Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

6 menit baca
R.M.A. Ahmad Said Widodo
Ditulis oleh R.M.A. Ahmad Said Widodo diterbitkan
Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)

Menjelajahi kuliner Bandung tidak selalu harus menguras kantong. Bagi mahasiswa, kota ini adalah surga kuliner murah meriah yang ramah di dompet namun tetap menggugah selera. Dari warmindo kekinian hingga jajanan kaki lima legendaris, mari simak pengalaman seru berburu makanan lezat, kenyang dan hemat khas kantong mahasiswa di Kota Kembang zaman dahulu.

Dahulu pada saat aku kuliah kedinasan di Bandung, selain aku berburu buku-buku, aku juga sering mencoba makan makanan khas Bandung atau yang lainnya. Maklum pada saat itu di kotaku Purwakarta masih belum seperti sekarang yang segalanya serba ada dan serba lengkap. Jadi, berada, kuliah dan tinggal di Bandung, aku memuaskan, mencoba dan mencicipi makanan yang tak ada di kotaku.

Oh ... ya, kampusku tempat kuliah berada di daerah Rancabadak di sekitar dan di sekeliling rumah sakit pendidikan, yaitu yang sekarang dikenal sebagai Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin (RSUP dr. Hasan Sadikin), Bandung. Di sana terdapat berbagai sekolah, akademi dan perguruan tinggi. Sekolah, akademi dan perguruan tinggi itu, antara lain sebagai berikut:

Akademi Analis Medis (AAM) Departemen Kesehatan, Akademi Perawat (Akper) Departemen Kesehatan/Akper Otten, Akademi Perawat (Akper) Persatuan Perawat Nasional Indonesia, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK-Unpad), Sekolah Pembantu Ahli Gizi (SPAG) Departemen Kesehatan, Sekolah Pembantu Penilik Higiene (SPPH) Departemen Kesehatan, Sekolah Pengatur Rawat Gigi (SPRG) Departemen Kesehatan, Sekolah Pengatur Teknik Gigi (SPTG) Departemen Kesehatan, Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Departemen Kesehatan , Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Persatuan Perawat Nasional Indonesia dan lain-lain.

Semua kampus-kampus itu berada di sekitar: Jl. dr. Otten, Jl. Kesehatan, Jl. Makmur, Jl. Pasir Kaliki, Jl. Pasteur, Jl. Prof. Eyckman dan Jl. Rumah Sakit. Namanya jalanan yang terdapat kampus sekolah, akademi dan universitas tentu saja mengundang para penjual makanan dan minuman Demikian pula dengan kampus-kampus tersebut. Para penjual makanan dan minuman ada yang menetap dengan membuka warung-warung kecil, ada juga yang andok sambil berjualan berkeliling, baik dipikul dengan pikulan, maupun dengan gerobak dorong ala kaki lima.

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988. Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen. Jelajahi memori kuliner mahasiswa Bandung era 80-an. Kisah makan kenyang modal pas-pasan, dari warung tenda legendaris hingga menu favoritnya.

Semisal di depan kampusku di Jl. Prof. Eyckman ada tukang jualan aneka macam gorengan dan salah satu yang paling aku sukai adalah nanas goreng tepung dengan harga Rp 100,00. Rasanya “nano-nano” banget, ada manis, ada masam, ada gurih, ada asin dan ada kriuk. Top banget rasanya. Sampai detik ini aku belum pernah menemukan gorengan yang seperti itu lagi.

Contoh yang lain ada tukang warung penjualan makanan di Jl. Rumah Sakit untuk sarapan pagi, makan siang dan makan malam. Aku masih ingat betul wajah si nenek dan si ibu penjual, meskipun aku sama sekali tidak tahu namanya, mungkin juga aku lupa. Tetapi mereka selalu memanggilku dengan panggilan “Cep Said” Mungkin mereka tahu namaku karena teman-teman dan sahabat-sahabatku memanggil namaku “Said”.

Mereka sangat baik, ramah dan sopan melayaniku membeli sarapan pagi atau makan siang. Setiap aku sarapan pagi, misalnya, aku makan nasi, telur dadar iris, orek tempe dan sayur sop serta sebuah pisang Ambon, maka mereka sering memberikan aku bonus 3-4 iris dadu daging sapi atau 1-2 buah ceker ayam. Wooowww ... aku benarbenar dimanjakan oleh mereka. Dan yang membuatku pada awalnya terkejut adalah harganya yang sangat murah Rp 300,00 – Rp 400,00.

Dahulu selama kuliah dan tinggal di Bandung aku pernah beberapa kali pindah tempat tinggal. Yang pertama aku pernah tinggal di Jl. Geger Kalong Girang di sebuah gang di bawah kampus Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung, yang sekarang menjadi kampus Universitas Pendidikan Indonesia. Setiap pagi aku sarapan pagi dengan semangkuk bubur kacang hijau, sepotong-dua potong roti bakar dan secangkir susu panas (susu kental manis, SKM). Harga masing-masing; bubur kacang hijau semangkuk Rp 100,00 – Rp 200.00. roti bakar sepotong Rp 100,00, susu panas segelas Rp 100,00. Jadi sekali makan antara Rp 300,00 – Rp 500,00.

Yang kedua aku pernah tinggal kost di rumah  eyangku (paman dari ibuku) di Jl. Batu Api II di lintasan Jl Soekarno – Hatta. Beliau menyediakanku sarapan pagi, makan siang/sore dan makan malam. Tak jauh dari tempat tinggalku dan tak jauh perempatan Jl. Buah Batu – Jl. Terusan Buah Batu – Jl. Soekarno – Hatta, setiap aku pulang sore dari kampus, aku selalu menyempatkan diri untuk jajan bakso tahu goreng (batagor), setiap jajan aku menghabiskan 3-5 potong batagor dengan harga per potong hanya Rp 100,00, jadi setiap kali jajan aku mengeluarkan uang antara Rp 300,00 – Rp. 500,00 per porsi.

Yang ketiga aku pernah tinggal di Jl. Kapt. Abdu Hamid Gg. Panorama III, jika aku sarapan pagi, makan siang atau makan malam aku makan nasi, lauk-pauk hewani, lauk-pauk nabati, sayur-mayur dan buah-buahan, terutama pisang Ambon dan tempat paling favoritku adalah Rumah Makan Panorama 54 (Bu Gendut) Masakan Khas Kalasan (kini menjadi Cafe & Resto Teras Kopi 54) Jl. Kapt. Abdul Hamid No. 54. Makanan favoritku adalah semur bola-bola daging cincang (bitterballen), sambal goreng krecek, tempe bacem, tahu bacem, sayur gudeg Yogya, lalapan sayur-mayur mentah dan segar serta sambal bajak (terasi). Harganya juga sangat terjangkau dari yang paling sederhana Rp 300,00 – Rp 400,00, yang sedang Rp 500,00 – Rp 700,00 dan yang mewah Rp 700,00 – Rp 1.000,00. ,Untuk harga semur bitterballen Rp 500,00 per 5 butir (guluntung).

Pedagang batagor. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Pedagang batagor. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)

Yang ketiga aku pernah tinggal di Jl. Brigjen Katamso Gg. Guyub – Gg. Akur di rumah eyangku (paman dan bibi dari ayahku) . Beliau menyediakanku sarapan pagi, makan siang/sore dan makan malam. Akan tetapi kadang-kadang aku sengaja mencari makan malam di sepanjang Jl. W.R. Supratman – Jl. Brigjen Katamso – Jl. Pahlawan untuk mencari nasi goreng atau nasi goreng spesial dengan harga Rp 400,00 – Rp 500,00.

Namun jika aku pulang kembali dari Purwakarta ke Bandung dengan naik bus umum, seperti Hidup Baru atau Hidup Baru Putera dan lain-lain  dan turun di Terminal Kebon Kelapa, Bandung, maka aku sempatkan makan dahulu di Rumah Makan Khas Sunda dengan harga Rp 400,00 – Rp 1.000,00, tergantung jenis lauk-pauk yang kita pilih, misalnya empal gepuk daging sapi, lidah sapi, segalam mavam (sarupaning) jeroan, seperti paru-paru sapi (bayah), babat sapi, usus sapi (tamusu, iso), hati sapi, limpa sapi, kikil sapi, daging ayam, hati rempela ayam, usus ayam dan lain-lain. Tetapi makan apapun jika ala Sunda, maka tak lengkap rasanya tanpa sayur lalap dan sambak bajak atau sambal dadak bedak.

Boleh percaya, boleh tidak, berat badanku bertambah cukup signifikan, bertambah 6,5 kilogram hanya dalam beberapa bulan, tak sampai 12 bulan. Mungkin karena asupan gizi yang baik, terutama banyak mengonsumsi batagor. Hehehehe .........

Harga-harga makanan dan minuman di Bandung pada hari ini, masa kini, masih jauh lebih murah meriah dibandingkan di kotaku sendiri, Purwakarta. Ya, Purwakarta hari ini, masa kini sudah menjadi kota industri yang maju pesat sehingga harga-harga apapun melaju pesat, melesat dan mahal karena daya beli masyarakat meningkat.

Menjelajahi kuliner murah di Bandung membuktikan, bahwa keterbatasan dana bukanlah halangan untuk menikmati makanan lezat. Dari kehangatan kantin kampus hingga keseruan pasar malam, setiap sajian membawa cerita tersendiri tentang kebersamaan dan kreativitas. Pengalaman ini bukan sekadar tentang kenyang, melainkan cara terbaik merayakan masa muda yang berkesan di Kota Kembang. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)