Kisah Beberapa Perkampungan Kota Bandung (Bagian 1)

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Salah satu perkampungan tua di pusat bandung, gang Apandi (Cibantar). (Sumber: Koleksi pribadi dan koleksi werelculturn.nl 1910)
Salah satu perkampungan tua di pusat bandung, gang Apandi (Cibantar). (Sumber: Koleksi pribadi dan koleksi werelculturn.nl 1910)

Pada musim liburan biasanya warga memadati area wisata, hingga membludak dan menciptakan kemacetan di sana–sini. Wajah Bandung  kiwari  adalah wajah perkotaan yang menyuguhkan banyak sekali tempat wisata kekinian hingga merambah ke alam, hingga wajar apabila di musim liburan seperti  sekarang ini antrian panjang mengular dimana-mana.

Sedari kecil, saya adalah tipe orang yang kurang suka keramaian. Apabila liburan tiba, saya selalu berjalan–jalan ke tempat–tempat yang jarang sekali dilirik orang kebanyakan. Salah satunya adalah menjelajahi perkampungan–perkampungan di kota  Bandung dan kota–kota lain yang saya singgahi. Saya sangat suka berjalan di gang–gang kecil di sela-sela kota, melihat keseharian warga disana, mencicipi makanan khas disana, hingga berkenalan dengan orang random yang saya temui dalam penjelajahan tersebut. Kebiasaan saya ini telah ada sejak saya sekolah dasar, dahulu kakek saya adalah partner setia akan hobi saya ini.  

Hingga sekarang,  saya sering berjalan kaki hanya untuk melihat sekelumit tempat yang jarang disinggahi, berbekal beberapa data dari beberapa buku kesukaan saya seperti buku–buku karya bapak Haryoto Kunto, Sudarsono Katam dan pak Titi Bachtiar, saya menyusuri setiap sela kota Bandung, Lembang dan kota–kota lainnya. 

Sebetulnya ada satu buku pegangan saya lainnya apabila sedang menjelajah gang–gang sempit tua di Bandung,  yaitu buku karya Pele Widjaja yang berjudul “ Kampung Kota Bandung”. dalam buku ini kita akan diajak lebih spesifik untuk mengenal hal–hal sepele yang ternyata didalamnya terdapat banyak kisah. Kisah–kisah peradaban suatu tempat yang dimulai dari hal kecil yang mungkin sering kita lewatkan. 

Apabila ditinjau dari perkembangan dan pola tata letak geografisnya, Barros dan Parwoto ( 1979) membedakan ciri-ciri kampung–kota di beberapa kota–kota besar di Indonesia ke dalam 4 tipe, yaitu:

  1. Urban Kampung, yaitu lingkungan pemukiman dari mayoritas masyarakat berpenghasilan rendah, yang berada di daerah transisi atau pinggiran kota.  Pada umumnya telah berkembang sekitar tahun 1940- 1950-an, baik itu di atas tanah pribadi atau pun tanah komunal. Kepadatan kampung biasanya dapat mencapai 500 orang per hektarnya. Biasanya warga kampung berdiam diri di atas tanag hak milik yang kadang–kadang belum terdaftar resmi, karena pada awalnya berstatus komunal. Di dalam kampung ini biasanya terdapat komunitas dengan ikatan sosial yang sangat kuat yang mengembangkan sarana dan prasarana secara swadaya.
  2. Tenement Kampung adalah perkampungan yang tumbuh perlahan sejak jaman kolonial Belanda. Biasanya perkampungan ini terisolasi dan mengalami stagnasi akibat tidak mampunya kehidupan kampung menyelaraskan diri dengan perkembangan modern yang semakin cepat. Kondisi perkampungan sangat padat dengan bangunan dan penduduk yang mencapai 1200 orang per hektarnya. Banyak unit-unit rumah yang disewakan untuk kegiatan ekonomi. Ruang terbuka hijau pun hampir tidak ada, tapi memiliki kondisi air yang baik.
  3. Fringe kampung adalah kumpulan permukiman desa diluar batas kota, yang biasanya hanya dihuni oleh 30 sampai  50 rumah saja. Pertumbuhannya adalah akibat dari keinginan masyarakat dari perkampungan yang ada di dalam kota untuk mendapatkan pemukiman yang dan lingkungan yang tidak terlalu padat . perkampungan ini tumbuh di atas tanah hak milik yang biasanya infrastrukturnya masih minim.
  4. Ilegal Kampung merupakan perkampungan yang tumbuh secara liar di tanah–tahan yang seharusnya tidak untuk dihuni secara permanen. Pertumbuhannya dapat terjadi di tanah–tanah yang sepanjang perkuburan, sepanjang rel kereta api, sepanjang sungai atau sepanjang jalur hijau kota. Status tanahnya pun tidak jelas dan pembangunannya pun tidak memiliki izin. Biasanya kepadatan penduduknya mencapai 800 penduduk per hektarnya. Kondisi bangunan pun semi permanen, tidak memenuhi syarat kesehatan bahkan keselamatan, dan minimnya sarana dan prasarana yang ada.

Jauh  sebelum kota Bandung dinyatakan berdiri atas prakarsa pemerintah Belanda pada 1810, sebetulnya masyarakat Tatar Sunda telah banyak bermukim dan tersebar di daerah–daerah yang nantinya dikenal dengan Kota Bandung. Masyarakat ini telah memiliki kehidupan bermukim yang khas berlandaskan budayanya. Beberapa peneliti seperti  Rothpletz ( 1951), Koenigswald ( 1956), Soejono ( 1960) dan Koesoemadinata ( 1979) telah mengungkapkan fakta–fakta bahwa sejak zaman Neolitik ( 2500 SM), orang–orang Sunda telah memiliki tradisi bermukim dengan sistem perkampungan, dengan rumah yang bercorak gubuk bertiang, sebagai suatu bentuk hidup dan kehidupan bersama dalam suatu sistem sosial tertentu yang masih sangat sederhana ( dalam buku Haryoto Kunto, Semerbak Bunga di Bandung Raya).

Baca Juga: Meracik Kopi, Merajut Harapan: Kisah Difabel di Balik Meja Bar Kibi Kopi

Salah satu istilah Sunda dalam membuka lahan disebut Ngababak. Dahulu istilah ini lebih merujuk ke usaha perluasan sawah atau ladang tempat warga perkampungan Sunda. Dalam konteks yang lain, berdasarkan kata dasar babakan atau babak yang berarti pula menuliskan catatan sejarah. Sebuah babakan biasanya merupakan suatu kesatuan dari beberapa umbulan hingga jumlah rumah dalam satu lingkungan pemukiman tersebut mencapai 4 hingga 10 rumah ( Garna 1984 ).Umbulan boleh dibilang seperti embrio atau cikal bakal kampung, hingga di kawasan Kota Bandung hingga kini masih kita dapat temui penamaan jalan atau wilayah yang diawali oleh kata babakan seperti, Babakan Ciamis, Babakan Ciparay, Babakan Siliwangi, Babakan Tarogong dan masih banyak lainnya. 

Saya adalah contoh dari warga Kota Bandung yang lahir di sebuah Babakan yang nantinya bertransformasi menjadi kawasan Kampung Kota yang berada di pusat kota Bandung, kisah menarik tentang kawasan Kampung kota tempat kelahiran saya akan dibahas dalam bagian ke 2 nanti ya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Tentang Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 18:57

Ini Omah Sawah: Tempat Makan Hidden Gem Sekaligus Cozy di Cianjur

Cianjur yang menjadi julukan kota santri ini selain punya ikonik tauco ternyata banyak tempat kuliner hidden gem yang wajib disambangi

Cianjur memang selalu punya tempat menarik untuk dikunjungi (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 17:08

Bakul Pikul Kopi Tubruk di Terminal Kebon Kalapa Bandung

Nostalgia Terminal Kebon Kalapa Bandung (1964-1996) lewat aroma kopi tubruk bakul pikul.

Terminal Kebon Kalapa, Kota Bandung, pada 1980-an. (Sumber: Facebook | Foto: Foto2 TEMPO DOELOE kita semua)