Bandung dini hari memang menyisakkan udara yang segar untuk paru-paru yang kehilangan haknya di siang hari oleh polusi udara. Melintasi kawasan Seokarno Hatta yang rasanya menantang nyawa karena resiko kecelakaan yang sangat tinggi. Lampu merah yang biasanya mengesalkan karena harus menunggu lama di tengah siang hari yang panas. Kini menjadi waktu mengamati fenomena yang terjadi di sekitar lampu merah.
Fenomena live streamer kerap saya temui saat sedang scrolling di media sosial. Beberapa diantaranya dari selebgram/selebtok yang terkenal hingga yang baru saja memulai. Kegiatan live steamer pun beragam mulai dari membicarakan isu-isu yang bermanfaat, berjualan produk hingga hanya sekedar hiburan belaka yang kadang banyak tidak masuk akalnya.
Beberapa fenomena yang kerap saya temui di media sosial justru sangat menggelitik hati. Mulai dari saat ramai mandi lumpur, gojet berbagai macam gaya sesuai dengan gift yang diberikan oleh penonton, merekam aktivitas tidur dan terbangun hanya untuk memenuhi ekspektasi kegilaan penonton yaitu berjoget. Tak hanya itu saya juga beberapa kali menemukan live steamer yang berlokasi di Bandung menampilkan suara menyanyi di sepanjang jalan babakan siliwangi. Awalnya saya kira hanya ada satu orang tapi ketika tidak sengaja melintasi jalan tersebut-- ternyata ada beberapa orang berjejer melakukan kegiatan yang sama.
Sementara beberapa waktu ke belakang ada live streamer yang viral karena dianggap meresahkan masyarakat khususnya pengguna jalan ketika live streamer tersebut menampilkan busananya menyerupai seorang wanita. Bahkan dari beberapa gaya berjogetnya menunjukkan sesuatu yang kurang sopan jika dilihat di ruang publik bagi kita masyarakat timur.
Dilansir dari detik jabar Kasi Tantib Regol Tantan Haryanto menjelaskan secara administrasi lokasi ngonten pria yang viral itu berada di kawasan Astanaanyar. Penertiban ini dilakukan bersamaan dengan cara pendekatan yang persuasif kepada yang bersangkutan.
Dibalik fenomena viralnya kasus tersebut-- ada satu hal yang menggelitik dalam benak saya ketika sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul "Apakah fenomena ini muncul hanya berdasarkan tren saja atau memang ada tanggung jawab yang hilang dari pemerintah kita untuk membuat masyarakatnya hidup dengan layak".
Masih dilansir dari detik jabar pelaku mengaku bahwa mereka tidak minta-minta atau mengamen tapi mereka mendapatkan uang dari para netizen yang menyukai live streamer dan yang membagikannya. Menurut hasil pemeriksaan ketiga orang yang diamankan tersebut mengaku melakukan live streamer untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Tak hanya permasalahan ekonomi tapi dibalik hadirnya media sosial hari ini memang kehidupan banyak yang bergeser dari segala hal yang sebelumnya kita yakini. Tidak hanya nilai-nilai kehidupan, cara bersosialisasi tapi juga cara masyarakat mendapatkan uang untuk memenuhi kehidupan bahkan hingga gaya hidupnya. Dibalik peluang terciptanya kesempatan ekonomi baru tentu banyak hal yang harus dipertaruhkan yaitu nilai diri dari manusia itu sendiri.
Beragam hal yang memalukan hingga ekstrim mereka lakukan demi satu tujuan yaitu atensi dari para netizen. Tentunya atensi disini tidak hanya memberikan popularitas saja tapi bisa mendulang uang yang bahkan jauh sebelum dunia maya semasif ini, cara-cara tersebut tidak pernah terpikirkan oleh manusia. Jika budaya ketimuran yang menjunjung nilai sopan santun dan harga diri yang dipegang dengan teguh. Hari ini tampaknya mulai perlahan bergeser.
Bagi beberapa orang mungkin rasa malu tidak bisa sepenuhnya dipegang karena jika demikian mereka tidak bisa mendapatkan nilai uang. Tak hanya rasa malu bahkan aib diri pribadi hingga keluarga rela disebar untuk meningkatkan engagement di mata masyarakat atau pemberi endorsement bagi para kreator atau live streamer.

Lantas apakah pekerjaan ini menjadi sebuah kesalahan? Menurut saya tidak sepenuhnya salah jika digunakan untuk konten kebaikan dan kebermanfaatan sekaligus kontennya hanya hiburan. Namun disisi lain menjamurnya pekerjaan ini bisa berbahaya ketika yang dicontoh oleh generasi muda hanya keburukannya saja.
Saya rasa beberapa orang yang melakukan pekerjaan tersebut mungkin saja memang sudah buntu untuk mencari pekerjaan sehingga menggadaikan rasa malu tidak ada lagi nilainya di mata mereka. Lantas apakah sebagian masyarakat memilih pekerjaan itu karena pemerintah kita seringnya abai memberikan kehidupan yang layak bagi warga negaranya. Karena faktanya untuk sekedar mendapatkan hak hidup dasar saja belum tentu bisa dirasakan oleh seluruh warga indonesia.
Bahkan pemimpin kita dalam pidatonya mengatakan bahwa kita adalah masyarakat yang tidak bercitacita untuk kaya tapi "Hanya hidup layak" yang bahkan kita tidak pernah tau apa ukuran layak bagi pemerintah untuk rakyatnya ketika bare minimum saja tidak terpenuhi dengan baik. (*)