Akhir dekade 1980-an menjadi salah satu masa ketika Kota Bandung kembali menghadapi gelombang urbanisasi yang kian terasa. Setelah musim mudik Lebaran usai, arus balik tidak hanya membawa para pekerja kembali ke kota, tetapi juga menghadirkan wajah-wajah baru dari berbagai daerah yang datang dengan harapan menemukan kehidupan yang lebih baik. Bandung, yang dikenal sebagai kota pendidikan dan pusat kegiatan ekonomi di Jawa Barat, seolah menjadi magnet yang menarik banyak orang untuk mencoba peruntungan di tengah hiruk-pikuk kota yang terus bertumbuh.
Harian Umum Mandala salah satu surat kabar yang menjadi rujukan warga Bandung, terbitan Jumat 13 Juni 1986 menurunkan sebuah judul besar yang cukup mencolok di halaman depannya: “Arus Balik Penumpang Meledak di Bandung Sabtu dan Minggu.” Judul itu bukan sekadar sensasi berita. Ia menggambarkan sebuah peristiwa sosial yang nyata terjadi di Kota Bandung pada masa itu, sebuah gelombang manusia yang datang berbondong-bondong setelah perayaan Idul Fitri.
Lebaran tahun 1986, yang bertepatan dengan 1 Syawal 1406 Hijriyah, baru saja berlalu. Seperti tradisi tahunan masyarakat Indonesia, jutaan orang melakukan perjalanan mudik ke kampung halaman untuk bersilaturahmi dengan keluarga. Namun beberapa hari setelahnya, arus yang berlawanan pun terjadi yaitu arus balik menuju kota-kota besar, termasuk kota Bandung.
Pada akhir pekan setelah Lebaran itu, terminal, stasiun, dan jalan-jalan utama menuju Bandung dipadati penumpang. Bus antarkota datang silih berganti dengan muatan penuh. Kereta api dari berbagai daerah juga tiba dengan gerbong yang sesak oleh penumpang. Kota Bandung, yang sejak lama dikenal sebagai pusat pendidikan, perdagangan, dan industri di Jawa Barat, kembali menjadi tujuan utama bagi banyak orang yang ingin memulai hidup baru.
Ledakan penumpang kendaraan umum arus balik Lebaran memuncak pada Sabtu dan Minggu, 14 dan 15 Juni 1986, menyusul arus balik yang mulai mengalir sejak Rabu, kemarin dan hari ini, terutama di Terminal Cicaheum dan Moh. Toha, Kota Bandung.

Wakil Ketua Koordinasi Daerah Pengendalian Angkutan Darat
(Kordapad), Jawa Barat, Rd. Sutrisno, mengatakan, ledakan arus balik tersebut mulai terasa Rabu, sejak pukul 09.00-15.30 WIB.
Di Terminal Cicaheum tercatat 10.620 penumpang, sedang di Terminal Moh. Toha tercatat 5.360 penumpang. Jumlah kendaraan yang disiapkan, di terminal
Cicaheum 347 bis (18.453 kursi). Di terminal Moh. Toha 109 bis (5.360 kursi) tambah 10 bis Damri yang diperbantukan.
Pihak DLLAJR Jawa Barat, kata Sutrisno, mengontak Jakarta agar membantu 20 biskota PPD untuk menanggulangi arus balik ke Jakarta. Sedangkan untuk lintas utara (dari Cirebon) akan didrop 30 bis dari Jakarta.
Bandung sebagai Magnet Harapan
Fenomena yang dicatat oleh koran Mandala tidak hanya tentang orang yang pulang dari mudik. Lebih dari itu, banyak warga yang kembali ke Bandung tidak datang sendirian. Mereka membawa serta sanak saudara, kerabat, bahkan tetangga dari kampung halaman.
Bagi sebagian keluarga di desa, Bandung dipandang sebagai kota yang menawarkan kesempatan lebih luas dengan banyaknya
pabrik-pabrik tekstil yang berkembang, sektor perdagangan yang ramai, serta berbagai peluang kerja di sektor informal.
Tak jarang seorang perantau yang sudah lebih dahulu menetap di Bandung pulang kampung saat Lebaran, lalu kembali lagi dengan membawa adik, sepupu, atau kerabatnya untuk ikut bekerja dan mencoba peruntungan di kota.
Pola ini sudah menjadi semacam tradisi sosial yang berulang dari tahun ke tahun. Lebaran menjadi momentum pertemuan keluarga, tetapi juga momen perekrutan informal bagi para calon perantau baru.

Terminal dan Stasiun yang Sesak
Dalam laporan koran itu digambarkan bagaimana suasana terminal dan stasiun menjadi luar biasa padat pada Sabtu dan Minggu setelah Lebaran. Penumpang berdesakan menunggu kendaraan lanjutan menuju berbagai sudut kota Bandung.
Barang bawaan mereka pun mencerminkan perjalanan panjang dari kampung halaman yakni tas besar, karung dan dus berisi pakaian, oleh-oleh khas daerah, hingga peralatan rumah tangga sederhana yang dibawa untuk memulai kehidupan baru di kota.
Bagi para pendatang baru, perjalanan ini bukan sekadar perjalanan pulang. Ia adalah perjalanan menuju harapan.
Kota yang Terus Bertumbuh
Peristiwa arus balik 1986 itu memperlihatkan bagaimana Bandung pada masa tersebut menjadi magnet urbanisasi. Kota ini berkembang pesat sebagai pusat industri dan pendidikan. Kehadiran kampus-kampus besar, kawasan industri, serta perdagangan yang hidup menjadikan Bandung tempat yang menjanjikan bagi banyak orang.
Namun di balik harapan itu, ada pula tantangan yang perlahan muncul yaitu kepadatan penduduk, kebutuhan perumahan, hingga persaingan kerja di sektor informal.
Meski demikian, bagi banyak keluarga dari desa, pilihan tetap sama Bandung adalah kota yang bisa memberikan harapan.

Empat Puluh Tahun Kemudian
Kini, empat puluh tahun telah berlalu sejak berita itu dimuat pada halaman depan Harian Umum Mandala. Namun fenomena yang dituliskan pada tahun 1986 tersebut masih terasa relevan hingga sekarang.
Tradisi mudik dan arus balik tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Kota-kota besar masih menjadi tujuan bagi mereka yang ingin mengubah nasib.
Berita lama itu pada akhirnya bukan hanya catatan tentang kepadatan penumpang setelah Lebaran. Ia adalah potret kecil dari dinamika urbanisasi Indonesia, ketika mimpi tentang kehidupan yang lebih baik mendorong orang-orang meninggalkan kampung halaman dan menapaki masa depan di kota.
Dan pada suatu akhir pekan di bulan Juni 1986 itu, Bandung menjadi saksi dari gelombang harapan yang datang bersama arus balik Lebaran.
Urbanisasi yang mengalir ke Bandung pada akhir 1980-an bukan sekadar perpindahan manusia dari desa ke kota, melainkan juga cerminan dari harapan, kebutuhan hidup, dan dinamika sosial pada masa itu. Di balik kepadatan terminal, stasiun, dan sudut-sudut kota, tersimpan kisah tentang orang-orang yang datang membawa mimpi baru. Empat puluh tahun kemudian, jejak arus manusia itu tetap menjadi bagian dari sejarah perjalanan Bandung sebagai kota yang terus berkembang dan selalu terbuka bagi para pencari kesempatan. (*)
