Menjadikan Bandung Kota Sepeda, Realita yang Jauh dari Gambaran

6 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Warga bersepeda di kawasan Alun-alun Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Djoko Subinarto)
Warga bersepeda di kawasan Alun-alun Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Djoko Subinarto)

HAMPIR saban pagi, jalanan di Bandung bak seorang gadis cantik yang bangun kesiangan -- riuh, semrawut, dan sering kali tergesa. Banyak jalan di Kota Bandung kiwari dijejali motor dan mobil yang berebut ruang. Aroma knalpot menggantikan harum embun pagi. Suka atau tidak, inilah paras Bandung yang terpaksa dipilih warganya saat ini. setiap hari.

Kemacetan di Bandung kini bukan lagi cerita luar biasa. Ia sudah seperti tempe dan tahu alias menu sehari-hari. Lantas, sampai kapan kita akan menganggap ini sebagai hal yang wajar?

Padahal, Bandung adalah kota yang secara geografis dan kultural sangat cocok menjadi kota sepeda, bukan sebagai kota sepeda motor dan mobil. Iklimnya yang relatif sejuk adalah anugerah yang jarang dimiliki kota besar lainnya di negeri ini.

Realita jauh dari gambaran

Mari kita bayangkan hal ini. Pagi hari di Jalan Braga, deretan sepeda meluncur pelan ditemani semilir angin dan aroma kopi yang ngahiliwir dari dalam sejumlah kafe. Tidak ada deru bunyi ngaberebet knalpot motor yang kita dengar, melainkan justru denting bel sepeda yang ramah. Senyum pengayuh bersahutan dengan sapaan pejalan kaki. Ini benar-benar sebuah potret kota yang lebih manusiawi.

Tapi, kiwari, realitanya jauh dari gambaran tersebut. Data Dinas Perhubungan Kota Bandung tahun 2023 menyebut jumlah kendaraan bermotor telah melampaui 2,2 juta unit, dan kemungkinan bakal terus bertambah. Maka, setiap tahun, jalan-jalan di Bandung bakal makin sesak. Di saat yang sama, kualitas udara dipastikan makin menurun.

Luas jalan di Kota Bandung bisa dibilang tidak bertambah secara signifikan dalam satu dekade terakhir. Kita mengalami pertumbuhan kendaraan tanpa dibarengi pertumbuhan ruang. Kondisi ini seperti kita menjejalkan lebih banyak ikan dalam sebuah akuarium yang space-nya tak pernah diperbesar.

Solusinya sudah barang tentu bukan memperlebar atau membangun jalan baru, tapi bagaimana mengubah minda alias pola pikir dan juga perilaku. Memperlebar jalan maupun membangun jalan baru pada gilirannya malah akan membuat makin banyak kendaraan bermunculan.

Nah, salah satu pola pikir yang bisa kita ubah dalam konteks makin sesaknya Bandung oleh kendaraan bermotor saat ini adalah bagaimana kita memandang sepeda. Sepeda pada hakikatnya bukan sekadar alat olahraga, melainkan moda transportasi yang sehat, murah, dan ramah lingkungan. Sepeda bisa menjadi simbol peradaban urban yang lebih bersih dan beradab.

Di Amsterdam dan Kopenhagen sana, dua kota yang identik dengan budaya bersepeda, sepeda justru menjadi alat transportasi utama. Di Kopenhagen, misalnya, 62 persen  warga kota menggunakan sepeda untuk pergi bekerja atau sekolah (data Cycling Embassy of Denmark, 2023). Budaya ini tumbuh dari kesadaran kolektif, bukan sekadar kebijakan sepihak. Bayangkan sekarang jika 62 persen warga Bandung mau nyapedah. Pasti dampak positifnya luar biasa.

Baca Juga: Mencoba Lezatnya Bandeng Cabut Duri 79 di Summarecon Bandung

Apakah Bandung tidak bisa seperti Kopenhagen?  Bisa, kalau mau.  Yang diperlukan hanya keberanian untuk memulai dan menjaga konsistensi.

Di Bandung, saat ini sudah terdapat sejumlah jalur khusus sepeda. Juga sudah ada gerakan Bike to Work. Ini dapat menjadi modal awal berharga.

Tentu, masih banyak tantangan. Salah satunya, aspek keamanan. Banyak warga yang ragu untuk mulai bersepeda karena takut diserempet kendaraan lain. Rasa cemas itu menjadi tembok penghalang yang harus dipikirkan oleh para pembuat kebijakan kota.

Studi yang dilakukan oleh Teschke dan rekan-rekannya (2012) menunjukkan bahwa jalur sepeda yang dipisahkan secara fisik dari lalu lintas kendaraan bermotor dapat menurunkan risiko cedera hingga 90 persen dibandingkan jalur sepeda yang menyatu dengan jalan umum. Temuan ini menguatkan pentingnya infrastruktur bersepeda yang aman dan terpisah untuk mendukung mobilitas urban yang ramah lingkungan dan manusiawi.

Tantangan lainnya yaitu adalah menyangkut gaya hidup. Kita sudah terlalu nyaman naik sepeda motor. Kemana-mana ngaberengbeng tumpak motor, meski hanya untuk membeli pisang goreng di ujung gang, yang jaraknya cuma beberapa ratus meter. Gaya hidup praktis tapi tidak ramah lingkungan ini telah mengakar dalam keseharian kita. Termasuk para pelajar kita.

Padahal, bersepeda punya manfaat luar biasa bagi tubuh. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut bahwa bersepeda selama 30 menit sehari dapat menurunkan risiko penyakit jantung hingga 50 persen dan diabetes hingga 40 persen. Belum lagi dampaknya bagi kesehatan mental yang sering luput dari perhatian.

Tak hanya membawa implikasi positif pada tubuh, sepeda juga menyelamatkan udara. Data dari AirVisual IQAir mencatat bahwa polusi udara Bandung pada jam sibuk bisa mencapai PM2.5 level 112 µg/m³ -- dua kali lipat batas aman WHO. Angka ini menggambarkan kondisi darurat yang justru kerap kita abaikan.

Shelter Boseh di Dalem Kaum Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar)
Shelter Boseh di Dalem Kaum Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar)

Sudah barang tentu, andai lebih banyak yang mau mengayuh sepeda di Kota Bandung ini, angka tersebut bisa ditekan. Kita sama-sama ketahui, sepeda tidak menghasilkan emisi karbon. Bahkan, menurut European Cyclists’ Federation, bersepeda bisa mengurangi emisi hingga 21 juta ton CO₂ per tahun.

Kalau satu orang beralih ke sepeda untuk jarak tempuh 5 kilometer setiap hari, itu berarti penghematan sekitar 300 kg CO₂ per tahun. Bayangkan jika 100.000, atau lebih dari itu, warga Bandung melakukannya, setidaknya kita bisa menciptakan revolusi senyap demi udara yang layak hirup.

Dari sisi ekonomi, sepeda juga lebih bersahabat. Tidak perlu ongkos untuk beli bensin, bayar parkir, atau mungkin service bulanan. Uang yang dihemat bisa dialihkan untuk kebutuhan lain yang lebih penting.

Sesungguhnya, Bandung yang didera macet dan polusi bisa mulai "disembuhkan" bukan dengan proyek-proyek infrastruktur mahal, tapi dengan sepeda dan keberanian warganya untuk mengubah kebiasaan. Kota ini bisa menjadi pelopor jika berani memulai.

Mungkin Anda mamsih ingat lirik lagu Coldplay yang bertajuk Paradise. Salah satu bagian liriknya berbunyi “And so lying underneath those stormy skies, she said, oh I know the sun must set to rise.” Ya, kita harus melewati kebiasaan lama untuk menuju terang baru. Dan sepeda bisa menjadi cahaya pertama itu.

Langkah kecil seperti car-free day dan gerakan gowes mingguan patut diapresiasi. Namun, perlu dikembangkan jadi gerakan masif yang bukan sekadar event mingguan, melainkan strategi jangka panjang.

Sekolah bisa menjadi pionir. Berikan insentif bagi para siswa yang bersepeda ke sekolah. Bisa dalam bentuk nilai tambahan, atau sekadar apresiasi harian. Anak-anak akan tumbuh dengan kebiasaan ini dan membawanya ke masa depan. Kantor pemerintahan pun bisa memberi contoh. Bayangkan kalau setiap hari para ASN di Bandung mau bersepeda. Ini bener-bener keren.

Ramah manusia

Jan Gehl, arsitek dan perencana kota asal Denmark, menegaskan bahwa kota yang ramah pejalan kaki dan pesepeda adalah kota yang ramah manusia. Kota seperti itu menciptakan ruang untuk interaksi, bukan hanya untuk pergerakan. Dan Bandung bisa memulai dari trotoar dan jalur sepeda.

Dengan bersepeda, kita bukan hanya berpindah tempat. Kita juga membuka mata, menyapa tetangga, dan melihat kota dengan cara yang lebih perlahan, lebih manusiawi. Sebuah perjalanan yang mengembalikan rasa.

Tentu, ada yang sinis. Bandung itu penuh tanjakan. Benar sekali. Namun, teknologi sepeda pun berkembang. Ada sepeda lipat, sepeda listrik, semua bisa jadi pilihan.

Apakah semua warga Bandung harus nyapedah? Tentu,tidak. Tapi, semakin banyak yang bersepeda, semakin lapang jalan bagi yang harus berkendara dengan kendaraan bermotor. Semua saling mendukung. Inilah solidaritas dalam konteks mobilitas.

Pada akhirnya, menjadikan Bandung kota sepeda adalah tentang bagaimana menggeser paradigma dari kota konsumtif ke kota yang aktif dan sadar lingkungan. Dan dari mobilitas cepat ke mobilitas bijak.

Baca Juga: Nasib Buruh Perempuan di Tengah Ekosistem Kerja yang Segregatif

Bandung bisa berubah, jika warganya memilih untuk tidak terus-menerus memilih hidup dalam kebisingan suara mesin dan kepulan asap knalpot. Perubahan Bandung bisa dimulai dari satu kayuhan.

Kita hanya perlu satu hal untuk memulai: kemauan. Karena revolusi kadang tak datang lewat suara keras, tapi bisa dari derik pelan rantai sepeda yang bergerak menuju masa depan. Satu pedal demi satu harapan.

Kita bisa memulainya dari hari ini. Naik sepeda bukan demi gaya, tapi demi udara yang layak, tubuh yang sehat, dan kota yang lebih bersahabat untuk semua. Mari mengayuh bersama, demi Bandung yang lebih baik. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)