Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

6 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

  • Dalam tradisi Rijsttafel, nasi memegang peran sentral sebagai titik pusat yang menentukan harmoni seluruh hidangan pendamping (toespijzen).

  • Buku Groot Nieuw Volledig Oost-Indisch Kookboek karya Mrs. Catenius-van der Meijden tak hanya hadir sebagai sekadar kumpulan resep, melainkan sebuah dokumen kodifikasi penting yang menetapkan standar "Rijsttafel Hindia Lengkap".

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda. Bagi warga Eropa yang bermukim di wilayah koloni, penyajian hidangan lokal dalam format formal menjadi simbol adaptasi sekaligus penegasan dominasi budaya. Dalam konteks ini, buku resep hadir sebagai instrumen penting bagi ibu rumah tangga Belanda untuk mengelola dapur di lingkungan tropis yang asing, sekaligus menstandarisasi apa yang layak dikategorikan sebagai "Indische spijzen" (hidangan khas Hindia Belanda).

Tingginya permintaan pasar akan panduan ini melatarbelakangi terbitnya buku Groot Nieuw Volledig Oost-Indisch Kookboek pada tahun 1902. Karya J.M.J. Catenius-van der Meijden yang memuat "1381 Recepten" (1381 resep) tersebut menandai era baru, di mana hidangan seperti nasi goreng dan sate tidak lagi dianggap asing—sama familiarnya dengan lada atau pala. Kendati demikian, pengolahan nasi beserta hidangan pendampingnya (toespijzen) tetap menjadi tantangan utama (struikelblok) karena memerlukan pemahaman mendalam mengenai kekayaan flora tropis.

Menariknya, signifikansi buku ini melampaui batas geografis koloni; melalui Aanhangsel voor Holland (Lampiran untuk Belanda), Catenius menyediakan jembatan gastronomi bagi mereka yang kembali ke tanah air (repatriant) agar tetap dapat mereplikasi rasa yang oorspronkelijke (asli) melalui bahan pengganti. Keberadaan buku ini, yang terjual ribuan eksemplar hingga pemiliknya enggan melepaskannya ke pasar loak, mengukuhkan Mrs. Catenius sebagai figur sentral yang dijuluki "Ibu Seni Memasak Hindia".

Profil Penulis dan Metodologi Kuliner Mrs. Catenius-van der Meijden

Keberhasilan asimilasi kuliner Barat dan Timur di meja makan kolonial sangat bergantung pada figur ahli yang mampu menerjemahkan teknik profesional ke dalam konteks bahan lokal. J.M.J. Catenius-van der Meijden memiliki otoritas ilmiah yang kuat sebagai seorang Lauréate dari Institut International d’Alimentation, d’Hygiène et de Cuisine di Paris. Latar belakang pendidikan Barat yang prestisius ini ia padukan dengan semangat penelitian selama menetap di Hindia, menciptakan sebuah metodologi yang sangat disiplin.

Dalam menyusun 1381 resepnya, Catenius secara eksplisit membedakan dirinya dari penulis buku masak "kuno" yang ia tuduh sering mencampuradukkan bahan dan instruksi kerja secara kacau (door elkander haspelen). Ia melakukan sistematisasi terhadap pengetahuan kuliner lokal dengan mengintegrasikan istilah seperti boemboe, santen, dan trassie ke dalam struktur pengetahuan Barat yang empiris.

Buku berjudul "Groot Nieuw Volledig Oost-Indisch Kookboek" karya J.M.J. Catenius-van der Meijden terbit pada tahun 1902 dan memuat 1381 Recepten (1381 resep). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Buku berjudul "Groot Nieuw Volledig Oost-Indisch Kookboek" karya J.M.J. Catenius-van der Meijden terbit pada tahun 1902 dan memuat 1381 Recepten (1381 resep). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)

Validitas karyanya semakin diperkuat dengan dukungan ilmiah dari Dr. Melchior Treub, Direktur Lands Plantentuin te Buitenzorg—nama bagi Kebun Raya Bogor di masa kolonial Hindia Belanda, yang memberikan informasi mendalam mengenai penamaan tanaman dan rempah-rempah eksotis. Standarisasi teknik ini, mulai dari membedakan antara fruiten (menumis bumbu) hingga bakken (menggoreng), menjadi pondasi bagi penyajian menu Rijsttafel yang kompleks dan higienis.

Nasi Sebagai Fondasi Utama Menu Rijsttafel

Dalam tradisi Rijsttafel, nasi memegang peran sentral sebagai titik pusat yang menentukan harmoni seluruh hidangan pendamping (toespijzen). Catenius mengodifikasikan nasi bukan sekadar sebagai sumber karbohidrat, melainkan sebuah kanvas rasa yang memancarkan kemewahan sang tuan rumah. Keberagaman teknik pengolahannya mencerminkan jalinan pengaruh lintas budaya yang begitu kaya di dalam piring sajian.

Kekayaan budaya ini tercermin jelas dari berbagai varian nasi aromatik dan gurih yang disajikan. Sebut saja Nasi Goeri, hidangan gurih yang dimasak dengan santan dan disajikan secara megah bersama garnish melimpah—mulai dari mentimun, krecek, ikan teri, hingga klapperfrikadel. Selain itu, hadir pula Nasi Liwet dengan teknik khas memasak langsung di dalam kuali atau pot bersama bumbu hingga airnya meresap sempurna (sedoe).

Pengaruh cita rasa Timur Tengah dan India turut memperkaya khazanah sajian ini. Nasi Keboelie menonjolkan aroma yang kuat dan hangat melalui perpaduan kaldu daging serta rempah-rempah seperti pala, cengkih, dan kapulaga. Bahkan, terdapat varian unik seperti Nasi Pringit (makanan Kodja) yang menggunakan bahan-bahan tak lazim bagi dapur Belanda, seperti air mawar (rozenwater) dan buttermilk (karnemelk), untuk menciptakan profil aroma yang sangat khas.

Kemewahan hidangan Rijsttafel kian lengkap melalui sajian seperti Nasi Oelam dan Nasi Langie. Kedua varian ini menekankan kekayaan hasil laut maupun darat, di mana bahan-bahan mewah seperti telur ikan (troeboek) dan ikan teri disusun secara cermat demi menghadirkan keindahan estetika yang memikat.

Keragaman ini esensial untuk menunjukkan keragaman agraris Hindia, yang kemudian menuntut pendamping berupa sayuran berkuah (sajors) dan gulai berbumbu rempah kuat (kerries).

Sayuran dan Kerrie: Harmonisasi Rasa dan Tekstur

Dalam struktur Rijsttafel, komponen Sajors dan Kerries memegang peran penting sebagai penyeimbang rasa yang memadukan elemen pedas, gurih, dan asam secara harmonis. Mrs. Catenius mengadaptasi penggunaan sayuran tropis ke dalam hidangan-hidangan ini tanpa menghilangkan karakteristik aslinya. Kendati demikian, seluruh proses persiapannya disesuaikan agar menjadi lebih terukur dan sesuai dengan standar kuliner yang tertata.

Dalam kategori Sajors, Catenius memberikan pembedaan yang tajam antar-jenis olahan sayur. Mulai dari Sajor Asem yang menyegarkan, Sajor Loddèh yang kaya akan rebung dan petai (petée-boonen), hingga Sajor Gado-gado dengan siraman bumbu kacang dan kemiri. Penggunaan bahan-bahan lokal seperti nangka muda dan kacang panjang pun diformalkan untuk memanjakan selera masyarakat Eropa yang kian mengapresiasi keunikan tekstur tropis.

Sementara itu, kategori Kerries membedah hidangan kari berdasarkan asal-usul kulturalnya. Kerrie Benggala tampil sarat akan rempah-rempah kering yang tajam, sedangkan Kerrie Djawa terasa lebih halus berkat santan (santen) yang berfungsi sebagai pengikat rasa. Melalui diferensiasi ini, tradisi kari lokal diangkat menjadi bagian integral dari seni memasak yang lebih terstruktur.

Sebagai bentuk penyesuaian dengan dapur kolonial, Mrs. Catenius menekankan pentingnya teknik penyaringan bumbu (zeeven) yang bersifat fleksibel (ad libitum). Teknik ini memberikan kebebasan bagi setiap rumah tangga Eropa untuk memilih antara mempertahankan rasa autentik dari endapan rempah, atau menciptakan tekstur saus yang lebih halus dan bersih sesuai selera mereka.

Dinamika Dapur Kolonial dan Warisan Gastronomi Awal Abad ke-20

Dapur kolonial atau dapoer adalah ruang negosiasi kekuasaan antara kearifan lokal dan pengawasan Barat. Mrs. Catenius mengamati bahwa meskipun juru masak lokal (Kokkie) memiliki kemahiran praktis dan vaardigheid yang sering membuat wanita Belanda terpana, nyonya rumah (Mevrouw) harus tetap memegang kendali teknis dan linguistik. Buku ini memberikan kosakata yang diperlukan bagi Mevrouw untuk tetap menjadi supervisor utama di tengah "dapur yang berasap".

Terkait aspek teknis pengukuran, terdapat nuansa penting dalam metodologi Catenius. Meskipun ia menyertakan Gewichtstabel (tabel berat) untuk mengonversi ukuran tradisional seperti kattie, gantang, dan djin ke sistem metrik, ia secara tegas menyatakan bahwa sistem metrik "tidak akan mencukupi" (zou niet voldoen) untuk memasak hidangan Hindia.

Penggunaan rempah yang sangat kuat lebih praktis diukur dengan "setengah atau seperempat theelepeltje (sendok teh)" daripada menggunakan timbangan sensitif yang biasa digunakan oleh pedagang emas atau apoteker (goudwegers). Standarisasi berbasis sendok ini lebih sesuai dengan realitas praktis di dapur di mana Kokkie bekerja, sekaligus meminimalisir kegagalan bagi ibu rumah tangga yang ingin menjaga kualitas tanpa harus bergantung sepenuhnya pada intuisi juru masak.

Buku Groot Nieuw Volledig Oost-Indisch Kookboek karya Mrs. Catenius-van der Meijden tak hanya hadir sebagai sekadar kumpulan resep, melainkan sebuah dokumen kodifikasi penting yang menetapkan standar "Rijsttafel Hindia Lengkap". Keberhasilan karya ini terletak pada kemampuannya menyatukan ketelitian akademis ala Paris dengan realitas praktis di dapur tropis.

Warisan Catenius terlihat dari transformasi Rijsttafel; dari sekadar makanan harian penduduk lokal menjadi menu pesta mewah kaum elit kolonial, yang pada akhirnya membentuk identitas kuliner "Indo" (Eurasia). Dengan mendokumentasikan 1381 resep secara presisi dan mempertahankan cara penyajian yang oorspronkelijke (autentik), Catenius memastikan bahwa rahasia dapur Hindia tidak hanya bertahan sebagai memori, tetapi tetap hidup sebagai identitas gastronomi yang diakui secara internasional hingga saat ini. Melalui perpaduan antara kearifan Kokkie dan metodologi Mevrouw, ia berhasil menciptakan sebuah monumen kuliner yang menjembatani dua dunia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 17:03

Dari Layar ke Media Sosial: Cara Film Animasi Membangun Percakapan

Disney dan Pixar menerapkan strategi komunikasi pemasaran terpadu melalui berbagai platform digital untuk memaksimalkan publikasi global dari film animasi Inside Out 2.

Film animasi "Inside Out 2". (Sumber: Walt Disney Studios Motion Pictures)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 16:00

Mengulas Strategi Komunikasi Digital Pembentukan Opini Publik pada Publikasi Produk Fashion

Strategi komunikasi digital menyesuaikan karakter setiap platform, tetapi tetap menjaga konsistensi pesan untuk membentuk identitas produk dan pemahaman publik.

Ilustrasi produk fashion.
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 15:20

Menyusuri Jejak Peristiwa Era 80-an dalam Lembaran Majalah Zaman

Majalah Zaman edisi 1984 bukan sekadar bacaan lama, melainkan rekaman suasana, budaya, dan cara pandang masyarakat Indonesia pada sebuah masa yang kini telah berlalu.

Majalah Zaman edisi September 1984, terbit sekitar 42 tahun silam. Sampul mukanya menampilkan lukisan bergaya airbrush penyanyi asal Cimahi, Ria Angelina, yang menjadi salah satu wajah hiburan populer pada era 1980-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 13:11

R. Ipik Gandamana Sumawinata Layak sebagai Pahlawan Nasional dari Jawa Barat asal Purwakarta

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional.

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 10:29

Spiderman, Perdamaian, dan Pahlawan

Segala penghargaan bisa disimpan di lemari. Piala bisa berdebu. Piagam bisa menguning. Justru nilai-nilai kebaikan yang diwariskan kepada generasi berikutnya bisa hidup jauh lebih lama. Selamat Kang!

Spider-Man: No Way Home menjadi tonggak baru penayangan film di era pandemi Covid-19 dengan memecahkan rekor penjualan di pekan debutnya. (Sumber: Columbia Pictures/Marvel Studios/Matt Kennedy)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 07:46

KDM Ada di Mana-mana, Jawa Barat Ada di Mana?

Sebesar apa pun panggung nasional yang dimasukinya, mandat KDM tetap berada di Jawa Barat.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 20:55

Adakah Solusi Masalah Kualitas Udara di Lingkungan Sekolah?

Sebagian besar sekolah negeri di Bandung masih mengandalkan ventilasi alami,

Ilustrasi masalah kualitas udara di ruang kelas di kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 17:41

200 Ikon Bandung #1 Mahanagari

Mahanagari pernah menjadi salah satu cara kreatif mengenalkan identitas dan kebanggaan terhadap Bandung melalui desain, komunitas, dan kearifan lokal.

Sebuah buku yang berjudul 200 ikon Bandung. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 15:30

Esti Bhakti Warapsari Representasi Perempuan Berdaya

Stigma perempuan tidak bisa masuk ke ruang yang maskulin, ternyata dapat dibantahkan. Tahun 1948 tepatnya tanggal 1 bulan September, merupakan sejarah yang tidak dapat terhapuskan.

Stigma perempuan tidak bisa masuk ke ruang yang maskulin, ternyata dapat dibantahkan. Tahun 1948 tepatnya tanggal 1 bulan September, merupakan sejarah yang tidak dapat terhapuskan. (Sumber: Pexels | Foto: Adi Pratama)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 13:35

Ketika Hutan Terbakar, Masa Depan Ikut Terbakar

Dampak terbesar dari kebakaran hutan adalah rusaknya lingkungan hidup. Hutan pada hakikatnya adalah sistem kehidupan secara simultan, maka keseimbangan ekologis juga adalah bagian masa depan.

Ilustrasi kebakaran hutan. (Sumber: Pexels | Foto: José Luis Photographer)