Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

6 menit baca
R.M.A. Ahmad Said Widodo
Ditulis oleh R.M.A. Ahmad Said Widodo diterbitkan
Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Bagi mahasiswa, kota ini adalah surga kuliner murah meriah yang ramah di dompet namun tetap menggugah selera.

  • Jelajahi memori kuliner mahasiswa Bandung era 80-an. Kisah makan kenyang modal pas-pasan, dari warung tenda legendaris hingga menu favoritnya.

  • Harga-harga makanan dan minuman di Bandung pada hari ini, masa kini, masih jauh lebih murah meriah dibandingkan di kotaku sendiri, Purwakarta.

Menjelajahi kuliner Bandung tidak selalu harus menguras kantong. Bagi mahasiswa, kota ini adalah surga kuliner murah meriah yang ramah di dompet namun tetap menggugah selera. Dari warmindo kekinian hingga jajanan kaki lima legendaris, mari simak pengalaman seru berburu makanan lezat, kenyang dan hemat khas kantong mahasiswa di Kota Kembang zaman dahulu.

Dahulu pada saat aku kuliah kedinasan di Bandung, selain aku berburu buku-buku, aku juga sering mencoba makan makanan khas Bandung atau yang lainnya. Maklum pada saat itu di kotaku Purwakarta masih belum seperti sekarang yang segalanya serba ada dan serba lengkap. Jadi, berada, kuliah dan tinggal di Bandung, aku memuaskan, mencoba dan mencicipi makanan yang tak ada di kotaku.

Oh ... ya, kampusku tempat kuliah berada di daerah Rancabadak di sekitar dan di sekeliling rumah sakit pendidikan, yaitu yang sekarang dikenal sebagai Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin (RSUP dr. Hasan Sadikin), Bandung. Di sana terdapat berbagai sekolah, akademi dan perguruan tinggi. Sekolah, akademi dan perguruan tinggi itu, antara lain sebagai berikut:

Akademi Analis Medis (AAM) Departemen Kesehatan, Akademi Perawat (Akper) Departemen Kesehatan/Akper Otten, Akademi Perawat (Akper) Persatuan Perawat Nasional Indonesia, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK-Unpad), Sekolah Pembantu Ahli Gizi (SPAG) Departemen Kesehatan, Sekolah Pembantu Penilik Higiene (SPPH) Departemen Kesehatan, Sekolah Pengatur Rawat Gigi (SPRG) Departemen Kesehatan, Sekolah Pengatur Teknik Gigi (SPTG) Departemen Kesehatan, Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Departemen Kesehatan , Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Persatuan Perawat Nasional Indonesia dan lain-lain.

Semua kampus-kampus itu berada di sekitar: Jl. dr. Otten, Jl. Kesehatan, Jl. Makmur, Jl. Pasir Kaliki, Jl. Pasteur, Jl. Prof. Eyckman dan Jl. Rumah Sakit. Namanya jalanan yang terdapat kampus sekolah, akademi dan universitas tentu saja mengundang para penjual makanan dan minuman Demikian pula dengan kampus-kampus tersebut. Para penjual makanan dan minuman ada yang menetap dengan membuka warung-warung kecil, ada juga yang andok sambil berjualan berkeliling, baik dipikul dengan pikulan, maupun dengan gerobak dorong ala kaki lima.

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988. Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen. Jelajahi memori kuliner mahasiswa Bandung era 80-an. Kisah makan kenyang modal pas-pasan, dari warung tenda legendaris hingga menu favoritnya.

Semisal di depan kampusku di Jl. Prof. Eyckman ada tukang jualan aneka macam gorengan dan salah satu yang paling aku sukai adalah nanas goreng tepung dengan harga Rp 100,00. Rasanya “nano-nano” banget, ada manis, ada masam, ada gurih, ada asin dan ada kriuk. Top banget rasanya. Sampai detik ini aku belum pernah menemukan gorengan yang seperti itu lagi.

Contoh yang lain ada tukang warung penjualan makanan di Jl. Rumah Sakit untuk sarapan pagi, makan siang dan makan malam. Aku masih ingat betul wajah si nenek dan si ibu penjual, meskipun aku sama sekali tidak tahu namanya, mungkin juga aku lupa. Tetapi mereka selalu memanggilku dengan panggilan “Cep Said” Mungkin mereka tahu namaku karena teman-teman dan sahabat-sahabatku memanggil namaku “Said”.

Mereka sangat baik, ramah dan sopan melayaniku membeli sarapan pagi atau makan siang. Setiap aku sarapan pagi, misalnya, aku makan nasi, telur dadar iris, orek tempe dan sayur sop serta sebuah pisang Ambon, maka mereka sering memberikan aku bonus 3-4 iris dadu daging sapi atau 1-2 buah ceker ayam. Wooowww ... aku benarbenar dimanjakan oleh mereka. Dan yang membuatku pada awalnya terkejut adalah harganya yang sangat murah Rp 300,00 – Rp 400,00.

Dahulu selama kuliah dan tinggal di Bandung aku pernah beberapa kali pindah tempat tinggal. Yang pertama aku pernah tinggal di Jl. Geger Kalong Girang di sebuah gang di bawah kampus Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung, yang sekarang menjadi kampus Universitas Pendidikan Indonesia. Setiap pagi aku sarapan pagi dengan semangkuk bubur kacang hijau, sepotong-dua potong roti bakar dan secangkir susu panas (susu kental manis, SKM). Harga masing-masing; bubur kacang hijau semangkuk Rp 100,00 – Rp 200.00. roti bakar sepotong Rp 100,00, susu panas segelas Rp 100,00. Jadi sekali makan antara Rp 300,00 – Rp 500,00.

Yang kedua aku pernah tinggal kost di rumah  eyangku (paman dari ibuku) di Jl. Batu Api II di lintasan Jl Soekarno – Hatta. Beliau menyediakanku sarapan pagi, makan siang/sore dan makan malam. Tak jauh dari tempat tinggalku dan tak jauh perempatan Jl. Buah Batu – Jl. Terusan Buah Batu – Jl. Soekarno – Hatta, setiap aku pulang sore dari kampus, aku selalu menyempatkan diri untuk jajan bakso tahu goreng (batagor), setiap jajan aku menghabiskan 3-5 potong batagor dengan harga per potong hanya Rp 100,00, jadi setiap kali jajan aku mengeluarkan uang antara Rp 300,00 – Rp. 500,00 per porsi.

Yang ketiga aku pernah tinggal di Jl. Kapt. Abdu Hamid Gg. Panorama III, jika aku sarapan pagi, makan siang atau makan malam aku makan nasi, lauk-pauk hewani, lauk-pauk nabati, sayur-mayur dan buah-buahan, terutama pisang Ambon dan tempat paling favoritku adalah Rumah Makan Panorama 54 (Bu Gendut) Masakan Khas Kalasan (kini menjadi Cafe & Resto Teras Kopi 54) Jl. Kapt. Abdul Hamid No. 54. Makanan favoritku adalah semur bola-bola daging cincang (bitterballen), sambal goreng krecek, tempe bacem, tahu bacem, sayur gudeg Yogya, lalapan sayur-mayur mentah dan segar serta sambal bajak (terasi). Harganya juga sangat terjangkau dari yang paling sederhana Rp 300,00 – Rp 400,00, yang sedang Rp 500,00 – Rp 700,00 dan yang mewah Rp 700,00 – Rp 1.000,00. ,Untuk harga semur bitterballen Rp 500,00 per 5 butir (guluntung).

Pedagang batagor. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Pedagang batagor. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)

Yang ketiga aku pernah tinggal di Jl. Brigjen Katamso Gg. Guyub – Gg. Akur di rumah eyangku (paman dan bibi dari ayahku) . Beliau menyediakanku sarapan pagi, makan siang/sore dan makan malam. Akan tetapi kadang-kadang aku sengaja mencari makan malam di sepanjang Jl. W.R. Supratman – Jl. Brigjen Katamso – Jl. Pahlawan untuk mencari nasi goreng atau nasi goreng spesial dengan harga Rp 400,00 – Rp 500,00.

Namun jika aku pulang kembali dari Purwakarta ke Bandung dengan naik bus umum, seperti Hidup Baru atau Hidup Baru Putera dan lain-lain  dan turun di Terminal Kebon Kelapa, Bandung, maka aku sempatkan makan dahulu di Rumah Makan Khas Sunda dengan harga Rp 400,00 – Rp 1.000,00, tergantung jenis lauk-pauk yang kita pilih, misalnya empal gepuk daging sapi, lidah sapi, segalam mavam (sarupaning) jeroan, seperti paru-paru sapi (bayah), babat sapi, usus sapi (tamusu, iso), hati sapi, limpa sapi, kikil sapi, daging ayam, hati rempela ayam, usus ayam dan lain-lain. Tetapi makan apapun jika ala Sunda, maka tak lengkap rasanya tanpa sayur lalap dan sambak bajak atau sambal dadak bedak.

Boleh percaya, boleh tidak, berat badanku bertambah cukup signifikan, bertambah 6,5 kilogram hanya dalam beberapa bulan, tak sampai 12 bulan. Mungkin karena asupan gizi yang baik, terutama banyak mengonsumsi batagor. Hehehehe .........

Harga-harga makanan dan minuman di Bandung pada hari ini, masa kini, masih jauh lebih murah meriah dibandingkan di kotaku sendiri, Purwakarta. Ya, Purwakarta hari ini, masa kini sudah menjadi kota industri yang maju pesat sehingga harga-harga apapun melaju pesat, melesat dan mahal karena daya beli masyarakat meningkat.

Menjelajahi kuliner murah di Bandung membuktikan, bahwa keterbatasan dana bukanlah halangan untuk menikmati makanan lezat. Dari kehangatan kantin kampus hingga keseruan pasar malam, setiap sajian membawa cerita tersendiri tentang kebersamaan dan kreativitas. Pengalaman ini bukan sekadar tentang kenyang, melainkan cara terbaik merayakan masa muda yang berkesan di Kota Kembang. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

R.M.A. Ahmad Said Widodo
Peneliti dan Penulis Sejarah Purwakarta, Subang dan Karawang (2001-sekarang) Penemu Besluit Hari Jadi Purwakarta, 20 Juli 1831. Penulis 26 judul buku.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 17:03

Dari Layar ke Media Sosial: Cara Film Animasi Membangun Percakapan

Disney dan Pixar menerapkan strategi komunikasi pemasaran terpadu melalui berbagai platform digital untuk memaksimalkan publikasi global dari film animasi Inside Out 2.

Film animasi "Inside Out 2". (Sumber: Walt Disney Studios Motion Pictures)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 16:00

Mengulas Strategi Komunikasi Digital Pembentukan Opini Publik pada Publikasi Produk Fashion

Strategi komunikasi digital menyesuaikan karakter setiap platform, tetapi tetap menjaga konsistensi pesan untuk membentuk identitas produk dan pemahaman publik.

Ilustrasi produk fashion.
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 15:20

Menyusuri Jejak Peristiwa Era 80-an dalam Lembaran Majalah Zaman

Majalah Zaman edisi 1984 bukan sekadar bacaan lama, melainkan rekaman suasana, budaya, dan cara pandang masyarakat Indonesia pada sebuah masa yang kini telah berlalu.

Majalah Zaman edisi September 1984, terbit sekitar 42 tahun silam. Sampul mukanya menampilkan lukisan bergaya airbrush penyanyi asal Cimahi, Ria Angelina, yang menjadi salah satu wajah hiburan populer pada era 1980-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 13:11

R. Ipik Gandamana Sumawinata Layak sebagai Pahlawan Nasional dari Jawa Barat asal Purwakarta

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional.

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 10:29

Spiderman, Perdamaian, dan Pahlawan

Segala penghargaan bisa disimpan di lemari. Piala bisa berdebu. Piagam bisa menguning. Justru nilai-nilai kebaikan yang diwariskan kepada generasi berikutnya bisa hidup jauh lebih lama. Selamat Kang!

Spider-Man: No Way Home menjadi tonggak baru penayangan film di era pandemi Covid-19 dengan memecahkan rekor penjualan di pekan debutnya. (Sumber: Columbia Pictures/Marvel Studios/Matt Kennedy)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 07:46

KDM Ada di Mana-mana, Jawa Barat Ada di Mana?

Sebesar apa pun panggung nasional yang dimasukinya, mandat KDM tetap berada di Jawa Barat.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 20:55

Adakah Solusi Masalah Kualitas Udara di Lingkungan Sekolah?

Sebagian besar sekolah negeri di Bandung masih mengandalkan ventilasi alami,

Ilustrasi masalah kualitas udara di ruang kelas di kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 17:41

200 Ikon Bandung #1 Mahanagari

Mahanagari pernah menjadi salah satu cara kreatif mengenalkan identitas dan kebanggaan terhadap Bandung melalui desain, komunitas, dan kearifan lokal.

Sebuah buku yang berjudul 200 ikon Bandung. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 15:30

Esti Bhakti Warapsari Representasi Perempuan Berdaya

Stigma perempuan tidak bisa masuk ke ruang yang maskulin, ternyata dapat dibantahkan. Tahun 1948 tepatnya tanggal 1 bulan September, merupakan sejarah yang tidak dapat terhapuskan.

Stigma perempuan tidak bisa masuk ke ruang yang maskulin, ternyata dapat dibantahkan. Tahun 1948 tepatnya tanggal 1 bulan September, merupakan sejarah yang tidak dapat terhapuskan. (Sumber: Pexels | Foto: Adi Pratama)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 13:35

Ketika Hutan Terbakar, Masa Depan Ikut Terbakar

Dampak terbesar dari kebakaran hutan adalah rusaknya lingkungan hidup. Hutan pada hakikatnya adalah sistem kehidupan secara simultan, maka keseimbangan ekologis juga adalah bagian masa depan.

Ilustrasi kebakaran hutan. (Sumber: Pexels | Foto: José Luis Photographer)