Romantisme Membaca Majalah Vista September 1983: Ketika Radio, Kaset, Bioskop dan Idola Menghidupkan Kenangan

8 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Majalah Vista, salah satu majalah hiburan populer pada era 1980–1990-an. Majalah ini menyajikan beragam informasi seputar musik, film, dan perkembangan dunia hiburan. (Sumber: Koleksi Majalah Vista milik Kin Sanubary)
Majalah Vista, salah satu majalah hiburan populer pada era 1980–1990-an. Majalah ini menyajikan beragam informasi seputar musik, film, dan perkembangan dunia hiburan. (Sumber: Koleksi Majalah Vista milik Kin Sanubary)

Ada kenangan yang tidak pernah benar-benar hilang.

Ia hanya bersembunyi di balik tumpukan kaset pita, poster idola, foto-foto lama, atau majalah yang tersimpan puluhan tahun di dalam lemari.

Begitu sebuah majalah lawas dibuka, tiba-tiba saja kita seperti ditarik kembali ke masa lalu. Kertas yang mulai menguning, foto hitam-putih dan berwarna dengan karakter khas, judul-judul besar, hingga berita tentang artis yang dahulu menjadi pujaan, semuanya terasa seperti mesin waktu.

Kali ini, kita kembali membuka Majalah Vista edisi September 1983.

Majalah hiburan yang banyak mengulas dunia film, musik, dan para pesohor ini terbit lebih dari empat dekade silam. Sampul mukanya menampilkan seorang bintang film cantik asal Kota Kembang, Bandung, Nenna Rosier, yang ketika itu baru berusia 18 tahun.

Membaca Vista hari ini seperti memutar kembali sebuah kaset lama. Perlahan, suara dan suasana masa 1980-an seakan terdengar lagi. Sampul Vista terbitan bulan September 1983 dihiasi wajah Nenna Rosier.

Nenna lahir di Bandung, 24 November 1965. Ia disebut memiliki darah campuran, dengan ibu yang berasal dari Yugoslavia dan ayah dari Lampung.

Kariernya di dunia film dimulai melalui Perawan-Perawan, film garapan sutradara perempuan Ida Farida. Pada masa awal kariernya, Nenna berada dalam satu generasi dengan Meriam Bellina, yang sama-sama berasal dari Bandung dan kemudian dikenal sebagai salah satu bintang film populer Indonesia.

Sejumlah film yang dibintangi Nenna Rosier antara lain Perawan-Perawan, Mayat Hidup, Perawan Rimba, Nyi Blorong, Di Balik Sinar Suram, Bayiku yang Pertama, Rose Beracun, dan Pandawa Lima.

Melihat kembali sampul Vista dengan wajah Nenna Rosier terasa seperti membuka album perfilman Indonesia era 1980-an—masa ketika poster film masih menghiasi bioskop dan nama-nama bintang menjadi bahan pembicaraan di sekolah, kantor, hingga warung kopi.

Dari dunia musik, Vista menghadirkan Euis Darliah, penyanyi rock asal Cimahi.

Ketika tampil dalam majalah ini, Euis berusia sekitar 26 tahun. Ia dikenal di Bandung melalui aksi panggungnya yang enerjik, terutama ketika membawakan lagu-lagu The Rolling Stones.

Bakat Euis ditemukan oleh musisi Titiek Hamzah, yang kemudian menjadi salah satu sosok penting dalam perjalanan kariernya di dunia musik.

Namun, Euis Darliah tidak hanya mengandalkan suara rock dan aksi panggung. Gaya kocaknya juga menjadi daya tarik tersendiri.

Ketika tampil bersama komedian Benyamin Sueb, Euis mampu menciptakan suasana panggung yang segar dan menghibur. Lagu “Apa-apanya Dong” kemudian semakin mengangkat namanya di tingkat nasional.

Dalam edisi ini, Euis juga tampil bersama trio komedi Warkop DKI : Dono, Kasino, dan Indro.

Sungguh perpaduan khas hiburan Indonesia pada masa itu antara musik, komedi, dan aksi panggung berpadu menjadi satu tontonan yang menghibur.

Kini, Euis Darliah diketahui menetap di Stockholm, Swedia.

Salah satu berita menarik dalam Vista adalah rencana pagelaran besar bertajuk Perjalanan Musik Indonesia.

Pertunjukan tersebut dirancang untuk membawa penonton menyusuri perjalanan musik Indonesia dari dekade 1940-an hingga era 1980-an.

Sebuah pertunjukan lintas zaman.

Musisi dan komponis Idris Sardi, yang mendapat julukan “Si Biola Maut”, dipercaya menggarap pagelaran tersebut.

Bayangkan sebuah panggung yang mempertemukan berbagai generasi musik: dari Gumarang, kemudian Koes Plus, hingga AKA dan Soneta yang dipimpin Raja Dangdut Rhoma Irama.

Rubrik “Sahabat Pena – Billboard Fans Club”, salah satu kolom yang diminati para pembaca Majalah Vista pada era 1980–1990-an. (Sumber: Koleksi Majalah Vista milik Kin Sanubary)
Rubrik “Sahabat Pena – Billboard Fans Club”, salah satu kolom yang diminati para pembaca Majalah Vista pada era 1980–1990-an. (Sumber: Koleksi Majalah Vista milik Kin Sanubary)

Pagelaran akbar tersebut digelar di Stadion Utama Senayan, Jakarta.

Bagi penggemar musik Indonesia pada awal 1980-an, pertunjukan semacam ini tentu menjadi tontonan yang sangat ditunggu. Berbagai aliran dan generasi musik direncanakan bertemu dalam satu panggung.

All Indonesian Rock ’83: Para Rocker Pulang Kampung

Bandung kembali menjadi pusat perhatian melalui acara All Indonesian Rock ’83.

Pagelaran ini menjadi ajang yang mempertemukan para rocker dan musisi yang pernah mengukir kejayaan dalam satu panggung.

Nama-nama besar ikut hadir, antara lain Achmad Albar, Ian Antono, Gito Rollies, Freddy Tamaela, Odink Nasution, Arthur Kaunang, Teddy Sujaya, Yaya Muktio, Jelly Tobing, Rudy Gagola, Abadi Soesman, serta rockerwati asal Malang, Sylvia Saartje.

Membaca daftar nama tersebut saja sudah cukup membuat penggemar musik rock lawas membayangkan suara gitar yang meraung, gebukan drum yang menghentak, rambut gondrong, jaket kulit, dan lampu panggung yang menyala terang.

Itulah wajah rock Indonesia pada zamannya.

Dan Bandung, sekali lagi, menjadi salah satu panggung penting bagi perjalanan musik tersebut.

Dari layar perak, Vista membawa kabar mengenai film Senyum Monalisa.

Film ini dibintangi Tamara Anya, yang disebut sebagai kakak kandung aktor laga Clift Sangra, sebagai pemeran utama wanita. Sementara pemeran utama pria adalah Johan Saimima.

Film tersebut disutradarai Dasrie Yacob dan diproduksi PT Inem Film.

Sebagian besar proses pengambilan gambar dilakukan di Pantai Carita, Banten, sementara sebagian lainnya mengambil lokasi di Jakarta. Cerita dan skenario ditulis oleh Henry Leo.

Film ini mengandalkan berbagai trik yang menegangkan dan mendebarkan untuk menarik perhatian penonton.

Aktris asal Bandung, Nena Rossier, menghiasi sampul Majalah Vista edisi September 1983. (Sumber: Koleksi Majalah Vista milik Kin Sanubary)
Aktris asal Bandung, Nena Rossier, menghiasi sampul Majalah Vista edisi September 1983. (Sumber: Koleksi Majalah Vista milik Kin Sanubary)

Masih dari dunia film, terdapat pula Cinta An Nissa, yang menampilkan Tamara Anya sebagai pemeran utama.

Film ini turut didukung Tri Warsono, Misye Arsita, Benny Reynaldi, Zaenal Abidin, dan Yan Bastian.

Film tersebut disutradarai H. Usman Effendy dan diproduksi PT Inem Film bekerja sama dengan Dwi Tunggal Perkasa Film.

Biaya produksinya disebut mencapai sekitar Rp125 juta.

Cinta An Nissa menjadi film ketiga yang digarap H. Usman Effendy setelah Santana dan Satu Malam Dua Cinta.

Membaca angka biaya produksi film pada masa itu tentu membuat kita tersenyum. Rp125 juta pada 1983 tentu memiliki cerita tersendiri jika dibandingkan dengan biaya produksi film masa kini.

Angka itu bukan sekadar nominal, tetapi juga menjadi bagian dari potret industri perfilman Indonesia pada zamannya.

Dari Inggris datang kabar tentang grup yang sedang menjadi idola remaja dunia yakni Duran Duran.

Grup beraliran new wave ini dibentuk pada akhir 1970-an dan beranggotakan Nick Rhodes, Simon Le Bon, John Taylor, Roger Taylor, dan Andy Taylor.

Menariknya, meski terdapat tiga personel bernama Taylor, mereka tidak memiliki hubungan keluarga.

Duran Duran kemudian tumbuh menjadi salah satu grup idola remaja paling populer pada awal 1980-an.

Bukan hanya musiknya yang menarik perhatian. Penampilan para personelnya yang modis dan wajah-wajah tampan mereka turut memperkuat citra Duran Duran sebagai ikon budaya pop generasi MTV.

Lagu-lagu mereka merajai tangga lagu Inggris dan menembus berbagai negara.

Bagi remaja Indonesia ketika itu, nama Duran Duran seperti datang dari dunia lain, dunia yang dikenal melalui radio, kaset, poster, dan majalah hiburan.

Pada era yang sama, nama The Police juga sedang berada di puncak popularitas.

Formasinya terdiri atas Sting sebagai vokal dan bass, Andy Summers pada gitar, serta Stewart Copeland pada drum.

Album mereka yang kemudian mendapat perhatian besar adalah Synchronicity.

The Police dikenal melalui permainan musik yang khas dan energi panggung yang kuat. Salah satu lagu awal mereka, “Roxanne”, menjadi hit besar dan membantu mengukuhkan mereka sebagai salah satu grup yang berhasil membawa warna new wave ke pasar musik arus utama.

Konser-konser mereka mendapat sambutan hangat dari penonton di berbagai negara.

Pada masa itu, mendengar lagu The Police dari radio terasa berbeda.

Kita mungkin harus menunggu berjam-jam hanya untuk mendengar lagu favorit diputar kembali.

Tidak ada tombol skip. Tidak ada playlist. Kalau lagu kesukaan muncul, buru-buru tekan tombol record pada tape recorder!

Nama besar lainnya yang hadir di halaman Majalah Vista adalah penyanyi eksentrik Rod Stewart.

Lahir di London, 10 Januari 1945, Rod dikenal sebagai penyanyi, pencipta lagu, dan produser.

Kariernya membentang panjang dan penjualan albumnya mencapai angka yang sangat besar di berbagai penjuru dunia. Ia juga dikenal mampu memainkan sejumlah alat musik seperti gitar, banjo, dan harmonika.

Album solonya An Old Raincoat Won’t Ever Let You Down dirilis pada 1969, dengan salah satu lagu yang kemudian populer, “I Don’t Want to Talk About It.”

Sosok Rod Stewart memperlihatkan bahwa musik rock dan pop bukan hanya milik satu generasi. Ada nama-nama yang mampu bertahan dan terus dikenang lintas zaman.

Salah satu hal yang membuat majalah lawas terasa istimewa adalah rubrik-rubriknya.

Dalam Vista, pembaca disuguhi berbagai rubrik tetap seperti Surat-Surat, Shot to Shot, Minigram, Rocklines, Music Notes, Pop News, Hollywood Update, Close Up, dan Hot News.

Nama-nama rubrik tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi pembaca era 1980-an, semuanya merupakan pintu untuk mengetahui kabar terbaru tentang film, musik, artis, dan dunia hiburan.

Majalah semuanya tuntas dibaca dari halaman pertama hingga halaman terakhir. Tidak jarang halaman yang memuat foto idola dilipat, disimpan, bahkan dipotong untuk ditempel di dinding kamar.

Begitulah cara anak muda menyimpan kenangan pada zamannya.

Sebelum media sosial hadir, majalah menjadi salah satu cara untuk merasa dekat dengan dunia hiburan dan para idola yang mereka kagumi.

Kini, ketika Vista edisi September 1983 kembali dibuka, yang terasa bukan sekadar nostalgia terhadap sebuah majalah.

Ada nostalgia terhadap sebuah cara dan gaya hidup.

Masa ketika anak muda menunggu lagu favorit dari radio. Ketika kaset pita menjadi benda berharga. Ketika poster penyanyi dan bintang film menghiasi dinding kamar. Ketika bioskop menjadi tempat bertemu. Dan ketika majalah hiburan menjadi jendela untuk melihat dunia yang terasa begitu jauh.

Dari Nenna Rosier hingga Euis Darliah.

Dari Idris Sardi dan para rocker Indonesia hingga Duran Duran, The Police, dan Rod Stewart.

Mereka semua pernah menjadi berita. Pernah menghiasi halaman majalah. Pernah menjadi idola.

Dan kini, nama-nama itu kembali muncul dari balik lembaran kertas yang telah berusia puluhan tahun.

Membaca Vista hari ini seperti memutar kaset lama yang sudah lama tersimpan.

Begitu musiknya terdengar, kenangan pun ikut bernyanyi.

Sebab majalah lawas bukan sekadar kumpulan berita. Ia adalah kapsul waktu, tempat sebuah generasi menitipkan suara, wajah, gaya, dan cerita mereka kepada generasi sesudahnya.

Dan ketika halaman terakhir ditutup, mungkin kita akan tersenyum kecil sambil bergumam:

“Ah... ternyata masa 1980-90an pernah seindah itu.” (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)