Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

5 menit baca
Muh Husen Arifin
Ditulis oleh Muh Husen Arifin diterbitkan
Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Celetukan masyarakat sering berakhir kepada negeri ini memiliki sumber daya mausia yang pintar dan berhasil menciptakan inovasi dan kreativitasnya tinggi. Namun belum ada optimalisasi yang memberikan solusi efektif.

Upaya menyebutkan bahwa urgensi kepada sekolah menengah khusus berkaitan mitigasi bencana sudah sangat mendesak. Sementara gagasan ini masih belum ada.

Padahal membentuk sekolah mitigasi bencana (SMB) ini bukanlah hal yang sederhana memang, tetapi SMB ini mendahului untuk mengantisipasi terkait bencana yang selalu hadir di negeri ini.

Tidak ada yang dapat menghindari bencana, adapun pendekatan dari pemerintah sudah sangat dinantikan. Melalui BNPB pun melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). SPAB ini mengantarkan informasi dan pengetahuan yang tepat bagi murid di sekolah dasar dan menengah.

SPAB ini sudah terbentuk namun masih menyisakan pertanyaan, benarkah sudah diimplementasikan secara masif?

Oleh karena itu, diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Terutama sekolah yang terdampak dan rawan adanya bencana. Terjadinya bencana tentu akan menghancurkan sekolah dan juga terdampaknya pada murid dan seisi sekolah.

Maka dibutuhkan pemerintah pusat menegaskan benarkah penting mendirikan sekolah khusus untuk mitigasi bencana.

Evaluasi dan Perencanaan Pembentukan SMB

Dari tahun 2026 berjalan kini kita dihadapkan oleh bencana demi bencana. Tahun 2026 sama seperti tahun sebelumnya. Bencana tetap terjadi. Namun kewaspadaan dari bencana ini mesti ditegaskan.

Banyaknya masyarakat terdampak dari bencana. Perlu ada revisi dan evaluasi yang matang. Situasinya karena bencana yang terus dihadapi memerlukan pantauan dan evaluasi yang benar-benar terencana.

Dari setiap evaluasi diperlukan pula laporan yang spesifik tidak sekadar asal bapak senang (ABS). Jika ABS yang didahulukan akan memperparah hasilnya. Maka setiap terjadi bencana lebih mendahulukan ABS.

Laporan yang fiktif dan ABS pada saat evaluasi akan mengungkap bahwa bencana seolah menjadi komoditi. Karena mengejar anggaran yang dicairkan dan mengaharap agar kinerja yang dianggap terbaik. Dampaknya berkepanjangan.

Tidak dapat diterima hasilnya jika ABS saja, maka dari itu evaluasi total harus didengar dari evaluasi di lapangan dengan konkrit.

Setelah melakukan evaluasi maka harus ada tindak lanjutnya. Tindak lanjut harus mengedepankan solusi yang tepat. Insiatif untuk mengerjakan hasil evaluasi ditindak dengan sebenarnya.

Sejak tahun 2000 hingga 2024, Indonesia mencatat sekitar 12-15% dari total kejadian gempa bumi di dunia (Adi, 2024). Maka data ini menjadi pembahasan yang penting. Indonesia mesti menyelamatkan generasinya. Evaluasinya harus tegas dan cepat. Kesiapan pemerintah tidak bisa sekadar evaluasi sederhana.

Setelah melakukan evaluasi menyeluruh dan tindak lanjut secara cepat dan tanggap. Maka pembentukan sekolah mitigasi bencana (SMB) menjadi urgen dan disegerakan.

Di Sesar Lembang Kalcer, anak-anak diajak belajar mitigasi sambil bermain. (Foto: Dok Sesar Lembang Kalcer)
Di Sesar Lembang Kalcer, anak-anak diajak belajar mitigasi sambil bermain. (Foto: Dok Sesar Lembang Kalcer)

Pembentukan SMB ini harus ditindaklanjuti dengan pandangan bahwa Indonesia sebagai negara yang memiliki peristiwa bencana yang cukup besar dan membutuhkan kondisi yang relatif harus disiapkan dengan keilmuan yang mumpuni.

Kurikulum pada SMB ini harus berdasarkan pengalaman Indonesia menangani bencana. Kaitannya agar relevan dengan situasi di setiap lokasi bencana. Pemerintah menghadirkan SMB ini sama dengan pentingnya mendirikan sekolah nasional terintegrasi. Justru inilah waktu SMB disiapkan dan didirikan dengan seksama dan disegerakan secepatnya.

Percepatan pendirian SMB ini membentuk masyarakat agar lebih siap dan aware kepada diri sendiri dan menyiapkan generasi di masa mendatang lebih tegas dan siap pada peristiwa bencana yang akan terjadi.

Benarkah SMB Sebagai Solusi?

Membincang solusinya, SMB sebagai solusi yang sangat tepat untuk jangka panjang. SMB ini memiliki kekhasan untuk Indonesia. Bahkan SMB ini mencerminkan bahwa Indonesia tegas ingin menjadikan masyarakat lebih siap dan memberikan kesiapsiagaan bencana.

Prioritas membangun SMB ini kaitannya untuk membangun mental masyarakat atas fenomena bencana yang ada di sekitarnya. Lewat SMB ini pula lulusannya bisa menjurus ke pendidikan tinggi yang berkaitan dengan pendidikan kebencanaan ataupun yang relevan dengan ilmu pengetahuan kebencanaan. Tidak sekadar itu, SMB bisa membentuk murid tahu kepedulian atas sekitarnya.

Pemerintah juga bersiap jika SMB ini didirikan di setiap desa atau kelurahan. Untuk menampung murid sejak dini. Bahkan bangunan sekolah harus memiliki struktur sesuai standar kebencanaan. Yang dapat dipelajari dari rekam jejak negara Jepang.

Dari negara Jepang sebagai gambarannya, juga negara Amerika dan Portugal. Gambaran negara-negara yang sudah tepat menyelesaikan setiap fenomena bencananya. Umumnya negara yang sudah selesai mengatasi kebencanaan telah memiliki kesadaran penuh pentingnya proses pemahaman dan wawasan kebencanaan dari masyarakatnya.

Maka tidak ada salahnnya, gagasan menghadirkan sekolah mitigasi bencana di Indonesia sebagai solusi yang terjamin bagi masyarakat agar masyarakat siap dengan segala hal dalam kebencanaan.

Pembangunan SMB ini sama dengan menyiapkan makanan bergizi gratis. Seharusnya tidak ada permasalahan dengan anggaran. Melainkan perlu dibentuk kecakapan agar SMB benar-benar terwujud.

SMB ini melambangkan bahwa pendidikan kebencanaan sangat berharga bagi Indonesia, yang dikhususkan kepada masyarakat generasi emas. Sebab itulah, SMB mendesak untuk didirikan. SMB merepresentasikan Indonesia di level pendidikan.

Adapun guru dan tenaga kependidikan disaring dari PNS dan P3K penuh waktu juga paruh waktu. Sejenak kita berpandangan, energi bagi terwujudnya SMB ini sama halnya bahwa bencana yang datang dapat diatasi.

Kurikulumnya dapat diintegrasikan dan ditentukan oleh pemerintah melalui mekanisme sinergi kementerian. Artinya, tidak ada masalah jika SMB ini disiapkan dan didirikan untuk menjaring pahlawan dari bencana yang ada di negeri kita.

Hasilnya, SMB bisa mencetak lulusan yang siap guna untuk meneruskan cita-cita bangsa, menjadikan lulusan siap apabila bencana terjadi, menciptakan generasi tanggap bencana, generasi yang memiliki kepedulian atas bencana.

Tidak ada salahnya pula, SMB ini bekerjasama dengan perguruan tinggi dalam negeri untuk menggagas ilmu pengetahuan kebencanaan yang reflektif dan mudah diaksesnya.

Dari sini kita bisa mereviu jika SMB cocok bagi Indonesia. Dasar dari itu pula masyarakat mudah untuk memahami betapa bencana yang terjadi meski tidak dapat diprediksi. Namun masalah kebencanaan tidak diunsurkan melempar batu sembunyi tangan. Tetapi lulusan SMB mendapatkan ijazah dari Kemdikdasmen. SMB bisa memastikan ketermpilan bagi semua murid. Gagasan  ini wajib direalisasikan tidak sekadar menunggu pergantian kurikulum atau presidennya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 18:08

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar (Bagian 2)

Acapkali PHK tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana mencari solusi sosial akibat dampak PHK tersebut. Ketika industri melemah seharusnya kehidupan ekonomi masyarakat tidak boleh terhenti.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 17:09

Wisata Jalan Kaki Melihat Jejak Sejarah Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sedangkan Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau.

Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)