Hikayat Sungai Cikapundung, Pernah Jernih Sebelum Diratap dalam Syair

3 menit baca
Redaksi
Ditulis oleh Redaksi diterbitkan
Sungai Cikapundung yang dijadikan waduk pembangkit listrik zaman baheula pada masa Hindia Belanda. (Sumber: Wikimedia)
Sungai Cikapundung yang dijadikan waduk pembangkit listrik zaman baheula pada masa Hindia Belanda. (Sumber: Wikimedia)

AYOBANDUNG.ID – Sungai Cikapundung dulu bukan cuma urat air yang membelah Bandung. Ia adalah tulang punggung kota, penyambung hidup warga, bahkan penerang malam. Jangan heran kalau orang-orang tempo dulu memandangnya seperti tetangga yang baik: mengalirkan air bersih, menyediakan ikan, bahkan menyumbang listrik.

Ya, sebelum listrik jadi urusan PLN, Cikapundung sudah lebih dulu bercahaya lewat pembangkit tenaga air milik NV Cultuur Maatschappij Tjikapoendoeng.

Sungai itu bisa dibilang multitalenta. Selain bisa bikin lampu rumah nyala, airnya dulu juga bening seperti hati mantan yang belum disakiti. Orang zaman kolonial Belanda masih bisa melihat dasar sungai dan ikan-ikan berenang bebas, belum kenal plastik dan deterjen.

Sekitar tahun 1900-an, ketika orang-orang Eropa masih menamakan Bandung sebagai “Parijs van Java”, Cikapundung menjadi arena marak—ritual berburu ikan secara komunal yang melibatkan satu kampung.

Kisah ini dicatat rapi dalam buku Mangle, yang ditulis oleh W. van Gelder. Jangan bayangkan buku ini berisi strategi memikat pasangan Sunda. Ini buku pendidikan Sunda klasik yang berisi kisah-kisah untuk pelajaran sekolah.

Dalam cerita berjudul “Marak”, diceritakan bagaimana warga Dago Bengkok membendung sungai untuk menangkap ikan saat musim kemarau. Seluruh kampung turun tangan. Ada yang bawa linggis, ada pula yang membawa bekal. Tangkapannya bukan main-main: dari lele, bogo, nilém, sampai belut.

Setelah puas menombak, menjala, atau cuma mengaduk-aduk lumpur berharap dapat kejutan, mereka membongkar bendungan darurat itu. Sungai dikembalikan ke fitrahnya. Beberapa membakar ikan, sisanya dibawa pulang. Tidak ada yang update di Instagram, karena yang penting kenyang, bukan konten.

Sungai Cikapundung tahun 1900-an. (Sumber: KITLV)
Sungai Cikapundung tahun 1900-an. (Sumber: KITLV)

Kemunculan Limbah Pembalut

Lompatan waktu ke tahun 1950-an, air Cikapundung masih bening. Us Tiarsa R., dalam buku Basa Bandung Halimunan, mengenang masa kecilnya menjelajah sungai itu. “Ti jembatan Torpedo ka kuburan Landa di Tamansari, loba jalma keur mandi,” tulisnya. Cikapundung saat itu seperti kolam renang rakyat yang gratis dan alami.

Tapi zaman berubah. Sekitar tahun itu juga, mulai muncul gejala-gejala muram. Kata Us Tiarsa, sudah jarang orang mancing di Cikapundung. Bukan karena ikannya punah, tapi karena “ikanna bau minyak tanah, tara ngeunah didahar.” Sungguh kasihan lele yang jadi korban urbanisasi.

Baca Juga: Banjir Cikapundung 1919 Rendam Braga Gegara Deforestasi Lereng Bandung

Penyair mulai ikut-ikutan sedih melihat Cikapundung. Dalam puisinya Tanah Kelahiran yang diterbitkan tahun 1956, Ramadhan KH seperti menyaksikan kiamat kecil:

“Seruling berkawan pantun // tangiskan derita orang priangan // selendang merah, merah darah, // menurun di Cikapundung.”

Bayangkan, dari sungai yang dulu jadi ladang ikan warga dan sumber listrik kota, kini menurunkan “selendang merah, merah darah.” Apakah ini sungai atau panggung teater tragedi?

Penyair Afrizal Malna lebih blak-blakan. Ia menulis, “Saudara, kota telah dibuat dari bangkai-bangkai sungai.” Dalam puisi berjudul Liburan-liburan Keluarga dan Pipa-pipa Air tahun 90-an, Afrizal tak lagi bicara ikan, melainkan softex, bungkus mi instan, dan sisa makan malam yang hanyut bersama kenangan masa kecil.

Wilson Nadeak malah memotret isi perut kota yang tumpah ruah ke sungai. Dalam puisinya, “dari kali cikapundung megah, tumpah-ruah isi perut penghuni kota.” Barangkali yang ia maksud bukan sekadar limbah, tapi juga amarah, frustrasi, dan beban hidup warga urban yang tak sempat terapung.

Kini, alih-alih jadi tempat orang mandi, Cikapundung jadi tempat banjir mampir. Ia jadi kanal pembuangan frustrasi warga kota: frustrasi karena macet, frustrasi karena gaji tak naik-naik, dan frustrasi karena sungai yang dulu penuh ikan kini lebih mirip got raksasa. Airnya bukan lagi sumber kehidupan, tapi sumber keluhan.

Potret derasnya air coklat selepas hujan di Sungai Cikapundung. (Sumber: Flickr | Foto: Ikhlasul Amal)
Potret derasnya air coklat selepas hujan di Sungai Cikapundung. (Sumber: Flickr | Foto: Ikhlasul Amal)

Ironi terbesar adalah: ketika semua orang bicara soal Bandung Juara, Cikapundung malah makin nelangsa. Jadi, jika ada kesempatan berdiri di jembatan Cikapundung sambil memandang alirannya yang coklat pekat, cobalah bayangkan suara air itu menyanyikan lagu lama:

“Pernah aku jadi terangmu, juga lauk paukmu. Tapi kini... aku hanyalah limbah kenangan.”

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)