Di Balik Ramainya Kendaraan saat Mudik Lebaran, Ada Risiko Kecelakaan Pengemudi yang Minim Pengalaman

Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan Rabu 01 Apr 2026, 16:43 WIB
Sejumlah kendaraan melintas di Gerbang Tol Pasteur 1, Kota Cimahi pada Jumat, 27 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sejumlah kendaraan melintas di Gerbang Tol Pasteur 1, Kota Cimahi pada Jumat, 27 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Setiap menjelang Lebaran, jutaan masyarakat Indonesia melakukan perjalanan mudik secara serentak. Pada musim mudik 2026, jumlah pergerakan masyarakat diperkirakan mencapai 147,55 juta orang berdasarkan data Kementerian Perhubungan selama 17 hari pemantauan (13-29 maret 2026). Jalan tol dan arteri dipadati kendaraan pribadi, mencerminkan meningkatnya kesejahteraan sekaligus perubahan preferensi mobilitas.

Namun, di balik euforia tersebut, terdapat fenomena yang jarang dibahas secara serius: lonjakan pengemudi baru yang turun langsung ke jalan dalam kondisi lalu lintas paling kompleks sepanjang tahun.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia menunjukkan tren peningkatan penjualan mobil pada Februari 2026 mencapai 81.159 unit atau naik 22,1 persen dibandingkan Januari 2026. "Pemicu peningkatan penjualan kendaraan bermotor ini utamanya didorong oleh kebutuhan mobil masyarakat Indonesia yang ingin mudik lebaran", kata-kata Menteri Perdagangan dalam konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (1/4/2026).

Namun, bertambahnya kendaraan tidak selalu diiringi dengan kesiapan pengemudi. Banyak di antaranya yang baru pertama kali melakukan perjalanan jarak jauh atau berkendara di jalan tol. Dalam konteks ini, pengalaman mengemudi menjadi faktor penting yang sering luput dari perhatian.

Secara agregat, data nasional tidak selalu menunjukkan korelasi langsung antara jumlah kendaraan dan angka kecelakaan. Bahkan, Wakil Menteri Perhubungan menyebut angka kecelakaan selama mudik 2026 turun 6,31 persen dibanding tahun sebelumnya, seiring dengan peningkatan pengawasan dan rekayasa lalu lintas.

Namun demikian, penurunan ini tidak serta-merta menghilangkan risiko. Data agregat sering kali menyembunyikan dinamika yang lebih kompleks di lapangan, terutama yang berkaitan dengan karakteristik pengemudi.

Dalam perspektif keselamatan transportasi, risiko kecelakaan ditentukan oleh interaksi antara manusia, kendaraan, dan lingkungan jalan. Di antara ketiganya, faktor manusia menjadi yang paling dominan. Berdasarkan data Global Status Report on Road Safety yang dirilis WHO, faktor manusia seperti kelalaian, kelelahan, dan kesalahan pengambilan keputusan memang menjadi pemicu utama, menyumbang lebih dari 90 persen kecelakaan lalu lintas.

Data kecelakaan mudik Lebaran 2026. (Sumber: Instagram/@divisihumaspolri)
Data kecelakaan mudik Lebaran 2026. (Sumber: Instagram/@divisihumaspolri)

Temuan ini sejalan dengan berbagai studi internasional. Penelitian dalam jurnal Accident Analysis & Prevention menunjukkan bahwa pengemudi dengan pengalaman terbatas memiliki risiko kecelakaan lebih tinggi, terutama dalam kondisi lalu lintas yang kompleks (Jannusch et al., 2020).

Kondisi ini menjadi semakin krusial saat mudik Lebaran. Volume lalu lintas meningkat drastis, komposisi kendaraan sangat beragam, dan banyak pengemudi melakukan perjalanan di luar kebiasaan harian mereka. Bagi pengemudi dengan pengalaman terbatas, situasi ini dapat meningkatkan beban kognitif dan memperbesar kemungkinan kesalahan.

Dalam sistem lalu lintas yang padat, kesalahan kecil dapat berdampak besar. Keterlambatan mengambil keputusan, jarak aman yang tidak terjaga, atau perpindahan lajur yang tidak tepat dapat memicu kecelakaan beruntun.

Fenomena di lapangan menunjukkan indikasi tersebut. Kendaraan yang berhenti di bahu jalan karena kelelahan, manuver mendadak, hingga kebingungan menghadapi rekayasa lalu lintas seperti contraflow menjadi gambaran nyata adanya kesenjangan antara kepemilikan kendaraan dan kesiapan mengemudi.

Sejumlah kendaraan pemudik memadati Jalan Raya Nagreg, Cikaledong, Kabupaten Bandung pada Jumat, 28 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Sejumlah kendaraan pemudik memadati Jalan Raya Nagreg, Cikaledong, Kabupaten Bandung pada Jumat, 28 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Dengan demikian, persoalan utamanya bukan sekadar bertambahnya jumlah mobil, melainkan bertambahnya jumlah pengemudi dengan tingkat kesiapan yang beragam dalam sistem lalu lintas berisiko tinggi.

Sayangnya, pendekatan keselamatan selama ini masih cenderung berfokus pada aspek yang terlihat, seperti kondisi kendaraan atau pelanggaran kasat mata. Sementara itu, kesiapan pengemudi—terutama yang baru—belum menjadi perhatian utama dalam strategi keselamatan.

Ke depan, diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif. Edukasi keselamatan perlu lebih terarah kepada pengemudi baru, khususnya menjelang periode mudik. Materi edukasi tidak cukup bersifat umum, tetapi harus mencakup tantangan spesifik seperti berkendara di jalan tol, menjaga kondisi fisik selama perjalanan panjang, serta memahami rekayasa lalu lintas.

Baca Juga: Bandung di Mata Pendatang: Antara Bayangan dan Kenyataan (Tema Ayo Netizen April 2026)

Selain itu, pemanfaatan teknologi informasi lalu lintas perlu dioptimalkan untuk membantu pengemudi mengambil keputusan secara real-time. Penguatan manajemen rest area juga penting untuk mengurangi praktik berhenti di bahu jalan akibat kelelahan.

Mudik Lebaran adalah tradisi yang mencerminkan dinamika sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia. Namun, di tengah meningkatnya kepemilikan kendaraan pribadi, perhatian terhadap kesiapan pengemudi menjadi semakin penting.

Pada akhirnya, keselamatan di jalan raya bukan hanya ditentukan oleh berapa banyak kendaraan yang melintas, tetapi oleh siapa yang berada di balik kemudi. Tanpa kesiapan yang memadai, lonjakan pengemudi baru saat mudik Lebaran berpotensi menjadi risiko laten yang selama ini luput dari perhatian. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Dosen dan Peneliti Bidang Teknik Sipil (Transportasi), Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)