Sejarah Dago, Hutan Bandung yang Berubah jadi Kawasan Elit Belanda Era Kolonial

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Orang Eropa berjalan di Jalan Dago tahun 1920-an. (Sumber: KITLV)
Orang Eropa berjalan di Jalan Dago tahun 1920-an. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Belum sah ke Bandung kalau belum menyusuri Dago. Begitu kata orang. Sebentuk ucapan yang lebih mirip azimat promosi pariwisata ketimbang pepatah lokal. Tapi memang begitulah adanya. Dago, dari dulu sampai sekarang, selalu punya daya sihir bagi siapa pun yang menjejakkan kaki di Bandung. Di zaman kiwari, ia menjelma jadi surganya factory outlet dan kafe dengan rooftop memikat. Tapi kalau ditarik mundur ke masa lampau, Dago adalah hutan. Bukan sekadar rimbun dedaunan, tapi betulan hutan yang gelap, penuh misteri, dan katanya, sarangnya binatang buas.

Jalanan Dago hari ini, tempat motor, mobil, angkot, dan travel berdesakan, dulunya adalah kawasan yang dihindari. Orang takut melintas sendirian. Yang hendak ke kota dari utara Bandung memilih untuk berkumpul terlebih dulu, menanti satu sama lain, membentuk kawanan demi keselamatan. Dari sinilah muncul kata "Dago", turunan dari bahasa Sunda “dagoan” alias menunggu.

Sejarawan dan guru besar Unpad, A. Sobana Hardjasaputra, menyebut bahwa Dago bukan sekadar nama jalan, tapi jejak kebiasaan orang tempo dulu. “Habis salat Subuh, biasanya orang Bandung itu suka berbelanja ke pasar,” kata Sobana. Tapi karena Dago kala itu remang-remang dan berbahaya, warga lebih memilih saling silih ngadagoan sebelum berangkat. “Dari situlah nama jalan itu jadi Jalan Dago. Artinya menunggu kata orang Sunda mah.”

Karena itu, Dago bukan sekadar ruang geografis, tapi juga cermin psikologis masyarakat yang mengutamakan rasa aman secara kolektif. Sebuah bentuk solidaritas sosial yang nyaris punah di zaman sekarang, ketika orang lebih suka buru-buru sendirian ketimbang sabar menanti dalam kerumunan.

Baca Juga: Jalan Cepat ke Lembang Gagal Dibangun Sejak Zaman Kolonial

Dago, Gagasan Rumah Peristirahatan Kolonial

Sekitar tahun 1905, seorang Belanda bernama Andre van der Brun memulai langkah penting dalam mengubah wajah Dago. Ia membangun rumah peristirahatan di lereng utara kota, persis di kawasan yang kini bersebelahan dengan Hotel Jayakarta. Waktu itu belum ada Jalan Ir. H. Djuanda, apalagi Borma dan Jabarano.

Sepuluh tahun kemudian, 1915, dimulailah pembangunan jalan besar yang dinamai Dagostraat. Jalan yang membelah pegunungan itu seolah menjadi tapal batas antara kota dan rimba. Baru tahun 1970, nama Dagostraat berubah menjadi Jalan Ir. H. Djuanda, mengikuti irama nasionalisme yang tengah menggeliat.

Potret orang Belanda sat bersantai di rumah mereka di Jalan Dago. (Sumber: KITLV)
Potret orang Belanda sat bersantai di rumah mereka di Jalan Dago. (Sumber: KITLV)

Tahun 1920 hingga 1940 bisa dibilang sebagai dekade emas pembangunan di Dago. Pemerintah Hindia Belanda kala itu rajin membangun, tak hanya jalan dan rumah, tapi juga sekolah. Technische Hoogeschool te Bandoeng berdiri megah pada 3 Juli 1920, kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB). Lalu muncul pula SMAK Dago, tempat B.J. Habibie menimba ilmu, dan aula bernama Lyceum Dago yang kini menjadi bagian dari SMAN 1 Bandung.

Bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial itu masih berdiri tegak. Pilar-pilar raksasa, lorong-lorong sunyi, dan jendela kayu yang mengintip ke masa lalu. Kalau saja tembok-tembok itu bisa bicara, mungkin mereka akan menceritakan pertemuan-pertemuan rahasia para dosen Belanda, atau mahasiswa zaman Jepang yang mencuri dengar berita perang lewat radio gelap.

Gaya arsitektur art deco pun bertebaran di kawasan ini. Rumah-rumah kuno yang kini berdampingan dengan bangunan modern, seperti toko kue La Belle atau ruko-ruko jalan Cikapayang. Sebuah jejak kemewahan masa lalu yang enggan pudar, meski terus dilabrak oleh gempuran kapitalisme modern.

Baca Juga: Hikayat Sungai Cikapundung, Pernah Jernih Sebelum Diratap dalam Syair

Hutan yang Dikonservasi, Lalu Dikeruk

Tapi Dago bukan cuma tempat jalan-jalan dan belanja. Di balik punggungan bukitnya, ada kawasan yang sejak lama jadi laboratorium konservasi. Namanya Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda, atau lebih akrab disebut Tahura. Di sinilah Dago Pakar bermula, bukan dari bisnis cafe-cafe yang menjual view bukit dan kopi seharga nasi padang.

Pada tahun 1864, seorang peneliti Belanda bernama Dr. Isaac Groneman menyusuri perbukitan Dago. Hasil penelitiannya menyebutkan bahwa kawasan ini menyimpan flora dan fauna langka. Ada anggrek Microstylis Bandongensis dan Nervillea Aragona, juga satwa seperti kancil, meong congkok (yang konon harimau kecil), hingga lutung. Sebuah hutan tropis yang memeluk rahasia.

Kemudian kawasan ini masuk dalam kelompok Hutan Lindung Gunung Pulosari. Lalu pada tahun 1980, lewat Surat Keputusan Menteri Pertanian, statusnya diubah jadi Taman Wisata Alam Curug Dago. Tujuannya jelas: melestarikan alam, mengenalkan keanekaragaman hayati, sekaligus menjaga situs-situs sejarah seperti Gua Jepang dan Gua Belanda.

Tak hanya itu, di dalam Tahura juga ditemukan Situs Cibitung, peninggalan zaman prasejarah. Konon ada batu arca dan makam kuno di sana. Di sekitarnya, ada mata air yang dianggap suci oleh warga sekitar. Sebuah contoh bagaimana manusia dan alam membangun harmoni dalam diam.

Tapi, seperti yang sering terjadi di negeri yang entah kenapa alergi pada ruang hijau, Tahura kini tak luput dari ancaman. Komersialisasi mulai mengintip. Para pengembang melirik lahan dengan embel-embel view Dago, udara sejuk, atau akses langsung ke Tahura. Dari sinilah muncul deretan rumah elit yang mencukur bukit, menyayat tanah, dan meminggirkan hutan.

Dago adalah ironi. Dari tempat menunggu yang penuh ketakutan jadi kawasan elite yang bikin macet. Dari hutan yang penuh satwa langka jadi pusat perbelanjaan. Dari ruang konservasi jadi ladang kapitalisasi.

Yang tersisa kini tinggal potongan sejarah yang terjepit di antara billboard dan kafe. Pilar-pilar Belanda berdiri kaku di antara gerai kopi internasional. Hutan lindung dibingkai pagar beton bertuliskan cluster eksklusif.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)