Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

4 menit baca
bram herdiana
Ditulis oleh bram herdiana diterbitkan
Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)

Kondisi geografis Kota Bandung yang juga sering disebut sebagai Bandung Kakurung ku Gunung atau Bandung yang d dikelilingi rangkaian pegunungan. Pegunungan Bandung Utara misalnya meliputi kawasan hijau dan hutan pinus di daerah Lembang, Cikole, serta pegunungan seperti Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Burangrang, Gunung Bukit Tunggul, dan Gunung Lembang. Di sini terdapat banyak destinasi wisata hutan pinus.

Kemudian Pegunungan Manglayang atau wilayah Timur, diapit oleh wilayah Bandung Timur, dengan jalur pendakian dan hutan pinus populer seperti Batu Kuda. Lalu Pegunungan Selatan, nampak gugusan pegunungan seperti Gunung Malabar, Gunung Patuha atau Kawah Putih, dan Gunung Tilu yang menjaga keseimbangan hidrologi wilayah Bandung. Sehingga kondisi geografis Kota Bandung dapat menjadi korban atau terdampak polusi asap kebakaran hutan dan lahan, jika nafsu-nafsu serakah itu terus bermunculan untuk menguasai hutan di wilayah-wilayah tadi di atas.

Hutan merupakan anugerah alam yang baru disadarinya nilai indahnya ketika suatu bencana datang. Saat pepohonan masih berdiri kokoh, sungai terisi air jernih, dan udara terasa sejuk, kita menganggap semuanya sebagai sesuatu yang biasa. Namun, ketika hutan terbakar, asap kuning menyelimuti permukiman, satwa kehilangan tempat tinggal, dan lahan berubah menjadi hamparan bara dan abu, barulah disadari betapa berharganya hutan sebagai napas kehidupan.

Kebakaran hutan sering kali dipandang sebagai persoalan alam, cuaca panas, atau musim kemarau yang panjang seperti waktu sekarang. Padahal, di balik sebagian peristiwa kebakaran hutan, terdapat persoalan yang lebih mendasar, yaitu perilaku manusia yang tidak mampu mengendalikan keserakahannya. Api memang membakar pepohonan, tetapi dorongan demi menguasai dan mengubah hutan secara berlebihan dapat menjadi pemicu yang membuat api terus menyala dan kerusakan semakin meluas.

Usaha mencegah kebakaran hutan tidak cukup hanya dengan menyiapkan petugas pemadam, membangun menara pengawas, atau menyediakan peralatan modern. Kita juga perlu memadamkan sesuatu yang tidak terlihat, tetapi dampaknya sangat nyata yaitu nafsu serakah untuk menguasai hutan demi tebalnya nominal rupiah.

Hutan hanya dipandang sebagai hamparan tanah yang memiliki nilai ekonomi. Pohon dapat ditebang untuk dijual, lahan dapat dibuka untuk perkebunan, dan kawasan hutan dapat dianggap sebagai peluang untuk memperbesar keuntungan. Cara pandang seperti ini membuat hutan seolah-olah hanya menjadi komoditas yang boleh diekploitasi dan dikuasai sebanyak-banyaknya.

Padahal, hutan memiliki fungsi yang sangat lebih besar daripada sekadar menghasilkan duit saja. Hutan menyimpan karbon, membantu mengatur tata air, menjaga kesuburan tanah, menjadi habitat bagi berbagai jenis tumbuhan dan satwa, serta berperan penting dalam menjaga keseimbangan iklim.

Ketika hutan rusak, akibatnya tidak hanya dirasakan oleh orang-orang yang tinggal di sekitar kawasan tersebut. Masyarakat yang jauh dari hutan pun dapat terkena dampaknya melalui pencemaran udara, gangguan kesehatan akibat asap, terganggunya sumber air, hingga meningkatnya risiko bencana lingkungan.

Masyarakat terampas udara bersihnya, petani melihat akrab kerusakan lahan, anak-anak terganggu aktifitas belajarnya, dan satwa-satwa liar kehilangan habitat. Di sinilah kita perlu mempertanyakan kembali cara manusia memandang alam. Apakah hutan hanya berharga ketika bisa menghasilkan keuntungan ? Apakah segala sesuatu yang dapat menghasilkan duit harus dikuasai tanpa batas ?

Ketika kebakaran hutan terjadi, perhatian masyarakat biasanya tertuju pada kobaran api. Petugas berjibaku memadamkan titik-titik kebakaran, helikopter dikerahkan untuk membantu pembasahan dari udara di lokasi yang memungkinkan, dan warga berusaha menyelamatkan diri dari kepungan asap. Semua upaya tersebut sangat penting. Namun, muncul pertanyaan mengapa kebakaran itu terjadi, dan bagaimana mencegahnya agar tidak terjadi lagi ?

Kebakaran hutan dapat dipicu oleh berbagai faktor. Cuaca panas dan kekeringan membuat vegetasi mudah terbakar. Sambaran petir juga dapat menjadi penyebab alami dalam kondisi tertentu. Akan tetapi, aktivitas manusia turut berperan dalam banyak kasus, misalnya membuang puntung rokok sembarangan, meninggalkan api unggun dan bekas memasak, atau menggunakan api untuk membuka lahan.

Karena itu, persoalan kebakaran hutan juga merupakan persoalan moral atau etika terhadap alam. Manusia harus mampu membedakan antara memanfaatkan alam dan mengeksploitasinya secara berlebihan. Memanfaatkan hutan berarti mengambil hasilnya dengan tanggung jawab dan memperhatikan kelestariannya. Sebaliknya, mengeksploitasi hutan secara serakah berarti mengambil sebanyak-banyaknya tanpa memedulikan kerusakan dan penderitaan yang ditimbulkan.

Api yang membakar hutan harus dipadamkan dengan tindakan nyata, sedangkan nafsu serakah yang merusak hutan harus dipadamkan melalui kesadaran, tanggung jawab, dan penegakan hukum. Semua juga tahu bahwa manusia membutuhkan lahan untuk pertanian, permukiman, industri, dan berbagai kegiatan ekonomi. Pembangunan memang diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, pembangunan tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan segala bentuk perusakan hutan.

Ketika hutan dibuka tanpa memperhatikan aturan dan daya dukung lingkungan, keuntungan ekonomi yang diperoleh dapat menimbulkan biaya sosial dan ekologis yang jauh lebih besar. Apalagi jika pembukaan lahan dilakukan melalui pembakaran yang berisiko menyebar ke area sekitarnya dan makin meluas. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 15:26

Menghalau Asap dengan Sains dan Kolaborasi Akademisi dalam Mitigasi Karhutla

Kampus punya ilmu dan jaringan untuk mencegah karhutla. Simak peran riset gambut, KKN tematik, dan konsorsium lintas kampus di wilayah rawan.

Ilustrasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 14:09

Evolusi Judi dan Fenomena Bansos

Menyoroti fenomena bansos bagi pelaku judi online

Evolusi Judi dan Fenomena Bansos. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 13:10

Instrumen Bumi sebagai Komposisi Sorawatu

Setiap bunyi dihasilkan dari gelombang suara, mengontruksi logika rasa manusia. Getaran batu di pukul memiliki frekuensi yang mampu memicu ketenangan batin.

Gamelan Sorawatu. (Foto: Penulis)
Beranda 30 Okt 2026, 12:02

AMSI Awards 2026 Apresiasi Inovasi 10 Media Siber Indonesia

AMSI Awards 2026 merupakan bagian dari rangkaian Indonesia Digital Media Conference (IDMC) 2026

Para pemenang di malam penghargaan AMSI Awards 2026 berpose bersama setelah acara, di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (29/10/2026) malam WIB. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 11:45

Cicadas Camping Ground: Tempat Kemah Super Luas di Sumedang

Cicadas Campimg Ground tempat kemah yang luas dan asri. Cocok untuk berkegiatan bareng teman, keluarga atau pasangan. Fasilitasnya juga lengkap.

Lapangan tempat kemah,di  kawasan Cicadas Camping Ground, Sumedang.
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 10:33

‎Dari 'Deadline' hingga 'Healing': Ketika Bahasa Inggris Masuk ke Percakapan Sehari-hari ‎

Penggunaan istilah seperti deadline, meeting, healing, overthinking, random, hingga literally menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan masyarakat terus mengalami perkembangan.

Wawancara kepada Mahasiswa: Ketika Bahasa Inggris Masuk ke Percapakan Sehari-Hari (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 08:04

Dampak ISPA dari Asap Karhutla bagi Ibu Hamil

Menurut Ns. Suryane Sulistiana Susanti, S.Kp., M.N.Sc., Ph.D. Asap Karhutla ancam Ibu Hamil dan Generasi Mendatang

Ilustrasi ibu hamil. (Sumber: Pexels | Foto: Helena Lopes)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 20:09

Mati Sebelum Berkembang, Inovasi Birokrasi di Indonesia

Sudah hampir satu Periode Rencana Jangka panjang (25 Tahun) Reformasi Birokrasi digulirkan, fakta di lapangan Birokrasi masih belum sesuai dengan yang diharapkan.

Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 29 Okt 2026, 19:44

Intip Serunya Theatrical 360 Audio Horror Experience di Braga CityWalk, Wahana Rumah Hantu 'Next Level' Cuma Lewat Suara

Berbeda dari rumah hantu konvensional, Theatrical 360 Audio Horror Experience menawarkan sensasi horor imersif yang sepenuhnya dimainkan lewat stimulasi indera pendengaran.

Berbeda dari rumah hantu konvensional, Theatrical 360 Audio Horror Experience menawarkan sensasi horor imersif yang sepenuhnya dimainkan lewat stimulasi indera pendengaran. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 19:08

Yang Perlu Dibicarakan Ketika Membicarakan Rencana Program Historic Urban Landscape di Kota Bandung

HUL adalah pendekatan holistik dan kerangka kerja dinamis untuk mengelola lanskap sejarah perkotaan yang terus berkembang, bukan predikat, status, yang berhenti di atas kertas dan jargon.

Salah satu gedung bersejarah di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 18:50

PA 98 Desak Polda Jabar Transparan Tangani Perkara Mahasiswa, Tolak Kriminalisasi Gerakan Demokrasi

PA 98 mendesak penghentian kriminalisasi dan intimidasi mahasiswa, transparansi penangkapan, jaminan bantuan hukum, serta perlindungan hak akademik dan kebebasan demokrasi.

Aksi aliansi masyarakat sipil dan mahasiswa Bandung dalam memperingati 2 tahun rezim Prabowo-Gibran. (Foto: Abah Omtris)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 14:50

Peran Strategis Warga Bandung dalam Gerakan Nasional Penanggulangan Karhutla

Warganet Bandung seharusnya dapat berperan dalam penanganan penanggulangan karlutha secara strategis. Sikap nasionalisme adalah bentuk empati dan tanggung jawab konkret untuk mengatasi bencana ini.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 13:06

Solusi Bijak Menangani Lahan Gambut

Memelajari metode restorasi, pengelolaan air yang tepat dan aksi nyata menjaga ekosistem demi mencegah bencana lingkungan.

Hutan dan lahan gambut. (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)