Lewat Kearifan Lokal, Komunitas Cika-Cika Konsisten Jaga Ekosistem Sungai Selama 17 Tahun

6 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Pengunjung beraktivitas di bantaran Sungai Cikapundung, Cikalapa pada Minggu 19 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Pengunjung beraktivitas di bantaran Sungai Cikapundung, Cikalapa pada Minggu 19 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Di tepi Sungai Cikapundung Bandung, khususnya di area Cikalapa, suara gemericik air mengalir berpadu dengan embusan angin yang sejuk menyapa setiap orang yang datang ke bantaran.

Setelah menuruni jalan yang landai dan melewati sebuah jembatan, berdiri semacam gapura sederhana terbuat dari bambu yang bertuliskan “Cika Cika”, ikon penanda sebuah ruang yang diciptakan dari kepedulian.

Lokasi ini lebih dari sekadar ikon atau kegiatan seremonial belaka, melainkan buah dari perjalanan panjang sekelompok warga yang memilih untuk tidak tinggal diam saat menyaksikan Sungai Cikapundung yang kian tercemar setiap tahunnya.

Awalnya, semua bermula pada tahun 2009 dari kebiasaan sederhana warga yang sering berkumpul, berbagi, dan makan bersama di bantaran Sungai Cikapundung. Orang Sunda menyebutnya dengan istilah ngaliwet. Di tengah kebiasaan tersebut, mereka mulai menyadari bahwa kondisi sungai semakin memburuk dengan bertambahnya sampah yang hadir di setiap alirannya.

“Kita teh suka kumpul, ngaliwet bareng. Terus lihat sungai kok banyak sampah, nggak terawat,” kata petugas Hubungan Masyarakat (Humas) Komunitas Cika Cika, Iin Ina Marsina (60) saat ditemui di sela kegiatan di Komunitas Cika Cika, Minggu 19 April 2026.

Iin Ina Marsina mengatakan bahwa konsistensi merawat bantaran sungai selama 17 tahun mampu mengubah keresahan menjadi cahaya bagi lingkungan dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Iin Ina Marsina mengatakan bahwa konsistensi merawat bantaran sungai selama 17 tahun mampu mengubah keresahan menjadi cahaya bagi lingkungan dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Dari kekhawatiran ini, tujuh orang yang diketuai oleh Mamat Rosidi menjadi penggerak awal cikal bakal Komunitas Cika Cika ini lahir. Mereka mulai mengambil langkah kecil dengan membersihkan sungai secara mandiri. Aktivitas yang dimulai secara spontan itu perlahan menjadi rutinitas setiap pekan hingga sekarang.

“Barulah tepatnya tanggal 22 Desember 2012 kita membentuk Komunitas Cika Cika,” ucap Iin dengan suaranya yang tidak begitu keras, seakan berlomba dengan suara aliran sungai.

Dari Keresahan Jadi Aksi Nyata

Nama Cika Cika dipilih bukan tanpa arti, melainkan berasal dari daerah di mana komunitas ini berada, yakni Cikalapa yang dialiri oleh Sungai Cikapundung. Jadi, dinamakan Cika Cika, Cikapundung Cikalapa. Cika cika juga berasal dari bahasa Sunda yang artinya kunang kunang. Nama ini juga mencerminkan filosofi yang mewakili semangat mereka dalam menjaga lingkungan. “Cika cika itu kunang kunang,” kata Iin. “Walaupun kecil, tapi bisa memberi cahaya untuk banyak orang,” lanjutnya sambil menatap tersenyum.

Makna ini menjadi simbol dari gerakan komunitas yang mungkin terkesan kecil, namun memberikan dampak luas. Seiring berjalannya waktu, gerakan tersebut mulai menunjukkan perubahan signifikan di area bantaran Sungai Cikapundung.

“Dulu volume sampahnya tinggi, nggak terawat, dan warga jarang lewat sini,” kata Iin sambil menunjuk sisi bantaran. Perubahan ini dirasakan tidak hanya dalam aspek lingkungan, tapi juga dalam kehidupan sosial masyarakat. Tepi sungai yang dulunya dihindari kini menjadi area bersama yang digunakan warga untuk berbagai aktivitas sehari hari. Kehadiran komunitas ini menjadi titik perubahan dalam hubungan masyarakat dengan lingkungan sekitar melalui berbagai kegiatan yang mereka jalankan.

Merawat Sungai, Menghidupkan Warga

Sebagai komunitas yang peduli lingkungan, Cika Cika memiliki perhatian utama pada pelestarian tepi sungai. Kegiatan rutin seperti pembersihan sungai diadakan setiap akhir pekan, bahkan tetap berlangsung meski hanya diikuti oleh beberapa orang.

“Mau satu orang, dua orang, tetap jalan. Yang penting konsisten,” kata Iin. “Kita fokusnya menjaga, merawat bantaran sungai, sama mengurangi volume sampah yang ada di sungai,” lanjutnya.

Selain kegiatan langsung, komunitas ini juga melaksanakan berbagai program yang berbasis pada konservasi, edukasi, dan sosialisasi. Melalui tiga program utamanya yakni, paket edukasi lingkungan, Imah Maggot Bantaran (IMB), dan Pasar Sisi Walungan (Pasiwa).

Penanda Komunitas Cika-cika di bantaran Sungai Cikapundung, di kawasan Cikalapa Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Penanda Komunitas Cika-cika di bantaran Sungai Cikapundung, di kawasan Cikalapa Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Paket edukasi lingkungan ini adalah program yang dijalankan Komunitas Cika Cika untuk memutar roda perekonomian warga melalui edukasi yang ditujukan bagi pelajar hingga akademisi, yang mengajak mereka untuk belajar langsung di alam.

“Kita ada paket edukasi wisata alam, dari TK sampai SMA, bahkan akademisi juga,” ucap Iin. “Kalau akademisi biasanya kita ajak clean up sungai,” tambahnya. Dalam program ini, peserta tidak hanya diperkenalkan pada ekosistem sungai, tetapi juga dilibatkan dalam praktik seperti ecoprint hingga kegiatan pembersihan. Pendekatan ini menjadikan proses belajar lebih relevan dan membangun kesadaran sejak dini.

Program kedua yakni Imah Maggot Bantaran (IMB), pengolahan sampah organik lewat budidaya maggot. Melalui program ini, Komunitas Cika Cika dapat mengelola puluhan kilogram sampah setiap harinya.

“Sampah organik kita olah pakai maggot. Sehari kita bisa kasih pakan sampai 75 kilo sampah,” ucap Iin. “Dalam sebulan bisa mengurangi sampai 1 ton sampah organik. Hasilnya jadi pupuk organik lagi,” lanjutnya.

Program ketiga yakni, Pasar Sisi Walungan (Pasiwa), sebuah ruang ekonomi yang berbasis lingkungan dan melibatkan masyarakat setempat. Hal yang menarik di sini adalah transaksi dilakukan dengan menggunakan koin yang terbuat dari bambu dan kayu dari sekitar sungai. Seluruh konsepnya dirancang untuk ramah lingkungan, baik pada pengunjung dan penjual untuk sama sama membuang sampah pada tempatnya dan sesuai jenisnya.

“Di sini kita pakai koin, satu koin Rp5.000, dan pedagang juga harus paham soal lingkungan,” ujar Iin.

Hal menarik lain dari Pasiwa ini adalah produk yang dijual berupa kuliner khas tradisional yang sebagian besar menggunakan alas pelepah daun pisang untuk wadahnya. Contohnya seperti ulen oncom, kupat tahu, dan lotek. Namun, jajanan zaman sekarang seperti dimsum dan air perasa juga tetap disuguhkan di sini.

Membersihkan sungai lalu menikmati jajanan tradisional sambil menatap gemercik aliran sungai sungguh menjadi pilihan menarik untuk menghabiskan akhir pekan dari hiruk pikuk kota yang tiada habisnya. Lewat program program ini, Cika Cika tidak hanya fokus pada masalah lingkungan, tetapi juga berusaha menciptakan ekosistem sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.

Sungai Cikapundung yang menjadi obyek lindungan Komunitas Cika-cika dalam 17 tahun terakhir. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Sungai Cikapundung yang menjadi obyek lindungan Komunitas Cika-cika dalam 17 tahun terakhir. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Tantangan 17 Tahun Menjaga Bantaran Sungai

Di balik berbagai pencapaian itu, perjalanan komunitas ini tidak lepas dari berbagai tantangan yang rumit. Walaupun sudah hadir selama 17 tahun hingga kini, salah satu rintangan terbesar adalah mengubah pola pikir warga yang masih terbiasa membuang sampah sembarangan.

“Tantangan paling berat itu mengubah pola pikir masyarakat,” kata Iin sambil menunjukkan raut keluhnya. “Mungkin karena mereka ada di hulu sungai, jadi nggak begitu ngerasain dampaknya. Tapi, kan, yang di hilir gimana? Kasihan,” ucap Iin.

Meskipun demikian, semangat komunitas ini tetap dijaga hingga 17 tahun lamanya hingga saat ini. Mereka terus melangkah, bahkan dengan keterbatasan, dengan keyakinan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah yang kecil.

“Kalau nunggu bantuan terus, nggak akan selesai. Yang penting kita lakukan dulu semampunya,” ucap Iin tertawa pasrah.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 14:41

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon

Taman Wisata Goa Sunyaragi adalah salah satu wisata bersejarah di Kota Cirebon yang menyimpan banyak cerita menarik.

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)