Asal-usul Nama Geografis Baribis 

5 menit baca
T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan
Penggalian pasir ini menyingkapkan bukti adanya Patahan Baris di Desa Cibuluh, Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)
Penggalian pasir ini menyingkapkan bukti adanya Patahan Baris di Desa Cibuluh, Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)

Toponimi Patahan atau Sesar Baribis melejit kembali berbarengan dengan gempa-gempa yang menggoyang beberapa kawasan di utara Jawa Barat, seperti yang diumumkan oleh BMKG. Gempabumi dengan kekuatan 4,9 menggoyang wilayah Kabupaten Karawang pada Rabu, 20 Agustus 2025 pukul 19:54:55 WIB.

Selang beberapa hari, Senin, 25 Agustus 2025, gempabumi dengan kekuatan 3,2 menggetarkan Kabupaten Bekasi. Minggu, 21 September 2025, gempabumi terjadi di Kabupaten Bogor dengan kekuatan 3,1, dan pada Senin, 22 September 2025 pukul 12.41 WIB, gempabumi berkekuatan 2,6 mengguncang Kabupaten Bekasi.

Itulah dinamika bumi. Keniscayaan semesta yang tak dapat ditolak, dan tak dapat dipastikan kapan guncangan itu akan berulang. Menurut beberapa sumber, goncangan gempa bumi itu berada di garis patahan di utara Jawa Barat, yang oleh van Bemmelen (1949) dinamai Patahan Baribis.

Patahan yang terbentuk sejak Plistosen, antara 5 juta tahun hingga 2,6 juta tahun lalu itu, garis patahannya membentang antara Purwakarta hingga daerah Baribis, di Kabupaten Majalengka.

Penelitian-penelitian tentang Patahan Baribis terus berjalan saling menyempurnakan. Simanjuntak (1994) berpendapat bahwa garis Patahan Baribis itu menerus ke timur, bersambung dengan Patahan Kendeng, dan melintas hingga di Nusa Tenggara Barat. Simanjuntak menamainya Zona Patahan Baribis-Kendeng.

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Sony Aribowo (2022) menyebutkan, adanya lajur yang memajang barat timur yang dinamai Patahan Aktif Busur Belakang Jawa Barat. Garis patahannya melewati Cirebon, Indramayu, Majalengka, Subang, Purwakarta, Karawang, Bekasi, dan ada indikasi melintasi kawasan di selatan Jakarta yang berbatasan dengan Depok, dan Bogor.

Sony membagi Patahan Aktif Busur Belakang Jawa Barat itu menjadi 12 ruas atau segmen, yaitu: 1. Ruas Kalibayat, 2. Ruas Cisanggarung, 3. Ruas Cereme, 4. Ruas Baribis, 5. Ruas Tampomas, 6. Ruas Cipunagara, 7. Ruas Tangkuban Perahu, 8. Ruas Citarum Depan, 9. Ruas Citarum, 10. Ruas Kalapanunggal, 11. Ruas Salak, dan 12. Ruas Rarata.

Nama geografis Baribis di Kabupaten Majalengka yang oleh van Bemmelen dijadikan nama patahan, secara administratif termasuk Desa Baribis di Kecamatan Cigasong.

Di Jawa Barat, toponimi Baribis bukan hanya ada di Majalengka, tapi ada juga di Kabupaten Bandung, yaitu di Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan. Ada juga Cibaribis di Desa Mekarjaya, Kecamatan Banjaran, dan Cibaribis di Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali. Sedangkan Gunung Baribis ada di Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Sejak zaman Hindia Belanda, kawasan Baribis sudah menjadi kawasan yang dijelajahi dan diteliti. Banyak laporan dari Baribis, di antaranya laporan tahun 1907-1908 yang berjudul Onderzoek naar de oorzaken van de mindere welvaart der inlandsche bevolking op Java en Madoera. GGL Kemmerling (1916), menulis laporan berjudul De geologie en de Geomorphologie van Cheribon dalam buku Java en Madoera, di antaranya menuliskan tentang fosil di dekat Desa Baribis.

B van Tricht (1929), dalam laporannya, Levende Antiquiteiten in West-Java, menulis tentang kemegahan bentang alamnya. Siemon (1929) mendeskripsikan beberapa spesies Moluska dari Baribis, dan melaporkan tentang Turritella djadjariensis. Dan Ir LJC Vanes (1931), dalam buku The Age of Pithecanthropus, melaporkan, pada tahun 1926, Vanes menemukan molar Stegodon pada konglomerat dengan kemiringan curam di sekitar Baribis, dan pada tahun 1930 ia menemukan molar Cervus. 

Sekitar satu juta tahun yang lalu, Hippopotamus pernah hidup di sungai dan rawa-rawa di Lembah Cisaar, Kabupaten Sumedang. Di kawasan ini banyak ditemukan fosil, seperti fosil gigi hiu Megalodon, Stegodon trigonocephalus, taring Hippopotamus, gajah, badak, kurakura, dan lain-lain.

Keadaan ini dapat menggambarkan geografi purba Lembah Cisaar sejak 10 juta tahun yang lalu sampai 900.000 tahun yang lalu, ketika Lembah Cisaar berupa lingkungan laut dangkal, estuari, dan menjadi lingkungan pengendapan sungai dan rawa. 

Lembah Cisaar ditoreh dua anak sungai besar, Ci Peles dan Ci Lutung, yang bermuara di Ci Manuk. Lembah Cisaar dengan kawasan Baribis, hanya dipisahkan jarak 10 km, dengan medan yang datar dengan perbukitan di pinggirnya. Keadaan lingkungan geografi purba yang sama. Pada tahap akhir kawasan ini berupa lingkungan sungai dan rawa-rawa, dengan hutan terbuka di pinggirnya.

Manusia sudah menjelajahi kawasan ini, meninggalkan jejak budaya berupa perkakas batu. Ketika huniannya terus berkembang dari zaman ke zaman, dan lingkungannya masih berupa ranca atau rawa yang sangat luas, keadaan lingkungan berair inilah yang telah menginspirasi penamaan kawasan itu Baribis.

Kata baribis abadi menjadi nama geografis, namun padanan artinya tidak tercatat dalam kamus bahasa Sunda yang pernah terbit. Petunjuk ke arah pemaknaan kata baribis, dalam bahasa Sunda ada kata bibis, yang berarti menciprat-cipratkan air ke nasi yang keras saat masih gigih, saat belum matang.

Kata bibis juga berarti menciprat-cipratkan air ke lembaran tembakau yang terlalu keras. Di rawa alami ada burung air bernama waliwis, balibis, belibis. Jadi, kata bis, bibis itu berhubungan dengan air. Bila mengambil contoh kata lain dalam bahasa Sunda, ada kata seget, sogot, yang berarti gigit.

Namun ada juga kata yang bermakna sama, yaitu sigit, namun tidak produktif dipakai oleh masyarakat dalam berbahasa Sunda saat ini, namun ada di dalam toponimi, seperti Gunung Masigit, yang bermakna ada bagian lereng gunung yang seperti digigit. 

Bila menghubungkan kata bibis, waliwis (balibis), dengan kata baribis, kata-kata itu mempunyai asal mula yang sama, yaitu bis, yang menunjukkan arti berhubungan dengan air.

Baca Juga: Ci Sanggiri Sungai yang Menggentarkan

Dan bila disebandingkan kata baribis dengan kata berebes, kedua kata itu pun mempunyai makna yang sama, yaitu berhubungan dengan air yang meleler sebagai matair, atau lahan basah yang bila tertekan, diinjak, misalnya, airnya akan ngaberebes, mbrebes, merembes, meleler, mengalir. Dalam kehidupan sehari-hari ada istilah mbrebes mili, yang berarti berlinang airmata.

Dari uraian di atas saya lebih memilih, bahwa toponimi Baribis itu maknanya sama dengan Brebes, air yang merembes, meleler, mengalir. Mengingat kedua kawasan itu keadaan lingkungan masa lalunya sama, yaitu berupa lahan basah, rawa, kawasan berair yang sangat luas. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 18:16

PWI Jabar dan Tantangan Baru Menjaga Kepercayaan Publik di Era AI

PWI Jawa Barat juga dapat mendorong penguatan disiplin verifikasi di kalangan anggotanya. Misal, dengan membahas prosedur pemeriksaan video yang viral dan penggunaan gambar hasil AI.

Logo Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)