Kritik Sosial dalam Doa Orang Sunda

4 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Doa orang Sunda hadir sederhana di keseharian, jadi pengikat relasi dan tanda solidaritas rakyat. (Sumber: Pexels/Andreas Suwardy)
Doa orang Sunda hadir sederhana di keseharian, jadi pengikat relasi dan tanda solidaritas rakyat. (Sumber: Pexels/Andreas Suwardy)

Sebelum berpisah dia memandangku sambil berdoa dengan lirih, “Sing cageur bageur, panjang umur, gedé milik, jauh tina balahi. Sing loba nu mikawelas mikaasih, sagala pamaksudan sing tinekanan. Bagja di dunya, jaga salamet di ahérat.”

Rasanya sudah sangat lama aku enggak berjumpa dengannya, seorang nenek yang tinggal di dekat kebun bapak. Aku mengangguk, mata terasa panas, berbalik arah menuju gubug di sebelah atas.

Di Tanah Sunda, doa seperti ini tidak terikat pada ritus atau acara formal. Rapalan khusyu berguman di tengah pergaulan sehari-hari, mengalir di antara pertemuan yang singkat dan perpisahan sederhana. Ia bisa muncul ketika menjenguk orang sakit, kala berpapasan seseorang di pasar, atau ketika melepas tamu dari teras rumah.

Kadang juga sambil lalu, ketika satu sama lain melakukan kebaikan. Doa ini bisa diucapkan dalam suasana bahagia, meskipun sering juga terjadi dalam momen yang mengharukan. Tapi intinya selalu menampakan ketulusan dan menyembunyikan harapan untuk bisa bertemu kembali.

Doa rakyat punya banyak versi. Ada yang memakai ragam bahasa akrab seperti contoh di atas yang singkat dan lugas. Ada juga versi yang lebih panjang dan puitis. Bahkan ada versi campuran Sunda kamalayon yang fleksibel mengikuti lawan bicara. Perbedaan bentuk menunjukkan bahwa doa ini bukanlah formula kaku, melainkan ungkapan rasa yang sejalan dengan situasi dan relasi sosial.

Isi doa mencerminkan harapan sederhana rakyat. Di dalamnya ada permintaan kesehatan (sing cageur bageur), bukan hanya tubuh juga perangai yang baik. Ada cita-cita umur panjang untuk menikmati keberkahan hidup bersama orang-orang terkasih. Ada permohonan rezeki (gedé milik) untuk menunjang hajat hidup dan membantu sesame.

Begitu juga terpanjat permintaan agar dijauhkan dari marabahaya (jauh tina balahi), fisik maupun batin. Kemudian disusul asa agar dikelilingi orang yang berkasih sayang (sing loba nu mikawelas mikaasih), berhadap hidup di jejaring sosial yang hangat dan saling menolong.

Kemudian doa agar semua cita-cita tercapai (sagala pamaksudan sing tinekanan), dan penutup yang menyeimbangkan visi kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Secara sosial, doa seperti ini berfungsi sebagai pengikat relasi. Mengucapkannya adalah ekspresi keramahan dan penghormatan. Ia bisa jadi penyambung hati bahkan di tengah situasi yang tegang dan belum akrab, ungkapan rasa cinta dan atensi.

Tidak jarang orang yang baru kenal tetap saling mendoakan saat berpisah, sebuah penanda etik bahwa relasi antarmanusia harus dijaga. Susunannya yang sederhana membuat doa ini inklusif. Semua orang bisa mendaraskannya tanpa harus menghafal teks panjang atau benturan dengan bahasa asing.

Namun di balik kata-kata yang tampak lembut tersebut, tercermin juga potret kehidupan rakyat termasuk isu-isu kesejahteraan yang menyertainya. Kesehatan menjadi doa karena akses layanan medis yang layak belum tersebar merata. Banyak warga menunda berobat karena soal biaya dan jarak.

Begitupun soal harapan memiliki perangai yang baik. Bagaimana mungkin bisa diakses rakyat, jika pendidikan terhambat biaya tinggi, komersialisasi, dan kurikulum percobaan?

Ekonomi yang cukup pun menjadi doa yang abadi, menandakan bahwa banyak keluarga hidup dari penghasilan yang pas-pasan. Rakyat bergantung pada hasil kebun, laba dagang kecil-kecilan, atau upah kerja harian yang tidak menentu. Doa agar terhindar dari bahaya menampilkan wajah kerentanan rakyat terhadap resiko bencana alam, gagal panen, maupun gangguan keamanan.

Masyarakat Adat Kampung Cireundeu Kota Cimahi saat menggelar Tradisi Tutup Taun 1957 dan Ngemban Taun 1 Sura 1958, Sabtu 3 Agustus 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Masyarakat Adat Kampung Cireundeu Kota Cimahi saat menggelar Tradisi Tutup Taun 1957 dan Ngemban Taun 1 Sura 1958, Sabtu 3 Agustus 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Di banyak tempat, krisis iklim memperparah ketidakpastian ini. Sementara perlidungan sosial belum mampu menjangkau semua lapisan masyarakat. Kebahagiaan yang dimohonkan bukanlah kemewahan, melainkan ketenteraman hidup dan rasa cukup. Sesuatu yang kini tergerus oleh tekanan kapitalisasi dan modernisasi.

Di tengah kemiskinan struktural, ketimpangan ekonomi, dan konflik yang diperparah krisis iklim, harapan untuk hidup dalam lingkaran kasih sayang terasa makin mustahil. Ketimpangan membuat sebagian orang nekat melakukan kejahatan dari begal, perampokan toko kelontong, hingga kekerasan rumah tangga. Rasa saling percaya terkikis, digantikan curiga dan rasa takut.

Dalam situasi seperti ini, harmoni sosial sulit terbentuk karena setiap orang sibuk bertahan hidup. Akibatnya banyak cita-cita yang tertunda. Seorang anak putus sekolah, usaha kecil terlilit utang pinjaman daring, atau kecemburuan sosial yang memantik kerusuhan penolakan rumah ibadah tertentu.

Doa agar saling mengasihi dan semua tujuan tercapai berubah menjadi sebuah kemewahan yang mahal di tengah realitas hidup yang keras. Harapan akhir rakyat akan hidup yang seimbang baik di dunia maupun akhirat, justru terbentur dengan realitas kekuasaan yang masih saja tidak berpihak.

Di tengah kehidupan kiwari, doa rakyat Sunda ini menjadi pengingat bahwa religiusitas tidak selalu lahir dari ritus besar atau struktur bahasa formal. Ia bisa hadir dalam nafas sehari-hari yang menyatukan kearifan lokal dan rasa kemanusiaan.

Selama masih dirapalkan, doa bukan hanya ibadah tapi juga bentuk solidaritas emosional. Lebih jauh dari itu doa tidak lagi menjadi ungkapan kesalehan, tapi merekam rintihan rakyat akan problem kesenjangan sosial yang masih langgeng. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)