Program Makan Bergizi Gratis dan Ujian Tata Kelola Birokrasi

Guruh Muamar Khadafi
Ditulis oleh Guruh Muamar Khadafi diterbitkan Jumat 10 Okt 2025, 19:28 WIB
Program Makan Bergizi Gratis (MBG). (Sumber: setneg.go.id)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG). (Sumber: setneg.go.id)

Insiden keracunan makanan yang dialami ribuan pelajar di Jawa Barat beberapa waktu lalu mengundang keprihatinan publik. Program makan bergizi gratis (MBG) yang baru saja berjalan, yang digadang-gadang sebagai salah satu program unggulan pemerintah, tiba-tiba menghadapi ujian berat. Alih-alih menampilkan keberpihakan negara pada rakyat kecil, insiden ini justru menyingkap kelemahan tata kelola birokrasi kita.

Program makan bergizi gratis sejak awal diperkenalkan sebagai sebuah kebijakan strategis dengan tujuan yang mulia. Ia dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah, menekan angka stunting, serta membantu meringankan beban keluarga miskin.

Dengan basis manfaat sebesar itu, dukungan publik terhadap program ini relatif besar. Namun, dukungan tidak otomatis berarti kebijakan berjalan mulus. Kasus keracunan massal menjadi pengingat keras bahwa setiap program publik yang menyentuh kebutuhan dasar warga tidak dapat dijalankan dengan logika administratif belaka.

Pemerintah menargetkan distribusi makanan bergizi gratis dapat menjangkau jutaan pelajar dalam waktu singkat. Ambisi ini tentu patut diapresiasi. Akan tetapi, di balik target yang besar, muncul pertanyaan mendasar, apakah rantai birokrasi yang menopang program ini sudah cukup siap? Fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya.

Birokrasi kita selama ini dikenal lebih sibuk dengan urusan formalitas ketimbang memastikan mutu layanan. Inspeksi dapur penyedia makanan, misalnya, sering kali hanya menjadi rutinitas yang dilaksanakan sekadar menggugurkan kewajiban.

Sertifikasi kelayakan pangan, yang seharusnya menjadi instrumen pengendalian kualitas, tidak selalu dijalankan dengan konsisten. Dalam situasi di mana jutaan porsi makanan harus diproduksi dan didistribusikan setiap hari, kelemahan semacam ini bisa menimbulkan risiko besar.

Kasus keracunan massal di Jawa Barat menjadi bukti nyata. Anak-anak sekolah yang seharusnya mendapatkan manfaat gizi justru jatuh sakit. Orang tua merasa khawatir, dan publik mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam memastikan keamanan program. Di balik semua itu, akar masalahnya kembali kepada satu hal yaitu lemahnya pengawasan.

Wajah Birokrasi yang Belum Berubah

Program makan bergizi gratis (MBG). (Sumber: kebumenkab.go.id)
Program makan bergizi gratis (MBG). (Sumber: kebumenkab.go.id)

Bukan pertama kalinya birokrasi Indonesia menghadapi persoalan serupa. Sejarah kebijakan publik kita kerap diwarnai oleh jurang antara rancangan yang ideal dan implementasi yang penuh kendala. Dari program bantuan langsung tunai, distribusi raskin, hingga subsidi pupuk, persoalan klasik seperti data yang tidak akurat, tata kelola yang lemah, dan pengawasan yang longgar selalu muncul.

Birokrasi kita masih sering terjebak pada logika administratif. Yang lebih diutamakan adalah kelengkapan berkas, jumlah rapat, atau tanda tangan pejabat, bukan dampak nyata di lapangan. Kinerja sering kali diukur berdasarkan output administratif, bukan outcome yang dirasakan masyarakat. Akibatnya, program-program besar mudah kehilangan arah begitu berhadapan dengan kenyataan.

Dalam kasus program makan gratis, kelemahan ini terlihat jelas. Di satu sisi, birokrasi berupaya mencapai target distribusi dalam skala masif. Namun, di sisi lain, mekanisme kontrol mutu berjalan setengah hati. Koordinasi antarinstansi lemah, standar pengawasan tidak konsisten, dan sistem akuntabilitas minim.

Penting untuk disadari bahwa program makan gratis bukanlah kebijakan sederhana. Ia melibatkan banyak pihak: kementerian, pemerintah daerah, sekolah, penyedia jasa katering, hingga masyarakat lokal. Dalam kondisi semacam ini, birokrasi dituntut untuk mampu bekerja secara adaptif, kolaboratif, dan responsif. Sayangnya, kultur birokrasi kita belum sepenuhnya bergerak ke arah itu.

Banyak kebijakan publik di Indonesia masih dikelola dengan pendekatan top-down yang kaku. Instruksi datang dari pusat, lalu diteruskan ke daerah tanpa selalu memperhatikan kapasitas lokal. Padahal, keberhasilan program makan gratis justru ditentukan oleh kesiapan rantai paling bawah seperti dapur penyedia makanan di daerah, sekolah yang menjadi tempat distribusi, serta petugas lapangan yang memastikan kualitas makanan terjaga.

Kelemahan di titik-titik ini tidak bisa ditutup dengan retorika. Masyarakat yang merasakan langsung dampaknya lebih cepat menilai. Ketika ribuan anak sakit, publik melihat program bukan dari data keberhasilan yang diumumkan pemerintah, tetapi dari pengalaman nyata di lapangan.

Sejumlah negara pernah menjalankan program serupa dengan hasil yang beragam. India, misalnya, memiliki Mid-Day Meal Scheme yang menyediakan makanan bergizi gratis bagi anak sekolah sejak 1995. Program ini terbukti menekan angka kelaparan dan meningkatkan partisipasi sekolah. Namun, India juga mengalami beberapa kasus keracunan massal akibat lemahnya pengawasan. Perbaikan kemudian dilakukan dengan memperkuat standar higiene, meningkatkan transparansi penyedia, serta melibatkan masyarakat dalam proses pengawasan.

Brasil dengan program Fome Zero juga memberi pelajaran. Kesuksesan program tersebut tidak hanya terletak pada distribusi makanan, tetapi juga integrasi dengan kebijakan lain seperti pengentasan kemiskinan, dukungan bagi petani lokal, dan pendidikan gizi di sekolah. Keberhasilan itu dimungkinkan karena birokrasi Brasil bertransformasi menjadi lebih transparan, melibatkan masyarakat sipil, dan konsisten menegakkan standar mutu.

Pengalaman internasional ini menunjukkan bahwa program makan gratis dapat berhasil bila birokrasi memiliki kapasitas, standar pengawasan yang jelas, serta ruang partisipasi publik yang memadai.

Insiden keracunan massal harus menjadi momentum untuk melakukan perbaikan mendasar. Ada beberapa langkah yang bisa ditempuh.

Pertama, penguatan sistem pengawasan. Pemerintah harus memastikan bahwa setiap dapur penyedia makanan melewati inspeksi ketat dengan standar yang seragam. Proses ini tidak bisa sekadar administratif, melainkan harus melibatkan pihak independen, termasuk organisasi profesi kesehatan atau lembaga pengawas pangan.

Kedua, peningkatan kapasitas birokrasi daerah. Tidak semua pemerintah daerah memiliki kemampuan yang sama dalam mengelola program berskala besar. Pemerintah pusat perlu memberikan dukungan teknis, pelatihan, serta anggaran yang memadai agar daerah mampu melaksanakan tugas dengan baik.

Ketiga, pelibatan masyarakat dalam pengawasan. Orang tua, komite sekolah, dan organisasi masyarakat sipil dapat menjadi mitra strategis dalam memastikan kualitas program. Dengan keterlibatan publik, transparansi meningkat dan risiko penyimpangan bisa ditekan.

Keempat, integrasi dengan kebijakan lain. Program makan bergizi gratis sebaiknya tidak berdiri sendiri, melainkan dikaitkan dengan upaya penguatan gizi, pemberdayaan petani lokal, serta pendidikan kesehatan. Dengan demikian, dampaknya lebih luas dan berkelanjutan.

Birokrasi dalam Ujian

Potret sejumlah siswa yang terkapar lemasakibat keracunan massal MBG di Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Potret sejumlah siswa yang terkapar lemasakibat keracunan massal MBG di Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

Kasus ini sejatinya adalah ujian bagi birokrasi Indonesia. Program makan gratis menjadi cermin sejauh mana birokrasi mampu bertransformasi menjadi pelayan publik yang adaptif dan berintegritas. Di tengah tuntutan masyarakat akan layanan yang cepat dan berkualitas, birokrasi tidak bisa lagi berlindung di balik prosedur yang berbelit atau jargon evaluasi yang tak kunjung tuntas.

Publik menunggu langkah nyata. Evaluasi harus disertai tindakan korektif, bukan hanya laporan di meja rapat. Setiap celah pengawasan yang ditemukan harus segera ditutup, dan setiap pihak yang lalai harus bertanggung jawab. Hanya dengan cara itu, kepercayaan masyarakat bisa dipulihkan.

Program makan bergizi gratis adalah sebuah kebijakan yang patut dipertahankan. Ia menyentuh aspek fundamental seperti gizi anak, masa depan generasi, dan rasa keadilan sosial. Namun, keberhasilan program ini sepenuhnya bergantung pada kualitas tata kelola birokrasi. Jika birokrasi masih terjebak dalam rutinitas administratif, program sebesar apa pun akan mudah tergelincir.

Insiden keracunan massal menjadi pelajaran berharga. Bukan sekadar soal makanan yang basi atau dapur yang kotor, tetapi tentang birokrasi yang belum sepenuhnya berbenah. Di sinilah ujian terbesar birokrasi Indonesia: berani berubah menjadi pelayan publik yang sejati, atau terus terjebak dalam lingkaran kelemahan yang berulang. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Guruh Muamar Khadafi
Analis Kebijakan Ahli Muda, Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Talenta ASN Nasional Lembaga Administrasi Negara
Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 29 Nov 2025, 16:02 WIB

Tren Belanja Akhir Tahun di Mall Bandung Menggeliat dengan Potensi Bisnis Baru

Menjelang akhir tahun, pusat perbelanjaan di Kota Bandung kembali menjadi magnet utama bagi masyarakat sebagai destinasi gaya hidup yang menyatukan belanja, hiburan, dan interaksi sosial.
Menjelang akhir tahun, pusat perbelanjaan di Kota Bandung kembali menjadi magnet utama bagi masyarakat sebagai destinasi gaya hidup yang menyatukan belanja, hiburan, dan interaksi sosial. (Sumber: 23 Paskal Shopping Center)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 23:00 WIB

Trotoar di Bandung: Jalan Kaki di Zaman Sandal Jepit ke Zaman Sneaker Premium

Trotoar di Bandung bukan sekadar tempat berjalan, tapi panggung kehidupan kota — kadang panggung tragedi, kadang komedi, seringnya keduanya sekaligus.
Kawasan legendaris Braga bukan sekadar jalan, melainkan lembaran sejarah yang hidup, menyatu dengan denyut nadi modernitas kota. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Biz 28 Nov 2025, 21:27 WIB

Membangun Kebiasaan Aman di Jalan Bersama Sadulur Bikers Bandung Timur

Keselamatan berkendara di Bandung kini bukan lagi sekadar kampanye, melainkan sebuah kesadaran yang perlahan tumbuh menjadi budaya.
Ilustrasi. Keselamatan berkendara di Bandung kini bukan lagi sekadar kampanye, melainkan sebuah kesadaran yang perlahan tumbuh menjadi budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 20:51 WIB

An Se Young Ratu Bulu Tangkis Korea yang Berhati Bersih dan Senang Berbagi

Sepanjang 2025, An Se Young berhasil menjuarai 10 dari 14 turnamen internasional yang ia ikuti.
Sepanjang 2025, An Se Young (kiri) berhasil menjuarai 10 dari 14 turnamen internasional yang ia ikuti. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Kim Sunjoo)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 19:11 WIB

Cadasngampar dan Cicadas Itu Endapan Material Letusan Gunung Api 

Menelisik asal-asul nama geografis Cicadas dan Cadasngampar.
Cadasngampar di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra satelit: Google maps)
Ayo Jelajah 28 Nov 2025, 18:46 WIB

Hikayat Kota Hantu Semipalatinsk, Halaman Belakang Uni Soviet yang jadi Kuburan Senyap Radiasi

Kisah suram Semipalatinsk, situs uji coba nuklir Soviet yang meninggalkan radiasi dengan jejak 456 ledakan nuklir, jutaan penduduk terdampak, dan kota yang membeku dalam kesunyian
Tampakan Semipalatinsk di Semey, Kazakhstan dan bekas lokasi uji coba senjata nuklir utama Uni Soviet dari tahun 1949 hingga 1989 (Sumber: Google Earth)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 18:37 WIB

Tren Olahraga Pilates: Solusi Kebugaran Holistik untuk Gaya Hidup Urban Bandung

Maulia Putri seorang praktisi gaya hidup sehat di Bandung, menceritakan manfaat pilates yang menjadikan latihan ini sebagai rutinitas.
Dua perempuan sedang melakukan latihan pilates pada Sabtu Siang, (08/11/25) di Studio Pilates Mekarwangi, Bojongloa Kidul, Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penuis | Foto: Maya Amelia)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 18:15 WIB

Menyalakan Kehidupan Malam di Tengah Hening Lembang

Saat malam mulai turun di kaki Gunung Burangrang, kawasan Dusun Bambu berubah menjadi ruang wisata penuh cahaya.
Cahaya lampu menghiasi suasana malam di area wisata Dusun Bambu Lembang, (06/10/2025) (Foto: Dokumentasi Pihak Narasumber.)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 17:20 WIB

Kreativitas Generasi Z Bawa Warna Baru bagi Industri Pernikahan Bandung

Inovasi Gen Z dari Marlina mendorong Indhira Wedding Organizer berkembang pesat di Bandung.
Tim Indhira Wedding Organizer mengatur prosesi pernikahan adat Sunda di Bandung dengan detail dan kehangatan (18/10/2025). (Sumber: Indhira Wedding Organizer)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 17:03 WIB

Inovasi Risol yang Menggabungkan Citra Rasa Modern dan Pelestarian Budaya Sunda

Mourisol menyajikan risol premium dengan 8 varian rasa unik. Ukurannya besar, cocok sebagai pengganti makan berat.
Gambar 1.1 Rissol yang menjadi keunggulan Mourisol (5/11/2025) (Foto: (Sumber:Maura))
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 16:49 WIB

Makna Budaya Siraman dalam Pernikahan Adat Sunda

Pengantin asal Bandung, memilih melaksanakan tradisi siraman sebelum prosesi pernikahannya sebagai bentuk penyucian diri dan pelestarian budaya adat Sunda.
Mutiara Syoba’ah sedang melakukan budaya sakral siraman sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, Jumat (14/01/2022) (Sumber: Dokumentasi Wedding Organizer | Foto: Ali Solehudin)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 16:39 WIB

Ko Dalang Menghidupkan Warisan Wayang Golek di Tengah Arus Modernisasi Budaya

Wayang Golek dihidupkan Ko Dalang Irfan lewat inovasi bahasa, durasi, dan alur modern.
Ko Dalang menampilkan pertunjukan Wayang Golek di Saung Angklung Udjo diiringi  dengan musik tradisional Sunda, Kamis (6/11/25), Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Ishanna Nagi)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 15:24 WIB

Mengulik Gedung Kosong 30 Tahun yang Disulap Jadi Rumah Hantu Braga

Wahana seru sekaligus uji nyali di tengah Kota Bandung.
Tampak depan Rumah Hantu Braga di Jalan Braga, Kota Bandung, Rabu 29 September 2025. (Foto: (Sumber: Dokumentasi Penulis | foto: Muhammad Amril Fathurrahman Rovery)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 14:29 WIB

Perluasan Area Petting Zoo Farmhouse Lembang: Pengalaman Belajar yang Menarik dan Seru

Wisata edukasi bernuansa Eropa yang terletak di dataran tinggi wilayah Bandung.
Seoarang anak memberi makan kelinci di area petting zoo Farmhouse Lembang (Sabtu 8/11/25). (Sumber: Fauzi Ananta)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 13:01 WIB

Olahraga Musim Dingin di Tengah Hangatnya Kota Kembang

Sensasi meluncur di atas es dengan latar taman hijau, arena semi outdoor pertama di Indonesia ini jadi spot seru.
Pengunjung menikmati kegiatan bermain ice skating pada sore hari di Garden Ice Rink, Paris Van Java, Bandung (14/09/2025). (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 10:42 WIB

Tips Mancing Gacor dari Komunitas! Wajib Tahu Komposisi Bahan terhadap Kualitas Umpan Ikan

Yang bikin Umpan TMK beda dari yang lain, bahan-bahannya bukan asal-asalan.
Team TOMCAT FISHING mengikuti lomba memancing acara DR FISHING Competition dan mendapatkan hadiah uang tunai pada 17 September 2025. (Sumber: Radhit Adhiyaksa Hermanto | Foto: Dokumentasi pribadi)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 09:33 WIB

Pelari Kalcer Merapat! Komunitas Olahraga Gen-Z Hadir di Kota Bandung

Berawal dari rasa FOMO, para Gen-Z di Bandung mulai menjadikan olahraga sebagai pilihan gaya hidup.
Para Anggota Olahraguys Sedang Melakukan Persiapan Untuk Kegiatan FunRun X Mad.Cultureid, Sukajadi, Kota Bandung (21/10/2025) (Sumber: Olahraguys | Foto: Olahraguys)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 08:59 WIB

Yoga Outdoor, Tren Hidup Sehat di Bandung

Sanggar Senam Vinisa menawarkan kelas untuk semua usia, memberi relaksasi, ketenangan, dan interaksi sosial, dengan tarif terjangkau.
Peserta melakukan yoga bersama di outdoor, Podomoro Park, Kabupaten Bandung pada Minggu (2/11/2025). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wan Maulida Kusuma Syazci)
Ayo Netizen 27 Nov 2025, 20:14 WIB

Pintu Rumah yang Tidak Pernah Tertutup

Pak Katenen seorang ASN yang bertugas di bagian Bimbingan Mental di TNI AU Lanud Sulaiman.
Ilustrasi rumah di dekat lingkungan pesantren. (Sumber: Ilustrasi AI)
Ayo Biz 27 Nov 2025, 19:55 WIB

Potensi Bisnis Mall Bandung Menguat di Tengah Tren Konsumsi dan Gaya Hidup Urban

Mall di Bandung tidak lagi sekadar menjadi ruang transaksi, melainkan telah bertransformasi menjadi destinasi pengalaman yang menyatukan belanja, hiburan, kuliner, dan interaksi sosial.
Ilustrasi. Mall di Bandung tidak lagi sekadar menjadi ruang transaksi, melainkan telah bertransformasi menjadi destinasi pengalaman yang menyatukan belanja, hiburan, kuliner, dan interaksi sosial. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)