Kisah Beberapa Perkampungan Kota Bandung (Bagian 1)

Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan Selasa 31 Mar 2026, 14:28 WIB
Salah satu perkampungan tua di pusat bandung, gang Apandi (Cibantar). (Sumber: Koleksi pribadi dan koleksi werelculturn.nl 1910)

Salah satu perkampungan tua di pusat bandung, gang Apandi (Cibantar). (Sumber: Koleksi pribadi dan koleksi werelculturn.nl 1910)

Pada musim liburan biasanya warga memadati area wisata, hingga membludak dan menciptakan kemacetan di sana–sini. Wajah Bandung  kiwari  adalah wajah perkotaan yang menyuguhkan banyak sekali tempat wisata kekinian hingga merambah ke alam, hingga wajar apabila di musim liburan seperti  sekarang ini antrian panjang mengular dimana-mana.

Sedari kecil, saya adalah tipe orang yang kurang suka keramaian. Apabila liburan tiba, saya selalu berjalan–jalan ke tempat–tempat yang jarang sekali dilirik orang kebanyakan. Salah satunya adalah menjelajahi perkampungan–perkampungan di kota  Bandung dan kota–kota lain yang saya singgahi. Saya sangat suka berjalan di gang–gang kecil di sela-sela kota, melihat keseharian warga disana, mencicipi makanan khas disana, hingga berkenalan dengan orang random yang saya temui dalam penjelajahan tersebut. Kebiasaan saya ini telah ada sejak saya sekolah dasar, dahulu kakek saya adalah partner setia akan hobi saya ini.  

Hingga sekarang,  saya sering berjalan kaki hanya untuk melihat sekelumit tempat yang jarang disinggahi, berbekal beberapa data dari beberapa buku kesukaan saya seperti buku–buku karya bapak Haryoto Kunto, Sudarsono Katam dan pak Titi Bachtiar, saya menyusuri setiap sela kota Bandung, Lembang dan kota–kota lainnya. 

Sebetulnya ada satu buku pegangan saya lainnya apabila sedang menjelajah gang–gang sempit tua di Bandung,  yaitu buku karya Pele Widjaja yang berjudul “ Kampung Kota Bandung”. dalam buku ini kita akan diajak lebih spesifik untuk mengenal hal–hal sepele yang ternyata didalamnya terdapat banyak kisah. Kisah–kisah peradaban suatu tempat yang dimulai dari hal kecil yang mungkin sering kita lewatkan. 

Apabila ditinjau dari perkembangan dan pola tata letak geografisnya, Barros dan Parwoto ( 1979) membedakan ciri-ciri kampung–kota di beberapa kota–kota besar di Indonesia ke dalam 4 tipe, yaitu:

  1. Urban Kampung, yaitu lingkungan pemukiman dari mayoritas masyarakat berpenghasilan rendah, yang berada di daerah transisi atau pinggiran kota.  Pada umumnya telah berkembang sekitar tahun 1940- 1950-an, baik itu di atas tanah pribadi atau pun tanah komunal. Kepadatan kampung biasanya dapat mencapai 500 orang per hektarnya. Biasanya warga kampung berdiam diri di atas tanag hak milik yang kadang–kadang belum terdaftar resmi, karena pada awalnya berstatus komunal. Di dalam kampung ini biasanya terdapat komunitas dengan ikatan sosial yang sangat kuat yang mengembangkan sarana dan prasarana secara swadaya.
  2. Tenement Kampung adalah perkampungan yang tumbuh perlahan sejak jaman kolonial Belanda. Biasanya perkampungan ini terisolasi dan mengalami stagnasi akibat tidak mampunya kehidupan kampung menyelaraskan diri dengan perkembangan modern yang semakin cepat. Kondisi perkampungan sangat padat dengan bangunan dan penduduk yang mencapai 1200 orang per hektarnya. Banyak unit-unit rumah yang disewakan untuk kegiatan ekonomi. Ruang terbuka hijau pun hampir tidak ada, tapi memiliki kondisi air yang baik.
  3. Fringe kampung adalah kumpulan permukiman desa diluar batas kota, yang biasanya hanya dihuni oleh 30 sampai  50 rumah saja. Pertumbuhannya adalah akibat dari keinginan masyarakat dari perkampungan yang ada di dalam kota untuk mendapatkan pemukiman yang dan lingkungan yang tidak terlalu padat . perkampungan ini tumbuh di atas tanah hak milik yang biasanya infrastrukturnya masih minim.
  4. Ilegal Kampung merupakan perkampungan yang tumbuh secara liar di tanah–tahan yang seharusnya tidak untuk dihuni secara permanen. Pertumbuhannya dapat terjadi di tanah–tanah yang sepanjang perkuburan, sepanjang rel kereta api, sepanjang sungai atau sepanjang jalur hijau kota. Status tanahnya pun tidak jelas dan pembangunannya pun tidak memiliki izin. Biasanya kepadatan penduduknya mencapai 800 penduduk per hektarnya. Kondisi bangunan pun semi permanen, tidak memenuhi syarat kesehatan bahkan keselamatan, dan minimnya sarana dan prasarana yang ada.

Jauh  sebelum kota Bandung dinyatakan berdiri atas prakarsa pemerintah Belanda pada 1810, sebetulnya masyarakat Tatar Sunda telah banyak bermukim dan tersebar di daerah–daerah yang nantinya dikenal dengan Kota Bandung. Masyarakat ini telah memiliki kehidupan bermukim yang khas berlandaskan budayanya. Beberapa peneliti seperti  Rothpletz ( 1951), Koenigswald ( 1956), Soejono ( 1960) dan Koesoemadinata ( 1979) telah mengungkapkan fakta–fakta bahwa sejak zaman Neolitik ( 2500 SM), orang–orang Sunda telah memiliki tradisi bermukim dengan sistem perkampungan, dengan rumah yang bercorak gubuk bertiang, sebagai suatu bentuk hidup dan kehidupan bersama dalam suatu sistem sosial tertentu yang masih sangat sederhana ( dalam buku Haryoto Kunto, Semerbak Bunga di Bandung Raya).

Baca Juga: Meracik Kopi, Merajut Harapan: Kisah Difabel di Balik Meja Bar Kibi Kopi

Salah satu istilah Sunda dalam membuka lahan disebut Ngababak. Dahulu istilah ini lebih merujuk ke usaha perluasan sawah atau ladang tempat warga perkampungan Sunda. Dalam konteks yang lain, berdasarkan kata dasar babakan atau babak yang berarti pula menuliskan catatan sejarah. Sebuah babakan biasanya merupakan suatu kesatuan dari beberapa umbulan hingga jumlah rumah dalam satu lingkungan pemukiman tersebut mencapai 4 hingga 10 rumah ( Garna 1984 ).Umbulan boleh dibilang seperti embrio atau cikal bakal kampung, hingga di kawasan Kota Bandung hingga kini masih kita dapat temui penamaan jalan atau wilayah yang diawali oleh kata babakan seperti, Babakan Ciamis, Babakan Ciparay, Babakan Siliwangi, Babakan Tarogong dan masih banyak lainnya. 

Saya adalah contoh dari warga Kota Bandung yang lahir di sebuah Babakan yang nantinya bertransformasi menjadi kawasan Kampung Kota yang berada di pusat kota Bandung, kisah menarik tentang kawasan Kampung kota tempat kelahiran saya akan dibahas dalam bagian ke 2 nanti ya. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 31 Mar 2026, 18:28

Memupuk Kerukunan, Menjaga Keharmonisan

Memupuk kerukunan dan menjaga keharmonisan menjadi keharusan dalam kerangka penguatan tiga pilar utama.

Masyarakat Adat Kampung Cireundeu Kota Cimahi saat menggelar Tradisi Tutup Taun 1957 dan Ngemban Taun 1 Sura 1958, Sabtu 3 Agustus 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Mar 2026, 17:02

Ketika Drainase Jalan Menjadi Hazard bagi Pemotor saat Banjir

Drainase jalan seharusnya menjadi solusi saat banjir. Namun dalam beberapa kasus, justru berubah menjadi sumber bahaya tersembunyi bagi pemotor.

Luapan saluran drainase menyebabkan arus banjir deras menggenangi badan jalan di Cianjur. (Sumber: Dok. Satlantas Polres Cianjur)
Beranda 31 Mar 2026, 16:35

Merangkai Kepercayaan Diri Remaja Difabel, Langkah Kecil Menuju Mandiri

Di Percik Insani, remaja difabel belajar membangun kepercayaan diri melalui aktivitas sederhana misalnya memasak hingga bermusik sebagai langkah kecil menuju kemandirian.

Livia bersama teman-temannya berlatih memainkan alat musik untuk membangun kepercayaan diri. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Linimasa 31 Mar 2026, 16:03

Chuan Jianguo, Olokan Sarkastik Warganet China untuk Kamerad Trump

Warganet China menciptakan julukan Chuan Jianguo sebagai bentuk humor politik yang mengkritik dampak kebijakan Donald Trump.

Gambar Chuan Jianguo, Kamerad Donald Trump di Weibo. (Sumber: Weibo)
Sejarah 31 Mar 2026, 14:07

Sejarah Cirebon Dijuluki Kota Udang

Julukan Kota Udang di Cirebon berakar dari sejarah panjang udang rebon sebagai komoditas utama yang membentuk identitas pesisir sejak dulu.

Ilustrasi julukan Cirebon sebagai Kota Udang. (Sumber: Shutterstock)
Beranda 31 Mar 2026, 12:44

Harimau Huru dan Hara, Dua Nyawa yang Melayang di Tengah Ketidakpastian Bandung Zoo

Kematian dua anak harimau di Bandung Zoo mengungkap rapuhnya pengelolaan di tengah konflik berkepanjangan. Di baliknya, muncul pertanyaan besar tentang keselamatan satwa dan masa depan konservasi.

Huru dan Hara mati akibat terinfeksi virus feline panleukopenia. Hara lebih dulu mati pada 24 Maret 2026, disusul Huru pada 26 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 31 Mar 2026, 11:26

Melanjutkan Lebaranomics, Membuka Pintu Kesejahteraan Masyarakat Pesisir

Lebaranomics telah memompa pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I 2026 di angka 5,4–5,5 persen

Ilustrasi kegiatan masyarakat pesisir (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Arditya Pramono)
Ayo Netizen 31 Mar 2026, 10:01

Mars Renced Bergema di Lapas Majalengka

D'Renced adalah band yang secara terbuka melalui karyanya akan terus membawa ide, kritik dan gagasan yang berkelanjutan

 (Foto: TIM Media Lapas Kelas II B Majengka)
Beranda 31 Mar 2026, 09:18

Tergusur Kemajuan Teknologi, Loper Koran di Ambang Kepunahan

Penurunan pembeli yang drastis membuat mereka bertahan di batas, menjalani hari sambil menunggu nasib profesi ini yang perlahan mendekati kepunahan.

Loper koran tetap berjalan menyusuri antrean kendaraan, meski kini orang terbiasa mencari informasi lewat ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wisata & Kuliner 31 Mar 2026, 09:16

Victory Water Park Soreang, Gabungan Wisata Air dengan Kebun Binatang

Objek wisata Bandung dengan kolam ombak, arus, hingga mini zoo di Victory Water Park Soreang. Cocok untuk liburan keluarga dengan tiket terjangkau.

Objek wisata Bandung Victory Water Park Soreang. (Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 31 Mar 2026, 08:49

Macet Jadi Rutinitas, Forum Warga Desak Transformasi Transportasi Umum Kota Bandung

Kemacetan yang kian menjadi rutinitas mendorong warga Bandung bersuara. Melalui forum diskusi, mereka mendesak transformasi transportasi umum yang lebih terintegrasi, manusiawi, dan benar-benar berdam

Kemacetan mengular di kawasan Dago, Kota Bandung, menjadi potret keseharian yang kian akrab bagi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Mar 2026, 08:35

Tradisi ‘Ngadem’ dan Cara Kita Menjemput Langkah Baru di Tanah Kelahiran

Kembali berkativitas setelah menjalankan beberapa ritual di hari Lebaran.

Pantai Pangandaran. (Sumber: Pexels | Foto: laylia)
Ayo Netizen 30 Mar 2026, 19:45

Ganti Profesi Usai Lebaran, Mencari yang Lebih Cocok dengan Semangat Zaman

Banyak lulusan sekolah atau perguruan tinggi yang tidak langsung cocok dengan pekerjaan atau profesi pertamanya.

Pekerja menyelkesaikan produksi tas di salah satu pabrik produksi di Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Bandung 30 Mar 2026, 17:03

The Hallway Space: Menyulap Pasar Tradisional Jadi Ruang Bisnis Kreatif Anak Bandung

The Hallway Space, ruang kebebasan dengan fungsi sebagai wadah cakupan kolektif dari para pelaku industri kreatif yang memiliki visi untuk bertumbuh bersama dalam satu cakupan ekosistem.

The Hallway Space, ruang kebebasan dengan fungsi sebagai wadah cakupan kolektif dari para pelaku industri kreatif yang memiliki visi untuk bertumbuh bersama dalam satu cakupan ekosistem. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Netizen 30 Mar 2026, 16:24

Anomali Saat Lebaran Tahun 1980-an

Pada hari Lebaran banyak orang-orang yang terlibat dalam permainan lotre atau judi padahal kbaru saja menjalani shaum Ramadan

Masjid Agung Bandung (Alun-Alun) pada tahun 1980-an. (Sumber: Twitter | Foto: @arbainrambey)
Linimasa 30 Mar 2026, 15:12

Jejak Serangan Berdarah Israel terhadap Pasukan Perdamaian Indonesia di Lebanon

Sejarah mencatat berbagai serangan terhadap UNIFIL di Lebanon, dari tragedi Qana 1996 hingga insiden terbaru yang menewaskan prajurit Indonesia.

Latihan bersama Kontingen Garuda dengan Lebanese Armed Forces. (Sumber: tniad.mil.id)
Beranda 30 Mar 2026, 14:43

Jejak Perjalanan Motor Pemudik dari Kiaracondong ke Kampung Halaman

Mudik tak selalu identik dengan lelah di jalan. Lewat program Motis, ratusan sepeda motor diangkut dengan kereta dari Kiaracondong, menghadirkan perjalanan pulang yang lebih aman, ringan, dan manusiaw

Rapi berjejer, sepeda motor pemudik yang sudah “dibungkus” siap diberangkatkan menuju tujuan masing-masing. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 30 Mar 2026, 13:56

Kakarén dan Hidup Setelah Lebaran

Kakarén Lebaran bisa dibaca sebagai metafora yang menarik.

produksi kue kering di pabrik kue J&C Cookies, Cimenyan, Kabupaten Bandung pada Rabu, 27 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 30 Mar 2026, 12:37

Transportasi Laut Pemudik: Antara Pelayaran Rakyat Anak Tiri dan Pelayaran Pelat Merah Anak Emas

Kegiatan penyeberangan dengan pelayaran rakyat sarat dengan bahaya.

Ilustrasi kapal pelayaran rakyat. (Sumber: Pexels | Foto: Agus Triwinarso)