Ci Sanggiri Sungai yang Menggentarkan

4 menit baca
T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan
Tempuran Ci Hurip (kiri) dengan Ci Sanggiri (kanan). (Sumber: Citra satelit: Google maps)
Tempuran Ci Hurip (kiri) dengan Ci Sanggiri (kanan). (Sumber: Citra satelit: Google maps)

Pada masa lalu, Jawa Barat Selatan merupakan kawasan yang sulit di tembus. Kawasannya berupa rangkaian pegunungan yang berlapis-lapis, yang ditoreh patahan dan kekuatan air, membentuk lereng yang curam dengan lembah yang dalam.

Di dasar lembah-lembah itulah sungai mengalir deras, bermuara di Samudra Hindia. Arah punggungan gunungnya menurun ke selatan, bahkan ada yang terjal hingga di batas pantai, membentengi deburan ombak yang bergelora.

Namun di beberapa tempat, ada kawasan yang melandai, yang dibentuk oleh endapan sungai dan endapan pantai. Di sanalah para pendatang dari berbagai kawasan itu mendirikan tempat untuk bermukim.

Inilah yang menyebabkan, pada masa lalu, sungai menjadi pembatas yang tegas dan yang memisahkan penduduk yang bermukim di sini dengan yang bermukim di sana, di seberang sungai.

Antara dua lembur, dua perkampungan yang hanya dipisahkan jarak 100 m, misalnya, namun, karena belum ada jembatan, dan aliran sungai yang membahayakan bila disebrangi, maka di antar warga dua kampung yang berseberangan itu tidak dapat berhubungan secara langsung.

Bila sungai itu sangat berbahaya untuk disebrangi, maka ketika ada hal yang harus diselesaikan, warga yang akan mengadakan kunjungan ke kampung seberang itu harus pergi lebih jauh, melambung ke arah hulu, yang memungkinkan sungai untuk disebrangi.

Begitu pun ketika otoritas Negara akan membuat jembatan. Akan dicari lebar sungai yang lebih sempit, yang memungkinkan di sana dibuat jembatan, sesuai dengan kemampuan ekonomi, kemampuan teknologi, dan pertimbangan bagi keselamatan berkendara. Biasanya sedikit ke hulu dari muara sungai, agar tidak terjangkau banjir saat sungai itu meluap besar.  

Baca Juga: Ci Pasarangan Sungai Suci di Linggamanik

Warga setempat sudah sangat mengetahui karakter sungai di daerahnya, apakah aman untuk disebrangi atau membahayakan. Setidaknya ada tiga hal yang harus diperhitungkan pada saat akan menyebrangi sungai.

Pertama air sungainya dalam, ukurannya sekitar sedada orang dewasa atau lebih. Kedua arusnya deras, walau kedalaman air sungainya sedang, paling tinggi sebatas perut orang dewasa. Ketiga jumlah air sungainya melebihi ketinggian umumnya air sungai, sehingga limpasan airnya sudah melewati dataran banjir, masuk ke persawahan. Selain airnya yang dalam, pada saat banjir itu arusnya pun menjadi sangat kuat.

Pada masa lalu, keadaan belantara di Garut Selatan masih terjaga, sehingga mata air membual di setiap mata air, dan tak pernah mongering. Airnya mengalir ke anak-anak sungai, kemudian bermuara di sungai induk. Aliran sungai di Garut itu ada yang mengalir ke utara, seperti Ci Manuk, yang bermuara di Laut Jawa.

Setidaknya ada 33 sungai dengan 101 anak sungai, dengan total panjang sekitar 1.397 km yang mengalir ke selatan, ke Samudra Hindia. Misalnya Ci Palebuh, Ci Baluk, Ci Laki, Ci Sanggiri, Ci Kandang, Ci Kaengan, dll. 

Ci Sanggiri, sungai yang dibahas dalam tulisan ini, hulunya di kecamatan Cikajang. Bila sungai yang hanya berarus deras, pastilah namanya bukan Ci Sanggiri, tapi Ci Tarik atau Kali Deres. Bila alirannya hanya menimbulkan gemuruh, pastilah namanya bukan Ci Sanggiri, tapi Ci Genter atau Ci Geureu(h).

Namun, karena aliran sungai yang panjangnya lebih dari 40 km itu, lebar sungainya pun lebih lebar bila dibandingkan dengan lebar sungai lainnya.

Lebar muara Muara Ci Sanggiri di Kampung Cihurang, Desa Karyamukti, Kecamatan Cibalong saat ini sekitar 90 m. Sedangkan lebar sungai lebih ke hulu, di sekitar perlintasan dengan jalan raya Cibalong, lebarnya antara 47 m – 50 m, yang berada di Desa Karyamukti, Kecamatan Cibalong.

Karena sungainya lebar, debit airnya sangat tinggi, aliran airnya dalam, arusnya sangat deras, dengan suara yang bergemuruh, maka masyarakat lama di sana menamainya Ci Sanggiri. 

Kata giri, terdapat dalam naskah Pendakian Sri Ajnyana – dalam buku Tiga Pesona Sunda Kuna - artinya menggentarkan (J Noorduyn dan A Teeuw, 2009). Ci Sanggiri, sungai yang menggentarkan. Ada kata giri-giri yang berarti menggentarkan.

Dalam bahasa Sunda, ada kata-kata bingah amarwatasuta, bingah kagiri-giri, yang maknanya menggambarkan kegembiraan yang tiada bandingannya. Kegembiraan yang menggentarkan hati.

Ci Sanggiri mengalir di dasar lembah yang berupa material letusan gunungapi purba yang terjadi sejak 5,3 juta hingga 2,6 juta tahun yang lalu. Aliran sungainya bertingkat-tingkat membentuk curug, airterjun, dan leuwi atau lubuk.

Leuwi yang populer menjadi daerah tujuan wisata alam seperti leuwi yang terdapat di Desa Cikondang, Kecamatan Cisompet. Ada juga Leuwi Seeng, Leuwi Gawang, dan Leuwi Nambo. Di aliran anak sungainya ada Leuwi Tonjong di Desa Jayamukti, Kecamatan Cihurip.

Bagi para penjelajah zaman kolonial seperti Franz Junghuhn, yang berjalan di punggungan gunung, memotong tebing, dan melintasi lembah dengan sungai-sungainya yang deras. Bagaimana pengalaman penjelajahan Junghuhn yang berjalan dari Cihurip sampai di pantai selatan Jawa Barat.

Junghuhn menuliskan toponimi Ci Sanggiri (ditulis Tji Sangiri) dalam petanya, sungai yang diapit oleh Tji Paregber (sekarang Ci Baregbeg) di sebelah barat, dan Tji Merak (Ci Merak) di sebelah timur.

Ci Sanggiri, aliran sungai di lembah rangkaian pegunungan selatan yang berarus deras, di aliran sungai yang lebar dan dalam. Inilah sungai yang pada masa lalu sangat menggentarkan! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)