Bukan Soal Siapa yang Benar: Belajar Berargumen dari Kanal In Her View

3 menit baca
Nenah Haryati
Ditulis oleh Nenah Haryati diterbitkan
Ilustrasi orang yang sedang berargumen. (Sumber: Unplash)
Ilustrasi orang yang sedang berargumen. (Sumber: Unplash)

Di sela-sela waktu istirahat sebuah kelas pelatihan, suasana yang seharusnya santai mendadak berubah tegang. Andini, salah satu peserta, merasa ada sesuatu yang ganjil. Ketua kelas baru saja menginstruksikan agar semua orang tetap duduk melingkar di tengah ruangan.

"Saya sengaja nggak bubarin kelas, karena ada hal penting yang harus kita selesaikan," ujar laki-laki itu memecah keheningan.

Firasat Andini benar. Suasana semakin panas saat ketua kelas menyebut bahwa ada seseorang yang merasa tersinggung dengan percakapan di grup pesan singkat semalam. Tak lama, seorang wanita di sudut ruangan mulai terisak. Ketika ditanya apa masalahnya, wanita itu menunjuk ke arah Andini dengan tangan gemetar.
"Andini yang mulai! Dia bilang di grup ada cakcak bodas yang memata-matai kita!" seru wanita itu sambil menangis sesenggukan.

Andini tertegun. Ia mencoba menjelaskan dengan tenang bahwa pesan itu hanyalah peringatan umum agar anggota berhati-hati, karena semua orang punya akses dan potensi untuk menjadi cakcak bodas (mata-mata). Namun, si wanita tampak enggan mendengar logika. Ia terus menangis, seolah tangisnya adalah senjata untuk mencari validasi, memposisikan diri sebagai korban dari peringatan yang sebenarnya bertujuan untuk melindungi kelompok.

Andini memilih diam. Ia sadar, meladeni debat dengan emosi di tengah situasi di mana seseorang lebih memilih bermain peran daripada berdiskusi secara sehat hanyalah sia-sia. Setelah situasi mereda, ia menepi ke sudut yang tenang, meresapi rasa sesak karena niat baiknya dipelintir menjadi serangan.

Memahami Pola Komunikasi yang Tidak Sehat

Apa yang dialami Andini sebenarnya adalah satu contoh nyata dari sekian banyak kasus komunikasi yang kurang sehat di sekitar kita. Kejadian serupa, di mana ego lebih dominan daripada solusi, sering kali membuat perdebatan menjadi buntu dan melelahkan. Mengutip konsep Dr. Sue Johnson, kemarahan atau tangisan yang meledak-ledak sering kali hanyalah emosi sekunder. Artinya, itu hanyalah cara untuk menutupi rasa takut atau tidak berdaya. Alih-alih mendengar logika, mereka menggunakan emosi sebagai 'baju besi' agar tidak terlihat salah.
Sering kali kita terjebak dalam perang ego padahal, berargumen seharusnya menjadi ruang untuk saling memahami.

Screenshot Kanal Youtube In Her View
Screenshot Kanal Youtube In Her View

Belajar dari fenomena ini, menarik rasanya untuk membedah bagaimana kanal In Her View dalam podcast "How To Argue Better" membahas seni berargumen yang sesungguhnya. Rahasia berargumen yang sehat bukan soal siapa yang paling keras suaranya, tapi tentang bagaimana kita belajar mendengar untuk memahami. Berikut adalah tiga kuncinya:

1. Mengomunikasikan pikiran dengan kejujuran. Jujur bukan berarti melepaskan semua isi kepala tanpa filter, tapi berani menyampaikan apa yang dirasakan dengan cara yang tetap menghargai perasaan orang lain. Saat kita mampu jujur dengan diri sendiri sekaligus terbuka kepada orang lain, argumen nggak hanya terasa sebagai perdebatan tajam, melainkan percakapan yang manusiawi.

2. Mendengarkan dengan niat. Sering kali, kita terlalu sibuk menyusun kalimat balasan di dalam pikiran sampai lupa untuk benar-benar mendengar lawan bicara. Saat kita mulai mendengarkan dengan niat untuk memahami bukan sekadar menunggu giliran bicara, maka ruang diskusi akan terasa jauh lebih lapang. Kita jadi sadar bahwa setiap pendapat lahir dari pengalaman yang berbeda.

3. Menjaga koneksi meski tidak sependapat. Dunia akan terasa melelahkan jika kita memaksakan semua orang untuk memiliki pandangan yang sama. Nggak masalah untuk agree to disagree; yang terpenting adalah bagaimana kita tetap menjalin hubungan baik setelah diskusi selesai. Hubungan antarkita jauh lebih berharga daripada memaksakan kebenaran satu arah.

Menutup Perdebatan dengan Kedewasaan

Berargumen bukanlah ajang untuk mencari pemenang, melainkan kesempatan untuk bertumbuh. Memilih untuk tetap menjaga ruang diskusi yang hangat adalah bentuk kedewasaan yang paling nyata, meski di tengah perbedaan pendapat. Karena percakapan yang baik tidak akan pernah berakhir dengan saling melukai, melainkan dengan saling mengerti. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 18:08

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar (Bagian 2)

Acapkali PHK tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana mencari solusi sosial akibat dampak PHK tersebut. Ketika industri melemah seharusnya kehidupan ekonomi masyarakat tidak boleh terhenti.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 17:09

Wisata Jalan Kaki Melihat Jejak Sejarah Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sedangkan Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau.

Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)