KDM Perlu Langkah Cepat Atasi Bencana Kekeringan di Jawa Barat

5 menit baca
Totok Siswantara
Ditulis oleh Totok Siswantara diterbitkan
Ilustrasi mengatasi bencana kekeringan dengan teknologi tepat guna (Sumber: Gemini | Foto: gambar: Totok Siswantara)
Ilustrasi mengatasi bencana kekeringan dengan teknologi tepat guna (Sumber: Gemini | Foto: gambar: Totok Siswantara)

Bencana kekeringan mulai melanda beberapa daerah di Jawa Barat. Sumber daya air di provinsi ini mestinya mampu mengatasi kemarau ekstrim jika menerapkan teknologi tepat guna dan terdapat saluran irigasi yang baik.

Masyarakat berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ( KDM ) segera mengatasi bencana kekeringan yang kian meluas di daerahnya. Butuh solusi teknologi maupun solusi padat karya untuk mengatasi dampak paceklik di desa karena petani tidak bisa menggarap sawahnya akibat tidak ada pengairan.

Kekeringan di Jawa Barat pada musim kemarau telah meluas ke 184 desa atau kelurahan yang tersebar di 87 kecamatan dan 15 kabupaten/kota, dengan total warga terdampak mencapai 197.732 jiwa per 26 Juli 2026.

KDM memerintahkan dinas terkait agar status siaga darurat bencana kekeringan hingga 30 September 2026 bisa diatasi dengan baik. Wilayah terdampak utama, antara lain Kabupaten Bogor, merupakan wilayah terparah dengan 99.833 jiwa terdampak di 77 desa dari 24 kecamatan. Kabupaten Bekasi: Sebanyak 26.995 jiwa terdampak di 18 desa dari 9 kecamatan. Sedangkan untuk daerah lainnya, tersebar di 13 kabupaten/kota lain termasuk Tasikmalaya, Karawang, Cianjur, dan Garut. Untuk itu BPBD terus menyalurkan bantuan air bersih.

KDM menerapkan solusi terintegrasi yang membagi strategi menjadi penanganan darurat jangka pendek dan infrastruktur jangka panjang guna memitigasi dampak kemarau ekstrim.

Solusi ini melibatkan kerjasama lintas sektor antara pemerintah daerah, Polri, TNI, LSM, BUMN/BUMD hingga perusahaan swasta.

Perlu langkah cepat dengan mengirimkan armada mobil tangki air ke daerah krisis dengan dukungan penuh dari TNI Angkatan Darat dan pengusaha air kemasan.

Kemudian memasang toren penampung air berkapasitas besar di setiap dusun yang kritis dan langganan kekeringan sebagai pusat distribusi agar tidak terjadi perebutan air di masyarakat.

Mempercepat pembangunan pipa air bersih ke pemukiman warga serta melakukan rehabilitasi jaringan irigasi tersier untuk mengamankan sektor pertanian. Memerintahkan daerah untuk membuat sumur dangkal, sumur dalam, serta embung sebagai cadangan air di musim kemarau.

Menyediakan sarana pompanisasi dan irigasi perpompaan guna menyalurkan air dari sumber terdekat langsung ke lahan sawah. Untuk itu perlu pembagian tugas lintas sektor (OPD)Dinas Sumber Daya Air. Termasuk memantau ketat debit waduk dan menyiapkan alternatif sumber air baku

Terkait dengan pertanian tanaman pangan, perlu menyesuaikan pola tanam petani serta mengembangkan varietas benih yang tahan cuaca panas.

Perlu Sistem Pengairan yang Cocok

Sistem pengairan yang paling cocok untuk mengatasi kekeringan di Jawa Barat adalah kombinasi antara modernisasi irigasi berkelanjutan dan sistem pompanisasi terintegrasi. Langkah ini harus disesuaikan dengan kondisi geografis lahan pertanian yang mayoritas (sekitar 89%) masih berupa lahan tadah hujan dan belum memiliki akses langsung ke bendungan besar.

Pentingnya sistem pompanisasi untuk menarik sisa air dari aliran sungai terdekat langsung menuju petak sawah yang mulai mengering di area hilir. Perlu modernisasi jaringan irigasi (Sistem Irigasi Rentang). Perlu manajemen distribusi air dari hulu hingga hilir agar pasokan air tidak terbuang sia-sia akibat rembesan atau sedimentasi.

Perlu dicatat kondisi debit air di sejumlah waduk di Jawa Barat saat ini berada dalam tren penurunan drastis akibat puncak musim kemarau, namun pengelolaannya masih dioptimalkan agar tidak menyentuh level kritis operasional.

Infrastruktur pengairan atau sistem irigasi tidak hanya melulu saluran kecil disamping pematang sawah yang mulai mengering. Tetapi saat ini sudah mencakup sistem mekanisasi yang bisa mengalirkan atau menyedot air dari sumber yang masih ada seperti embung, waduk atau sungai bawah tanah yang masih cukup tersedia debit air untuk kebutuhan manusia, tanaman dan hewan.

Infrastruktur pengairan membutuhkan sistem pompa yang tepat guna, murah dan ramah lingkungan. Seperti misalnya pompa air tenaga surya atau Solar Water Pump. Pompa air yang energinya dari matahari. Tidak membutuhkan listrik PLN dan juga menguras kantong untuk membeli BBM.

Program Infrastruktur Berbasis Masyarakat (IBM) yang bersifat padat karya untuk menghadapi paceklik di desa saat ini yang cocok adalah membangun infrastruktur pengairan dan pendukungnya.

Pemerintah perlu mencarikan solusi industri dan pengadaan komponen yang terkait pompa surya. Seperti panel surya atau PV panel, komponen controller/inverter,mesin pompa celup atau pompa permukaan dan konstruksi pendukung sistem pompa surya.

Jenis pompa yang dibutuhkan antara lain pompa celup sumur dalam atau Submersible. Dipakai kalau sumber air dari sumur bor 30 m - 150 m. Debit: 2 - 20 m³/jam. Cukup buat 2 - 10 Ha sawah.

Selain itu juga dibutuhkan pompa permukaan atau Surface Pump. Ini dipakai kalau sumber air dari sungai, embung, kolam. Kedalaman hisap max 8 m. Debit lebih besar: 20 - 100 m³/jam. Cukup buat 10 - 50 Ha. Biasanya dipakai bersama penerapan sistem irigasi tetes/sprinkle.

Proyek padat karya terkait irigasi tidak boleh asal-asalan. Pada saat ini masyarakat membutuhkan proyek padat karya di segala bidang, khususnya infrastruktur. Padat karya mesti dilaksanakan secara akuntabel dan tidak asal-asalan. Padat karya kementerian, antara lain Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) perlu ditambah untuk mengatasi pengangguran dan menciptakan lapangan kerja.

Kegiatan padat karya melibatkan masyarakat sebagai pelaku pembangunan sekaligus pemelihara infrastruktur terbangun. Tujuannya, tidak hanya meningkatkan partisipasi dan kepedulian masyarakat terhadap sarana prasarana terbangun,tetapi juga membantu masyarakat dari kesulitan ekonomi.

Apalagi pada saat ini kualitas infrastruktur irigasi di kawasan perdesaan kondisinya masih banyak yang buruk. Perlu perbaikan saluran irigasi tersier, dari saluran alam/tanah menjadi saluran dengan pasangan batu/lining yang dikerjakan dengan cara padat karya.

Di negara maju, pengelolaan air tanah yang hanya berbasis sumur produksi (seperti saat ini di Indonesia) telah lama ditinggalkan bergeser ke paradigma baru yaitu pengelolaan secara terintegrasi air tanah dan cekungannya dengan tajuk groundwater basin management.

Perlu teknologi tepat guna untuk mengeksploitasi dan mendistribusikan sumber daya air untuk kebutuhan pertanian. Teknologi itu bersifat ramah lingkungan, murah dan hemat energi. Seperti misalnya pompa surya dan kincir angin.

Kincir angin merupakan sistem atau alat yang mengubah energi angin menjadi energi kinetik rotasi. Kincir angin telah digunakan di berbagai negara, namun di Indonesia penggunaan kincir angin belum optimal. Dan belum digunakan secara massal dengan berbagai proses inovasi teknologi.

Inovasi kincir angin mesti dilakukan terus menerus sesuai penggunaan dan karakteristik tempatnya. Untuk daerah yang bertiup angin kecepatan rendah lebih cocok dikembangkan kincir angin untuk pompanisasi untuk irigasi tanaman palawija. Inovasi mekanisasi pertanian juga menyangkut sistem irigasi suplemen untuk tanaman, yakni teknologi yang diperlukan sebagai pelengkap apabila curah hujan tidak mencukupi untuk mengkompensasikan kehilangan air tanaman yang disebabkan oleh evapotranspirasi. Irigasi suplemen bertujuan untuk memberikan air yang dibutuhkan tanaman pada waktu, volume dan interval yang tepat. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 15:26

Menghalau Asap dengan Sains dan Kolaborasi Akademisi dalam Mitigasi Karhutla

Kampus punya ilmu dan jaringan untuk mencegah karhutla. Simak peran riset gambut, KKN tematik, dan konsorsium lintas kampus di wilayah rawan.

Ilustrasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 14:09

Evolusi Judi dan Fenomena Bansos

Menyoroti fenomena bansos bagi pelaku judi online

Evolusi Judi dan Fenomena Bansos. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 13:10

Instrumen Bumi sebagai Komposisi Sorawatu

Setiap bunyi dihasilkan dari gelombang suara, mengontruksi logika rasa manusia. Getaran batu di pukul memiliki frekuensi yang mampu memicu ketenangan batin.

Gamelan Sorawatu. (Foto: Penulis)
Beranda 30 Okt 2026, 12:02

AMSI Awards 2026 Apresiasi Inovasi 10 Media Siber Indonesia

AMSI Awards 2026 merupakan bagian dari rangkaian Indonesia Digital Media Conference (IDMC) 2026

Para pemenang di malam penghargaan AMSI Awards 2026 berpose bersama setelah acara, di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (29/10/2026) malam WIB. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 11:45

Cicadas Camping Ground: Tempat Kemah Super Luas di Sumedang

Cicadas Campimg Ground tempat kemah yang luas dan asri. Cocok untuk berkegiatan bareng teman, keluarga atau pasangan. Fasilitasnya juga lengkap.

Lapangan tempat kemah,di  kawasan Cicadas Camping Ground, Sumedang.
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 10:33

‎Dari 'Deadline' hingga 'Healing': Ketika Bahasa Inggris Masuk ke Percakapan Sehari-hari ‎

Penggunaan istilah seperti deadline, meeting, healing, overthinking, random, hingga literally menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan masyarakat terus mengalami perkembangan.

Wawancara kepada Mahasiswa: Ketika Bahasa Inggris Masuk ke Percapakan Sehari-Hari (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 08:04

Dampak ISPA dari Asap Karhutla bagi Ibu Hamil

Menurut Ns. Suryane Sulistiana Susanti, S.Kp., M.N.Sc., Ph.D. Asap Karhutla ancam Ibu Hamil dan Generasi Mendatang

Ilustrasi ibu hamil. (Sumber: Pexels | Foto: Helena Lopes)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 20:09

Mati Sebelum Berkembang, Inovasi Birokrasi di Indonesia

Sudah hampir satu Periode Rencana Jangka panjang (25 Tahun) Reformasi Birokrasi digulirkan, fakta di lapangan Birokrasi masih belum sesuai dengan yang diharapkan.

Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 29 Okt 2026, 19:44

Intip Serunya Theatrical 360 Audio Horror Experience di Braga CityWalk, Wahana Rumah Hantu 'Next Level' Cuma Lewat Suara

Berbeda dari rumah hantu konvensional, Theatrical 360 Audio Horror Experience menawarkan sensasi horor imersif yang sepenuhnya dimainkan lewat stimulasi indera pendengaran.

Berbeda dari rumah hantu konvensional, Theatrical 360 Audio Horror Experience menawarkan sensasi horor imersif yang sepenuhnya dimainkan lewat stimulasi indera pendengaran. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 19:08

Yang Perlu Dibicarakan Ketika Membicarakan Rencana Program Historic Urban Landscape di Kota Bandung

HUL adalah pendekatan holistik dan kerangka kerja dinamis untuk mengelola lanskap sejarah perkotaan yang terus berkembang, bukan predikat, status, yang berhenti di atas kertas dan jargon.

Salah satu gedung bersejarah di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 18:50

PA 98 Desak Polda Jabar Transparan Tangani Perkara Mahasiswa, Tolak Kriminalisasi Gerakan Demokrasi

PA 98 mendesak penghentian kriminalisasi dan intimidasi mahasiswa, transparansi penangkapan, jaminan bantuan hukum, serta perlindungan hak akademik dan kebebasan demokrasi.

Aksi aliansi masyarakat sipil dan mahasiswa Bandung dalam memperingati 2 tahun rezim Prabowo-Gibran. (Foto: Abah Omtris)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 14:50

Peran Strategis Warga Bandung dalam Gerakan Nasional Penanggulangan Karhutla

Warganet Bandung seharusnya dapat berperan dalam penanganan penanggulangan karlutha secara strategis. Sikap nasionalisme adalah bentuk empati dan tanggung jawab konkret untuk mengatasi bencana ini.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 13:06

Solusi Bijak Menangani Lahan Gambut

Memelajari metode restorasi, pengelolaan air yang tepat dan aksi nyata menjaga ekosistem demi mencegah bencana lingkungan.

Hutan dan lahan gambut. (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)