Sejarah Stadion Si Jalak Harupat Bandung, Rumah Bersama Persib dan Persikab

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Stadion Si Jalak Harupat di Soreang yang jadi markas Persib Bandung dan Persikab. (Sumber: Pemkab Bandung)
Stadion Si Jalak Harupat di Soreang yang jadi markas Persib Bandung dan Persikab. (Sumber: Pemkab Bandung)

AYOBANDUNG.ID - Bagi orang Bandung, aroma stadion bukan sekadar bau rumput basah. Di Jalak Harupat, aromanya campuran asap cilok bakar, keringat suporter, dan kadang-kadang flare yang meledak tanpa aba-aba. Stadion ini berdiri sejak 2005, diberi nama Si Jalak Harupat untuk menghormati Oto Iskandardinata. Tapi di mata Bobotoh, namanya bisa apa saja, yang penting di sana Persib bisa main, dan mereka bisa teriak sekeras-kerasnya.

Suasana hiruk-pikuk itu tidak pernah terbayangkan saat awal 2000-an, ketika pemerintah Kabupaten Bandung di bawah Bupati Obar Sobarna masih sibuk meyakinkan banyak pihak bahwa Kabupaten Bandung butuh stadion sendiri. Maklum, selama ini sorotan sepak bola lebih sering ke Kota Bandung dengan Stadion Siliwangi di Jalan Ahmad Yani. Kabupaten Bandung, meski luas dan berpenduduk besar, tak punya arena yang bisa disebut kebanggaan. Padahal, ada Persikab, klub sepak bola kabupaten, yang butuh markas layak. Kalau mau dihitung, suporter Persikab mungkin tak sebanyak bobotoh Persib, tapi harga diri daerah tetap harus dijaga.

Karena itu, diputuskanlah membangun stadion di Soreang. Proyek dimulai Januari 2003 dengan anggaran yang bikin rakyat geleng-geleng kepala: Rp67,5 miliar. Untuk ukuran zaman itu, jumlahnya fantastis. Tapi begitulah kalau pemerintah ingin bikin monumen. Beton harus tinggi, tribun harus megah, rumput harus hijau standar FIFA, dan lampu sorot tak boleh kalah dengan stadion ibu kota.

Baca Juga: Jalan Otista Bandung: Dibuka Tiap 30 Tahun, Dinamai dari Si Jalak Harupat

Dua tahun berselang, stadion akhirnya rampung. Pada 26 April 2005, tepat hari jadi ke-365 Kabupaten Bandung, stadion ini diresmikan oleh Agum Gumelar, yang waktu itu menjabat Ketua KONI Pusat. Peresmiannya memang sengaja dipasangkan dengan ulang tahun kabupaten—biar lebih dramatis: ulang tahun daerah, hadiah besar stadion. Rasanya mirip orang ulang tahun dapat kue raksasa.

Stadion Si Jalak Harupat sejak awal diproyeksikan sebagai kandang Persikab Kabupaten Bandung. Klub berjuluk “Laskar Dalem Bandung” itu akhirnya punya rumah yang cukup layak untuk menampung suporter. Tidak lagi hanya bertanding di stadion kecil, Persikab bisa merasa bangga: kabupaten punya stadion sendiri, lengkap dengan identitas dan kebanggaan daerah.

Tapi cerita tidak berhenti di situ. Beberapa tahun kemudian, stadion yang awalnya “hanya” untuk klub kabupaten berubah nasib. Ia dipinang klub besar "tetangga" dengan massa luar biasa: Persib Bandung.

Dari Kandang Persikab, Jadi Panggung Persib

Tahun 2009, Persib Bandung mulai menggunakan Stadion Si Jalak Harupat sebagai kandang. Stadion Siliwangi di pusat kota sudah dianggap kurang layak untuk laga besar, terutama soal keamanan dan kapasitas. Pilihan jatuh ke Soreang. Maka sejak itu, jalan menuju Jalak Harupat rutin macet setiap kali Persib bertanding.

Bersama Persib, stadion ini benar-benar naik kelas. Bobotoh, dengan lautan biru kebanggaannya, menyerbu tribun. Chant menggema, flare kadang muncul, dan energi penonton membuat tribun bergetar. Jalak Harupat berubah dari “stadion kabupaten” menjadi panggung utama liga nasional.

Baca Juga: Tragedi Longsor Sampah Leuwigajah 2005: Terburuk di Indonesia, Terparah Kedua di Dunia

Dengan intensitas tinggi, stadion ini tentu butuh perawatan ekstra. Rumput harus rutin diganti agar tidak jadi lapangan golf darurat. Pencahayaan diperbaiki supaya siaran televisi tak terlihat suram. Tribun dibenahi agar nyaman meski kursi plastiknya kadang terasa lebih keras daripada bangku angkot. Renovasi besar dilakukan menjelang Asian Games 2018, saat Jalak Harupat dipercaya menjadi salah satu venue cabang sepak bola putra.

Suasana saat bobotoh Persib Bandung memenuhi Stadion Si Jalak Harupat. (Sumber: Ayobandung)
Suasana saat bobotoh Persib Bandung memenuhi Stadion Si Jalak Harupat. (Sumber: Ayobandung)

Helatan Asian Games membawa Jalak Harupat ke pentas internasional. Stadion yang dibangun dengan mimpi kabupaten mendadak dipijak oleh pemain dari berbagai negara Asia. Penonton asing hadir, media internasional meliput, dan Soreang ikut disebut di peta olahraga global. Stadion yang awalnya hanya ingin jadi kebanggaan lokal, kini menembus batas negara.

Selain Asian Games, Jalak Harupat juga pernah digunakan untuk beberapa pertandingan Piala AFF dan laga persahabatan internasional. Tidak semua stadion di Indonesia bisa mendapat kesempatan semacam itu. Jalak Harupat membuktikan bahwa kualitasnya tidak kalah dari stadion besar lain, meski ukurannya lebih “menengah” ketimbang Gelora Bung Karno atau Gelora Bung Tomo.

Tapi di balik sorot lampu sorot, ada juga kisah-kisah lain. Warga sekitar tentu ikut kecipratan berkah. Pedagang makanan ringan menjajakan cilok, baso tahu, hingga minuman dingin. Penjual atribut Persib laris manis. Ojek dan angkot ramai. Bahkan jalanan macet pun jadi ladang rezeki bagi tukang parkir dadakan. Stadion ini tak hanya menghidupkan sepak bola, tapi juga ekonomi kecil di sekitar Soreang.

Baca Juga: Sejarah Stadion GBLA, Panggung Kontroversi yang Hampir Dinamai Gelora Dada Rosada

Kisah sukses itu tentu tidak menutup suara-suara kritis. Sejak awal, biaya pembangunan stadion sempat jadi bahan omongan. Ada yang menilai anggaran Rp 67,5 miliar terlalu besar. Tapi seperti biasa, proyek besar selalu melahirkan tanya-jawab publik. Stadionnya toh tetap berdiri megah, bola tetap bergulir, dan penonton tetap berteriak di tribun.

Penamaan “Si Jalak Harupat” sendiri menambah makna historis. Oto Iskandardinata bukan sosok biasa. Ia tokoh pergerakan, anggota Volksraad, bahkan sempat menjabat Menteri Negara pada awal Republik Indonesia. Julukan “Si Jalak Harupat” menempel erat pada dirinya: keras kepala, berani, tak gampang mundur. Memberi nama stadion dengan julukan itu adalah cara Kabupaten Bandung menautkan olahraga dengan sejarah politik lokal.

Setiap kali Bobotoh menyanyikan chant di Jalak Harupat, gema itu seakan menyambung ke semangat Oto Iskandardinata. Stadion ini bukan hanya arena bola, tapi juga ruang ingatan kolektif, tempat nama pahlawan dikenang di luar buku sejarah sekolah.

Kini, kapasitas stadion tercatat sekitar 27.000 penonton. Ukuran ini pas: tidak terlalu besar sehingga terasa kosong, tapi juga cukup luas untuk menampung euforia Bobotoh. Bagi Persib, Jalak Harupat jadi rumah penting di masa ketika stadion-stadion kota belum selalu bisa digunakan. Bagi Persikab, ia tetap kandang kebanggaan. Bagi warga Kabupaten Bandung, ia simbol daerah yang tak mau kalah bersaing dengan tetangga.

Sejak dibuka 2005 hingga kini, Si Jalak Harupat sudah melampaui fungsinya sebagai stadion kabupaten. Dari tribun itu, suporter menjerit kegembiraan atau mengeluh patah hati. Dari lapangan itu, pemain lokal dan asing bergantian menendang bola, mencetak gol, atau membuat blunder memalukan. Dari stadion itu pula, Kabupaten Bandung dikenal lebih luas—bukan hanya lewat sate maranggi atau objek wisata, tapi juga lewat sepak bola.

Stadion Si Jalak Harupat adalah rumah bersama: untuk Persikab, untuk Persib, untuk Bobotoh, dan untuk masyarakat yang menjadikannya bagian dari keseharian. Ia berdiri di tengah Soreang, bukan sekadar bangunan beton, melainkan saksi hidup bagaimana olahraga, ekonomi, dan sejarah bisa bertemu dalam satu arena.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)