang sedang memutar otak. Contohnya dapat kita saksikan ketika muncul unpopular opinion mengenai taktik Bojan Hodak dari para penikmat klub tanpa didasari oleh data proses perkembangan tim.

Sikap pragmatis ini tak ayal berakar dari sikap federasi itu sendiri. Penyelesaian masalah yang disederhanakan serta syarat akan intrik politik dan bisnis perorangan membentuk pola interaksi yang kurang sehat antar-klub hingga mengakar ke akar rumput. “Ah, ke ge kitu deui!” mungkin menjadi kalimat yang sering terdengar saat masyarakat bosan dengan drama timnas atau drama klub yang belum mampu menggaji pemainnya.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Konteks pengembangan jangka panjang sering kali diterjang dengan langkah instan menaturalisasi pemain keturunan akibat ketidakmampuan kita membina talenta lokal yang potensial. Hal ini disambut oleh sikap suporter yang berprinsip “yang penting menang dan masuk Piala Dunia”, sebuah cita-cita yang terasa semu jika tanpa fondasi kuat. Dampaknya, klub-klub tiba-tiba ingin menjadi paling relevan dengan tren saat ini; mereka berbondong-bondong membajak pemain naturalisasi bukan atas dasar kebutuhan taktis, melainkan demi gengsi semata.

Arah mata angin ini kembali pada watak pragmatisme yang telah membudaya, di mana semua pihak hanya ingin merasa senang dan menang. Padahal, sebagai penikmat, ada hal setimpal yang harus diberikan klub saat penonton datang ke stadion: permainan yang patriotik dan menarik. Ini bukan sekadar soal keharusan untuk menang, karena kita harus jujur bahwa kekalahan itu menyakitkan dan akan selalu terasa pedih selama watak pragmatis tersebut masih dipertahankan. Jika kita mengklaim mengadopsi kultur Eropa, mengapa kita tidak mengambil sisi loyalitas mereka yang tetap setia pada tim medioker?

Mereka percaya bahwa proses akan membuahkan hasil dan sadar akan posisi serta standar klub mereka. Salah satu kisah menarik adalah Crystal Palace yang memenangkan Piala FA setelah menanti selama 119 tahun untuk trofi pertama mereka, atau kisah Leicester City yang secara mengejutkan menjuarai Liga Inggris pada musim 2015/2016. Suporter harus mau berproses dan menunggu. Apakah tanpa kritik? Tentu tidak. Mereka tetap melayangkan protes, namun berdasarkan analisis yang tepat, bukan dalam keadaan tidak sadar atau bergumam seperti pundit yang sedang mabuk.

Mengingat histori dan kultur yang dianut, kita harus mengakui bahwa secara mendasar kita bukanlah negara yang identik dengan tradisi sepak bola sekuat Brasil, Inggris, atau Italia. Kedatangan pemain kelas Eropa "Grade B" sering kali dianggap sebagai sosok juru selamat (Messiah) yang siap membawa kita ke Piala Dunia 2026.

Namun, saat realitas tak sesuai harapan, apakah semua harus marah dan kecewa? Selanjutnya, apa yang dilakukan pendukung? Mencari kambing hitam sebagai bentuk keterikatan sikap pragmatis dalam memandang sepak bola Indonesia. Apakah Persib termasuk? Jelas. Sikap ini menjalar ke seluruh elemen suporter. Untuk klub sebesar Persib, masih ditemukan pola perilaku tidak dewasa yang mengatasnamakan loyalitas dan cinta. “Da di Eropa ge kitu!” sahut pelaku dengan gaya hooliganismenya.

Yang lebih memprihatinkan adalah ketika rivalitas disalahgunakan hingga menyewa pendengung (buzzer) hanya karena sebuah tim sedang menjalani proses yang menjanjikan. Kasus Beckham Putra yang menjadi bagian skuad Timnas Indonesia namun justru menjadi bulan-bulanan hanya karena ia pemain Persib adalah hal yang menyakitkan bagi warga Bandung.

Sikap pragmatis bukanlah hal yang baik bagi perkembangan sepak bola kita jika kita tidak segera menyadarinya. Menang atau kalah adalah hasil, namun proses manajemen federasi, klub, serta pola pikir suporter adalah kunci menuju jalan terbaik. Futsal Indonesia telah membuktikan hal itu; tanpa sorotan berlebih (spotlight), mereka membuktikan prestasi di tingkat Asia.

Walaupun kalah dari Iran di final Asia Cup tahun ini, suporter tetap bangga bukan karena intrik, melainkan karena menghargai proses. Mereka menunjukkan kedewasaan, baik di stadion maupun di media sosial. Harapan ini harus dijadikan model peran (*role model*) dengan mengesampingkan egosentris pribadi dan mengubah rivalitas menjadi sebuah integrasi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Rizal ahmad
Tentang Rizal ahmad
Seorang pendidik yang ingin berkontribusi lewat tulisan yang bertemakan sosial politik

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Agu 2026, 11:24

Defisit Rp300 Miliar, Siapa yang Gagal Mengelola Bandung?

Defisit Rp300 miliar itu tentu saja merupakan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar kekurangan duit kas.

Balai Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Humas Setda Kota Bandung  via ayobandung.com)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 08:18

Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

Makna kemerdekaan di era digital tercermin dari kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)