Bencana kekeringan mulai melanda beberapa daerah di Jawa Barat. Sumber daya air di provinsi ini mestinya mampu mengatasi kemarau ekstrim jika menerapkan teknologi tepat guna dan terdapat saluran irigasi yang baik.
Masyarakat berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ( KDM ) segera mengatasi bencana kekeringan yang kian meluas di daerahnya. Butuh solusi teknologi maupun solusi padat karya untuk mengatasi dampak paceklik di desa karena petani tidak bisa menggarap sawahnya akibat tidak ada pengairan.
Kekeringan di Jawa Barat pada musim kemarau telah meluas ke 184 desa atau kelurahan yang tersebar di 87 kecamatan dan 15 kabupaten/kota, dengan total warga terdampak mencapai 197.732 jiwa per 26 Juli 2026.
KDM memerintahkan dinas terkait agar status siaga darurat bencana kekeringan hingga 30 September 2026 bisa diatasi dengan baik. Wilayah terdampak utama, antara lain Kabupaten Bogor, merupakan wilayah terparah dengan 99.833 jiwa terdampak di 77 desa dari 24 kecamatan. Kabupaten Bekasi: Sebanyak 26.995 jiwa terdampak di 18 desa dari 9 kecamatan. Sedangkan untuk daerah lainnya, tersebar di 13 kabupaten/kota lain termasuk Tasikmalaya, Karawang, Cianjur, dan Garut. Untuk itu BPBD terus menyalurkan bantuan air bersih.
KDM menerapkan solusi terintegrasi yang membagi strategi menjadi penanganan darurat jangka pendek dan infrastruktur jangka panjang guna memitigasi dampak kemarau ekstrim.
Solusi ini melibatkan kerjasama lintas sektor antara pemerintah daerah, Polri, TNI, LSM, BUMN/BUMD hingga perusahaan swasta.
Perlu langkah cepat dengan mengirimkan armada mobil tangki air ke daerah krisis dengan dukungan penuh dari TNI Angkatan Darat dan pengusaha air kemasan.
Kemudian memasang toren penampung air berkapasitas besar di setiap dusun yang kritis dan langganan kekeringan sebagai pusat distribusi agar tidak terjadi perebutan air di masyarakat.
Mempercepat pembangunan pipa air bersih ke pemukiman warga serta melakukan rehabilitasi jaringan irigasi tersier untuk mengamankan sektor pertanian. Memerintahkan daerah untuk membuat sumur dangkal, sumur dalam, serta embung sebagai cadangan air di musim kemarau.
Menyediakan sarana pompanisasi dan irigasi perpompaan guna menyalurkan air dari sumber terdekat langsung ke lahan sawah. Untuk itu perlu pembagian tugas lintas sektor (OPD)Dinas Sumber Daya Air. Termasuk memantau ketat debit waduk dan menyiapkan alternatif sumber air baku
Terkait dengan pertanian tanaman pangan, perlu menyesuaikan pola tanam petani serta mengembangkan varietas benih yang tahan cuaca panas.
Perlu Sistem Pengairan yang Cocok
Sistem pengairan yang paling cocok untuk mengatasi kekeringan di Jawa Barat adalah kombinasi antara modernisasi irigasi berkelanjutan dan sistem pompanisasi terintegrasi. Langkah ini harus disesuaikan dengan kondisi geografis lahan pertanian yang mayoritas (sekitar 89%) masih berupa lahan tadah hujan dan belum memiliki akses langsung ke bendungan besar.
Pentingnya sistem pompanisasi untuk menarik sisa air dari aliran sungai terdekat langsung menuju petak sawah yang mulai mengering di area hilir. Perlu modernisasi jaringan irigasi (Sistem Irigasi Rentang). Perlu manajemen distribusi air dari hulu hingga hilir agar pasokan air tidak terbuang sia-sia akibat rembesan atau sedimentasi.
Perlu dicatat kondisi debit air di sejumlah waduk di Jawa Barat saat ini berada dalam tren penurunan drastis akibat puncak musim kemarau, namun pengelolaannya masih dioptimalkan agar tidak menyentuh level kritis operasional.
Infrastruktur pengairan atau sistem irigasi tidak hanya melulu saluran kecil disamping pematang sawah yang mulai mengering. Tetapi saat ini sudah mencakup sistem mekanisasi yang bisa mengalirkan atau menyedot air dari sumber yang masih ada seperti embung, waduk atau sungai bawah tanah yang masih cukup tersedia debit air untuk kebutuhan manusia, tanaman dan hewan.
Infrastruktur pengairan membutuhkan sistem pompa yang tepat guna, murah dan ramah lingkungan. Seperti misalnya pompa air tenaga surya atau Solar Water Pump. Pompa air yang energinya dari matahari. Tidak membutuhkan listrik PLN dan juga menguras kantong untuk membeli BBM.
Program Infrastruktur Berbasis Masyarakat (IBM) yang bersifat padat karya untuk menghadapi paceklik di desa saat ini yang cocok adalah membangun infrastruktur pengairan dan pendukungnya.
Pemerintah perlu mencarikan solusi industri dan pengadaan komponen yang terkait pompa surya. Seperti panel surya atau PV panel, komponen controller/inverter,mesin pompa celup atau pompa permukaan dan konstruksi pendukung sistem pompa surya.
Jenis pompa yang dibutuhkan antara lain pompa celup sumur dalam atau Submersible. Dipakai kalau sumber air dari sumur bor 30 m - 150 m. Debit: 2 - 20 m³/jam. Cukup buat 2 - 10 Ha sawah.
Selain itu juga dibutuhkan pompa permukaan atau Surface Pump. Ini dipakai kalau sumber air dari sungai, embung, kolam. Kedalaman hisap max 8 m. Debit lebih besar: 20 - 100 m³/jam. Cukup buat 10 - 50 Ha. Biasanya dipakai bersama penerapan sistem irigasi tetes/sprinkle.
Proyek padat karya terkait irigasi tidak boleh asal-asalan. Pada saat ini masyarakat membutuhkan proyek padat karya di segala bidang, khususnya infrastruktur. Padat karya mesti dilaksanakan secara akuntabel dan tidak asal-asalan. Padat karya kementerian, antara lain Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) perlu ditambah untuk mengatasi pengangguran dan menciptakan lapangan kerja.
Kegiatan padat karya melibatkan masyarakat sebagai pelaku pembangunan sekaligus pemelihara infrastruktur terbangun. Tujuannya, tidak hanya meningkatkan partisipasi dan kepedulian masyarakat terhadap sarana prasarana terbangun,tetapi juga membantu masyarakat dari kesulitan ekonomi.
Apalagi pada saat ini kualitas infrastruktur irigasi di kawasan perdesaan kondisinya masih banyak yang buruk. Perlu perbaikan saluran irigasi tersier, dari saluran alam/tanah menjadi saluran dengan pasangan batu/lining yang dikerjakan dengan cara padat karya.
Di negara maju, pengelolaan air tanah yang hanya berbasis sumur produksi (seperti saat ini di Indonesia) telah lama ditinggalkan bergeser ke paradigma baru yaitu pengelolaan secara terintegrasi air tanah dan cekungannya dengan tajuk groundwater basin management.

Perlu teknologi tepat guna untuk mengeksploitasi dan mendistribusikan sumber daya air untuk kebutuhan pertanian. Teknologi itu bersifat ramah lingkungan, murah dan hemat energi. Seperti misalnya pompa surya dan kincir angin.
Kincir angin merupakan sistem atau alat yang mengubah energi angin menjadi energi kinetik rotasi. Kincir angin telah digunakan di berbagai negara, namun di Indonesia penggunaan kincir angin belum optimal. Dan belum digunakan secara massal dengan berbagai proses inovasi teknologi.
Inovasi kincir angin mesti dilakukan terus menerus sesuai penggunaan dan karakteristik tempatnya. Untuk daerah yang bertiup angin kecepatan rendah lebih cocok dikembangkan kincir angin untuk pompanisasi untuk irigasi tanaman palawija. Inovasi mekanisasi pertanian juga menyangkut sistem irigasi suplemen untuk tanaman, yakni teknologi yang diperlukan sebagai pelengkap apabila curah hujan tidak mencukupi untuk mengkompensasikan kehilangan air tanaman yang disebabkan oleh evapotranspirasi. Irigasi suplemen bertujuan untuk memberikan air yang dibutuhkan tanaman pada waktu, volume dan interval yang tepat. (*)