Sejarah Julukan Garut Swiss van Java, Benarkah dari Charlie Chaplin?

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Foto Cipanas Garut dengan view Gunung Guntur yang diambil Thilly Weissenborn. (Sumber: Wikimedia)
Foto Cipanas Garut dengan view Gunung Guntur yang diambil Thilly Weissenborn. (Sumber: Wikimedia)

AYOBANDUNG.ID - Garut punya banyak identitas. Ada dodol yang lengket di gigi, ada domba garut yang adu jotos di lapangan, ada juga kota intan yang disematkan Bung Karno. Tapi dari sekian banyak identitas itu, ada satu julukan yang terus menempel sampai sekarang: Swiss van Java. Hampir semua orang Garut tahu istilah itu, dari kakek-nenek sampai anak sekolah dasar. Di warung kopi, di brosur pariwisata, bahkan di pidato pejabat bupati, istilah itu akan selalu muncul.

Pertanyaannya, siapa yang pertama kali menyebut Garut sebagai Swiss van Java? Kisah yang paling sering beredar adalah: Charlie Chaplin, si komedian legendaris Hollywood, yang menjulukinya begitu setelah melihat keindahan panorama Garut. Benarkah begitu? Atau jangan-jangan hanya mitos yang terlalu sering diulang, sampai akhirnya dipercaya sebagai kebenaran?

Cerita yang paling populer beredar begini. Charlie Chaplin datang ke Hindia Belanda sekitar awal 1930-an. Ia konon singgah di Garut, menginap di Hotel Ngamplang—hotel kolonial megah yang sampai sekarang masih berdiri dengan lapangan golfnya. Dari sana, ia melihat Gunung Cikuray dan Papandayan menjulang, kabut tipis turun di lembah, sawah berundak terbentang.

Baca Juga: Warga Bandung Kena Kibul Charlie Chaplin: Si Eon Hollywood dari Loteng Hotel

Kisah ini enak didengar. Bahkan lebih enak lagi bila dibayangkan Chaplin, dengan gaya kocaknya, berdiri di teras hotel sambil mengacungkan tongkat dan berkata dengan aksen khas: “Swiss van Java!” Tapi sayangnya, sampai sekarang tidak ada bukti tertulis yang mendukung cerita itu.

Pegiat Komunitas Masa Lewat Garut, Ferdy Yudha Pratama, sudah menelusuri persoalan ini bersama timnya. Mereka membaca catatan perjalanan Chaplin berjudul A Comedian Sees the World. Buku itu mencatat detail perjalanan Chaplin keliling dunia, termasuk ke Hindia Belanda. Namun, tidak ada satu pun bagian yang menyebutkan bahwa Chaplin mencetuskan istilah Swiss van Java.

Karena itu, meski Chaplin memang pernah singgah di Jawa, klaim bahwa dialah pencetus Swiss van Java masih sebatas gosip. Chaplin memang benar-benar pernah berkunjung ke Garut, juga menikmati udara sejuk dan pemandangan gunung. Tapi bahwa ia yang melahirkan istilah Swiss van Java? Tidak ada bukti.

“Katanya Chaplin datang ke Garut, kemudian tahun 1932–1936 nginep di Hotel Ngamplang, dan kemudian melihat pemandangan seindah kayaknya keren, ‘Oh mirip-mirip Swiss’,” tutur Ferdy. “Cuman datanya enggak ada gitu loh. Tidak tertulis, maksudnya datanya belum bisa ditemukan yang menyatakan bahwa Chaplin menyebutkan Garut sebagai Swiss Van Java.”

Selain Chaplin, ada pula yang menuduh Thilly Weissenborn, fotografer perempuan terkenal Hindia Belanda, sebagai pencetus istilah itu. Thilly memang gemar memotret keindahan Priangan, dan banyak karyanya menampilkan lanskap Garut yang menawan. Tapi dalam biografinya, Vastgelerd voor later, tidak ada keterangan bahwa ia menciptakan julukan Swiss van Java. Jadi, dua tersangka ini—Chaplin dan Thilly—keduanya nihil bukti.

Kalau begitu, dari mana sebenarnya istilah itu berasal?

Potret keindahan Pantai Pemeungpeuk Garut oleh Thilly Weissenborn. (Sumber: Wikimedia)
Potret keindahan Pantai Pemeungpeuk Garut oleh Thilly Weissenborn. (Sumber: Wikimedia)

Jualan Europa van Java ala Brosur Turisme Kolonial

Petunjuk penting datang dari buku All Around Bandung karya Gottfried Roelcke dan Garry Crabb. Dalam buku itu, keduanya mengutip sebuah panduan wisata tahun 1917, yang sudah menyebut Garut sebagai Switzerland van Java. Jadi, julukan itu sudah beredar jauh sebelum Chaplin melancong ke Jawa.

Temuan ini menjadi kunci. Jika istilah itu sudah eksis tahun 1917, berarti ia bukan ciptaan artis Hollywood, melainkan hasil promosi wisata kolonial. Dugaan ini makin kuat ketika ditopang oleh dua penelitian akademis: tesis Ahmad Sunjayadi Vereeniging Toeristen Verkeer Batavia dan risalah Iskandar P. Nugraha Dutch Politics of Seeing.

Baca Juga: Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels

Keduanya menyebut peran organisasi bernama Vereeniging Toeristen Verkeer (VTV). Perhimpunan ini berpusat di Batavia, diisi pengusaha Eropa swasta yang mengendalikan urusan pariwisata Hindia Belanda. Mereka membuat brosur, kartu pos, bahkan buku panduan wisata. Intinya: mereka ingin mendatangkan turis sebanyak mungkin ke Hindia Belanda.

Untuk itu, mereka perlu strategi pemasaran. Orang Eropa tentu lebih mudah tergoda bila destinasi jauh di Asia ini digambarkan dengan bahasa yang familiar. Maka muncullah trik: memberi julukan kota-kota di Hindia Belanda dengan nama-nama kota wisata di Eropa.

Batavia disebut Venesia van Java. Bandung dijual sebagai Parijs van Java. Dan Garut, dengan pegunungan yang mengelilingi lembah, udara sejuk, serta villa-villa kolonial, dipoles menjadi Switzerland van Java.

“Sejauh ini kami baru menemukan itu,” kata Ferdy. “Jadi istilah itu sejak tahun 1917 pun sudah berkembang gitu, sudah marak dari mulut ke mulut, terekam gitu di masyarakat waktu itu.”

Logika ini sederhana tapi efektif. Orang Eropa yang pernah berlibur di Swiss akan membayangkan suasana serupa di Garut, hanya dengan tambahan eksotisme tropis. Jadilah Swiss van Java sebuah merek dagang turisme. Ia tercatat dalam brosur sejak 1917, terus dipromosikan, dan akhirnya diwariskan ke generasi setelahnya.

Garut pun jadi primadona. Hotel-hotel kolonial berdiri, dari Hotel Papandayan di pusat kota sampai Hotel Ngamplang di dataran tinggi. Lapangan golf dibangun untuk para tuan besar. Perkebunan teh dan kopi di sekeliling kota menambah daya tarik. Orang Belanda, Inggris, bahkan bangsawan Hindia berdatangan untuk berlibur.

Dan sejak itu, Swiss van Java bukan sekadar sebutan, tapi juga citra resmi Garut di mata dunia.

Pemandangan Garut memang mendukung. Gunung Cikuray, menjulang 2.821 meter, berdiri megah. Gunung Papandayan dengan kawahnya yang menggelegak jadi daya tarik tersendiri. Gunung Guntur, yang dijuluki “Gunung Api Purba” karena sering meletus di abad ke-19, melengkapi panorama. Lembah-lembah hijau dan sawah berundak di kaki gunung memberi kesan seperti Pegunungan Alpen versi tropis.

Baca Juga: Jejak Sejarah Dodol Garut, Warisan Kuliner Tradisional Sejak Zaman Kolonial

Tak heran bila wisatawan Belanda menyukai Garut. Mereka bisa bersepeda keliling kota, berjalan-jalan ke air terjun, atau sekadar duduk di balkon hotel sambil menyeruput teh hangat. Sementara di Swiss mereka makan fondue, di Garut mereka bisa menikmati dodol. Perpaduan Eropa dan Jawa ini rupanya sangat menggoda bagi pasar kolonial.

Potret pemandangan sawah di kaki Gunung Cikuray Garut oleh Thilly Weissenborn. (Sumber: Wikimedia)
Potret pemandangan sawah di kaki Gunung Cikuray Garut oleh Thilly Weissenborn. (Sumber: Wikimedia)

Julukan Swiss van Java pun menempel kuat, bahkan setelah kolonialisme bubar. Dari generasi ke generasi, istilah itu diwariskan. Anak-anak sekolah Garut tumbuh dengan cerita itu, pejabat daerah bangga menggunakannya dalam pidato, dan brosur pariwisata modern pun tetap mencetaknya besar-besar.

Baca Juga: Kapal Laut Garut jadi Korban Torpedo Jerman di Perang Dunia II

Terlebih, setelah cerita Chaplin ikut beredar, sebutan itu makin populer. Walaupun buktinya nihil, siapa yang tidak suka mendengar kisah bahwa seorang superstar dunia pernah menyebut Garut mirip Swiss?

Tapi, kalau mau jujur, pencetus aslinya nampaknya bukan Chaplin, bukan Thilly, melainkan strategi marketing pariwisata kolonial yang dirancang oleh VTV sejak 1917. Mereka yang pertama kali menempelkan label Swiss van Java pada Garut, sama seperti mereka menempelkan label Parijs van Java pada Bandung.

Tentu saja, Chaplin dan Thilly membuat cerita lebih dramatis, lebih romantis, lebih mudah dijual di era digital. Tapi bukti sejarah bicara lain. Swiss van Java lahir dari brosur turisme kolonial, kemudian diwariskan, dan kini jadi bagian tak terpisahkan dari identitas Garut.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)