Eksotisme Gunung Papandayan dalam Imajinasi Wisata Kolonial

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Gunung Papandayan tahun 1920-an. (Sumber: KITLV)
Gunung Papandayan tahun 1920-an. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Di mata orang Garut hari ini, Gunung Papandayan lebih sering hadir sebagai latar foto, jalur pendakian populer, atau tujuan akhir bus pariwisata yang berhenti rapi di Cisurupan. Namun seabad lalu, gunung ini dibaca dengan cara berbeda oleh orang-orang Eropa yang datang dengan sepatu kulit tebal, peta lipat, dan rasa ingin tahu yang bercampur keyakinan bahwa alam tropis adalah sesuatu yang bisa ditaklukkan, dicatat, lalu dinikmati.

Pandangan itu tergambar jelas dalam buku panduan wisata kolonial Gids van Bandoeng en Midden-Priangan terbitan 1927. Buku ini bukan sekadar penunjuk arah, melainkan juga cermin cara pandang kolonial terhadap lanskap Priangan. Papandayan, dalam buku itu, tidak diperlakukan sebagai gunung keramat atau ruang hidup orang Sunda, melainkan sebagai rangkaian pengalaman visual dan fisik: jalan yang indah, tanjakan yang berat tapi layak, kawah yang berbahaya tapi memesona.

Bagi pembaca Eropa kala itu, Papandayan bukan destinasi instan. Ia harus dicapai dengan kesabaran, waktu luang, dan stamina yang memadai. Dari Garut bisa lewat Cisurupan, dua hingga dua setengah jam. Tapi yang dianggap lebih menarik justru jalur memutar dari Bandung melalui Pangalengan. Lebih jauh, lebih sulit, namun kata kuncinya satu: lebih indah. Dalam logika kolonial, keindahan sering kali identik dengan jarak dan penderitaan ringan yang bisa diceritakan ulang di meja makan.

Baca Juga: Wayang Windu Panenjoan, Tamasya Panas Bumi Zaman Hindia Belanda

Perjalanan dimulai dari Pangalengan, dekat pasanggrahan. Dari sana pelancong diarahkan ke Jalan Syndicaat, jalan yang dipuji bukan karena fungsinya semata, tetapi karena kualitas teknisnya. Jalan yang dibangun dengan sangat indah dan berada dalam kondisi sangat baik. Kalimat seperti ini penting, sebab bagi orang Eropa, infrastruktur adalah penanda peradaban. Alam boleh liar, tapi jalan harus rapi.

Tak lama kemudian muncullah dua pilar batu bernama Pintoe, gerbang simbolis menuju perkebunan teh Malabar. Di sini nama Karel Albert Rudolf Bosscha disebut dengan nada nyaris penuh hormat. Perkebunan Assam Malabar adalah bukti bahwa dataran tinggi Priangan bukan hanya indah, tetapi produktif, bisa diatur, dan menghasilkan. Gunung, dalam imajinasi kolonial, selalu berdiri berdampingan dengan kebun.

Dari Malabar, perjalanan melewati Tanara, Wanasuka, Santosa, Talun, Sedep, hingga Cisurupan. Nama-nama ini berderet seperti daftar perhentian tamasya, padahal di baliknya ada lanskap kerja keras, buruh perkebunan, dan sistem ekonomi yang tak pernah disebut dalam buku panduan. Yang disorot hanyalah hamparan hijau terang kebun teh, pabrik peti teh Negla yang tampak jelas dari kejauhan, serta kontras antara hijau perkebunan dan gelap hutan perawan.

Baca Juga: Sejarah Julukan Garut Swiss van Java, Benarkah dari Charlie Chaplin?

Kabut Savana Tegal Alun, Gunung Papandayan.
Kabut Savana Tegal Alun, Gunung Papandayan.

Kawah, Gas Beracun, dan Romantika Bahaya

Setelah jalan mobil berakhir, petualangan sebenarnya dimulai. Dari rumah pegawai afdeling di perkebunan Arjuna, pelancong harus berjalan kaki mengikuti jalur telepon dinas pengawasan gunung api. Detail ini menarik: bahkan ketika mendaki gunung berapi aktif, orang Eropa selalu ingin memastikan ada jejak administrasi negara. Kabel telepon menjadi penanda bahwa bahaya pun telah diukur dan diawasi.

Bagian awal jalur hutan digambarkan berat. Pendakian curam sekitar 300 meter pertama seolah menjadi ujian awal sebelum alam sedikit melunak. Setelah itu, jalur lebih landai, hutan menipis, hingga akhirnya berhenti di ketinggian sekitar 7.500 kaki. Di sinilah pelancong tiba di Tegal Brungbrung, sebuah padang rumput yang diberi porsi deskripsi panjang, seakan-akan tempat ini adalah hadiah setelah kerja keras.

Dari Tegal Brungbrung, pandangan terbuka ke segala arah. Dataran Pangalengan terbentang, dibatasi Kendengwand dan Tilule di selatan dan barat, Malabar beserta Wayang, Windu, dan Rakutak di utara. Nama-nama gunung ini disusun seperti katalog panorama. Alam dibingkai sebagai lukisan raksasa, sementara angin dingin membawa asap belerang tajam, pengingat halus bahwa Papandayan bukan gunung biasa.

Baca Juga: Hikayat Situ Cileunca, Danau Buatan yang Bikin Wisatawan Eropa Terpesona

Dari bibir kawah, kekaguman berubah menjadi campuran kagum dan ngeri. Dinding Walirang yang gundul memuntahkan asap fumarola, sementara Kawah Mas menghembuskan kolom uap besar berwarna kuning keemasan oleh belerang. Angka suhu dicatat dengan teliti: 210 hingga 240 derajat. Detail teknis seperti ini memberi kesan ilmiah, sekaligus menenangkan pembaca Eropa bahwa bahaya telah diberi angka.

Turun ke dasar kawah digambarkan tidak terlalu sulit, seolah-olah medan berbahaya ini telah dijinakkan oleh jalur setapak. Namun di sana muncul daftar ancaman: sumur lumpur, kolam mendidih, telaga dingin berteras aneh, hingga lembah beracun Silah Parugpug. Nama lembah maut disebut tanpa dramatisasi berlebihan, justru dengan catatan santai bahwa korban masih sering terjadi. Bahkan disebutkan seorang mantri vulkanologi tewas pada awal 1925. Bahaya dihadirkan sebagai bagian wajar dari perjalanan, bukan alasan untuk mundur.

Kawah Gunung Papandayan. (Sumber: KITLV)
Kawah Gunung Papandayan. (Sumber: KITLV)

Yang menarik, solusi kolonial atas semua risiko ini sederhana: gunakan pemandu lokal. Dengan bayaran satu gulden, urusan nyawa dianggap selesai. Di sinilah terlihat jurang cara pandang. Gunung yang hidup, berubah, dan mematikan direduksi menjadi rute wisata yang bisa ditempuh asal mengikuti aturan dan membayar orang yang tahu jalan.

Papandayan juga diposisikan sebagai gunung sejarah. Letusan besar 1772 disebut sebagai peristiwa pamungkas yang membawa maut dan kehancuran di Garut. Setelah itu, aktivitas hanya naik turun tanpa mencapai ledakan besar. Narasi ini memberi kesan stabilitas, seolah gunung sudah menyelesaikan bagian paling berbahayanya dalam sejarah.

Bagi orang Eropa pembaca Gids, Papandayan adalah paket lengkap: jalan indah, kebun teh hijau, hutan perawan, kawah aktif, gas beracun, hingga panorama laut di kejauhan. Semua bisa ditempuh dalam satu hari penuh, asal berangkat pagi dan membawa bekal sendiri. Gunung ini bukan sekadar alam, melainkan pengalaman yang bisa dijadwalkan.

Baca Juga: Sejarah Panjang Hotel Preanger Bandung, Saksi Bisu Perubahan Zaman di Jatung Kota

Papandayan hari ini masih berdiri megah dan dipromosikan lewat media sosial, namun nyaris seabad berlalu, cara pandang kolonial itu masih terasa. Gunung tetap dijual sebagai keindahan yang aman, selama mengikuti jalur dan aturan. Bedanya, kita jarang lagi membaca Papandayan sebagai ruang yang sungguh hidup dan bisa sewaktu-waktu mengingatkan bahwa ia bukan sekadar objek wisata, melainkan kekuatan alam yang tak pernah benar-benar jinak.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 21 Jun 2026, 12:17

Jembatan Cirahong, Warisan Belanda dengan Akses Lantai Ganda

Jembatan Cirahong, warisan dari Belanda yang memiliki dua jalur akses. Berfungsi sebagai rel kereta dan jalan bagi warga.

Jembatan Cirahong masa sekarang. (Sumber: Dokumen Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:48

Meraih Impian dari Sekolah Terbaik

Menentukan sekolah terbaik pun harus dianggap sebagai langkah yang menentukan impian murid baru terwujud.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:36

Risiko Kecil dari USG yang Berlebihan

Pentingnya membatasi frekuensi USG kehamilan sesuai indikasi medis guna mencegah potensi risiko efek termal dan paparan ultrasonik berlebihan pada janin.

Ilustrasi pemeriksaan USG kandungan pada ibu hamil. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:32

Tidak Hanya Judol, Blind Box Juga Dapat Memicu Kecanduan

Blind box justru mendorong perilaku konsumtif dan impulsif pada konsumen Generasi Z.

Ilustrasi blind box. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:25

Bukan Sekadar Paspor: Makna Nasionalisme Dalam Skuad Timnas Modern

Performa baik Timnas Indonesia ikut dipengaruhi pemain diaspora.

Ole Romeny (10) bersama Ramadhan Sananta (9) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (27/3). (Sumber: kemenpora.go.id | Foto: Herry)
Beranda 20 Jun 2026, 13:46

Mengayuh dengan Cemas di Kota yang Mengaku Ramah Pesepeda

Komunitas pesepeda Bandung memasang Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta usai tewasnya seorang remaja pesepeda, sekaligus mendesak pemerintah memperbaiki keselamatan infrastruktur jalan.

Komunitas sepeda dan pejalan kaki memasang memorial Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta sebagai simbol duka atas tewasnya seorang remaja saat bersepeda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Beranda 20 Jun 2026, 05:35

Membongkar Operasi Informasi yang Tak Kasat Mata di Ruang Digital

Jurnalis diajak mengenali operasi manipulasi informasi di ruang digital, mulai dari disinformasi, narasi terkoordinasi, hingga rekayasa tren di media sosial.

Ika Ningtyas, Koordinator Cek Fakta Tempo, memaparkan cara mengenali operasi manipulasi informasi yang bekerja secara terorganisasi di ruang digital kepada para jurnalis di Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 19 Jun 2026, 20:59

Dobrak Batas Sinema Remaja, Film ‘Dan Bandung’ Garapan Rudi Soedjarwo Angkat Isu Strict Parents

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung.

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 20:00

Ciparay: Lumbung Padi Jawa Barat dari Dulu sampai Kini

Kecamatan Ciparay merupakan sentra produksi beras terbesar di wilayah Jawa Barat.

 (Sumber: KITLV, Diakses tangal 3 Juni 2026)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 18:45

Memahami Cara Ngiklan Game Digital, Bagaimana Valorant Memperkenalkan Skin Senjata agar Tak Biasa

Valorant resmi merilis skin terbarunya yang berjudul “Kuronami 2.0”, sebuah koleksi skin premium yang hadir untuk senjata Phantom, Operator, Guardian, Ghost, dan Melee.

Gambar Skin Senjata Kuronami 2.0
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:43

Naik Kereta Sambil Ketemu Karakter Favorit? Ternyata Ada Strategi Besar di Baliknya

Bagaimana sebuah kolaborasi karakter animasi lokal berhasil membuat audiens connect di berbagai platform dengan pendekatan yang disesuaikan, tanpa kehilangan benang merahnya.

Transportasi publik yang digunakan masyarakat Indonesia setiap harinya. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 17:09

Hutan Pinus Rahong Pangalengan, Destinasi Sejuk dengan Sungai dan Camping Ground

Hutan Pinus Rahong menawarkan suasana teduh, camping, rafting, hingga glamping. Kenali 6 klaster wisata dan daya tarik alamnya sebelum berkunjung.

Hutan Pinus Rahong, Pangalengan.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:00

Toponimi Lembang (bagian 3 – Habis)

Di Lembang terdapat sebuah bukit yang berada di selatan observatorium Bosscha, yang dahulunya hanya merupakan bukit biasa yang ditumbuhi ilalang.

Kampung Lapang, Cikole, Lembang, pada saat pendudukan Jepang. Dapat terlihat Gunung Putri di belakang sebagai latar. (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 16:18

Jari, Kata, dan Hati

Sentuhan jari di atas gawai, dapat mengirim kabar baik, berbagi ilmu, menguatkan persaudaraan, sebaliknya bisa menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah.

Saatnya menulis di Ayo Bandung (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:46

Wewenang Kekuasaan Adityawarman di Kerajaan Malayu

Membahas mengenai peran Raja Adityawarman selama memimpin Kerajaaan Malayu.

Candi Muaro Jambi (Sumber: Pemerintah Provinsi Jambi (jambiprov.go.id))
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:09

Mengapa SNI Gempa Masih Jadi Formalitas di Indonesia

Esai ini membahas lemahnya penerapan SNI 1726:2019 sebagai standar ketahanan gempa pada bangunan rumah tinggal di Indonesia, yang saya telaah dari sudut pandang keilmuan teknik sipil.

Ilustrasi kerusakan akibat gempa.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 13:39

Strategi Penyampaian Pesan dalam Publikasi Film melalui Website dan Media Sosial

Website resmi menyajikan informasi yang lebih lengkap mengenai film, pemeran, dan jadwal penayangannya.

Ilustrasi menonton film. (Sumber: Pexels | Foto: Pavel Danilyuk)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 11:44

Menelusuri Jejak dan Pola Aktivitas Manusia Masa Lampau di Situs Gua Batu

Daerah Pegunungan Meratus adalah surga bagi kehidupan ribuan tahun silam.

Kondisi Gua Batu dari Luar (Sumber: Geopark Meratus)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 11:06

Wisata Kawasan Tunjungan Surabaya: Sejarah, Kuliner, dan Walking Tour Heritage

Jelajahi Kawasan Tunjungan Surabaya yang memadukan sejarah perjuangan, bangunan kolonial, wisata kuliner, hingga walking tour heritage yang sedang populer.

Kawasan Tunjungan Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 10:47

Siapa yang Menceritakan Indonesia? Perpektif dalam 'Semua untuk Hindia' dan 'Indonesia Calling'

Mengupas dilema orang Eropa hingga solidaritas buruh internasional demi melihat kemerdekaan dari sisi kemanusiaan.

Cover buku Kumpulan Carpen Semua Untuk Hindia dan Tangkapan Layar Pribadi Film Indonesia Calling (Sumber: Indonesiana.id dan channel youtube @pcasmilus)