Bukan Soal Siapa yang Benar: Belajar Berargumen dari Kanal In Her View

3 menit baca
Nenah Haryati
Ditulis oleh Nenah Haryati diterbitkan Jumat 05 Jun 2026, 11:43 WIB
Ilustrasi orang yang sedang berargumen. (Sumber: Unplash)

Ilustrasi orang yang sedang berargumen. (Sumber: Unplash)

Di sela-sela waktu istirahat sebuah kelas pelatihan, suasana yang seharusnya santai mendadak berubah tegang. Andini, salah satu peserta, merasa ada sesuatu yang ganjil. Ketua kelas baru saja menginstruksikan agar semua orang tetap duduk melingkar di tengah ruangan.

"Saya sengaja nggak bubarin kelas, karena ada hal penting yang harus kita selesaikan," ujar laki-laki itu memecah keheningan.

Firasat Andini benar. Suasana semakin panas saat ketua kelas menyebut bahwa ada seseorang yang merasa tersinggung dengan percakapan di grup pesan singkat semalam. Tak lama, seorang wanita di sudut ruangan mulai terisak. Ketika ditanya apa masalahnya, wanita itu menunjuk ke arah Andini dengan tangan gemetar.
"Andini yang mulai! Dia bilang di grup ada cakcak bodas yang memata-matai kita!" seru wanita itu sambil menangis sesenggukan.

Andini tertegun. Ia mencoba menjelaskan dengan tenang bahwa pesan itu hanyalah peringatan umum agar anggota berhati-hati, karena semua orang punya akses dan potensi untuk menjadi cakcak bodas (mata-mata). Namun, si wanita tampak enggan mendengar logika. Ia terus menangis, seolah tangisnya adalah senjata untuk mencari validasi, memposisikan diri sebagai korban dari peringatan yang sebenarnya bertujuan untuk melindungi kelompok.

Andini memilih diam. Ia sadar, meladeni debat dengan emosi di tengah situasi di mana seseorang lebih memilih bermain peran daripada berdiskusi secara sehat hanyalah sia-sia. Setelah situasi mereda, ia menepi ke sudut yang tenang, meresapi rasa sesak karena niat baiknya dipelintir menjadi serangan.

Memahami Pola Komunikasi yang Tidak Sehat

Apa yang dialami Andini sebenarnya adalah satu contoh nyata dari sekian banyak kasus komunikasi yang kurang sehat di sekitar kita. Kejadian serupa, di mana ego lebih dominan daripada solusi, sering kali membuat perdebatan menjadi buntu dan melelahkan. Mengutip konsep Dr. Sue Johnson, kemarahan atau tangisan yang meledak-ledak sering kali hanyalah emosi sekunder. Artinya, itu hanyalah cara untuk menutupi rasa takut atau tidak berdaya. Alih-alih mendengar logika, mereka menggunakan emosi sebagai 'baju besi' agar tidak terlihat salah.
Sering kali kita terjebak dalam perang ego padahal, berargumen seharusnya menjadi ruang untuk saling memahami.

Screenshot Kanal Youtube In Her View
Screenshot Kanal Youtube In Her View

Belajar dari fenomena ini, menarik rasanya untuk membedah bagaimana kanal In Her View dalam podcast "How To Argue Better" membahas seni berargumen yang sesungguhnya. Rahasia berargumen yang sehat bukan soal siapa yang paling keras suaranya, tapi tentang bagaimana kita belajar mendengar untuk memahami. Berikut adalah tiga kuncinya:

1. Mengomunikasikan pikiran dengan kejujuran. Jujur bukan berarti melepaskan semua isi kepala tanpa filter, tapi berani menyampaikan apa yang dirasakan dengan cara yang tetap menghargai perasaan orang lain. Saat kita mampu jujur dengan diri sendiri sekaligus terbuka kepada orang lain, argumen nggak hanya terasa sebagai perdebatan tajam, melainkan percakapan yang manusiawi.

2. Mendengarkan dengan niat. Sering kali, kita terlalu sibuk menyusun kalimat balasan di dalam pikiran sampai lupa untuk benar-benar mendengar lawan bicara. Saat kita mulai mendengarkan dengan niat untuk memahami bukan sekadar menunggu giliran bicara, maka ruang diskusi akan terasa jauh lebih lapang. Kita jadi sadar bahwa setiap pendapat lahir dari pengalaman yang berbeda.

3. Menjaga koneksi meski tidak sependapat. Dunia akan terasa melelahkan jika kita memaksakan semua orang untuk memiliki pandangan yang sama. Nggak masalah untuk agree to disagree; yang terpenting adalah bagaimana kita tetap menjalin hubungan baik setelah diskusi selesai. Hubungan antarkita jauh lebih berharga daripada memaksakan kebenaran satu arah.

Menutup Perdebatan dengan Kedewasaan

Berargumen bukanlah ajang untuk mencari pemenang, melainkan kesempatan untuk bertumbuh. Memilih untuk tetap menjaga ruang diskusi yang hangat adalah bentuk kedewasaan yang paling nyata, meski di tengah perbedaan pendapat. Karena percakapan yang baik tidak akan pernah berakhir dengan saling melukai, melainkan dengan saling mengerti. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nenah Haryati
Tentang Nenah Haryati
Mahasiswa yang hobi mengamati sisi lain kehidupan sehari-hari, terutama yang dialami Generasi Z.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Jun 2026, 20:28

Tanara Berarti Tanah Merah

Toponim Tanara merujuk pada keadaan kawasan tersebut, yaitu tanah yang berwarna merah.

SD Negeri Tanara di Kampung Cibolang, Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 19:09

Antara Batik dan Jas: Gaya Berpakaian Pribumi di Batavia

Evolusi berpakaian pribumi di Batavia pada tahun 1900-1942.

Kumpulan pribumi menggenakan jas dan sarung batik. (Sumber: Koleksi Digital Universitas Leiden)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:32

Obsesi Nasi: Hilangnya Diversitas Pangan Pokok Indonesia & Lingkaran Setan Food Estate

Membedah kebijakan penguasa membuat rakyat Indonesia ketergantungan beras dan kehilangan keragaman pangan lokal.

Presiden Soeharto panen padi perdana di Desa Jatimulya, Kec. Pusakanegara, Kabupaten Subang, Jawa Barat (8/7/1987). (Sumber: Perpusnas | Foto: Perpusnas)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:05

10 Netizen Terpilih Mei 2026 dan Format Baru untuk Bulan Berikutnya

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Warga beraktivitas di trotoar kawasan Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, Kamis 4 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 17:04

Bahan Bakar Plastik Menyisakan Risiko Lingkungan

Sampah dapat berkurang, tapi pencemarannya belum tentu hilang. Inilah sisi lain dari pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif yang jarang dibahas.

Tumpukan sampah plastik di Indonesia. (Sumber: pexels | Foto: Tom Fisk)
Wisata & Kuliner 05 Jun 2026, 16:46

Panduan Jelajah Dufan: Daftar Wahana Terbaik, Harga Tiket, dan Jam Operasional

Jelajahi Dunia Fantasi Jakarta dengan panduan lengkap berisi daftar wahana, harga tiket Dufan, jam buka, dan fasilitas yang tersedia.

Wisata Dufan. (Sumber: ancol.com)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 15:38

Menelusuri Jejak Stasiun Karees, Penghubung Bandung-Kopo yang Kini Terlupakan

Artikel ini mencoba untuk menelusuri jejak dan sejarah dari Stasiun Karees yang menjadi titik awal penghubung Kota Bandung dengan Kopo atau Soreang.

Jejak rel kereta api di Cibangkong (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Muhammad Saeful Ihsan)
Wisata & Kuliner 05 Jun 2026, 13:37

5 Kafe dan Resto Viral Terbaru di Bandung yang Wajib Dicoba

Rekomendasi tempat makan dan kafe viral Bandung dengan konsep unik, dessert estetik, hingga menu rumahan yang banyak dibicarakan.

The Deli Bakes, salah satu kafe favorit di Bandung. (Sumber: Taboo)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 12:45

Menilik Awal Pendakian Gunung Gede

Melihat jejak lawas pendakian awal Gunung Gede.

Pemandangan Indah Surya Kencana di Gunung Gede. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Moch Shezar Rachman)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 10:18

ASGAR, dari Desa Banyuresmi sampai Menguasai Pulau Jawa

Mulai dari tahun 1930-an, memotong rambut punya peran sebagai penolong ekonomi bagi warga Garut.

Alat cukur merupakan simbol perjuangan ekonomi dan lahirnya identitas Asgar Garut (Sumber: Pexels | Foto: RDNE Stock Project)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 09:48

Geografis-Historis Lembang: Rahasia di Balik Lokasi Wisata Favorit di Bandung

Lembang yang sekarang dikenal sebagai tempat favorit dengan penuh wisata, ternyata disebabkan oleh beberapa faktor.

Foto Rumah Ursone (Piknik Kopi) di Lembang (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hilman)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 08:57

Jejak Gultik: Transformasi Makanan Pekerja Malam Menjadi Identitas Blok M

Bukan hanya enak, ini kisah sejarah di balik Gultik (Gulai Tikungan) Blok M dan awal kemunculannya yang legendaris.

Sajian kuliner legendaris Gultik Blok M (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Ilyasa Salsabila)
Ayo Biz 04 Jun 2026, 20:23

Dari Tangan ke Kaki: Mimpi Sepatu Cibaduyut yang Tak Boleh Mati

Koku Footwear bukan semata urusan bisnis. Banyak keterkaitan emosi soal kelangsungan sebuah legacy.

Perajin sepatu kulit Koku Footwear di Cibaduyut, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Wisata & Kuliner 04 Jun 2026, 19:21

Sop Iga Rp10.000 yang Tak Pernah Sepi, Kuliner Legendaris di Kadungora Garut

Sop iga Rp10 ribu di Kadungora jadi favorit musafir dengan rasa kaldu kuat dan harga yang tetap ramah.

Warung Sop Iga A4 di Kadungora, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 04 Jun 2026, 18:50

Tertarik Bisnis Kuliner? Sistem Waralaba Putus Ini Janjikan Keuntungan Penuh untuk Mitra

Memiliki usaha sendiri kian jadi jalur alternatif yang simple di tengah kebingungan memilih profesi apa yang bisa dijadikan sandaran untuk mencari pundi-pundi rupiah.

Ilustrasi. Industri bisnis waralaba kian ngetren di tengah berkembangnya zaman modern. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 04 Jun 2026, 18:50

Hikayat Kopo, Kawasan Ekonomi Bandung yang jadi Bahan Guyon Warganet

Di balik citra macet dan banjir, Kopo ternyata memiliki sejarah panjang sebagai kawasan ekonomi penting Bandung.

Situasi kemacetan lalu lintas di Kopo. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 18:01

Perjalanan Dua Era Pemerintahan Membuka Mata Indonesia terhadap Aksara

Menilik lembaran historis "Pemberantasan Buta Huruf" di Indonesia.

Pidato Presiden Soekarno pada "Pameran Bebas Buta Huruf" di Gelora Bung Karno, 1964. (Sumber: Instagram Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Biz 04 Jun 2026, 17:11

Perjalanan 'Desa yang Biasa Saja' Berhasil Bangun Esensi Ekonomi daripada Sibuk Seremoni

Untuk memahami pencapaian Margamukti hari, perlu kembali ke kondisi beberapa tahun lalu, yang sejujurnya tidak terlalu indah untuk diceritakan.

Kantor Desa Margamukti, Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Komunitas 04 Jun 2026, 16:58

Bertahan 15 Tahun, Komunitas Fingerboard di Kota Bandung Tak Kehilangan Pemain

Di tengah gempuran tren digital, komunitas fingerboard di Kota Bandung tetap bertahan lebih dari 15 tahun, menjadi ruang pertemanan, belajar, dan berbagi lintas generasi.

Anggota Bandung Fingerboard menghabiskan akhir pekan dengan bermain, berdiskusi, dan saling belajar berbagai trik fingerboard. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)